
Katanya, ketika kau mencintai seseorang maka dirimu akan terlihat bodoh..
Ya, aku rasa itu semua benar adanya..
Aku hanyalah wanita bodoh yang terlihat begitu lemah ketika aku mencintaimu..
Yang ada dipikiranku hanyalah bagaimana cara agar aku bisa melihatmu..
Bagaimana cara membuatmu menatapku, dan
Bagaimana caraku untuk mempertahankan dirimu disisiku..
And this is My Choice..
.
.
.
“My Possessive Husband”
©ByunRa93_
.
.
.
Laki\-laki itu terlihat memasuki gedung tinggi perusahaan Han dengan gusar. Amarah masih terlihat jelas di raut wajahnya. Perasaan sakit, kesal, marah dan kecewa memenuhi ruang hatinya tanpa bisa lagi ia tahan. Han Taehyun, pria itu benar\-benar merasa dirinya begitu menjijikkan. Perlahan, namun masih dengan begitu tegas, ia menghentakkan kakinya untuk masuk ke dalam salah satu ruangan yang ada di perusahaannya. Ruangan pribadi milik sekretarisnya.
Ia dapat melihat dengan jelas Lee Baekki sedang berbincang dengan seorang gadis yang ia tau adalah salah satu manager di perusahaannya, Shin Jihyun. Keduanya tengah tersenyum, sedikit terlihat bercanda kecil yang syarat akan kerinduan. Taehyun tersenyum miris ketika kini Baekki tengah memeluk kekasihnya tanpa malu. Ia menghentikan langkahnya ketika pikirannya kembali mengingat kejadian beberapa saat lalu, dimana Nara justru menamparnya dengan begitu keras. Menatap pasangan itu terlihat begitu mesra membuat Taehyun untuk sejenak meruntuk dalam hatinya.
Andai saja Nara tak harus membuatnya marah, andai saja gadis itu akan dengan sendirinya menyambutnya, memeluknya ketika tau ia pulang lebih awal. Sebenarnya yang Taehyun inginkan hanyalah hal kecil. Suatu perhatian dari istrinya. Namun yang ia tak habis pikir, Nara justru menolaknya, menamparnya bahkan meminta Taehyun menceraikannya hanya karena pria itu menciumnya. Sebenarnya bukan respon seperti itu yang Taehyun inginkan.
“Akhemm..” deham Taehyun yang cukup keras hingga kedua orang itu saling menjauhkan tubuh mereka. Baekki berdiri, membiarkan Jihyun masih duduk di tempatnya tadi. Ia menatap sang atasan dengan dahi yang mengernyit heran.
“Ku pikir kau akan tinggal dirumah dan menghabiskan waktumu dengan istrimu?” tanya Baekki.
“Ah, aku tau. Kau pasti datang untuk mengambil ini bukan?” sekretaris bermata sipit itu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam dari dalam saku jasnya. Kemudian ia memberikan kotak itu pada Taehyun. Awalnya Taehyun hanya mengambil kotak di tangan Baekki, tapi kemudian ia membuka dan menatap benda kecil itu dengan senyum yang sulit di gambarkan. Pandangan Taehyun beralih menatap Jihyun yang sedang berdiri disamping Baekki.
“Untukmu saja..” Taehyun memberikan kalung itu pada Jihyun, yang kini menatapnya bingung.
“Yak, Han Taehyun! Kau ini apa-apaan. Ambil kembali benda itu! Asal kau tau saja, aku sudah memberikan hadiah yang sama padanya.” Baekki menarik tubuh kekasihnya mendekat, menyibakkan rambut panjang Jihyun yang terurai untuk menunjukkan kalung putih dengan liontin berbentuk menara Eiffel yang sedang ia gunakan. Hadiah kecil yang baru saja Baekki berikan.
“Bukankah kau sengaja membelinya untuk istrimu? Seingatku kau terlihat begitu bersemangat untuk membelinya ketika penjual itu menceritakan mitos di balik kalung ini?”
“Mitos?” Tanya Jihyun mengintrupsi.
“Hmm.. Mitos bahwa jika seseorang memberikan kalung itu pada kekasih mereka, maka mereka akan hidup bersama selamanya..”
