My Love Is Stupid

My Love Is Stupid
Chapter 28


__ADS_3

Pada hari wisuda, Fara memasukan baju terakhir ke koper kemudian menutupnya.


"Kau sudah siap?" tanya mama dari ambang pintu kamar.


Fara mengangguk. "Ya".


Mama tersenyum lalu mengulurkan sesuatu pada Fara. "HP barumu. Kau bilang HP lamamu hilang, jadi mama putuskan untuk membeli yang baru. Mama juga membelikanmu nomor baru untukmu."


"Terima kasih, Ma", kata Fara. Ia melihat HP berwarna merah yang diberikan mama dan tersenyum. HP baru. Awal yang baru.


Tak berapa lama kemudian, Fara dan mama berjalan keluar dari rumah menuju taksi yang akan membawa mereka ke bandara.


 


***


Sementara itu di sekolah, Niko mendorong kursi roda yang diduduki Erika. Erika berkeras menghadiri wisudanya. Sesampainya Erika di kelas 3 IPA 2, teman-temannya berlarian menemuinya.


"Aku harus mempersiapkan pidato kelulusan terlebih dulu," kata Niko.


Erika mengangguk. "Pergilah. Buat pidato yang bagus, ya".  Niko mengangguk.


Setengah jalan menuju aula, Niko baru sadar tasnya masih berada di pangkuan Erika dan bergegas kembali untuk mengambilnya.

__ADS_1


"Kau melihat Fara hari ini?" tanya Erika pada salah satu temannya.


Temannya menggeleng. "Tidak. Sepertinya dia tidak datang."


Erika mengangguk senang. "Baguslah. Akhirnya si siswi kampung itu tidak akan membuatku marah lagi. Semuanya sudah berakhir."


"Aku benar-benar tidak menyangka Fara punya keberanian untuk mendorongmu dari tangga," komentar temannya.


Erika mendengus. "Keberanian apa? Mana mungkin dia bisa mengalahkanku?" Lalu Erika berdiri dari kursi rodanya dan berjalan menuju tempat duduknya.


"Kau bisa berjalan?" tanya temannya kaget.


"Aku bosan duduk terus," kata Erika. "kakiku cuma terkilir kok"


Erika mendesah kesal. "Supaya Niko bersimpati padaku dong. Kalau dikiranya aku tidak luka serius, dia tidak akan pernah marah pada Fara dan mungkin saja dia bisa memaafkannya. Aku tidak mau itu terjadi."


Erika memandang muka temannya yang berubah pucat pasi. "Ada apa?" tanyanya. Ia berbalik kemudian menatap Niko di pintu kelas. Erika terkejut bukan main. "Niko... sejak kapan kau disini?"


Niko berjalan ke arah Erika dengan kesal. "Aku kembali ke sini untuk mengambil tasku." Niko mengambil tasnya yang berada di atas kursi roda.


"Kau mendengar semuanya?" tanya Erika panik.


Niko terdiam, lalu berkata dengan marah, "Kau tidak terluka parah, kau masih bisa jalan. Apakah kau tidak tahu betapa khawatirnya aku memikirkan keadaanmu?"

__ADS_1


"Maafkan aku, Niko," kata Erika memelas. "Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Aku..."


"Jawab aku satu hal," sela Niko tegas. "Apakah Fara benar-benar mendorongmu dari tangga?


katakan yang sebenarnya."


Erika akhirnya memberikan jawaban jujur. "Iya. Tapi dia tidak melakukannya dengan sengaja. Aku merebut HP nya dan dia berusaha mengambilnya kembali. Lalu, dia tidak sengaja mendorongku."


Niko mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat unttuk menahan amarahnya. "Kenapa? Kenapa kau berbohong padaku? Aku sudah mengenalmu sejak kecil. Aku peduli padamu... Aku percaya padamu."


Erika benar-benar menyesal. "Maaf. Aku benar-benar menyesal melakukan semua ini."


"Kalau kau menyesal," tegas Niko lagi, "mengapa kau tega berbohong padaku?"


Mendengar amarah Niko, Erika tidak bisa menahan emosinya, "karena aku takut, oke?! Aku benar-benar takut, Niko. Aku melihat caramu menatapnya. Aku tidak mau kehilanganmu."


Erika tertegun. Ia tidak pernah melihat Niko sesedih ini. Bahkan sewaktu orangtua Niko memarahinya soal gambarnya, Niko hanya kecewa, tapi tidak pernah seperti ini.


Erika berkata perlahan, "Aku takut, kau lebih menyukainya daripada aku."


Niko menatap mata Erika tanpa ragu. "Saat ini... perkataanmu tidak salah."


Erika menatap Niko dengan kaget. Ia berusaha meraih tangan Niko, tapi Niko sudah berlari keluar dari kelasnya. Erika jatuh terduduk di kursinya sambil menangis. Ia tahu ia telah kehilangan Niko.

__ADS_1


__ADS_2