
Ada sebuah titik dimana Cinta itu datang, namun tak juga kau sadari..
Ketika sesuatu di masalalumu yang telah lama pergi kembali.
Menghadapkanmu pada dua pilihan sulit.
Antara kembali menggenggam apa yang dulu pernah hilang,
Ataukah mempertahankan apa yang tengah kau miliki, dan kini tengah berada dalam genggamanmu..
.
.
.
“My Possessive Husband”
©Byunra93_
.
.
.
Han’s Group – Seoul [South Korea]
09.00 AM
.
.
Sebuah mobil sport berwarna putih tengah berhenti pada pelataran Han’s Group yang luas. Seorang pria muda dengan parasnya yang tampan, dengan tuxedo dan tampilannya yang begitu menyilaukan baru saja turun dari bangku kemudi dengan begitu berwibawa. Perlahan sorot matanya yang teduh menyapu sekelilingnya. Membuat teriakan histeris dari beberapa karyawan wanita yang sedang berjalan pada pelataran Han’s group, begitu menggema. Jaehyun tersenyum, menundukkan sedikit kepalanya sebagai bentuk sapaan pada bawahannya, ramah. Sebuah sikap yang jelas jauh berbeda dari seorang Han Taehyun sang direktur yang hampir tak pernah tersenyum atau bahkan merunduk pada bawahannya. Taehyun adalah direktur dingin berkepala batu.
Jaehyun berjalan perlahan ke arah samping mobilnya. Tangannya membuka pintu penumpang di depannya sambil masih tersenyum hangat pada sang adik ipar.
“Aku bisa melakukannya sendiri oppa. Kau membuat mereka semua menatap ke arah kita..” Runtuk Nara sambil berdiri disamping Jaehyun dengan memperhatikan satu persatu tatapan para karyawan yang kini menatapnya dari atas kepala hingga ujung kaki. Mereka bergunjing, saling berbisik dan menatap Nara dengan sinis.
“Tak usah gugup. Ayo..” ajak Jaehyun sambil menyikukan lengannya, berharap Nara akan segera melingkarkan tangannya disana.
“Ayo, Nara..” ujar Jaehyun ketika ia tau gadis itu belum merespon akan ajakannya.
Nara terlihat ragu. Tapi karena Jaehyun terus memaksa, akhirnya Nara pun tak bisa menolak. Perlahan gadis itu mulai melingkarkan lengannya pada siku Jaehyun. Melangkahkan kakinya secara beriringan dengan langkah kaki Jaehyun, yang seperti sengaja ia buat pendek untuk membuat Nara mudah mensejajarkan langkahnya. Nara tersenyum kecil, ia menatap pria disebelahnya sekilas dan mulai menyadari bahwa ia sama sekali tak berubah.
Ia tetaplah seorang Han Jaehyun, Cinta pertamanya. Pria yang akan selalu berjalan disampingnya, berjalan sejajar dengannya sambil melindunginya dari tatapan sinis yang selalu ia dapatkan. Ia masilah seorang pria yang penuh perhatian. Dia masih lah seorang Jaehyun yang bersedia menunggu langkah kakinya walaupun ia berjalan dengan begitu lambat sekalipun. Sangat berbeda dengan Taehyun yang selalu berjalan di hadapannya. Tak pernah menunggunya untuk berjalan beringan. Suaminya adalah pria arogan yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Setidaknya itulah yang Nara pikirkan saat ini.
“Kenapa kau tersenyum? Apa sebegitu menyenangkan berjalan disampingku? Kalau kau begitu menyukainya, kenapa tak kembali padaku saja?” tanya Jaehyun masih dengan sebuah senyum hangat dari bibirnya.
Nara menghentikan langkahnya sejenak, menatap manik mata Jaehyun sambil mengernyitkan dahinya. “Oppa..!!” tegurnya seolah membuat Jaehyun sadar bahwa kini status mereka tengah jauh berubah.
