My Love Is Stupid

My Love Is Stupid
Chapter 62


__ADS_3

FARA mencoba mengangkat panci spageti ke ruangan hotel. Pesta karyawan Rafael akan dimulai satu jam lagi. Semua makanan sudah sampai di hotel, tinggal menata penyajiannya di meja.


"Biar mama bantu," kata mama sambil meraih pagangan panci satunya lagi.


"Terima kasih, ma?" Kata Fara mulai menata masakannya. Dia melihat mama membantu pelayan yang lain. Mama bilang dia bosan kalau kerjanya hanya menjahit dirumah. Jadi setiap kali Fara bertugas menyiapkan katering, mama pasti membantunya. Mama bilang ia senang bisa bekerja dengan putrinya.


Spanduk pesta mulai dipasang. Dan beberapa detik kemudian suara piring pecah terdengar. Konsentrasi Fara langsung buyar. Ia melihat mama tertegun memandang spanduk dan tidak menyadari piring yang berada di tangannya sudah berada di lantai.


Fara menyuruh seorang pelayan lain membersihkannya, lalu berjalan mendekati mama. "Mama, mama tidak apa-apa?"


Mama tersadar kembali. “Maaf, mama menjatuhkan piringnya."


"Tidak apa-apa, ma." Fara cemas melihat gelagat mamanya yang tidak seperti biasanya. "Mama tidak apa-apa? Kalau mama tidak enak badan, sebaiknya mama beristirahat dan pulang saja."


"Pesta ini..." mama memegang kedua tangan putrinya dengan erat. "Untuk... karyawan Rafael?"


Fara mengangguk bingung. "Ya. Benar. Pesta untuk karyawan Rafael group. Ada apa,ma?"


Pegangan tangan mama semakin erat. "Kau pernah bertemu dengan direkturnya?"

__ADS_1


Fara semakin bingung dengan pertanyaan mama. "Tentu saja. Minggu kemarin aku bertemu


Charles Rafael. Ada apa, ma? Muka mama pucat sekali. Sebaiknya mama pulang dulu."


"Fara...," kata mama terbata-bata, "...ehm... kau benar.... sebaiknya mama pulang saja."


Tiba-tiba dari belakang mereka seorang pria berseru. "Helen?"


Mama sama terkejutnya. "Charles?"


Fara melihat mama kemudian om Charles. "Kalian saling kenal?"


"Mama ingin pulang sekarang," kata mama pada Fara dengan panik.


Fara menuntun mama keluar dari hotel.


"Helen, tunggu!" Teriak Charles. Tapi sebuah tangan menahan kepergiannya.


"Jangan ikuti, pa," kata Luki sambil mengenggam tangan papanya. "Biarkan mereka pergi. Ingat, pa. Ada banyak karyawan yang memperhatikan kita. Kita tidak ingin mereka tahu tentang masa lalu papa, kan?"

__ADS_1


Papa melepaskan tangan putranya. "Baiklah. Tapi setelah pesta ini usai, papa akan menemuinya."


Luki terdiam kesal. Masa lalu akan berbenturan kembali dengan masa sekarang.


 


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Sepanjang perjalanan pulang, Fara melihat mama terdiam seribu bahasa. Sesampainya dirumah, rasa penasaran Fara semakin memuncak. "Aku tidak pernah melihat mama panik seperti tadi. Ada apa sebenarnya, ma? Kenapa mama bisa mengenal om Charles?"


Mama menyuruh putrinya duduk. "Mama rasa sudah saatnya kau mengetahui yang sebenarnya." "Mengetahui apa?" Tanya Fara bingung.


"Tentang ayahmu." Mama menggenggam tangan putrinya. "Sewaktu kau kecil, mama sudah berjanji akan memberitahukan tentang ayahmu kalau kau sudah besar nanti. Dua tahun yang lalu, ketika mama ingin memberitahumu, kau bilang kau tidak ingin tahu. Apakah kau ingat."


Fara mengingatnya dengan jelas. "Aku tidak ingin tahu siapa ayahku. Mama terlihat sedih setiap kali mengingatnya. Aku lebih memilih hidup bersama mama. Aku memilih untuk tidak mengetahui siapa ayahku karena selamanya mama adalah ayah sekaligus ibuku. Aku tidak butuh yang lainnya."


Mama tersenyum sendu. "Saat itu, mama merasa sedikit lega karena tidak perlu bercerita tentang ayahmu. Tapi setelah hari ini, kau berhak mengetahui yang sebenarnya. Karena cepat atau lambat, kau pasti tahu juga."


"Tentang ayahku." Fara mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Mama akan menceritakan semuanya dari awal." Mama berusaha tersenyum di depan putrinya. "Ayahku Charles Rafael, bukan?" Fara memandang mama tanpa ragu.


Mama tahu Fara sudah berhasil menyimpulkannya sendiri.


__ADS_2