My Possessive Husband

My Possessive Husband
The Reason


__ADS_3

Aku pernah hampir mencintai seseorang,


sampai ku rasa aku tak akan bisa jika aku tak mencintainya..


sampai rasanya hanya dengan melihatnya hatiku seolah bersesir dengan hebat,


hanya dengan menyentuhnya seluruh bahagia menyelimuti diriku.


Namun ketika aku mulai mencoba membuka ruang dihatiku,


Kau justru dengan begitu mudah menorehkan sebuah Penghianatan diatasnya..


.


.


.


“My Possessive Husband”


©ByunRa93_


.


.


.


Suasana tampak begitu cerah. Langit diatas sana terhiasi dengan warna biru yang berpadu dengan putihnya sang awan yang kini tertembus oleh kemilau oranye mentari yang menyinari. Angin menguarkan harum khas alam di musim semi. Aroma mawar terasa begitu kuat hingga gadis itu menghirup aromanya dalam-dalam. Matanya masih terpejam dan kedua tangannya terlentang, membiarkan sang angin melewati tubuhnya yang terasa ringan.


“Kau menyukainya?” tanya seorang pria tampan dengan balutan seragam sekolah yang sama dengan miliknya.


“Oppa.. Darimana kau tau tempat sepert ini? Kau tau, ini benar-benar indah Oppa..” ucap Nara dengan matanya yang berbinar. Ia menatap Jaehyun dengan senyumnya yang hangat. Hal yang membuat Jaehyun merasakan sulit untuk menahan dorongan dalam dirinya agar tak memeluk gadis itu. Jaehyun menggerakkan jari-jari tangannya, meminta Nara mendekat padanya dengan senyum nakal yang menghiasi wajah tampannya.


Nara awalnya menggeleng. Namun dengan malu-malu pada akhirnya ia mendekat, mengulurkan sebelah tangannya untuk menyentuh jemari Jaehyun. Hampir saja Jaehyun dapat menjangkau jari Nara tapi dengan begitu tiba-tiba Nara menarik lengannya, berusaha menghindari setiap sentuhan pria itu dan berlari kecil sambil tersenyum dan sesekali menjulurkan lidahnya mengejek ketika Jaehyun selalu gagal untuk meraihnya.


“Yak! Kau ingin bermain-main rupanya. Kim Nara, kemarilah..” ucap Jaehyun yang masih tak di dengar oleh gadis itu. Nara masih berlarian kecil sampai akhirnya Jaehyun mulai mengejarnya. Ia meraih lengan Nara, menyentakkannya pelan hingga gadis itu berbalik dan menatapnya. Ia mendorong tubuh Nara hingga pungung gadis itu menempel pada batang pohon ek yang berdiri tegak di belakangnya. Jaehyun menghimpit tubuh Nara disana.


Jarak wajah mereka yang begitu dekat membuat Nara merasakan gugup yang teramat sangat, terlebih saat ini Jaehyun terus menggerakkan wajahnya semakin dekat. Nara memejamkan matanya takut, sedang kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya yang tak lagi bisa bergerak bebas karena Jaehyun menahan kedua bahunya. Ia merasakan jantungnya berdesir dan detakannya tak lagi selaras.


Sekian detik berlalu, tapi ia masih tak merasakan apapun hingga dia membuka matanya perlahan. Kini bisa ia lihat dengan jelas bagaimana Jaehyun tengah tertawa sambil memandangi wajahnya yang ia yakin sudah semerah tomat. Nara meruntuk dalam hatinya, merasa dipermainkan. Terlebih jika memang Jaehyun benar-benar menciumnya tadi, maka itu adalah Ciuman Pertamanya.


Gadis itu terlihat mendorong sedikit tubuh Jaehyun yang berada di depannya. Berniat pergi karena rasa malu itu membuatnya canggung. Namun dengan begitu cepat, Jaehyun kembali mendorong tubuh Nara. Dan disaat yang sama, ia menempelkan bibirnya pada daun bibir ranum milik Nara. Awalnya hanya menempel sampai akhirnya pria itu mulai melumatnya pelan. Sentuhan yang Nara rasa begitu lembut dan menenangkan. Lagi, Nara memejamkan matanya. Masih tak berani membalas, megingat ini baru pertama kali baginya berciuman. Jaehyun perlahan melepas ciumannya di bibir Nara. Membiarkan gadis itu membuka matanya canggung dan segera tertunduk malu, dengan pipi bersemu merah.


.


.


.


***


.


.


.


“Apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa wajahmu memerah?” goda Jaehyun yang berjalan mendekat dengan dua kaleng soda di tangannya. Jaehyun tersenyum kecil melihat ekspresi Nara yang terlihat kikuk. Setidaknya ia cukup yakin akan apa yang sedang gadis itu pikirkan. Ia masih mengingatnya, Jaehyun yakin Nara masih mengingat ciuman pertama mereka. Terlebih kini keduanya tengah berada di tempat yang sama. Sebuah bukit kecil di kawasan Daegu dengan bunga-bunga mawar yang tengah bermekaran. Bunga favorite Nara.


“Tidak ada..” jawabnya singkat sambil membuang pandangannya ke arah deretan mawar putih yang tumbuh liar dismping kirinya.


“Ini..” Jaehyun memberikan sekaleng soda pada Nara.


“Kau tidak sedang mengingat tentang-”


“Ah Oppa lihatlah, aku rasa mawar itu sangat indah..” elak Nara yang seakan tau kemana arah pembicaraan Jaehyun. Gadis itu tak ingin terjebak dalam pembicaraan yang akan menyudutkannya. Jaehyun justru tersenyum ketika keyakinannya seolah terbukti. Gadis itu masih mengingatnya.


“Sudahlah, jangan mengalihkan pembicaraan. Aku tau kau masih mengingatnya..”


Nara terdiam. Ia tak ingin mengatakan apapun. Gadis itu membuka kaleng soda ditangannya dan meneguk isinya. Ia tengah mencoba menetralisir rasa gugup yang tiba-tiba menjalari tubuhnya.


“Tempat ini masih tak berubah. Benar-benar indah dan tenang.” Gumam Nara saat memandangi hamparan luas dihadapannya.


“Kau masih sering kemari Oppa..?”


Jaehyun mengangguk, “Tentu. Terlebih ketika aku merindukanmu. Ketika aku merindukan masa-masa dimana kita saling tersenyum bersama, menangis bersama, dan ketika aku ingin memelukmu. Aku sering kesini akhir-akhir ini..”


Nara melipat kedua lengannya di depan dada, melirik Jaehyun dengan tatapan manisnya dan sedikit memajukan bibirnya seolah mengejek. Mata gadis itu menatap manik mata Jaehyun dengan menelisik, mencari kebohongan di dalam manik mata onyx milik Jaehyun.


“Jangan menggodaku. Atau aku akan menciummu seperti waktu itu..” gertak Jaehyun yang berhasil membuat kedua mata Nara membelalak lebar.


“Oppa..!!” tegur Nara yang terlihat malu. Kedua pipi gadis itu memerah dengan sendirinya. Sebuah reaksi alami yang tak pernah ia buat-buat. Nara, gadis itu semakin terlihat manis di hadapan Jaehyun.

__ADS_1


“Hahaha.. senang melihatmu sepeti ini. Kau yang seperti ini jauh lebih mirip seorang Kim Nara yang aku kenal”


“Nde..?”


“Akhir-akhir ini aku merasa kau begitu berubah, Nara. Aku tak lagi bisa melihat senyum tulus dari bibirmu. Kau selalu menatapku dengan pandangan dingin. Kau bahkan seperti terbelenggu dalam kehidupanmu. Tak terlihat natural dan bahagia..”


Nara melirik langit-langit di atasnya yang tampak cerah, kemudian ia berdeham seolah tengah memikirkan sesuatu dengan begitu serius.


“Benarkah?” tanyanya ragu. Jaehyun mengangguk singkat.


“Mungkin ini terjadi secara alamiah. Biar bagaimanapun juga aku sudah menikah Oppa. Ada begitu banyak hal yang berubah dalam hidupku. Mungkin ini memang selalu terjadi pada setiap orang. Dan, ku rasa kau juga lebih banyak berubah.”


Jaehyun masih terdiam hingga gadis itu kembali melanjutkan argumennya.


“Melihatmu bersaing dengan Taehyun, saling memperebutkan harta dan kedudukan Tuan Han membuatmu tampak begitu jahat Oppa.”


Jaehyun tersenyum sinis, ia menghembuskan nafasnya kasar sambil menatap jauh ke arah langit dari kejauhan.


“Kau sama sekali tak mengerti tentangku, Nara. Sebenarnya bukan aku yang merebut semuanya. Dari awal itu semua milikku. Dia lah yang merebut semuanya..” Jaehyun meneguk soda dari dalam kaleng yang ia pegang. Kemudian kembali menatap Nara dengan raut wajahnya yang sendu.