“Benarkah?” gadis itu terlihat begitu antusias. Sedang Baekki hanya tersenyum kecil sambil kembali merengkuh bahu kekasihnya untuk kembali ia peluk.
“Karena itu aku memberikannya padamu. Untuk mengikat dirimu dalam hatiku selamanya.” Keduanya tersenyum dan terlihat saling menatap penuh cinta. Sesuatu yang membuat Taehyun sedikit memperlihatkan pandangan iri di wajah tampannya.
“Ck, menggelikan!” ejek Taehyun yang kembali membuat dirinya di perhatikan oleh kedua orang yang sedari tadi seolah mengacuhkan keberadaannya.
“Jadi, apa kau sudah menemui istrimu? Berikan benda itu padanya dan katakan kau merindukannya. Kenapa kau tak mencoba untuk jujur pada dirimu sendiri?”
“Lee Baekki! Berhentilah mengatakan hal bodoh! Segera keruanganku, atau aku akan benar-benar memecatmu!” hardik Taehyun yang sedetik kemudian sudah melangkah keluar dari ruangan sekretarisnya.
.
.
.
***
.
.
.
@Taehyun Room – Han’s Group
08.00 PM
.
.
Langit di balik kelambu ruangan Direktur yang terletak di lantai 10 itu sudah terlihat gelap. Gemerlap lampu kota berkerlip dari atas sana. Sedang udara dingin begitu terasa, ketika ia berjalan keluar di balkon kecil yang terletak di belakang ruangannya. Masih pada posisinya, Taehyun terlihat duduk pada kursi kerjanya sambil menyandarkan punggung di sandaran kursi kerjanya yang nyaman sambil memejamkan kedua matanya. Dahinya sedari tadi berkerut, seolah mengisyaratkan jika pria itu sedang memikirkan sesuatu dengan begitu dalam.
“Kau benar-benar tak akan pulang?” pekik Baekki yang begitu saja masuk ke dalam ruangan atasannya tanpa permisi. Taehyun membuka matanya perlahan, kemudian menatap tajam ke arah sekretarisnya yang terlihat polos.
“Kau tak punya tangan untuk mengetuk pintu, Baekki?”
“Ah, maaf..” Baekki tersenyum kecil. Kemudian, ia mencoba mendekati sang direktur dan duduk di sebuah kursi yang terletak di hadapan Taehyun.
“Pulanglah, selesaikan baik-baik dengan istrimu. Kau tak sedang berfikir untuk melepaskannya bukan? Aku tau kau tak akan sebegitu mudah menyerah seperti ini, Tae. Aku tau kau--”
“Bisakah kau berhenti bersikap sok tahu Baek! Aku sudah cukup lelah hari ini. Aku bahkan belum sempat mengganti pakaianku sepulang dari Paris tadi.”
“Karena itu pulanglah. Setidaknya kau bisa beristirahat dengan tenang dirumah..”
__ADS_1
“Tidak! Aku tak ingin membuatnya semakin muak dengan menatapku. Sudah cukup! Mungkin Nara benar, sudah saatnya untuk mulai mempersiapkan perpisahan” Taehyun kembali menyandarkan punggungnya, kemudian memejamkan matanya malas.
“Pulang dan istirahatlah. Bukankah kau harus menyiapkan rapat untuk besok pagi? Sudah, sana pergi!” gumam Taehyun dengan matanya yang masih terpejam. Baekki yang sudah hafal dengan tabiat sahabatnya hanya menatap miris ke arah Taehyun. Sejenak ia terdengar mendesah frustasi, dan memtuskan meninggalkan pria itu sendiri disana.
Taehyun memindahkan tubuhnya pada sofa cream di ruangannya dan kembali mencoba memejamkan matanya. Jam yang terpasang di dinding masih menunjuk ke angka sembilan malam tapi pria itu benar\-benar telah merasa lelah, hingga matanya tak sanggup lagi untuk terbuka. Sejujurnya, ia ingin pulang. Melepas sepatu dan pakaiannya, kemudian mandi dan tertidur dengan nyenyak di ranjangnya. Tapi jelas itu bukan suatu hal yang mungkin untuk ia lakukan setelah pertengkarannya dengan istrinya tadi pagi.
