My Love Is Stupid

My Love Is Stupid
Chapter 53


__ADS_3

Niko tidak bisa menahan amarahnya. Dia pergi menemui George di apartemennya. Ketika


George membuka pintu apartemen Niko langsung menamparnya. "Kau mencuri rancanganku!" Goerge tersenyum tanpa rasa bersalah. "Apa maksudmu?"


Niko tahu George berpura-pura tidak tahu. “Karyaku untuk kontes Tiffany. The Forest Dream. Kau mencurinya dariku."


"Kau tidak bisa seenaknya menuduhku," balasnya enteng. “Kau punya bukti bahwa aku mencurinya darimu? Bisa saja aku memiliki ide yang sama denganmu."


"Kenapa kau melakukan hal ini?" Niko menantang George tanpa rasa takut. "Kita berdua tahu kau menggunakan rancanganku untuk kontes kali ini."


George perlahan-lahan menutup pintu apartemennya. "Aku tidak perlu manjelaskan apa-apa padamu. Selain kalau kau punya bukti, aku tidak mau dituduh macam-macam lagi."


Niko memandang pintu apartemen George yang sudah tertutup. Dia tahu dia tidak bisa membuktikan The Forest Dream adalah karyanya, karena dia tidak pernah bercerita pada siapapun bahwa dia membuat rancangan tersebut. Dia juga tidak mungkin mengikuti kontes dengan karya rancangan yang sama. Satu-satunya solusi adalah menciptakan yang lain. Tapi waktunya tinggal dua hari. Niko menghabiskan waktu lima hari untuk membuat kalung yang pertama. Dia tidak tahu apakah dia bisa membuat kalung lain dalam waktu dua hari.


Niko memasuki gedung apartemennya dengan lemas. Wajahnya terlihat tidak bersemangat. Saat melihat papa yang sedang duduk di lobi, wajahnya semakin murung.

__ADS_1


"Niko." Papa berdiri menyapa putranya.


"Apa yang papa lakukan disini?" Niko sudah terlalu lelah untuk berdebat.


Papa melihat keletihan putranya. Wajah Niko pucat, di bawah matanya terdapat lingkaran hitam tanda kurang istirahat. "Kau tidak apa-apa Niko?" tanya papa khawatir.


Niko memutuskan untuk tidak menjawab. “Papa belum menjawab pertanyaanku."


"Papa diundang menghadiri seminar kedokteran di New York." Papa melangkah mendekati putranya. "Papa pikir selagi papa disini, papa memutuskan untuk menengokmu." "Mama tidak ikut?" tanya Niko.


"Aku baik-baik saja. Hanya saja hari ini bukan hari terbaikku. Papa mau ke atas?" "Kalau kau tidak keberatan," jawab papa.


Niko menekan tombol lift. Tak lama kemudian pintu lift terbuka. "Mari kita naik."


Setelah mereka sampai di ruang apartemen, Niko bertanya, "papa mau minum apa?"

__ADS_1


Papa menggeleng. "Apakah kau mau menjawab pertanyaan papa sekarang? Kau baik-baik saja?"


"Aku rasa, sebagai seorang dokter papa bisa mendiagnosis sendiri." Niko duduk di kursi ruang tamu berhadapan dengan papa. "Aku lelah. Aku kurang tidur. Apakah diagnosisku benar?"


"Kau masih marah pada papa." Papa memberi partanyaan atas pertanyaan putranya.


"Ya. Papa tidak pernah menerima teleponku selama dua tahun ini. Apakah menurut papa aku tidak berhak marah?" Niko mendesah kesal.


"Papa masih berpikir kau melakukan kesalahan. Lihatlah kau sekarang." Papa sebenarnya ingin berbaikan dengan anaknya, tapi yang keluar malah kemarahan. "Kau bilang kau bahagia dengan pilihanmu, tapi saat ini kau sama sekali tidak terlihat bahagia."


Niko menarik napas panjang, berusaha menahan diri. "Papa masih belum menyerah juga selama dua tahun ini? Aku tidak bisa bertengkar lagi soal ini. Terutama tidak saat ini. Lebih baik papa pergi sebelum kita berdua menyesali perkataan kita selanjutnya."


"Baiklah." Papa berdiri dan keluar dari pintu apartemen Niko dengan emosi.


Begitu ayahnya pergi. Niko berbaring di kamar tidurnya. Matanya memandang cincin bintang yang berada di telapak tangannya. Tiba-tiba hujan datang membasahi jendela kamar tidurnya. Butiran-butiran air mengalir secara bergantian di kaca jendela kamarnya. Niko langsung bangkit dari tempat tidur. Sebuah ide mulai muncul di kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2