“Baiklah, baiklah. Aku mengerti..” Jaehyun kembali meraih jemari Nara dan perlahan menarik gadis itu masuk ke dalam lift yang tengah terbuka di hadapannya. Untuk sesaat suasana menjadi hening dan sangat canggung. Sampai Jaehyun terlihat berjalan mendekati Nara yang berdiri di sudut lift dan mulai menatapnya dengan sungguh-sungguh.
“Aku benar-benar berharap kau akan kembali padaku, Kim Nara. Tempatmu adalah disisiku. Dan kau adalah milikku..” gumamnya pelan yang masih bisa Nara dengarkan dengan begitu jelas.
‘Tingg..’ pintu lift yang mereka naiki terbuka. Di luar sana beberapa karyawan tengah berdiri sambil menunggu, hingga kedua orang yang saling berdekatan itu perlahan menjauhkan tubuhnya. Jaehyun menggerakkan sedikit kepalanya, memberikan isyarat pada Nara untuk segera mengikutinya keluar. Mereka kembali berjalan dengan beriringan menuju tempat diadakannya kontes desig Han’s Group.
.
.
.
***
.
.
.
Mendung semakin terlihat gelap di langit Seoul. Udara kian terasa dingin, hingga gadis itu harus mengeratkan kembali sweeter yang sedang ia gunakan. Ia kembali melirik jam di tangan kirinya yang menunjukkan angka 03.00 PM. Sedang tangan kanannya masih begitu setia memegangi ponsel putih miliknya. Masih menunggu sesuatu yang entah ia sendiri tak begitu tau akan apa yang ia tunggu. Kontes hari ini memang telah berakhir satu jam yang lalu, tapi ia masih betah berada disana. Berdiri di balik jendela kaca besar pada lorong gedung tinggi berlebelkan Han’s Group itu dengan raut wajah sendu yang sulit di artikan. Lagi, ia melihat layar ponselnya yang masih tak berubah. Ia mendesah sambil lagi-lagi tertunduk, menyandarkan kepalanya pada permukaan kaca dihadapannya dan memijit pelipisnya yang terasa berat.
“Apa yang kau lakukan..?” seru Jaehyun ketika menatapi gadis itu yang terlihat lusuh.
“Oppa..” Nara tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Jaehyun. Mencoba membuang jauh – jauh rasa resah dalam dirinya.
__ADS_1
Jaehyun berjalan mendekat, ia berdiri disamping Nara yang masih memandang jauh ke arah langit yang terlihat jelas dari lantai 10 gedung itu. Jaehyun berbalik, menyandarkan punggungnya pada cendela kaca sambil menatap Nara yang masih melihat ke arah langit dengan pandangan sendunya.
“Kau tidak sedang menunggunya bukan?” tanya Jaehyun begitu tiba-tiba seperti ia bisa membaca arah pikiran Nara saat ini.
“Ku beri tahu padamu, Kim Nara. Dia tak kan menghubungimu..” ujar Jaehyun yakin.
“Apa maksudmu, Oppa?” tanya Nara tak mengerti.
“Kau belum tau siapa Han Taehyun! Kau sama sekali tak mengenalnya Nara. Bukankah sudah ku bilang, dia sama sekali tak pernah mencintaimu. Baginya kau hanyalah alat untuk menyerangku. Dia hanya memanfaatkanmu..” Jaehyun terlihat tersenyum sinis sekarang.
“Oppa, apa yang sedang kau bicarakan eoh..?”
“Nara, aku tau kau tak selugu itu. Tapi baiklah, akan ku beritahu. Kau ingat waktu itu ayah mengatakan sesuatu tentang Lee Hyeri?” Jaehyun memeluk kedua lengannya, melipatnya di depan dada sambil memperhatikan wajah Nara yang terlihat mengernyit saat mengingat perkataan tuan Han beberapa hari yang lalu.
“Apa yang kau maksud Ketua Tim Design butik J?”