“Ayah dan Ibu adalah sepasang kekasih sejak mereka masih di bangku SMA. Saat itu usia ibuku masih 19 tahun ketika mengandungku. Orang tua ayah menentang keras hubungan mereka. Alasannya sepele, karena ibu hanyalah anak Yatim dan berasal dari keluarga miskin. Mereka memisahkan ayah dan ibu, bahkan meminta ibuku menggugurkan kandungannya. Tapi Ibuku memaksakan diri untuk mempertahankanku dalam rahimnya. Bahkan ia rela untuk hidup terbelenggu dalam gubuk kecil di pinggiran desa hanya demi menghindari gunjingan orang tentangnya. Ketika aku lahir, ibuku mati-matian menahan sakit tanpa bantuan siapapun. Bertahun-tahun dia hidup susah, bekerja sebagai pembantu rumah tangga demi mendapat selembar uang 10 ribu won untuk membelikanku susu. Bahkan ketika aku sudah mulai bersekolah, ibuku harus menambah pekerjaannya, mencari lebih banyak uang untuk biaya sekolahku..”


Jaehyun mendongak, ia tengah mencoba menahan rasa sakit itu ketika kenangan yang selama ini ia tutup rapat-rapat harus kembali terbuka lebar. Luka itu masih begitu nyata di ingatannya.


“Kau tau, bahkan sejak kecil aku hidup dalam cemoohan. Hampir semua temanku selalu mengataiku sebagai anak haram, pembawa sial. Mereka selalu mempertanyakan dimana ayah ku. Awalnya aku yang masih begitu kecil hanya diam tanpa begitu memikirkannya. Sampai suatu saat ketika usia ku 8 tahun, tanpa sengaja aku memukul anak majikan ibu. Sebenarnya itu bukan murni kesalahanku. Ia lah yang memulai dengan mengolokku sebagai anak haram. Anak yang tak punya ayah dan pembawa sial. Bahkan ia mengatai ibuku sebagai seorang pelacur. Aku tak bisa diam saja mendengar begitu banyak cacian yang terus ia berikan. Sampai tanpa sadar aku memukulnya. Nyonya benar-benar marah hingga ia memecat ibuku dari pekerjaannya. Masih bisa ku ingat bagaimana aku menangis sambil terus berteriak pada ibuku saat itu. Aku mempertanyakan dimana keberadaan ayah. Dan mungkin karena itu ibuku membawaku untuk menemuinya. Sejak saat itulah ibu membawaku untuk tinggal di istana megah itu.”


“Oppa..” panggil Nara yang seperti tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


“Tak hanya berhenti disitu. Justru itu adalah titik balik dimana semuanya berubah. Saat itu ayahku telah menikah dengan ibu Taehyun. Ia seorang wanita yang baik dan penuh kasih sayang. Dan sepertinya ayah juga telah mencintainya. Mereka terlihat seperti keluarga yang bahagia sebelum kami datang. Han Taehyun, sejak ia dilahirkan semua orang memperlakukannya seperti putra mahkota. Ia hidup dengan berbagai kemewahan dan kasih sayang. Aku bahkan benar-benar iri padanya. Sebenarnya bukan aku ingin merebut semua yang ia miliki, aku hanya ingin mereka mengakuiku. Menganggapku sebagai anak Tuan Han juga. aku-”


“Sudahlah aku tau..” gumam Nara sambil menggenggam sebelah tangan Jaehyun untuk menenangkannya. Jaehyun memeluk Nara dalam dekapannya. Mulanya Nara tampak tak nyaman dengan pelukan itu. Namun ia cukup tau bagaimana perasaan Jaehyun saat ini, hingga ia membiarkan tubuhnya jatuh dalam pelukan pria itu.



Jaehyun bisa merasakan ponsel dalam saku jasnya bergetar. Panggilan itu terus masuk ke dalam ponselnya hingga berulang\-ulang. Namun ia tak sedikitpun berniat untuk mengangkatnya. Pria itu masih bertahan, memeluk gadis yang ia cintai. Membiarkan semua hasrat rindu yang selama ini ia tahan dalam dirinya keluar begitu saja. Ia tak lagi peduli bahwa gadis itu telah menikah. Ia juga tak peduli bahwa status gadis itu saat ini, adalah adik iparnya. Yang ia tau pasti bahwa dirinya mencintai gadis itu. Masih mengingankannya untuk tetap berada disisinya.


“Nara, tak bisakah kau kembali padaku? Tak bisakah kita kembali bersama seperti dulu? Aku bahkan bisa berjanji untuk mengakhiri ini semua. Aku tak akan lagi mengejar posisi presdir Han’s Group dan membiarkan Taehyun memilikinya asal kau kembali padaku..” bisik Jaehyun pada daun telinga Nara. Gadis itu melepaskan pelukan Jaehyun. Manik matanya yang indah menatap wajah Jaehyun dengan tajam.


