My Love Is Stupid

My Love Is Stupid
Chapter 33


__ADS_3

Minggu-minggu pertama bekerja di restoran Antonio, Fara tidak terbiasa. Jadwal makan dan tidurnya berubah. Fara harus makan sebelum restoran dibuka, yaitu sebelum jam makan siang, sedangkan makan malamnya bergeser menjadi makan sore. Awalnya semua itu membuatnya merana, apalagi sebagai pelayan tahun pertama Fara harus bekerja setiap hari. Ia hanya tidur selama lima sampai enam jam setiap hari. Tetapi lama kelamaan, ia menjadi terbiasa. Waktu luangnya sebelum ia pergi ke restoran ia memanfaatkan untuk memasak makanan italia di rumah. Fara sering memperhatikan Antonio memasak di dapur, lalu mempraktikannya di rumah. Terkadang para koki lain membantu Fara dengan memberikan tips-tips memasak makanan italia di sela-sela istirahat mereka.


Selama hampir empat bulan bekerja disana, Fara banyak belajar tentang seni memasak makanan italia. Setelah cukup menabung nantinya, Fara memutuskan untuk belajar menjadi seorang chef pasta.


Ada beratus-ratus masakan pasta yang dapat dicobanya. Ia bahkan bisa mencoba variasi baru dan menciptakan masakan baru.


Di tempat tidur, Fara tersenyum puas memikirkan hal itu.


 


***


Pagi harinya, Fara bertemu mama di ruang makan.


"Pagi,ma," sapanya.


Mama mencium putrinya. "Pagi,sayang."

__ADS_1


Fara mengambil nasi dan sayur yang sudah di masak mama.


"Sayur asem buatan mama memang yang paling hebat," kata Fara sambil mencicipinya lagi.


Mama tertawa. "Terima kasih, sayang". lalu menggodanya. "Lebih hebat daripada masakan restoranmu?"


Fara tersenyum simpul. "Ya, tentu saja."


"Mama tidak percaya," kata mama sambil bercanda.


***************************************


Terdapat perbedaan yang sangat besar antara pelanggan dan pelayan. Seorang pelanggan melihat menu dan memesan makanan,sedangkan seorang pelayan harus menghafal menu dan mencatat pesanan.


Setiap pelanggan pun punya sifat tersendiri. Kalau mendapat pelanggan yang tidak rewel, pelayan itu beruntung. Tapi kalau mendapat yang sebaliknya, sang pelayan harus bisa menahan emosinya.


Hari ini bukan hari keberuntungan Fara. Harinya dimulai dengan seorang pelanggan yang sangat cerewet. Butuh waktu sekitar sepuluh menit sampai si pelanggan selesai memesan. Kemudian saat Fara membawakan pesanannya, si pelanggan merasa tidak puas dan berteriak pada Fara. "Aku sudah bilang tidak mau pedas, kenapa kau masih memberiku spageti yang pedas?"

__ADS_1


Fara hanya menelan ludah. "Maaf, saya akan mengganti yang baru." Ia tidak bisa balas memarahi karena walau bagaimanapun pelanggan adalah raja.


Fara masuk kedapur untuk meminta dibuatkan spageti baru pada Antonio. Bosnya melotot kesal. "Apa? Buat baru? Kenapa kau tidak bisa mencatat pesanan dengan benar?"


"Saya sudah mencatat dengan benar," ucap Fara berusaha memberi penjelasan. Kakinya melangkah ke meja pesanan dan memperlihatkan tulisan pesanannya pada Antonio. Di pesanan itu tertulis tidak pedas.


"Bagaimana mungkin aku bisa melihat tulisan sekecil ini?" teriak bosnya lagi pada Fara.


Fara menelan ludah. "Saya mohon, signor(tuan) Antonio. Tolong dibuatkan spageti baru. Yang tidak pedas." (Dan lain kali, aku akan menulis dengan huruf kapital yang besar kalau ada pesanan khusus dari pelanggan).


"Ini peringatan pertama untukmu, Fara", kata Antonio kesal.


Fara tidak bisa melawan. Karena bagaimanapun bos selalu benar. Ia juga menyadari sesuatu hari itu. Seorang pelanggan rewel dan bos temperamental merupakan kombinasi yang mematikan.


"Sabar ya," kata seseorang, menyentuh pundaknya.


Fara berpaling dan melihat Maya tersenyum keibuan. Maya satu-satunya orang yang bisa membuat Fara tenang kembali. Fara tersenyum sambil mengangguk. Tapi kemarahan Fara pada Antonio berakhir ketika bosnya itu menyajikan masakan baru di nampannya. Spageti buatan Antonio selalu membuatnya terpesona.

__ADS_1


__ADS_2