Taehyun masih teguh pada pendiriannya. Ia kembali memandangi layar ponselnya yang masih tak berubah. Sepertinya ia tengah menunggu sesuatu yang begitu penting, karena sedari tadi jarinya terus mengetuk-ngetuk ujung meja disampingnya dengan resah.
‘Truuut... truuut..’ deringan ponsel Taehyun membuat sang empunya terbangun dari tidurnya. Ia menatap layar ponselnya dengan mata yang berbinar cerah. Senyumnya mengembang dan dengan cepat ia menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
“Oppa, kau dimana?” seru seorang gadis di balik telepon yang terdengar begitu manja
“Apa kau sudah sampai..?”
“Ya. jemput aku di bandara..”
“Baik. Tunggulah sebentar aku akan segera kesana..”
Taehyun segera mematikan sambungan telpon miliknya. Ia menarik kasar jas yang tadi ia letakkan pada sandaran sofa dan berlari keluar dari ruangannya. Seperti tak ingin membuat gadis itu menunggu terlalu lama.
Taehyun masih duduk di bangku kemudi mobil sport hitam miliknya. Ia terus menginjak gas mobilnya semakin dalam dan seolah memaksa laju mobilnya untuk berjalan semakin cepat pada jalanan kota Seoul yang terlihat agak lenggang. Taehyun menginjak rem mobilnya dalam\-dalam ketika lampu jalan raya yang berada di hadapannya memancarkan cahaya merah. Dan ia menggunakan kesempatan itu untuk mengambil ponselnya untuk menghubungi Baekki, sang sekretaris.
“Baek, apa aku bisa menggunakan apartemenku sekarang?” tanya Taehyun.
“Sepertinya belum. Proses renovasi belum benar-benar selesai. Pulanglah kerumahmu.”
“Kalau begitu tolong pesankan satu kamar hotel atas nama Lee Hyeri..”
“Apa? Lee Hyeri? Untuk apa nona Lee kemari?”
“Tak usah banyak tanya. Hanya lakukan saja apa yang aku perintahkan!”
Taehyun mematikan sambungan teleponnya dan kembali berkonsentrasi pada jalanan di hadapannya. Pria itu tersenyum simpul. Ia segera turun dari mobil mewah miliknya dan berjalan mendekati seorang gadis yang tengah menunggunya di pintu keluar bandara. Gadis dengan rambut panjangnya yang lurus tergerai dengan warna hazelnut yang terlihat cocok dengan kulit putihnya. Wajahnya terlihat sempurna. Matanya membulat indah dengan bola mata berwarna coklat yang terlihat menyala. Bibirnya yang kecil berwarna merah merona membentuk sebuah lengkungan yang menggiurkan.

Lee Hyeri, dengan berbalut blouse putih berlengan pendek yang di padukan dengan celana jeans hitam, gadis itu terlihat begitu mempesona. Ia melambaikan tangannya saat menatap Taehyun yang tengah mendekat ke arahnya.

“Oppaaaa..” serunya dengan nada Manja khas seorang Lee Hyeri. Ia segera memeluk erat tubuh Taehyun. Sedang Taehyun juga terlihat menyunggingkan senyum yang sama dan membalas pelukan Hyeri di pinggangnya.
“Maaf membuatmu menunggu lama. Ayo..” ajak Taehyun yang kemudian mengambil alih koper besar berwarna pink milik gadis itu.
.
.
***
.
.
Ia merundukkan kepalanya, mencoba melihat ke arah gerbang dibawah sana yang masih tak menunjukkan tanda-tanda akan terbuka. Tak bisa ia pungkiri. Saat ini Nara sedang menunggu suaminya pulang. Menyesal? Yah, sepertinya ia memang tengah menyesal akan tindakannya tadi pagi.
“Dia tak akan pulang..” seru seseorang dari arah samping. Nara menengok, menatap ke sisi kanannya. Dimana Jaehyun terlihat berdiri di balkon kamar miliknya yang berada tepat di sisi kanan kamar Taehyun dan Nara. Jarak Jaehyun berdiri saat ini hanya berbataskan pagar kecil dengan tempat Nara berdiri.
