
"Ayahku tidak akan memaafkan kalau aku mengejar mimpiku menjadi pemain teater." George menelan ludah.
Niko menggeleng sambil tertawa perlahan. "Ayahku belum memaafkanku sampai sekarang. Tapi aku tidak bisa berpura-pura menyukai sesuatu yang tidak kusukai selamanya. Selama delapan belas tahun ayahku menyiapkanku untuk menjadi dokter. Lama-kelamaan aku kesulitan bernapas. Aku takut membuka mataku pada pagi hari karena harus melakukan hal yang tidak kusukai berulang-ulang. Jangan biarkan hal itu terjadi padamu, Finley."
George tertegun mendengar perkataan Niko. Dia tidak menyangka Niko memiliki masalah yang sama dengannya. "Tapi bagaimana aku bisa berhenti? Bukankah sudah terlambat untuk mengejar mimpiku?"
"Yang kau butuhkan hanya keberanian. Percayalah pada dirimu sendiri, maka kau pasti bisa melakukannya. Kalau boleh aku berterus terang, sejak pertama aku sudah bilang, kau tidak berbakat di bidang perhiasan. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak menyukai perhiasan bisa merancang perhiasan yang indah?" Niko berjalan mendekati George dan menatapnya. "Jangan menyia-nyiakan hidupmu. Tidak pernah ada kata terlambat untuk mengejar mimpimu."
George tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Niko. "Maaf. Aku telah membencimu selama ini. Aku tidak menyangka justru kau yang menyadarkanku akan impianku. Hei, Fareli, apakah kita bisa berteman?"
Niko menjabat tangan George. "Tentu Finley. Dan... semua temanku memanggilku Niko."
George tersenyum. "Kau bisa memanggilku George."
"Aku senang kau menjadi temanku, George," kata Niko sungguh-sungguh.
"Aku juga, Niko." George menjabat tangan Niko dengan erat kemudian melepaskannya.
__ADS_1
"Aku akan mengejar mimpiku mulai saat ini," tekad George.
Niko tersenyum. "Semoga berhasil, George. Aku akan menanti tiket undangan pertunjukan perdanamu nanti."
George tertawa. "Pasti. Selamat tinggal, Niko. Aku pergi dulu."
Ketika Niko hendak menutup pintu apartemennya setelah kepergian George, tiba-tiba seseorang berkata padanya dari luar pintu.
"Apakah hidup dengan papa benar-benar membuatmu tidak bisa bernapas?" tanyanya.
Niko menyimpulkan papa mendengar semua perkataannya dengan George. "Masuklah, pa."
Niko mengambil dua kaleng bir dari kulkasnya dan memberikan satu pada papa. "Tidak semua hari-hari bersama papa membuatku tidak bisa bernapas. Aku ingat ketika kita berdua pergi memancing sewaktu aku mau masuk SMA. Aku benar-benar bahagia saat itu."
Papa tersenyum sebentar. "Maaf karena papa sudah memaksakan keinginan papa padamu."
Akhirnya permohonan maaf terucap dari mulut papa. Niko meminum birnya beberapa teguk.
__ADS_1
"Aku banyak memikirkan masa laluku selama dua tahun ini. Tidak ada yang salah dengan fakultas kedokteran. Aku tidak pernah membencinya. Hanya saja aku lebih menyukai perhiasan. Mungkin seandainya aku tidak pernah menyukai perhiasan, aku akan masuk fakultas kedokteran. Maafkan aku juga, pa. Maaf karena aku tidak bisa mewujudkan mimpi papa."
"Kita berdua terlalu keras kepala untuk meminta maaf, bukan?" Papa tersenyum.
"Jangan salahkan aku," canda Niko. "Aku mendapatkan sifat itu dari papa."
Papa menarik napas perlahan. "Papa bangga padamu."
Hati Niko diliputi perasaan gembira. "Terima kasih, pa."
Beberpa saat kemudian, ketika mereka sedang berbicara, HP Niko berbunyi. Pihak penyelenggara kontes mengatakan George Finley telah mengundurkan diri dari kontes dan menyerahkan tempat pertamanya pada Niko.
"Selamat, Niko," kata papa setelah mendengar kabar tersebut. Niko memeluk papa sambil tersenyum kegirangan. Akhirnya dia bisa berbagi kebahagiaan dengan papa.
*************************************
__ADS_1
Niko memeluk Mike erat-erat. Ini adalah hari terakhirnya bekerja di kedai Mike. Besok dia akan memulai masa magangnya di Tiffany.