My Love Is Stupid

My Love Is Stupid
Chapter 54


__ADS_3

Dia langsung mengambil buku sketsanya dan mulai menggambar seuntai kalung dengan satu garis horisontal, dan garis horisontal tersebut tergantung puluhan garis vertikal yang panjangnya tak beraturan dan ujungnya berbentuk tetesan air. Niko tersenyum tipis. Dua jam kemudian rancangan kalung tersebut sudah berbentuk sempurna. Niko menamainya *The Waterdrops*.


Niko mengambil payung lalu bergegas keluar dari apartemennya menuju lab GIA. Dia mengerjakan karya barunya sampai lab ditutup. Keesokan paginya, ketika lab dibuka, Niko meneruskan pekerjaannya sampai sore.


Dia berhasil mendaftarkan karyanya untuk kontes Tiffany pada menit-menit terakhir. Kini dia tinggal menunggu pengumuman tiga hari lagi.


Niko kembali ke apartemennya dengan perasaan lega. Dia menguap kelelahan dan malam itu tertidur pulas selama sepuluh jam.


 


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Tiga hari kemudian, Niko menanti pengumuman pemenang kontes di layar komputernya. Pihak penyelenggara akan mengumumkan pemenangnya secara online di internet. Jam menunjukkan pukul 09.59. Satu menit lagi. Niko merasa enam puluh detik berikutnya merupakan detik-detik terlama dalam hidupnya.

__ADS_1


Tepat pukul sepuluh, Niko mengetikkan alamat Tiffany & Co. Dia memilih menu pengumuman pemenang kontes. Sebuah halaman biru terbuka dengan cepat. Niko tidak melihat namanya diurutan pertama. Dia melihat nama George Finley di situ. Nama Niko berada di urutan kedua. Niko merasa sedikit kecewa, tapi ia masih senang karyanya mendapat urutan kedua.


Satu jam kemudian, bel pintu apartemennya berbunyi. Niko membuka pintu aparetemennya dan melihat George Finley berdiri didepannya


"Aku menang," kata George pada Niko.


"Aku tahu, selamat atas kemenanganmu." Niko hendak menutup pintu apartemennya, tapi ditahan oleh George.


"Hanya itu yang ingin kau katakan?" Tanya George heran.


George malah masuk ke apartemen Niko. "Aku tidak mengerti kau tidak marah?"


Niko duduk di punggung kursi dan melipat tangannya di depan dada. "Kenapa aku harus marah?"

__ADS_1


"Aku menang. Kau kalah. Aku mengalahkanmu. Akhirnya setelah sekian lama aku berhasil mengalahkanmu," kata George cepat.


Niko tertawa pendek. "Selamat. Kau sudah berhasil mengalahkanku." Sindirnya.


George makin kesal. "Aku mencuri karyamu." Dia berusaha membangkitkan amarah Niko.


"Aku tahu." Niko memandang George dengan santai. "Itulah sebabnya aku tidak marah. Karyaku tetap menang."


"Mengapa?" George melangkah mundur. "Mengapa aku tetap tidak bisa mengalahkanmu?" Niko balik bertanya. "Kenapa kau selalu ingin mengalahkanku?"


Goerge menatap Niko dengan sedih. "Kau tidak mengerti. Ketika ayahku ditunjuk menjadi dewan fakultas untuk memberikan beasiswa pertamamu di GIA, dia bertanya padaku kenapa aku tidak bisa sepertimu. Kenapa bukan aku yang memenerima beasiswa itu dari tangannya. Semakin dia memujimu, semakin aku membencimu. Itulah sebabnya aku ingin mengalahkanmu. Aku ingin membuat ayahku memujiku sekali saja."


Niko mengerti sekarang mengapa George membencinya. "Kau salah."

__ADS_1


"George mengeryitkan kening. "Apa maksudmu?"


"Aku mengerti semuanya." Niko tersenyum pada George. "Aku mengerti bahwa ayahmu ingin kau menjadi seperti dirinya, seorang ahli perhiasan terkenal. Ayahku juga ingin aku mengikuti jejaknya menjadi dokter, tapi aku memilih untuk meraih impianku sendiri. Kau tidak menyukai bidang perhiasan, bukan? Sampai kapan kau bisa berpura-pura untuk bertahan? Cepat atau lambat kau akan kelelahan. Aku rasa kau tidak bisa mencuri karya orang lain seumur hidupmu untuk mendapat pengakuan dari ayahmu. Berhentilah mengejar mimpi ayahmu. Kejarlah mimpimu sendiri."


__ADS_2