“Oppa..”
“Kau sedang menunggunya?” tanya Jaehyun.
Nara menghembuskan nafasnya berat. Ia kembali menatap langit gelap di hadapannya sambil memejamkan matanya yang lelah.
“Sepertinya dia tak akan pulang. Daripada terus menunggunya sebaiknya kau tidur” seru Jaehyun mengarahkan. Nara masih diam pada posisinya tanpa berniat menjawab.
“Atau kau ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan? Bagaimana kalau kita pergi ke su-”
“Tidak, Oppa. Dia tak mengijinkanku pergi..” Nara tersenyum sinis saat menyadari betapa patuhnya dirinya pada larangan sang suami.
“Sebagai istri yang baik aku akan menunggunya pulang..” Nara membalikkan tubuhnya, membuka knop pintu balkonnya dan hendak melangkah masuk ke dalam kamarnya, saat Jaehyun tiba-tiba mencegahnya.
“Kau pikir dia akan mencintaimu kalau kau bersikap seperti ini? TIDAK Nara-ah, Tidak. Satu-satunya yang Taehyun cintai hanyalah Lee Hyeri. Tipe ideal Han Taehyun adalah Lee Hyeri. Kau, tak akan bisa menggantikan posisi Hyeri dihatinya. Tidak akan! Aku hanya tak ingin melihatmu terluka jadi--”
“Sekalipun aku akan terluka tapi inilah yang ku pilih Oppa. Aku mencintainya. Aku pikir ini hanyalah rasa sesaat yang timbul karena ikatan diantara kami. Tapi ternyata aku salah. Dan sepertinya aku benar-benar mencintainya. Berulang kali aku terus menyangkal, menolak dan membohongi hatiku, tapi nyatanya aku tak bisa Oppa. Sekalipun bibirku mengatakan aku membencinya, aku muak berada di sampingnya dan aku tak menyukainya. Tapi jauh dalam hatiku aku merindukannya, aku selalu ingin melihatnya, bahkan aku merindukan setiap sentuhannya. Aku, aku seperti orang bodoh yang begitu saja membiarkan diriku terjebak dalam permainannya. Itu semua karena aku tak bisa bertahan jika tak ada dia disampingku. Aku--”
“Nara..” gumam Jaehyun saat melihat gadis di hadapannya sedang menangis.
“Aku mencintainya Oppa.. Aku mencintainya..” tubuh Nara terasa melemah. Ia berjongkok sambil memeluk kedua lututnya. Tangisnya kembali pecah, bahkan kali ini jauh lebih terdengar menyakitkan. Ia menyesal, sungguh ia menyesal dengan segala bentuk keegoisannya yang selalu membuat Taehyun marah.
“Nara..” pantau Jaehyun dari balik pagar pembatas balkonnya. Ia bisa melihat dengan jelas gadis itu terluka, menangis dalam kesendiriannya. Kalau saja pagar pembatas itu tak terlalu tinggi mungkin kini Jaehyun telah melompatinya dan segera memeluk tubuh ringkih Nara dalam pelukannya. Tapi nyatanya tak ada yang bisa ia lakukan untuk gadis yang ia cintai itu. Tak ada, kecuali membiarkannya menangis dan meluapkan segala bentuk perasaannya.
.
.
.
***
.
.
.
Han’s Group, 08.00 AM
__ADS_1
.
.
Seperti biasa Han Taehyun berjalan dengan begitu tenang memasuki gedung Han’s Group yang megah. Tuxedo hitam yang berpadu dengan kemeja putih melekat pas di tubuhnya. Rambutnya tertata rapi, bahkan raut wajahnya tampak jauh lebih bercahaya. Disampingnya seorang gadis cantk berperawakan tinggi, dengan kulit putihnya yang tampak mempesona terlihat menggandeng lengan sang direktur dengan begitu mesra.
Tak heran jika disepanjang jalan yang mereka lalui gunjingan para karyawan terdengar begitu jelas. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang secara terang-terangan memuji dan mengagumi kecantikan seorang Lee Hyeri. Hal yang begitu lumrah memang, karena gadis itu memiliki wajah dan bentuk tubuh yang mendekati sempurna.