“Oppa, berhenti mengatakan hal bodoh seperti ini..”


“Harus berapa kali ku katakan padamu, Nara. Taehyun sama sekali tak mencintaimu. Ia menikahimu hanya karena ia tau aku menyukaimu. Yang Taehyun cintai disepanjang hidupnya hanyalah Hyeri. Hanya Lee Hyeri! Aku tau walaupun kau terus menolak pendapatku, tapi hatimu tengah merasakannya bukan? Aku tau hatimu tengah meragukan suamimu sekarang..”


Nara hanya terdiam. Ia kembali menatapi layar ponselnya yang terlihat sama.


“Lalu apa yang akan orang katakan ketika melihatku bersamamu Oppa? Publik tak pernah tau akan apa yang terjadi pada kita. Dan ketika aku bercerai dari Taehyun, kemudian pergi bersamamu. Apa yang akan mereka katakan tentangku?”


“Kita akan pergi jauh dari keramaian. Kita bisa menjalani hidup seperti ibuku dulu. Tinggal di pinggiran desa dan hidup bahagia bersama..”


“TIDAK. Aku sama sekali tak ingin hidup dalam pelarian seperti itu!” tegas Nara keras


“Nara..” gumam Jaehyun pasrah.


Bumi terus berputar. Mentari perlahan mulai merangkak turun dari peraduannya. Membuat semu\-semu cahaya senja tampak jelas di langit bukit yang perlahan menggelap. Nara berdiri pada pinggiran tebing di bukit kecil itu. Memandang jauh ke arah langit sambil menghembuskan nafasnya panjang. Gadis itu terlihat lelah. Terlebih ketika hatinya kembali merasakan rasa tak tenang, ketika hatinya kembali mengingat suaminya yang mungkin sedang bersama dengan gadis lain yang ia cintai disana. Nara melirik ke arah samping, ketika ia merasakan tepukan pelan pada bahunya. Jaehyun berdiri disana dan terlihat murung. Ia tertunduk lesu sambil menggumamkan kata maaf dari bibirnya.


“Oppa, sudahlah. Aku juga minta maaf..” gumam Nara sambil meminta pria itu untuk menatapnya. Jaehyun kembali memeluk tubuh ramping Nara dan keduanya tengah sama-sama saling menenangkan melalui sentuhan yang mereka berikan.


Ponsel Jaehyun kembali bergetar. Kali ini panggilan yang masuk berasal dari sekretarisnya, sehingga mau tak mau pria itu menerima panggilan yang masuk dalam ponsel hitam miliknya.


“Ada apa?” tanya Jaehyun pada sang Sekretaris.


“Nyonya baru saja ke kantor. Beliau mencari anda Tuan dan sepertinya Nyonya sedang benar-benar marah..”


“Apa?”


“Beliau meminta anda untuk segera pulang..”


“Ah baiklah aku tau..” gumam Jaehyun singkat. Ia mematikan sambungan telponnya dan meletakkan benda kecil itu dalam saku jasnya. Ia kembali menatap Nara.


“Sepertinya kita harus kembali ke Seoul sekarang..”


.


.


.


***


.


.


.

__ADS_1


@Taehyun’s House, Gangnam – Seoul


09.00 PM


.


.


“Kau ingat Kim Jungkook? Ia terlihat sangat tampan sekarang..”


“Benarkah? Padahal dulu dia hanyalah anak pendiam yang sangat suka dengan ddubboki. Bahkan So Yeon sering menjulukinya sebagai manusia Ddubboki. Hahaha..”


“Kapan-kapan kita harus kembali ke Daegu untuk menemui mereka.”


“Baiklah, oppa. Haha..”


Keduanya masih saling sibuk mengenang masa lalu mereka sambil tertawa lepas saat menaiki satu persatu anak tangga di rumah keluarga Han yang terlihat begitu megah dan mewah. Masih tak ada yang menyadari bahwa diatas sana sepasang mata tengah memperhatikan keduanya dengan begitu intens. Kini, langkah kaki keduanya tengah sampai pada anak tangga tertinggi. Jaehyun masih menatap Nara, menunggu gadis itu untuk berdiri disampingnya saat,


‘PLAKK..!’ sebuah tamparan keras mendarat pada pipi kanannya.


