My Love Is Stupid

My Love Is Stupid
Chapter 29


__ADS_3

Niko berlari ke kelasnya dan mencoba mencari Fara. Ia benar-benar harus meminta maaf pada Fara.


"Kau melihat Fara?" tanyanya pada temannya yang duduk di kelas. Temannya menggeleng.


Niko melanjutkan pencariannya ke taman sekolah, kantin, dan terakhir aula. Para murid kelas tiga sudah duduk di sana. Para guru sudah berkumpul untuk memulai acara wisuda.


Pak Bambang melihat Niko. "Kau sudah mempersiapkan pidatomu? Acara wisudanya akan dimulai."


Niko hanya bisa terdiam dan memandang ruang aula yang sudah dipenuhi orangtua murid dan putra-putri mereka.


Papa dan mamanya sendiri juga sudah duduk. Papa memanggil Niko untuk duduk disampingnya.


"Duduklah dulu di samping orangtuamu," kata pak Bambang. "Bapak yakin kau tidak akan bermasalah dengan pidatomu."


Karena tidak punya pilihan lain, Niko duduk di samping orangtuanya dan mengikuti acara wisuda selama dua jam berikutnya. Dia menyadari Fara tidak berada di aula.


Setelah acara wisuda selesai, Niko bertanya pada pak Bambang soal Fara.


"Pak," katanya penasaran, "kenapa Fara tidak ikut acara wisuda hari ini?"


"Oh, Fara," jawab pak Bambang. "Kemarin dia meminta ijazahnya lebih awal. Dia mau pindahan ke kota lain. Ibunya dipindah tugaskan."


Jelas Niko kecewa mendengar kabar tersebut. "Apakah bapak tahu kemana Fara akan pergi?

__ADS_1


Pak Bambang menggeleng. "Bapak tidak tahu, tapi sepertinya hari ini mereka berangkat.


Mungkin mereka sudah di bandara sekarang."


Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Niko berlari kencang menuju parkiran mobil, meninggalkan pak Bambang yang mengernyit kebingungan dengan sikap Niko.


Niko memacu mobilnya secepat mungkin menuju bandara. Ia mencoba menghubungi HP Fara dari mobilnya, tapi selalu tidak aktif. Niko mencoba lagi ,lagi, dan lagi sampai dia melihat pintu masuk bandara dan memarkir mobilnya di tempat parkir, lalu berlari secepat mungkin ke dalam bandara.


Matanya berkeliling mancari Fara. Ia melihat jadwal keberangkatan pesawat. Ada puluhan keberangkatan di sana. Ia tidak tahu Fara akan pergi dengan pesawat yang mana.


"FARA!" teriaknya putus asa di tengah-tengah kerumunan.


 


***


"Ada apa?" tanya mama.


Fara menggeleng sambil tersenyum. "Tidak apa-apa. Sepertinya seseorang memanggilku. Tapi itu tudak mungkin, kan?"


Mama tersenyum. "Ayo kita masuk."


Fara mengangguk dan berjalan masuk.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, pesawat yang membawa Fara lepas landas. Fara melihat lautan awan di bawahnya dan tersenyum. Ia sudah memutuskan untuk melupakan masa lalunya dan memulai lembaran baru.


 


***


Niko berlari-lari selama beberapa jam dari satu terminal ke terminal lain, tapi tetap tidak menemukan Fara. Kakinya kelelahan dan ia terduduk di sebuah kursi. Niko menyadari Fara pasti sudah berada di salah satu pesawat yang lepas landas. Ia telah kehilangan Fara. Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. Niko melihat nomor tak dikenal di sana. Harapannya melambung tinggi. Ia langsung mengangkat telepon.


"FARA?" harapnya.


Tapi suara di telepon tersebut bukan suara wanita. "Apakah ini Niko Fareli?"


Niko menjawab. "Ya, benar. Saya Niko fareli."


Si penelepon berkata lagi, "Nama saya Julien Bardeux. Apakah kau tahu siapa saya?"


Niko tercengang. "Saya tahu siapa anda. Tapi, mengapa anda menelepon saya?" "Saya sedang melihat gambar rancangan perhiasanmu," kata Julien.


("Gambar rancanganku?) tanya Niko semakin bingung. "Bagaimana gambar rancangan saya bisa berada di tangan anda?"


"Bisa kita bertemu?" tanya Julien. "Kita bisa membicarakan hal ini lebih lanjut." kemudian Julien memberikan informasi hotel tempat dia dia menginap.


Niko mengangguk. "Saya tahu tempatnya. Saya akan ke sana sekarang."

__ADS_1


 


***


__ADS_2