Dress hitam yang Hyeri kenakan hanya sepanjang lutut, membuat kakinya yang jenjang begitu terekspose dengan jelas. Rambut panjangnya terurai indah dan kulit putihnya benar-benar terlihat begitu kontras dengan dress yang ia gunakan. Menambah kesan elegan dari seorang Lee Hyeri. Taehyun beberapa kali mengernyit, ketika sebagian karyawan wanitanya terdengar membandingkan Lee Hyeri dengan istrinya Kim Nara.
Menurut beberapa orang, Lee Hyeri jauh lebih cocok bersanding dengan direktur tampan mereka. Tapi tak sedikit yang justru menghujat tingkah Taehyun yang terkesan keterlaluan dan mempermainkan perasaan istrinya. Bukankah suatu hal yang tidak etis memang ketika seorang laki-laki yang sudah menikah justru menggandeng gadis lain di kantornya sendiri.
Taehyun masih terlihat acuh. Pria itu tetap menggandeng lengan Hyeri erat, bahkan ketika mereka berdua tengah masuk kedalam sebuah lift yang memang kosong. Keduanya saling berdiri berhadapan dan pada akhirnya melepaskan tautan tangan mereka. Hyeri terlihat mendesah dan begitu lelah.
“Ck, kau membuat mereka menatapku aneh Taehyun-ah..” protesnya. Ia berjalan mendekati Taehyun ketika melihat dasi pria itu yang tak terpasang dengan benar. Jemari Hyeri dengan cekatan melepaskan simpul dasi Taehyun yang terlihat aneh.
“Kau masih tak bisa menggunakannya dengan baik, huh? Sampai kapan kau akan seperti ini?” gumam Hyeri yang syarat akan kekhawatiran. Ia bergerak untuk lebih dekat dengan tubuh Taehyun dan meraih leher jenjang pria itu untuk melingkarkan dasi itu disana. Dengan begitu hati-hati Hyeri mulai menyimpul dasi di leher Taehyun. Kemudian ia membenarkan letak tuxedonya yang sedikit miring. Saat itulah pintu lift terbuka. Diluar sana Nara sontak membulatkan matanya tak percaya ketika mentap pemandangan di hadapannya. Taehyun yang mulai menyadari kehadiran Nara, menjauhkan tubuhnya dari Hyeri. Ia menatap ke arah Nara namun masih tak berani untuk menyapa.
“Nara, ayo..” Jaehyun mulai masuk ke dalam lift sambil meminta gadis itu untuk mengikutinya. Nara perlahan melangkahkan kakinya untuk masuk. Matanya masih menatap suaminya tajam.
“Jaehyun Oppa..” sapa Hyeri
“Hyeri-ssi. Bagaimana kabarmu? Waaah, kau terlihat semakin mempesona nona Lee. Hahaha..” goda Jaehyun.
‘Hyeri..?’ ulang Nara dalam batinnya. Benarkah gadis ini Lee Hyeri? Gadis yang begitu dicintai suaminya? Nara terlihat mengalihkan pandangannya pada sosok gadis bersurai coklat disamping Taehyun. Memperhatikan penampilan gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Hatinya berdesir hebat ketika tak ada hal lain yang bisa ia ungkapkan kecuali satu kata ‘Cantik’. Ia kembali menatap pantulan dirinya di cermin, membandingkan setiap bentuk dan lekuk tubuhnya dengan seorang Lee Hyeri. Nara mendesah. Ia hanya seorang gadis dengan celana jeans dan kemeja bermotif bunga yang sedikit ketinggalan jaman. Sungguh tak sebanding dengan wanita dihadapannya yang terlihat begitu mewah. Hati Nara terasa semakin sakit ketika gadis bermarga Lee itu menautkan jemarinya di lengan Taehyun.
“Oppa, malam ini kau tetap di hotel ku, bukan?”
Jantung Nara seperti terhenti. Hatinya terasa ngilu, seperti di tikam di titik yang tepat. Jadi semalaman suaminya berada di hotel dengan gadis itu? Taehyun bersamanya? Menghabiskan mlam berdua dengan gadis dimasalalunya dan dengan begitu tega membiarkan dirinya menunggu tanpa kepastian dan dalam perasaan bersalah yang begitu menghantui. Batin Nara kembali bergetar.
