
Terdapat beberapa pelayan sedang berkonsentrasi membereskan meja dan kursi. Mereka tidak melihat Fara yang sudah berada di dalam ruangan. Fara tersenyum. Maya keluar dari ruangan pelayan dan terpana. Fara memeluknya.
"Fara!" Seru Maya sambil tersenyum lebar. "kapan kau kembali? Kenapa kau tidak memberitahuku?"
Fara tersenyum lebar. "Rahasia. Aku ingin mengejutkan kalian."
Reaksi Maya menyadarkan pelayan lain yang akhirnya berkerumun mendekati Fara dan bergantian memeluknya. "Selamat datang kembali," kata mereka.
"Aku senang berada disini lagi." Fara tersenyum memandang rekan-rekan kerjanya.
"No!No!No!" teriak suara dari arah dapur. "Kau dipecat!"
Seorang pria muda keluar dari dapur dengan kesal, dan langsung membanting pintu keluar restoran.
"Dia tidak pernah berubah," Fara berkomentar.
Maya tersenyum kecut. "Hanya kau yang berhasil bertahan lama dengannya Fara."
Fara melihat salah satu pelayan mengumpulkan uang dari teman-temannya. Pelayan itu tersenyum penuh kemenangan.
"Dua minggu. Aku kan sudah bilang dia tidak akan bertahan lebih dari dua minggu."
Fara mengerti sekarang. Ia lalu berpaling pada Maya. "Mbak ikut taruhan juga?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
Maya mengangguk sambil menyerahkan uangnya pada si pemenang. "Aku bertaruh satu bulan."
Fara tidak bisa menahan tawanya.
"Maya!" teriak Antonio dari dalam dapur. "Carikan aku asisten baru."
Maya tersenyum kemudian balas berteriak. "Aku sudah menemukannya! Aku yakin kau tidak akan memecatnya kali ini."
"Itu juga yang kau katakan sebelumnya..." Antonio keluar dari dapur dengan kesal. "Kau bilang..." suaranya terhenti. Ia menatap Fara dengan kaget.
"Buona sera (selamat malam), Antonio". Fara mendekati bosnya dan memeluknya. "Senang melihatmu kembali. Kau tidak berubah."
Ucap Fara.
Fara melepaskan pelukannya. "Aku baru saja tiba pagi ini. Aku ingin memberi kejutan."
"Alberto benar-benar menyukaimu." Antonio melihat anak didiknya dengan bangga. "Apakah kau tahu bahwa dia berencana menahanmu di Italia selama mungkin?"
Fara tersenyum. "Pantas saja dia berusaha menjodoh-jodohkanku dengan cucu laki-lakinya.”
Antonio bersungut-sungut. "Dasar pria tua licik. Dia tidak bisa mengambil asisten Terbaikku, tanpa perlawanan. Kalau bulan depan kau masih di Italia, tadinya aku mau langsung menjemputmu pulang."
"Aku disini sekarang," kata Fara. "Jadi... mau kumasakkan sesuatu?"
__ADS_1
Antonio menatap Fara tajam. "Kau mau membuktikan keahlianmu?"
"Aku cukup yakin kali ini kau akan menyukainya," kata Fara penuh percaya diri.
"Dasar kalian para chef," kata Maya sambil menggeleng. "Belum juga sepuluh menit, kalian sudah ingin menuju dapur lagi."
Fara memandang Maya sambil tertawa. "Maaf. Aku akan memasak untuk kalian semua, tidak hanya untuk Antonio."
"Cukup basa-basinya," kata Antonio tidak sabar. "Aku tidak sabar ingin mencicipi masakanmu."
Fara berjalan menuju dapur. Ia mengambil salah satu celemek putih yang ada dilemari dan mengenakannya. Tangannya mengambil panci dan mulai mendidihkan air. Beberapa saat kemudian Fara selesai membuat dua masakan. Ia mengambil masing-masing satu porsi masakannya untuk diberikan pada Antonio.
"Spaghetti ala carbonara dan tagliatelle with tomato sauce and ricotta. Silahkan dinikmati." Fara menyodorkan kedua piring di depannya pada Antonio.
Antonio menikmati masakan dipiring yang pertama dan berdecak kagum. "Kau benar-benar mengalami kemajuan besar."
Saat mencicipi masakan di piring yang kedua, Antonio mencoba tidak meneteskan air mata. "Aku tidak tahu harus berkata apa. Masakanmu sempurna. Alberto benar-benar telah mengajarimu dengan baik."
Antonio meraih tangan Fara dan mengenggamnya. "Kau seorang chef pasta sekarang. Aku bangga padamu."
Fara balas menggenggam tangan Antonio. "Terima kasih." Mata mereka bertemu. Fara berhasil menjadi seorang chef pasta berkat kesempatan yang diberikan Antonio. Ia tidak akan pernah melupakannya seumur hidupnya. Kini Antonio dan Fara memiliki kesamaan. Mereka berbagi guru yang sama.
Yaitu Alberto.
__ADS_1