My Love Is Stupid

My Love Is Stupid
Chapter 41


__ADS_3

"Tak terasa waktu cepat berlalu," kata Maya, pikirannya menerawang ke masa lalu.


Fara meminum air dari gelasnya. "yah... hampir empat tahun. Aku tidak pernah menyangka aku bisa berada di dapur ini."


Maya tersenyum. "Aku tidak pernah meragukan kemampuanmu. Sejak mencicipi spageti bolognese__mu, aku tahu Antonio sudah menemukan asisten yang dicari-carinya selama ini."


Fara meminum habis air di gelas nya, lalu beranjak ketempat cucian dan mulai mencuci semua peralatan yang digunakannya.


"Biar kubantu." kata Maya.


"Terima kasih," kata Fara.


Keduanya menutup restoran pukul dua belas malam.


 


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Pagi itu. Fara memulai hari seperti biasa. Setelah sarapan ia mandi, kemudian membaca koran yang ada di meja ruang tamu. Tatapannya jatuh pada bagian halaman iklan. Di situ tertulis bahwa sekolah SMA nya dulu akan mengadakan reuni untuk angkatannya. Seluruh alumni diharapkan hadir. Nama dan nomor hp Erika tertera disana sebagai ketua panitia alumni.


(Apakah sebaiknya aku pergi?) tanya Fara dalam hati. (Aku bisa datang dan bernostalgia di sekolahku dulu. Bertemu Niko. Mungkin sekarang dia sudah ditingkat akhir fakultas kedokteran).

__ADS_1


Fara meletakkan korannya kembali ke meja, lalu berjalan kekamar tidurnya. Ia membuka kertas JANGAN MENYERAH dari Niko dengan perlahan. (Aku takut sampai sekarang dia belum memaafkanku), pikirnya lagi. (Hubungannya dengan Erika pasti semakin erat). Mungkin saja mereka sudah bertunangan. Apakah aku bisa melihat Niko tanpa perasaan sedih?).


Empat tahun. Orang-orang bilang waktu bisa menyembuhkan luka hati. Tapi Fara belum bisa melupakan Niko. (Apakah empat tahun berikutnya aku baru bisa melupakannya?) pikirnya. Fara mendesah. Ia sungguh tidak tahu. Selama ia masih belum melupakan Niko. Ia tidak bisa membuka hatinya untuk orang lain. Ia tahu ia memang bodoh karena masih mengingat Niko setelah sekian lama, tetapi hatinya tidak bisa berbohong.


 


*********************************


"Kau terlihat sedikit bingung hari ini." Mata Maya mengawasi Fara dengan tajam. "Tidak seperti biasanya. Apakah ada hal yang mengganggu pikiranmu?"


Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Fara sedang mengelap peralatan masaknya. "Aku tidak pernah bisa menyembunyikannya dari mbak, ya."


Fara tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Tadi pagi aku membaca koran, sekolahku mau mengadakan reuni."


"Kau ragu untuk datang?" tanya Maya.


"Yah, begitulah." Fara menarik napas perlahan.


"Ada orang yang tidak ingin kau temui?" Maya melihat tatapan Fara dan menganggap pertanyaannya telah mendapatkan jawaban. "Kau asisten chef sekarang, masa lalu biarkanlah menjadi masa lalu."


"Aku tahu." Fara menunduk. "Hanya saja, aku takut menemuinya lagi."

__ADS_1


Maya terdiam. "Fara yang kukenal berani menantang seseorang yang hampir memecatnya dua tahun yang lalu."


Fara tersenyum. "Aku tidak seperti itu sewaktu sekolah."


Maya menyentuh tangan Fara. "Fara, kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di reunian itu. Tidakkah kau ingin pergi?" Fara terdiam.


Maya tersenyum lembut. "Kau tidak langsung mengatakan tidak. Apa salahnya bernostalgia dengan teman lama?"


"Thanks, mbak," kata Fara sunguh-sungguh. "Lebih baik datang daripada menyesal di kemudian hari, bukan?"


 


*****************************


Sore harinya, Fara memegang HP nya dengan gugup. Ia sudah memasukkan nomor Erika di HP nya. Jemarinya bergerak ragu antara mau menelepon atau tidak. Tapi sebelum sempat memutuskan, HP nya sudah berbunyi. Dari kantor mama.


"Halo," katanya.


Tak berapa lama kemudian wajah Fara berubah pucat. Telepon tadi berasal dari teman mama dikantor. Dia mengatakan bahwa mama pingsan di kantor dan sekarang sedang berada di rumah sakit.


Fara langsung meninggalkan rumah dan bergegas menuju rumah sakit. Di dalam taksi, ia mengirim pesan pada Maya bahwa ia tidak bisa bekerja malam itu.

__ADS_1


__ADS_2