Ia ingin sekali marah dan mengumpat, tapi apa yang bisa ia lakukan kalau memang suaminya menginginkan hal ini? Bukankah pernikahan diantara mereka hanyalah sebuah kepura-puraan tanpa dilandasi dengan perasaan cinta? Ia tentu tak punya hak untuk marah jika memang pada kenyataannya suaminya jauh lebih memilih untuk menghabiskan waktunya bersama dengan gadis lain yang ia cintai.
“Oppa, bagaimana? Bisakah malam ini kau ke tempatku?” ajak Hyeri denngan nada yang sengaja ia buat semenggoda mungkin.
Nara mengepalkan tangannya kesal ketika ia merasa kehadirannya tak dianggap. Gadis itu mendesah sambil mengarahkan pandangannya kearah langit-langit lift yang terlihat terang karena lampu lift yang menyala.
“Maaf nona Lee, tapi sepertinya suamiku tak akan punya waktu untuk menemuimu malam ini. Kami sudah berjanji akan menghabiskan waktu kami untuk makan malam bersama. Bukan begitu suamiku?” sergah Nara yang terlihat tersenyum klise saat mengatakannya. Nada suara Nara terdengar datar memang, namun jelas ada sebuah penekanan pada kata Suami yang dia ucapkan.
Nara berjalan mendekat kearah Taehyun, meraih lengan pria itu dan sedikit menariknya mendekat padanya. Sebelah tangannya yang lain menyentuh dasi Taehyun dan sedikit membenarkan letak posisinya.
“Suami?” ulang Hyeri. Ia tersenyum sinis.
“Aku memang sempat mendengar tentang pernikahanmu Oppa. Jadi apakah gadis ini adalah istrimu?” tanya Hyeri sambil melirik penampilan Nara dengan tatapan meremehkan.
“Ya. Kenalkan, dia Kim Nara istriku..” Taehyun sedikit memundurkan tubuhnya agar dua wanita itu dapat saling menatap dengan jelas. Nara terlihat mengulurkan tangannya dengan sebuah ekspresi yang seperti sedang memaksakan wajahnya agar tetap terlihat datar walau sebenarnya hatinya terluka dalam. Hyeri menjabat tangan Nara enggan, matanya tak sedikitpun menatap ke arah Nara.
“Hai, aku Kim Nara..” ujar Nara yang sama sekali tak ditanggapi oleh Hyeri
“Oppa, benarkah kalian akan makan malam bersama?” tanya Hyeri pada Taehyun, sedang yang ditanya hanya mengherdikkan kedua bahunya sebagai jawaban.
“Kenapa? Kau tak ingin pergi? Bagaimana kalau aku menemanimu? Akan sangat tidak nyaman bukan, kalau harus makan malam berdua dengan gadis yang tak kau cintai. Jadi, aku akan menemanimu..” Hyeri kembali tersenyum sinis. Sedang Nara mengendus kesal. Gadis itu kembali mengepalkan tangannya marah.
“Kita harus bicara!” hardik Nara pada suaminya, sebelum akhirnya ia melangkah keluar, saat pintu lift dihadapannya terbuka. Ia menghentakkan kakinya kasar saat berjalan terlebih dulu meninggalkan Jaehyun, Taehyun dan Hyeri yang masih saling menatap bingung.
“Hyeri-ah kau bisa langsung ke ruang rapat. Hyung, bisa kau antar Hyeri?” pinta Taehyun pada Jaehyun. Dan sedetik kemudian, ia sedikit berlari kecil untuk menyusul istrinya yang sudah jauh berada di depan.
.
.
.
-To Be Continue-
.
.
.
Author’s Note:
.
.
Kira-kira apa yang akan Taehyun lakukan dengan Nara?
Apakah hubungan mereka dapat di perbaiki?
Atau justru semakin memburuk karena kehadiran Hyeri?
Tunggu bab selanjutnya ya..
Terimakasih sudah singgah dan membaca. Semoga kalian suka..
Kritik, saran, komentar, like dan ulasannya aku tunggu lho..
.
.
.
With love,
__ADS_1
ByunRa93_