
Di balik sikap dingin yang selalu kau tunjukkan.
Di balik ke acuhan mu itu.
Aku tau, sebenarnya kau masih peduli
.
.
.
"My Possessive Husband"
©ByunRa93
.
.
.
Seoul Hospital, October 18th 2019
10.00 PM
.
.
Taehyun terlihat gundah. Disepanjang perjalanan tadi raut wajahnya begitu sulit untuk di artikan. Antara khawatir, cemas, namun tak bisa menutupi rasa benci yang ia rasakan terhadap Ayahnya. Begitu ia sampai di rumah sakit, langkah kakinya mengayuh cepat menuju ruang operasi. Ia bahkan seolah lupa akan keberadaan Nara yang terus mengekor di belakangnya. Nara sendiri tak bisa dan tak berani mengatakan apapun. Ia tau sesungguhnya hati laki-laki itu sedang berkecamuk hebat. Dari sorot matanya yang kalut, Nara bisa memahami apa yang kini Taehyun rasakan. Perasaan takut akan kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki. Hal itu tergambar jelas dari tatapan Taehyun.
Saat ia pada akhirnya sampai di depan pintu ruang operasi. Yang pertama Taehyun lihat disana adalah sosok nyonya Yoon dan anak laki-lakinya, Han Jaemin. Taehyun menghentikan langkahnya di titik itu. Ia menatap nyonya Yoon sinis, saat wanita itu menunjukkan sebuah ekspresi sedih yang siapapun akan yakin bahwa itu hanyalah sebuah akting. Sebuah raut wajah yang sangat terlihat di buat-buat.
“Apa yang kau lakukan terhadap padanya, hah!” sentak Taehyun sambil menunjuk wajah Nyonya Yoon tajam dan kasar.
“Harusnya aku yang bertanya. Apa yang sedang kau lakukan sekarang, Han Taehyun?” reaksi Nyonya Yoon terlihat sangat datar. Seolah ia tengah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh anak tirinya.
“Jangan berpura-pura baik dihadapanku! Itu memuakkan! Aku tau punya rencana busuk! Dan satu yang perlu kau camkan baik-baik. Selama aku masih hidup di dunia ini, aku tak akan membiarkanmu melakukan rencana bodoh mu itu!”
“CUKUP! Bisakah kau sedikit bersikap sopan? Dia Ibumu, Han Taehyun!” sentak Jaehyun yang awalnya hanya diam. Keduanya saling menatap sengit dan sama-sama saling mencondongkan tubuhnya tak mau kalah. Sampai akhirnya Nara melangkah, memberanikan dirinya untuk mengapit lengan Taehyun dan menariknya mundur.
“Taehyun-ah, ku mohon kendalikan dirimu.” bisik Nara pelan sambil menyeret tubuh Taehyun untuk duduk pada salah satu bangku tunggu di depan ruang operasi. Sementara Jaehyun tengah memeluk tubuh ringkih ibunya yang berdiri didepan pintu. Untuk sesaat suasana hening lah yang mendominasi sepanjang koridor bercat putih itu.
Taehyun menundukkan wajahnya dalam. Ia menautkan kedua tangannya bersiku pada lutut, kemudian menopangkan kepalanya disana. Seperti sedang berdoa pada Tuhan agar laki\-laki itu bisa diselamatkan. Nara memeluk tubuh pria itu. Mengelus pelan punggung Taehyun dan menyalurkan ketenangan melalui sentuhan tangannya.
“Tenanglah semua akan baik-baik saja. Tuan Han akan baik-baik saja.” ujar Nara lembut.
“Jangan menghiburku. Kau tau bukan aku membencinya!”
“Tapi aku tau dibalik itu kau mencintainya. Kau mengkhawatirkannya Han Taehyun. jangan berpura-pura tegar dihadapanku..”
“BODOH!” umpat Taehyun yang kemudian meraih tubuh gadis itu yang tengah duduk di sampingnya. Ia memeluknya erat sambil membenamkan kepalanya pada bahu Nara. Menangis dalam diam di balik bahu putih istrinya.
