My Love Is Stupid

My Love Is Stupid
Chapter 69


__ADS_3

Luki tertegun. Ibu tirinya menulis kartu tersebut untuk dirinya 25 tahun yang lalu. Kartu tersebut sudah sedikit menguning. Penasaran, Luki membuka salah satu kartu yang lain.


# Selamat ulang tahun yang ketujuh belas, Luki. Sekarang kau sudah dewasa. Tinggimu pasti sudah melebihi tante.


Apakah ada gadis yang kau sukai? Tante harap gadis itu menyukaimu juga.


Papamu pasti membelikanmu mobil. Hati-hati menyetir jangan ngebut. Tante berharap, tante bisa menemanimu kursus menyetir mobil.


Luki membuka satu kartu ucapan lagi. Kali ini yang terbaru.


# Selamat ulang tahun yang ke 31, Luki.


Mungkin kau sudah punya istri dan anak sekarang. Tante berharap kau selalu menyayangi mereka. Keluarga merupakan hal terpenting di dunia.


Jangan terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bekerja, luangkanlah waktu dengan keluarga. Kau tidak akan mau melewatkan kesempatan bersama dengan putra/putrimu.


Tante berharap bisa melihat wajah mereka saat ini. Tante akan memanjakan mereka dan tidak keberatan kalau kau menitipkan mereka pada tante.

__ADS_1


Jantung Luki berdetak kencang. Dia telah salah mengira. Ibu tirinya benar-benar menyayanginya.


 


*****************************


Di depan apartemen, Fara memperhatikan lampu lalu lintas di atas kepalanya. Ketika lampu bergambar orang menyeberang berubah menjadi hijau, Fara melangkah maju. Terdengar suara mobil dari sebelah kanan Fara. Lampu mobil tersebut menyorot wajah Fara, sesaat membutakannya. Lalu Fara merasa tubuhnya melayang kemudian jatuh terempas. Kaki kanannya terasa sakit sekali.


Sebelum menutup mata, Fara melihat pengemudi mobil yang menabraknya tersenyum puas. Mobil tersebut melaju meninggalkan Fara yang tergeletak sendirian.


Mata Fara berkedip perlahan. Hal terakhir yang dilihatnya adalah kerlipan bintang-bintang di langit malam, lalu segalanya menjadi gelap.


 


**********************


Dragon tersenyum lebar. Tugasnya sudah selesai. Luki Rafael akan berpikir dua kali untuk meremehkannya lagi.

__ADS_1


 


 


KETIKA Fara setengah sadar, entah berapa lama kemudian dia melihat deretan cahaya putih di atasnya.


"Korban tabrak lari. Wanita. Umur sekitar dua puluhan. Kaki kanan terluka parah." Fara mendengar suara seorang wanita disampingnya. Pandangan Fara beralih pada suara tersebut. Wanita di sampingnya memakai jas putih. Melihat mata Fara yang terbuka, wanita tersebut mendekat.


"Kau ingat namamu?" Tanyanya dengan sabar.


".....Fa...ra..." Fara berusaha berbicara dengan keras, tetapi kerongkongannya seakan tercekik.


Wanita tersebut mengangguk. "Oke, Fara. Kau baru saja mengalami kecelakaan. Kau akan baik-baik saja. Kau dengar?"


Suara wanita tersebut makin lama makin perlahan. Fara berkata dengan lemah. "Ma...ma..." setelah itu Fara pingsan.


Tak berapa lama setelah itu, dokter wanita yang berada disamping Fara memeriksanya, lalu mulai memberi perintah pada salah satu suster. "Cedera kakinya terlalu parah. Panggil dokter Riswan sekarang juga. "Suster yang diperintahkan langsung keluar dari ruang periksa untuk menelepon dokter Riswan.

__ADS_1


Sang dokter wanita kemudian keluar ruangan, ada seorang pria tua disana. "Pak, anda kenal dengan pasien?"


Sang pria tua menggeleng. "Saya tidak kenal, dokter. Saya melihatnya tergeletak di jalan raya. Jadi saya memanggil ambulans. Ini tas wanita tadi. Maaf, dok. Saya masih ada keperluan. Saya harus pergi."


__ADS_2