
Fara duduk di sofa ruang kerja Charles Rafael. Ruang kerja tersebut sangat luas. Dekorasi bernuansa hitam putih mendominasi dinding ruangan. Fara menyiapkan kertas proposal menu yang sudah dibuatnya selama seminggu.
"Saya sudah membuat empat paket menu untuk pesta karyawan anda." Fara mengulurkan kertas proposalnya pada Charles. "Anda bisa memilih salah satu dari paket tersebut. Masing-masing paket terdiri atas makanan pembuka, makanan inti, makanan penutup, dan minumannya. Saya dengar acaranya nanti akan diadakan di hotel anda?"
Charles mengangguk. "Ya. Kau bisa berkoordinasi dengan manajer hotel. Acaranya minggu depan."
Fara mencatat nama manajer, waktu pelaksanaan, dan nomor telepon Hotel Rafael di bukunya. Tiba-tiba pintu ruangan Charles terbuka. Seorang pria masuk.
"Pa," kata pria tersebut. "Aku butuh tanda tangan untuk proyek ini."
Pria tersebut menyodorkan map biru pada Charles. Fara melihat wajah pria tadi dan kaget. Pria itu pria yang tadi di lift. Kekesalan yang tadi dirasakan Fara kembali muncul. Gara-gara pria di depannya yang tidak mau mengalah, Fara harus menunggu selama lima belas menit.
Charles menandatangani isi map tersebut lalu mengenalkan pria tadi pada Fara. "Fara, kenalkan, ini putraku. Luki...." Lalu katanya pada Luki, "Luki....ini Fara, chef kepala restoran Antonio yang akan mengurus pesta karyawan kita minggu depan."
__ADS_1
Luki tersenyum kecil melihat kekesalan di mata Fara.
"Fara... senang bertemu denganmu."
Fara tidak punya pilihan selain berdiri dan menjabat tangan Luki *si pria menyebalkan* Rafael dengan kesal. "Senang... bertemu dengan anda juga."
"Proposal menu Fara sangat menarik." Charles Rafael memberikan proposal tersebut pada putranya. "Kau belum pernah makan di restoran Antonio, kan? Papa jamin makanannya benarbenar enak."
Luki Rafael menatap Fara yang terlihat kesal dengan kejadian di lift tapi berusaha menutupinya dengan senyuman. "Pa, bagaimana kalau aku saja yang mengurus soal ini. Beberapa hari ke depan papa kan sibuk dengan kontrak kerja sama dengan perusahaan Jepang."
Luki? Tolong jawab tidak, om. Saya tidak mau bekerja dengan putra om.")
Dalam hati Fara, "Benar juga." Charles mengangguk. "Kau tidak keberatan mengurus ini, Luki?"
__ADS_1
"Tidak sama sekali." Luki tersenyum lebar dan memandang Fara yang mati kutu.
"Kau tidak keberatan aku bekerja denganmu, kan?" Luki berkata pada Fara lagi.
Fara berusaha menahan kekesalannya dan terpaksa tersenyum. "Tentu saja tidak. Aku akan senang bekerja bersama anda."
Luki mendekati Fara dan berkata perlahan. "Oh.... kita akan bersenang-senang kok." Sudah lama Luki tidak bermain-main dengan seseorang. Dia yakin permainannya dengan Fara pasti akan menyenangkan. Sejak kembali dari luar negeri enam bulan yang lalu, hari-hari Luki di penuhi pertemuan bisnis. Sebenarnya Luki lebih suka bersenang-senang di luar negeri dengan mobil formula satunya. Tapi setelah kecelakaan kecil yang menyebabkan kakinya patah, papanya menyuruhnya pulang. Ketika Luki bersikeras tidak mau pulang, papa malah terkena serangan jantung dan harus dirawat dirumah sakit. Akhirnya Luki mengalah dan pulang ke Indonesia. Hubungan Luki dan papanya memang tidak pernah akur, tapi Luki tidak mau papanya sakit garagara dia. Jadi selama enam bulan ini dia berusaha menjadi putra yang baik bagi papa supaya penyakit papa tidak kambuh lagi.
Luki melihat papa yang sedang memandangi wajah Fara dengan penuh perhatian. Luki mengernyitkan kening.
Merasa dipandangi oleh Charles, Fara berkata, "Apakah ada sesuatu pada wajah saya?"
Charles tersenyum. "Tidak. Hanya saja wajahmu mengingatkanku pada seseorang."
__ADS_1
Fara tersenyum. "Oh, begitu." Pandangan Fara beralih pada Luki. "Saya akan menghubungi anda lagi, Luki. Saya harap dalam dua hari anda bisa menentukan menu mana yang anda pilih. Maaf, saya masih ada pekerjaan di restoran. Apakah saya boleh permisi?"
Charles tersenyum ramah. "Tentu saja. Sampai jumpa lagi, Fara."