Nara bisa merasakan punggung pria itu bergetar. Ia juga bisa mendengar isakan pelan dari bibir suaminya. Tapi ia hanya diam. Sejenak, ia merasa kehangatan di dalam hatinya. Melihat Taehyun yang seperti ini. Melihatnya menangis karena khawatir terhadap Ayahnya. Hal itu membuat Nara tersentuh. Paling tidak ia menemukan sisi baik di balik sifat dingin dan arogan seorang Han Taehyun.
Dari tempatnya berdiri sekrang Jaehyun menatapi sepasang suami istri itu geram. Tangannya mengepal keras, sedang sorot matanya begitu mengisyaratkan keemburuan yang membakar hatinya. Nara terus menenangkan Taehyun. Tapi saat ia memalingkan wajahnya ke arah lain, matanya tanpa sengaja menatap manik mata Jaehyun yang tengah menatapnya dalam. Nara memalingkan pandangannya. Dan saat itulah, perlahan Taehyun melepaskan pelukannya di tubuh gadis itu.
“Baekkie..” tegur Taehyun sambil menetralkan raut wajahnya. Memasang raut wajah dinginnya lagi sambil menatap sekretarisnya yang berjalan mendekat dengan wajah lelah.
“Yak! Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Taehyun mengintimidasi.
“Tenanglah..”
“Apa? Kau memintaku tenang? Otak mu sehat, Lee Baekkie?” gertak Taehyun marah.
“Jantung Tuan Han mengempis, sehingga harus dilakukan operasi pemasangan ring pada jantungnya” jelas Baekkie yang tak ingin berdebat terlalu lama.
“Apa kondisinya sebegitu parah?”
Baekkie mengangguk dengan wajah sangat menyesal. “Dokter sudah memvonis bahwa beliau tak akan bisa bertahan jauh lebih lama.”
Tangan Taehyun mengepal keras saat telinga mendengar kabar itu. Biar bagaimanapun pria itu masih lah ayahnya. Satu-satunya orang tua yang masih ia miliki sekarang. Hati Taehyun semakin tak tenang. Ia tenggelam dalam peasaan cemas yang begitu menyesakkan. Namun, di tengah kegundahan itu, ia merasakan tangan lembut Nara menelusup dibalik lengannya, mencoba menenangkan laki-laki itu lagi. Taehyun menatap Nara dalam diamnya.
“Percayalah, semua akan baik-baik saja..” Nara membelai lembut punggung tangan Taehyun. Pria itu menghela nafasnya berat dari bibirnya, kemudian ia mengangguk lemah.
.
.
.
***
.
.
.
Gwangju Resto, 08.00 PM
.
__ADS_1
.
Nyonya Yoon mendesah kasar. Lagi, ia melirik jam di tangannya yang terbuat dari emas. Benda itu terlihat elegan di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir setengah jam ia duduk sendiri disana. Dan kini, rasa bosan itu kian membuatnya jenuh.
“Jung Sik-ah, kau yakin dia akan datang?” tanyanya pada supir pribadi yang kini tengah duduk di belakangnya. Saling memunggungi satu sama lain.
“Beliau mengatakan akan datang nyonya.”
“SIAL! Laki-laki ini ingin menguji kesabaranku rupanya.” gerutu Nyonya Yoon sambil mengambil cangkir berisikan green tea yang tersaji di depannya. Satu tegukan masuk ke dalam mulutnya, namun ia terpaksa meletakkan kembali cangkir itu ketika sosok pria bertubuh tegap kini berjalan masuk dari pintu untuk menuju ke arahnya. Nyonya Yoon tersenyum ramah.
“Maaf membuatmu menunggu..”
“Tentu bukan masalah yang serius. Aku tau kau sibuk Tuan Jung.”
“Ku dengar suamimu masih belum sadar setelah operasi itu. Apa karena ini kau menemuiku?” seperti biasa Tuan Jung langsung menyentuh pokok permasalahan tanpa senang berbelit dengan sesuatu yang tak penting. Nyonya Yoon tertawa lepas. Ia menatap tuan Jung dengan pandangannya yang menggoda.
