
Setelah sesampainya di sana,
Niko menatap pria di hadapannya dengan sedikit gugup. Julien Bardeux. (Ahli perhiasan terkenal dari prancis). Setelah memperkenalkan diri, Niko dipersilahkan masuk ke kamar hotel Julien.
Tatapan Niko beralih pada gambar rancangannya di meja tamu. "Jadi", katanya perlahan, "bagaimana anda bisa mendapat gambar rancangan saya?"
"Temanmu yang memberikannya," jelas Julien. "Seorang gadis muda." Niko bisa menebak siapa yang menyerahkan rancangannya. Pasti Fara.
"Kau masih sekolah?" tanya Julien ingin tahu.
"Saya baru lulus SMA," kata Niko.
Julien meminum kopinya perlahan, lalu menatap Niko. "Kau tertarik pada perhiasan?"
Tangan Niko gemetaran menutupi kegugupannya. "Begitulah."
"Gambar rancanganmu benar-benar menawan," kata Julien sambil tersenyum. "kau sangat berbakat."
__ADS_1
Mendapat pujian dari ahli perhiasan terkenal membuat Niko benar-benar tersanjung. "Terima kasih."
"Apa rencanamu setelah lulus SMA?" tanya Julien.
"Kuliah," kata Niko singkat.
Julien menatap mata Niko dengan serius. "Kau tertarik masuk GIA (Gemological Institute of America) di New york? Aku bisa memberimu rekomendasi. Kau bisa belajar banyak tentang perhiasan disana."
Niko sungguh-sungguh tergoda dengan tawaran Julien. Tapi orang tuanya pasti tidak setuju. Ia sudah diterima di fakultas kedokteran universitas terkenal. Kalau ia memutuskan masuk GIA, ia tidak akan mendapat dukungan dari orangtuanya sama sekali.
"Saya tidak tahu," jawab Niko jujur. "Sebenarnya saya ingin sekali masuk ke sana, tapi saya tahu biaya kuliah di GIA tidak murah." Niko tahu ia tidak punya uang banyak untuk membiayai kuliahnya. Apalagi papa pasti tidak akan memberi dukungan material sama sekali.
Niko kaget tidak percaya. "Anda mau membeli karya saya?"
"Kau kelihatanya terkejut sekali," kata Julien tertawa lebar. "Aku tidak pernah main-main dalam hal perhiasan."
Sedikit demi sedikit harapan Niko untuk menggapai mimpi yang telah lama terpendam muncul ke permukaan.
__ADS_1
"Saya jatuh cinta pada perhiasan sejak saya berumur sepuluh tahun," kata Niko berterus terang. "setelah itu saya tidak pernah bisa berhenti menggambarnya."
Melihat kesungguhan di mata Niko, Julien tersenyum. Ia mengerti apa yang Niko rasakan. "Aku menyukai gambar rancanganmu". katanya kemudian. "Kau bisa menjadi perancang perhiasan yang hebat."
"Aku benar-benar berharap demikian." ujar Niko.
"Kalau kau benar-benar ingin belajar di GIA, aku bisa membantumu. Aku kenal dengan pengajar disana. Kau tidak perlu khawatir soal tempat tinggal, kau bisa tinggal di apartemenku di New York.”
Niko menatap Julien tidak percaya. "Anda benar-benar akan membantu saya? Anda bahkan tidak mengenal saya."
Julien menyodorkan gambar Niko padanya. "Sudah lama sekali aku tidak pernah setertarik ini pada karya seseorang. Apalagi kau masih muda. Kalau semuda ini saja kau sudah menunjukkan bakatmu, aku tidak bisa membayangkan apa yang bisa kau lakukan di masa depan."
Niko berpikir keras. (Apakah aku punya keberanian mempertaruhkan segalanya untuk menggapai mimpiku? Bertahan seorang diri di negeri asing tempat aku tidak mengenal seorang pun?)
"Temanmu menunggu berjam-jam untuk bertemu denganku kemarin," kata Julien lagi sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Ketika memberikan rancangan-rancangan ini kepadaku, dia bilang dia ingin menyerahkan mimpi seseorang."
__ADS_1
Tangan Niko berhenti gemetaran. Benaknya dipenuhi wajah Fara, lalu perlahan senyumnya mengembang. (Fara ingin mewujudkan mimpiku. Mengambil karyaku dari tempat sampah dan memberikannya pada orang yang kukagumi. Seandainya kau ada disini Fara. Aku pasti akan lebih bahagia).