
Maya bertanya lagi pada para koki, "kenapa kalian tidak mencoba dulu untuk membuatnya?"
Ketiga koki memandang Maya seakan-akan maya sudah kehilangan akalnya.
"Aku tidak bisa melakukannya," kata salah seorang koki. "Apakah mbak tahu bagaimana sifat bos menyangkut makanan buatannya? tidak ada seorangpun berani membuat makanannya. Lagi pula, kami tidak mau kena risiko dipecat."
"Jadi, maksud kalian aku harus membatalkan seluruh pesanannya?" kata Maya kesal.
Para koki mengangguk. Diikuti oleh para pelayan lain. Maya tampak putus asa.
"Jangan dibatalkan," kata Fara tiba-tiba. "kalau para koki tidak mau memasaknya, saya yang akan memasaknya."
Semua memandang Fara tidak percaya, termasuk Maya.
"Kau bisa memasak spageti bolognese seperti kepunyaan Antonio?" tanya Maya bingung.
Fara mengangguk. "Saya sudah mencobanya beberapa kali dirumah. Hasilnya tidak beda dengan kepunyaan signor Antonio."
Para pelayan lain tercengang mendengar keyakinan yang diungkapkan Fara.
"Bagaimana kalau sekarang saya masak satu porsi," saran Fara, "lalu mbak Maya bisa mencobanya terlebih dulu. Kalau masakan saya sama dengan kepunyaan signor, maka saya bisa memasak yang sama untuk tiga puluh orang berikutnya. Tapi kalau rasanya beda. Mbak bisa memutuskan untuk membatalkan pestanya."
__ADS_1
"Kau yakin kau bisa melakukannya?" tanya Maya sekali lagi.
Fara mengangguk. "Saya yakin."
"Kalau begitu," kata Maya optimis, "silahkan kau gunakan dapurnya."
Fara tersenyum dan bergegas menuju dapur, lalu mulai mengisi panci dengan air dan memasaknya. Ia sudah melakukan ini berpuluh-puluh kali di dapur rumahnya. Ini pertama kalinya ia melakukannya di dapur restoran. Langkah-langkah yang dilakukan Antonio untuk membuat spageti bolognese sudah terpatri di ingatannya.
Saat mencicipi masakan Fara, Maya menatap Fara dengan senang. "Kau sudah melakukannya. Kau bisa meniru persis masakan buatan Antonio. Rasanya sangat enak."
"Terima kasih," kata Fara senang.
"Kau sanggup membuat tiga puluh lagi?" tantang Maya.
Fara mengangguk.
Antonio baru sampai di restoran pukul 19.30. Para tamu sudah selesai menyantap makanannya. Dia langsung menuju dapur untuk meminta penjelasan.
"Siapa yang memasak spageti bolignese di depan?" teriaknya tanpa basa-basi sambil memandang para kokinya.
Ketiga koki yang ditatap menundukkan wajah untuk menghindari amarah Antonio.
__ADS_1
"Saya yang memasaknya," kata Fara jujur dari belakang para koki.
Antonio berbalik dengan tidak percaya. "Kau? Kau berani memasak makanan buatanku?"
Fara berusaha memberi penjelasan. "Maaf. Tapi kalau saya tidak memasaknya, pesta ulang tahun di depan bisa batal."
Antonio mengernyit kesal. "Biarkan saja batal. Tidak ada yang boleh memasak spageti bolognese selain aku. Itu menu special chef."
Fara terdiam. Ia tidak menyangka Antonio akan semarah ini.
"Kau," tunjuk Antonio pada Fara, "jangan pulang dulu nanti malam." Fara mengangguk perlahan.
Sepanjang malam itu hati Fara gelisah. Ia takut Antonio akan memecatnya. Saat tengah malam tiba dan restoran ditutup, Antonio melangkah ke ruang makan dan meminta Fara mengikutinya. Mereka tiba didepan restoran.
"Apakah kau bisa membaca nama restoran yang tertera di atas?" pinta Antonio keras.
Fara menjawab dengab gugup, "....Antonio."
Antonio mengangguk. "Benar. Apakah namamu ada disana?" Fara menggeleng.
"Aku tidak suka masakanku di masak oleh orang lain," Jelasnya marah-marah. "Apalagi kau tidak punya pengalaman memasak. Apa jadinya kalau orang-orang tadi mengetahui masakannya di masak oleh pelayan?"
__ADS_1
Fara menunduk sedih. "Maaf."