“Anda sangat paham dengan kondisinya. Ini sudah hari kelima, tapi dia tak juga sadar. Dan kalau dalam satu minggu dia belum sadar juga. Itu berarti, aku punya hak untuk melakukan rapat direksi guna memutuskan pengalihan posisi presdir Han’s group untuk sementara. Dan tentu aku akan membutuhkan bantuanmu untuk menjadikan Jaehyun ku duduk di posisi itu.”
“Apa kau sudah memikirkan semuanya? Kau tau apa resikonya?”
“Anda tak perlu khawatir, Tuan. Aku sudah memastikan semuanya aman. Yang ku butuhkan hanyalah suara darimu. Aku ingin kau memilih Jaehyun ku dalam rapat dewan dereksi nanti.”
“Kau yakin semuanya akan berjalan lancar?”
“Sangat!” ujar Nyonya Yoon dengan penuh percaya diri.
“Kau tak perlu meragukanku, Tuan. Satu yang bisa ku janjikan padamu. Aku pasti menyingkirkan Taehyun jauh-jauh dari posisi itu.” Wanita itu tersenyum penuh arti.
“Jadi apa kau akan memberikan suaramu untuk Jaehyun?”
“Hahaha. Tak kusangka kau benar-benar wanita menakutkan Yoon Eun Hee-ssi. Apakah dengan cara ini juga kau menyingkrkan Kim Jira dari istana megahnya? Kau ingin menyingkirkan Taehyun dengan cara kotor seperti kau menyingkirkan ibunya dulu? Sebegitu ambisiusnya kah dirimu?”
Bukannya tersindir, Nyonya Yoon justru hanya tersenyum sinis.
“Kau akan membantuku atau tidak?!” tegasnya. Sedang Tuan Jung hanya mengangkat sebelah bahunya acuh.
‘Truutt.. Truuutt..’ Nyonya Yoon menatapi layar ponselnya yang berdering. Nama Jaehyun terpampang jelas disana, hingga tanpa perlu berfikir lagi wanita itu segera menerima panggilan dari putranya.
“Eomma, kau dimana? Segeralah ke rumah sakit. Appa sudah siuman..”
“Apa?” tanya Nyonya Yoon yang terlihat kecewa.
“Appa sudah siuman dan sekarang dokter sudah memindahkannya ke kamar inap.”
“Baiklah eomma kesana..” Nyonya Yoon mematikan ponselnya kesal dan mengupat atas nasib buruk yang seolah mengintainya.
“Ada apa?” tanya tuan Jung saat menyadari raut wajah pucat dari wanita itu.
.
.
.
***
.
.
.
I Think it’s an appropriate time to stop all the acting..
.
.
.
TaeRa’s Room, 10.00 PM
.
.
Nara duduk pada ujung tempat tidurnya, menyudutkan dirinya pada sandaran tempat tidur sambil masih membaca buku kuliahnya yang tampak membosankan. Sesekali ia terlihat mendesah. Di tutupnya buku itu kasar dan ia letakkan pada nakas sebelah tempat tidurnya. Sebenarnya sedari tadi ia memang tak benar-benar berniat untuk membaca. Ia hanya sedang menenangkan hatinya. Sejak beberapa hari yang lalu, setelah kejadian di rumahnya itu. Hari dimana Taehyun hampir saja berhasil menidurinya. Kini malam-malam gadis itu selalu terasa begitu canggung. Baik Nara ataupun Taehyun tengah sama-sama menjaga jarak diantara mereka. Bahkan Nara selalu mengelijang tiap kali kulitnya tanpa sengaja bersentuhan dengan Taehyun di tengah tidurnya. Nara memijit pelipisnya yang terasa berat. Ia tau mungkin inilah saatnya. Ia harus mulai mengakhiri ini sekarang. Lagi, Nara menghembuskan nafas berat dari bibirnya. Menyiapkan mentalnya untuk bisa berbicara tentang ini pada Taehyun.
