
''Kau kelihatan senang hari ini,'' komentar mama. ''Mau memberitahu mama apa yg membuatmu bahagia?''
Fara tersenyum tipis. ''Hari ini orang yg aku sukai memberi semangat. Tadi siang ketika ulangan fisika susulan, aku sudah menyerah. Tapi tiba-2 dia memberiku sehelai kertas. Isinya ''JANGAN MENYERAH'' .
''Jadi,'' lanjut mama,'' akhirnya kau bisa mengerjakan ulanganmu hari ini.'' Fara mengangguk.
''Fara.'' ujar mama serius, ''kau benar-2 menyukai cowok ini, ya?''
Fara mengangguk lagi.
''Kau tau kan, mama percaya padamu.'' mama menatap putrinya dgn lembut. ''Mama hanya ingin kau berhati-hati.”
Keesokan paginya, Fara bangun dgn semangat baru. Ia tahu hari ini hari yg ia tunggu-2. Ia mengenakan seragam sekolahnya dgn penuh semangat. Hari ini ia ingin terlihat rapi di mata Niko. Dimeja riasnya terdapat gulungan kertas yg diikat pita merah. Gambar Niko.
Ia menatap bayangannya di cermin, & tersenyum. Hari ini akan berbeda dgn hari-2 sebelumnya. Hari ini ia akan mengumpulkan keberaniannya utk bicara dgn Niko.
Saat istirahat siang, Fara memandangi punggung Niko. Teman-2 sekelas sudah pergi utk beristirahat. Di kelas hanya tinggal mereka berdua. ''Ayolah Fara, hanya enam langkah menuju tempatnya,'' katanya dalam hati. Perlahan-lahan, Fara bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah Niko.
__ADS_1
Napasnya mulai tdk beraturan. Tiga langkah lagi. Dua langkah lagi. Satu langkah lagi. Kini ia tiba di meja Niko. Tampaknya Niko sedang menulis laporan.
Mengumpulkan keberaniannya, Fara menarik napas panjang dan berkata, ''Niko...''
Niko berhenti menulis dan memandang Fara dgn tatapan ingin tahu.
Fara meletakkan gambar Niko di atas mejanya. ''Aku menemukan gambarmu kemarin.''
Niko melihat gulungan kertas berpita merah di depannya, lalu membukanya. Matanya mengenali gambar yg tertera di sana, Niko menatap Fara lagi. ''Terima kasih.''
Melihat mata Niko yg masih memandangnya membuat Fara gugup. Ia tdk tahu harus berbicara apalagi.
''Ehm... kalau begitu aku keluar dulu.'' Langkahnya yg terburu-buru hampir saja menyenggol meja Niko.
''Tunggu, Fara,'' kata suara di belakangnya.
Fara membalikkan badannya ke arah Niko. ''Ada apa?''
__ADS_1
Niko seakan ragu untuk mengutarakan kalimat berikutnya. ''Begini.... bisakah kau tdk memberitahukan tentang gambarku ini pd orang lain?''
(''mengapa'?') benak Fara langsung merespon pertanyaan Niko, tp yg keluar dr mulutnya malah kebalikannya. ''Baiklah,'' katanya perlahan.
''Terima kasih lagi,'' kata Niko sambil tersenyum lembut.
Senyum Niko membuat Fara gemetar. ''Sama-sama,'' balasnya perlahan.
Lima menit kemudian, di toilet cewek, Fara tersenyum lebar. Kali ini ia tdk peduli jantungnya berdetak dgn cepat. Ia sangat menyukai perasaan ini. Akhirnya, setelah satu setengah tahun, ia bisa berbicara dgn Niko, dan Niko mengetahui namanya. Pertama kali namanya keluar dr bibir orang yg disukainya.
Hari-hari berikutnya, ketika Fara berpapasan dgn Niko di lorong kelas, di kantin, ataupun di dalam kelas, Niko tersenyum padanya dan Fara membalas senyuman itu.
***
Dua hari kemudian, Fara mengelus-elus bajunya yg basah. Gerimis membasahi halte bus yg akan membawa Fara ke sekolahnya. Fara melirik jam tangannya. Masih banyak waktu. Biasanya bus datang sepuluh sampai lima belas menit sekali. Dan perjalanan ke sekolah dr halte bus ini biasanya sekitar sepuluh menitan.
Fara mengeluarkan jaket dr tas dan mengenakannya. Sambil menunggu bus, telapak tangan Fara terulur merasakan tetesan air hujan. Sepuluh menit berlalu, tp bus yg hendak mambawanya ke sekolah belum tiba juga. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Kaca jendelanya terbuka
__ADS_1