“Oppa..” pantau Nara yang terlihat syok. Gadis itu segera meraih wajah Jaehyun dan menyentuh tangan Jaehyun yang sedang memegangi pipinya yang terasa panas. Jaehyun berbalik, ia menatap ibunya dengan tatapan tak percaya.


“E-eomma?”


“Kau, masuklah ke kamarmu!” bentak Nyonya Yoon pada Nara dengan begitu keras dan kasar. Nara segera berlari dari hadapan ibu dan anak yang tampak bersitegang itu. Nara menutup pintu kamarnya pelan, namun ia masih berdiri di balik pintu untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.


“Aku tak pernah berfikir kau akan sebodoh ini! Han Jaehyun! Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan, eoh! Kau tak sadar baru saja kau membawa kita pada posisi yang tak aman! Kau tau bagaimana sulit usahaku untuk mengatur pertemuanmu dengan Tuan Jung hari ini? Tapi begitu saja kau melupakan janjimu dan pergi dengan istri adikmu! Apa Kau tau dampaknya kalau Tuan Jung membatalkan hubungan kerjasamanya dengan kita?” sorot mata Nyonya Yoon menghujami wajah anaknya marah.


“Kita akan benar-benar berakhir saat itu Jaehyun-ah! Kau ingin kita kembali hidup seperti dulu? Kau ingin kembali hidup miskin? Hidup dalam pandangan hina orang-orang pada kita! TIDAK, Eomma tak akan membiarkan hal itu terjadi! Kau ingat betapa susahnya kita mencari sesuap nasi dulu?”


“Kau tau, bahkan untuk sampai pada posisi ini Aku telah melakukan segala cara kotor termasuk mengusir wanita itu. Dan tak akan ku biarkan kebodohanmu itu menghancurkan semua rencana yang sudah lama ku buat! Kalau kau tak lagi tau arah tujuan hidupmu sebaiknya kau berhenti sekarang! kau bisa kembali ke titik rendah itu sendiri! Eomma tak akan lagi peduli pada hidupmu!” bentak Nyonya Yoon penuh penekanan, kemudian wanita paruh baya itu menuruni anak tangga, membiarkan anaknya tertunduk sambil menahan lajur air mata yang ingin sekali menerobos untuk turun.


Nara membuka sedikit pintu kamarnya, mencoba melihat keadaan di luar sana yang tadi sempat terdengar ricuh. Saat matanya tak lagi menatap bayangan sosok Nyonya Yoon, gadis itu mengendap\-endap untuk keluar dari kamar. Ia menatap Jaehyun yang terduduk di sofa ruang tengah lantai dua kediaman keluarga Han itu sambil tertunduk dan menyembunyikan wajahnya dalam\-dalam. Nara menghembuskan nafasnya parau, ketika menatapi keadaan Jaehyun yang terlihat begitu tertekan. Perlahan ia berjalan mendekat, dan duduk di samping Jaehyun sambil menatap laki\-laki itu dalam diam.


“Kau mendengarnya?” tanya Jaehyun yang masih bertahan di posisinya.


Nara mengangguk pelan. Sedetik kemudian Jaehyun tampak tersenyum getir.


“Kau bahkan tau bukan bagaimana Ibu ku sendiri tak lagi peduli padaku. Yang ia pedulikan hanyalah bagaimana berada di puncak kekuasaan dan terbebas dari masalalu yang begitu menyedihkan.”


Nara membelai punggung Jaehyun, mencoba menenangkan pria itu dari depresinya. “Oppa,, aku tau kau akan baik-baik saja..”


“Nara dengarkan aku. Mungkin untuk yang terakhir kalinya aku menanyakan hal ini padamu. Mau kah kau kembali padaku? Kembali menjalani hidup berdua denganku?” sorot mata Jaehyun nampak begitu serius hingga membuat Nara terlihat sulit untuk memutuskan.


“Oppa-”


“Tak perlu kau jawab sekarang. Aku memberimu waktu untuk memikirkannya. Karena mungkin jawabanmu adalah satu-satunya keputusan yang menentukan bagi masa depan Han’s Group dan juga hidup Taehyun. Jadi aku tak ingin kau tergesa dalam memutuskan..”


.


.


.


-To Be Continue-


.


.


.


Author’s Note:


.


.


Kira-kira apakah jawaban yang akan Nara berikan pada Jaehyun?


Apakah dia akan melepaskan pernikahannya dengan Taehyun dan kembali ke sisi Jaehyun?


Tunggu bab selanjutnya yah..


Terimakasih sudah singgah dan membaca..


Kritik dan saran dari kamu masih selalu ku nantikan..


.


.


With love,

__ADS_1


ByunRa93_


__ADS_2