“Tepat. Dia adalah mantan kekasih Taehyun. Lee Hyeri adalah satu-satunya gadis yang Taehyun cintai. Dia cinta pertama Taehyun..”
“A-Apa!”
“Lihatlah! Ternyata dugaanku benar, bukan? Kau sama sekali belum tau tentang ini.” Jaehyun semakin melebarkan senyum di bibirnya.
“Taehyun dan Hyeri, sejak kecil mereka adalah sepasang kekasih. Taehyun sangat mencintai Hyeri, namun sayang gadis itu justru pergi meninggalkannya. Alasannya sangat sepele, demi melanjutkan pendidikannya di Paris. Sejak saat itulah sikap Taehyun jadi seperti ini. Tertutup dan amat sangat dingin. Terutama terhadap wanita. Dulu ia bukan tipe orang seperti itu. Taehyun adalah pria yang sangat ceria dan terbuka. Tapi setelah ibunya dan Hyeri satu persatu pergi dari hidupnya, ia seolah tak mempercayai satu orang pun di dunia ini. Ia selalu menutup dirinya dari publik dan hidup seperti bongkahan es tak bernyawa..” Jaehyun menggantung ucapannya. Ia menarik nafas panjang dari bibirnya.
“Sebenarnya aku cukup kasihan dengan anak itu, hanya saja terkadang sikapnya yang begitu arogan benar-benar membuatku kesal..”
“Sebenarnya apa tujuanmu mengatakan hal ini padaku, Oppa.?!”
Jaehyun kembali tersenyum samar, “Aku hanya ingin kau sadar jauh lebih awal, jadi kau tak akan sebegitu terluka di akhir. Aku hanya ingin kau tau ia tak pernah mencintaimu. Tak ada yang mencintaimu seperti aku, Kim Nara..”
“Oppa, ku mohon jangan seperti ini! Aku dan Taehyun sudah menikah Oppa, tolong mengertilah..”
“Menikah? Aku tak benar-benar yakin dia menganggapmu sebagai seorang istri, Nara. Lihatlah, dia begitu saja meninggalkanmu disini dan jauh lebih memilih pergi sendiri ke Paris seorang diri. Menurutmu apa tujuannya?” Jaehyun menggantungkan ucapannya.
“Tentu saja untuk menemui gadis itu. untuk menemui cinta pertama yang masih sangat ia cintai..”
“Aku sama sekali tak percaya ucapanmu, Oppa!!” Nara membentak, sedikit berteriak.
Tentu itu bukan sebuah akting atau ucapan belaka karena kini hati gadis itu seperti tengah teriris sembilau tajam. Ada sedikit rasa nyeri yang berdenyut di dalam sana. Entahlah! Walaupun ia terus meyakini itu bahwa ucapan Jaehyun bohong, namun pada kenyataannya itulah yang terjadi. Itulah yang saat ini Nara rasakan.
“Itu hakmu untuk tak percaya akan ucapanku, tapi kau bisa membuktikannya. Selama apapun kau menunggu, ia tak akan menghubungimu. Bahkan jika kau mau, aku bisa menyuruh orang untuk memata-matahi Taehyun dan melaporkannya padamu. Kau bisa membuktikan betapa suamimu masih sangat menginginkan Lee Hyeri untuk berada disisinya..”
Gadis itu menghentakkan kakinya kasar. Ia berjalan sedikit gusar meninggalkan Jaehyun yang masih terus menatap punggungnya yang perlahan menjauh. Tatapan Nara terlihat kosong, pikirannya jauh melayang menembus dimensi waktu, berusaha merasakan dengan hatinya akan apa yang sedang Taehyun lakukan disana.
