
''Niko'', kata Fara serius, ''gambar cincin bintang yg pernah aku kembalikan padamu, kenapa kau menggambarnya?''
Niko menjawab tanpa ragu, ''Aku ingin setiap wanita merasakan bagaimana mengenggam bintang dijarinya. Tidak hanya harus memandangnya dr kejauhan''.
Fara terpana dgn jawaban Niko. (''tolong jangan buat aku menyukaimu dr awal lagi. Karena aku tdk yakin aku bisa melupakanmu kalau itu terjadi lagi''), kata Fara dalam hati sambil memandang Niko.
Niko menghela napas panjang. ''Aku ingin siapapun yg mengenakan cincin itu tahu bahwa dia bisa menggapai sesuatu yg tidak mungkin. Tapi kelihatannya aku berharap terlalu banyak,ya?''
Jantung Fara berdetak kencang. Perkataan Niko membuat perasaan yg telah dipendamnya kembali muncul. Ia semakin menyukai Niko.
''Aku beranggapan tdk ada yg mustahil kalau kau berusaha,' 'kata Fara memberi tanggapan atas pertanyaan Niko.
Niko menatap Fara dgn lembut, hatinya sedikit tergerak mendengar perkataan itu. Sinar mentari sore jatuh mengenai wajah Fara. Niko terdiam. Fara sangat cantik di matanya saat itu. Niko memejamkan mata sesaat dan membukanya kembali. Fara tersenyum padanya. Niko tdk bisa menjelaskan perasaan apa yg berkecamuk dihatinya.
Fara berkata lagi, ''Kau ingin jalan-2 ke sekitar pantai?''
''Oh...baiklah,'' balas Niko, masih sedikit bingung dgn perasaannya.
Mereka berjalan-jalan melihat matahari tenggelam. Niko merasakan keberadaan Fara disampingnya membuatnya tenang dan nyaman. Ia tdk pernah memberitahukan mimpinya menjadi perancang perhiasan kepada orang lain. Bahkan orang tuanya tidak pernah menanyakan alasan Niko ingin melukis perhiasan. Mereka hanya langsung melarang.
__ADS_1
Fara mengambil beberapa kerang indah di pasir.
''Aku tdk pernah menyangka pemandangan matahari tenggelam sungguh indah,'' katanya.
''Kau tidak pernah ke pantai sebelum ini?'' tanya Niko.
''Belum'' jawab Laura, ''Ini yg pertama kali.'' (Dan aku senang bisa menghabiskan hari ulang tahunku di pantai bersamamu).
''Teman-2 mengusulkan acara perpisahan sekolah setelah ujian nanti di adakan disini. Bagaimana menurutmu?'' tanya Niko.
''Wah ide bagus,'' sambut Fara gembira.
Fara berharap kepala sekolah mengabulkan usul Niko.
''Apa itu?'' tanya Niko tiba-2.
Fara mengikuti arah pandang Niko. Penglihatannya jatuh pd sebatang pohon tua. Banyak daun kertas disana. Sebagian siswa jg berada disana.
''Ayo kita kesana,'' ajak Niko.
__ADS_1
Sesampainya di depan pohon tersebut, mereka baru tahu bahwa pohon tersebut dinamakan pohon keinginan. Pohon itu sudah tdk berdaun, hanya ada ranting-2 pohon. Di sebelahnya terdapat meja dgn ratusan daun kertas yg tersusun rapi. ''Tulis keinginnanmu di sini lalu ikatkan pd pohon keinginan.''
''Kau mau mencobanya?'' tanya Niko.
Fara mengangguk. Niko mengambil dua lembar daun kertas dan memberikannya satu kepada Fara. Keduanya menulis keinginan masing -masing di daun tersebut, setelah itu mengikatkannya pd pohon keinginan. Tak berapa lama kemudian, kepala sekolah mengingatkan mereka utk berkumpul di bus, karena piknik mereka di pantai sudah berakhir.
Dalam perjalanan menuju bus, Niko menanyakan keinginan Fara. ''Apa keinginanmu?''
Fara menggeleng. ''Apakah aku harus memberitahukannya padamu?''
Niko tersenyum. “Tadi aku menulis supaya semua anak kelas tiga lulus ujian. Jadi apa keinginanmu?''
Fara berkata perlahan, ''sesuatu yg tdk mungkin.''
Niko tertawa. ''Bukankah kau mengatakan tdk ada yg mustahil kalau kita berusaha?''
''Aku tahu,'' sorot mata Fara terlihat sedih, ''tapi yg ini pasti tdk mungkin.''
Niko beranjak menaiki bus. ''Oke. Aku tdk akan memaksamu mengatakan keinginanmu. Aku rasa apapun itu, kau pasti bisa mendapatkannya.''
__ADS_1