
Niko melangkah pasti menuju kereta bawah tanah. Ia menikmati perjalanannya. Kereta itu berhenti di sebuah stasiun. Pintu kereta terbuka dan Niko turun. Tak berapa lama kemudian dia sampai di sebuah kedai makanan. Dia memasuki kedai tersebut, menyapa para pelayan yang berada disana dan masuk keruangan. Dia mengganti bajunya dengan kemeja putih dan celana hitam.
Sekeluarnya dari sana, dia sudah membawa bolpoin dan buku catatan. Siap menerima pesanan. Niko tersenyum ramah pada salah seorang pelanggannya dan membacakan menu spesial hari itu. Setelahnya, dia mencatat pesanan kemudian membErikannya pada juru masak di dapur.
Niko sudah bekerja di kedai makan Mike selama empat bulan. Walaupun gaji per jamnya tidak besar, tapi bila ditambah tips dari pelanggan, cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Kedai makan Mike terletak di 9th Avenue, dekat apartemen tempat tinggalnya. Pemiliknya, Mike, pria gemuk berumur 55 tahun, telah membuka kedainya selama lima belas tahun. Dan selama itu kedainya tidak pernah sepi pengunjung.
Kedai Mike buka setiap hari dari pukul 08.00 sampai pukul 02.00. Menunya lengkap tersedia, mulai dari penchakes, omelet, sandwich, egg benedict, sampai burger, tacos, macaroni and cheese. Niko bekerja di kedai Mike hampir setiap hari, setelah selesai mengikuti kuliahnya di GIA.
Awal Desember lalu Niko memutuskan tidak pulang ke Indonesia. Dia tidak ingin menghadapi pertengkaran yang sama tentang pilihan yang diambilnya dengan orangtuanya. Dia akhirnya memilih terus bekerja di kedai Mike selama liburan tersebut. Mike pulang lebih awal untuk merayakan natal bersama keluarganya. Tidak ada kuliah GIA selama liburan natal dan tahun baru. Mike memberi bonus kepada pelayan yang bekerja selama hari-hari tersebut, dan Niko membutuhkan uang tersebut untuk membiayai kursus perhiasan berikutnya.
Walaupun tinggal di apartemen Julien tanpa uang sewa, Niko masih membutuhkan uang seandainya dia tidak menerima beasiswa yang telah diajukannya. Sebagian lainnya dia sisihkan untuk menabung. Dia ingin membeli berlian pertamanya dengan uang hasil usahanya sendiri.
__ADS_1
Delapan jam berikutnya Niko bergantian dengan pelayan lain dan mengakhiri kerjanya hari itu. Dia kembali menganti bajunya dan merapatkan mantelnya. Jarak apartemennya dan kedai Mike hanya berbeda dua blok, dan Niko memilih berjalan kaki menuju apartemennya. Tangannya menggenggam erat buku sketsa pemberian Fara tahun sebelumnya.
Niko masih merasakan kesedihan mendalam saat memikirkan Fara.
Dia tidak tahu sampai kapan rasa sedih itu akan terus menghantuinya. Fara telah membantunya mewujudkan mimpinya. Saat ini Niko berharap gadis itu berada disisinya, menyemangatinya. Dia sungguhsungguh ingin bertemu kembali dengan Fara suatu saat nanti.
Sesampai di depan apartemennya, Jack, penjaga pintu apartemen, tersenyum padanya. "Selamat malam, Jack," sapa Niko.
"Selamat malam, sir," kata Jack. "Ada orang yang hendak bertemu dengan anda."
Niko berjalan ke lobi depan apartemen. Sepasang pria dan wanita duduk di sana. Niko mendesah. Papa dan mama.
__ADS_1
"Niko!" Sapa mama gembira melihat kedatangan putranya.
Niko menghampiri kedua orangtuanya dan duduk diseberang mereka. "Kapan mama dan papa sampai di New York?"
"Baru tadi sore," kata mama sambil tersenyum. "Kau tidak pulang liburan, padahal mama merindukanmu. Mama membujuk papamu untuk datang kemari."
Niko memandang papa yang diam saja sejak kedatangannya. Dia merasa papa masih marah padanya.
"Mama benar-benar kedinginan sejak tadi," kata mama lagi. "Kau pasti tidak tahan juga dengan hawa dingin di kota ini."
Niko tersenyum dan mengangguk. "Ya, aku juga belum terbiasa. Mungkin tahun depan aku baru terbiasa."
__ADS_1
"Jadi kau masih ingin belajar di sini?" potong papa tiba-tiba.
Niko menatap mata papa dengan serius. "Ya.Tentu saja. Aku menyukai apa yang kupelajari sekarang."