Nara menghentikan langkahnya pada sebuah lorong kecil gedung Han’s Group. Ia kembali menatap layar ponselnya dan mencoba menghubungi Taehyun. Nada sambung mulai perlahan terdengar di telinganya, membuat Nara mencoba bersabar dan terus menunggu pria itu menjawab telponnya. Tapi tidak, Taehyun sepertinya tak berniat menjawab panggilan itu, hingga Nara kembali merasa resah. Ia mengusap wajahnya yang letih. Ini panggilannya yang kesepuluh sepanjang hari ini, tapi masih juga tak mendapatkan jawaban dari suaminya.
“Han Taehyun, bodoh!” umpatnya kesal.
Nara menyentuh layar ponselnya beberapa kali hingga ia menemukan nomor Baekki disana. Dengan sedikit ragu, Nara menekan tombol panggil pada ponselnya. Dan beberapa saat kemudian suara pria bermata sipit itu mulai terdengar ramah.
“Baekki, apa yang sedang kalian lakukan eoh? Apa begitu sibuk?” tanya Nara.
“Ya?”
“Apa kau sedang sibuk sekarang?”
“Tidak juga. Kami sedang di butik sekarang. Ada apa?”
“Bisa aku bicara dengan Taehyun? Aku menghubunginya sepanjang hari ini, tapi sepertinya ia lupa membawa ponselnya.. Bisa tolong berikan ponselmu padanya..?” pinta Nara.
“Oh. Baiklah, tunggu sebentar..” jawab Baekki
Untuk beberapa saat tak terdengar sedikitpun suara pada sambungan telpon itu. Sampai akhirnya suara dingin itu terdengar dibalik sana. Suara khas Taehyun yang begitu ingin ia dengar.
“Ada apa?” sapanya datar.
“Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan, hah! Dimana ponselmu!” tegur Nara yang terdengar sangat kesal.
“Apa kau sedang mencoba berakting sebagai istri yang baik? Atau kau sedang merindukanku?”
“Berhenti mengatakan hal bodoh! Merindukanmu? Kau pikr itu hal yang masuk akal Han Taehyun! Aku membencimu!” umpat Nara kesal.
“Katakan ada apa? Kenapa kau terus menghubungiku untuk sesuatu yang sama sekali tak penting. ada banyak hal yang harus ku selesaikan. Jadi jangan membuang waktuku hanya untuk bertengkar..”
“Apa bertemu dengan mantan kekasihmu termasuk hal penting dalam daftar kegiatanmu?” Nara terdiam saat menyadari kata-kata yang baru saja ia lontarkan. Tidak, sebenarnya kalimat itu terlontar begitu saja tanpa ia rangkai sebelumnya. Dan kini gadis itu meruntuki kebodohannya. Ia sadar Taehyun pasti akan menertawainya sekarang. Kenapa kalimat itu seolah mengisyaratkan jika gadis itu tengah cemburu saat ini.
Disisi lain, Taehyun terlihat tengah tersenyum simpul di balik telpon yang masih tersambung itu. Ia berdiri dari kursi kerjanya dan perlahan berjalan mendekati jendela kaca besar di salah satu ruangan pada butik J tempatnya mengadakan pertemuan dengan Hyeri. Hyeri sendiri memang sedang berada di ruangan yang sama. Ia bahkan sedang memandangi Taehyun dengan dahi yang mengernyit heran.
__ADS_1
“Kau tidak sedang cemburu bukan Kim Nara..?” tukas Taehyun yang terdengar penuh percaya diri.
“Tidak! Aku tak akan cemburu! Itu hak mu untuk bertemu dengan siapapun yang kau mau! Aku tak peduli!”
“Baguslah. Itu cukup melegakan..” Taehyun merubah ekspresinya menjadi begitu rumit. Pria itu kembali duduk pada kursinya, menatap Hyeri sekilas sambil masih menunggu jawaban dari istrinya.
“Oppa, malam ini kau akan ke tempatku bukan?” ucap Hyeri yang tak menyadari jika sambungan telpon Taehyun masih menyala.
‘Deg..’
Hati Nara terasa berdesir hebat. Suara itu, suara seorang gadis yang Nara yakini adalah Lee Hyeri, terdengar begitu jelas di telinganya. Membuat rasa lega yang beberapa saat lalu gadis itu rasakan begitu saja sirna. Berganti dengan perasaan cemburu yang teramat sangat. Namun Nara masih tak ingin mengakuinya.
“Nara, ku hubungi lagi nanti. Ada yang harus ku kerjakan. Ingat, jangan terlalu dekat dengan si brengsek itu, atau kau akan menyesal! Aku akan selalu mengawasimu!” ancam Taehyun sebelum akhirnya memutuskan sambungan telpon itu sebelah pihak.
Nara menggeram, ia terus mengumpat sambil menatapi layar ponselnya dengan kesal. Ia meletakkan ponselnya dalam saku tas jinjingnya dan berjalan ke luar gedung dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal.
“Bodoh! Kenapa aku seperti ini! kau bodoh, Kim Nara!” gumam Nara meruntuk pada dirinya sendiri.
“Han Taehyun, kau menyebalkan! Suami macam apa yang berselingkuh secara terang-terangan dihadapan istrinya! Aish, aku benar-benar tak bisa terima! Apa dia tak menghargaiku? Walaupun hanya perjanjian, tapi tetap saja aku istri sahnya! Brengsek Kau, Han Taehyun!” gadis itu terus mengomel sambil berjalan di pinggiran jalan raya menuju halte bus yang tak jauh dari gedung Han’s Group.
‘Tin.. Tin..’
Bunyi klakson mobil terdengar dari arah samping Nara. Membuat gadis itu menoleh ke samping dan mendapati mobil sport putih Jaehyun tengah berhenti disana. Perlahan kaca mobil itu terbuka, Jaehyun tersenyum sambil melambaikan sebelah tangan kanannya ke arah Nara.
“Apa yang sedang kau lakukan? Masuklah..” ajak Jaehyun sambil membuka pintu penumpang disebelahnya dari dalam
Nara masih berdiri disana, menatapi pria itu tanpa ekspresi. Ia menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir bagaimana pria-pria yang berada di dekatnya selalu memiliki kepribadian ganda yang sulit untuk di tebak. Jaehyun misalnya, baru beberapa saat yang lalu ia mengucapkan kata-kata tajam padanya. Tapi lihatlah, saat ini ia justru tengah tersenyum dengan sangat ramah. Senyum yang sungguh sangat indah dan membius.
Nara menatap enggan ke arah pintu mobil Jaehyun yang terbuka. Ia bermaksud ingin melanjutkan kembali langkah kakinya, sampai sebuah pemikiran itu datang. Ia kembali mengingat ancaman Taehyun tadi. ‘Jangan terlalu dekat dengan si brengsek itu, atau kau akan menyesal!’ kalimat itu kembali terputar pada telinga Nara.
“Kau pikir kau siapa berani mengatur hidupku! Kau tak punya Hak untuk itu Han Taehyun!” gumam Nara lirih sebelum ia memutuskan untuk mengiyakan ajakan Jaehyun dan duduk pada kursi penumpang mobil putih milik Jaehyun untuk kemudian menutup pintunya keras.
“Ingin pergi kesuatu tempat?” tawar Jaehyun sesaat setelahnya sambil tersenyum puas.
“Terserah kau saja..”
“Baiklah..” jawab Jaehyun senang. Ia melajukan mobilnya cukup cepat di jalanan kawasan itu yang selalu ramai.
.
.
.

-To Be Continue-
.
.
.
Author’s Note:
.
.
Kira-kira kemana Jaeehyun akan membawa Nara pergi?
Dan bagaimana seandainya Taehyun mengetahui hal itu?
Apakah hubungan pernikahan mereka akan baik-baik saja?
Tunggu bab selanjutnya.. 😉
Terimakasih sudah singgah dan membaca kisah ini.
Semoga kalian suka..
Thankyou readers-nim..
.
.
__ADS_1
With love,
ByunRa93_