“Kau belum tidur?” tanya Taehyun saat keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk. Pria itu terlihat tampan. Dan semakin tampan dengan tatanan rambutnya yang basah dan acak-acakan. Taehyun berjalan mendekati Nara dan duduk pada sisi lain ranjangnya sambil masih menatap gadis itu aneh.
“Kau kenapa?” tanya Taehyun.
“Taehyun-ah..” pantau Nara ragu.
“Humm..” gumam Taehyun sambil perlahan mendekati istrinya. Ia menyentuh poni panjang Nara dan menyingkapnya ke belakang telinga. Tanpa sengaja jemari Taehyun menyentuh kulit pipinya.
“Yak, hentikan! Ada yang ingin ku bicarakan denganmu..” sungutnya
“Katakan saja..” Taehyun menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur, melipat kedua lengannya di depan dada dan menatap lurus ke depan sambil menunggu istrinya bicara.
“Bukankah sudah saatnya kita membicarakan tentang ‘Perceraian’?” Nara terdiam sejenak, menatapi raut wajah Taehyun yang masih terlihat datar.
“Bukankah tujuan awal kau menikah denganku hanyalah untuk menggoda Jaehyun? Membuatnya cemburu dan merasa sakit. Lalu kemarin kau mengatakan jika aku tak perlu lagi menggoda Jaehyun. Itu berarti tugasku sebagai istrimu telah selesai. Lalu untuk apa lagi kita hidup bersama?” Nara Menghentikan ucapannya sejenak.
__ADS_1
“Toh kita juga tak saling mencintai untuk tetap tinggal bersama. Kemarin aku memang sempat menahan diri untuk tidak membicarakan soal ini. Mengingat keaadan Tuan Han yang masih seperti itu. Tapi sekarang kondisi ayahmu sudah semakin membaik jadi..”
“Kau bodoh atau apa?” bentak Taehyun tiba-tiba yang membuat Nara terlonjak kaget. Ia beringsut mundur saat kini Taehyun perlahan mendekatinya, menghimpit tubuhnya di atas tempat tidurnya yang luas.
“Bukankah sudah ku katakan kalau aku berniat mempunyai seorang anak darimu? Kau lupa tentang itu? Itulah tugas utamamu, sekarang! Jadi daripada menyibukkan dirimu memikirkan tentang perceraian, sebaiknya kau mulai berfikir untuk menjalani pernikahan ini dengan sebaik-baiknya..”
Menjalani pernikahan ini dengan sebaik\-baiknya? Entah kenapa Nara merasa Taehyun tak berniat melepaskannya sekarang.
“Sebenarnya apa maumu Han Taehyun?” bentak Nara yang seperti kehilangan urat sabarnya. Ia meronta, berusaha mendorong tubuh Taehyun diatasnya.
“Sudahlah, kita jalani saja pernikahan ini dengan apa adanya. Toh kita tak sedang menjalin hubungan dengan orang lain. Maksudku baik kau dan aku tidak sedang jatuh cinta pada siapapun. Kecuali kalau kau memang masih mencintai Jaehyun dan ingin kembali padanya..”
Nara memiringkan kepalanya, menatap Taehyun dengan sorot matanya yang tajam. “Ah baiklah, walaupun kau memang masih mencintai pria busuk itu dan ingin kembali padanya, aku tetap tak akan melepaskanmu Kim Nara. Nikmati saja pernikahan ini.. Setidaknya berusahalah untuk menikmatinya. Toh tak ada ruginya bagimu menjadi istriku. Aku punya wajah tampan, harta berlimpah dan aku-”
“Sangat arogan, sombong, dingin, kasar dan MESUM..!!” sergah Nara yang segera mendapatkan gelak tawa dari bibir Taehyun.
“Menyingkir dari tubuhku! Kau pikir kau tak berat? Sana!!”
Taehyun tersenyum kecut, ia perlahan bangkit dari atas tubuh Nara. Duduk pada tempat tidurnya sambil mengacak rambutnya frustasi.
“Aiish! Sepertinya aku tak akan bisa tidur lagi malam ini!” gerutunya lirih. Taehyun merebahkan tubuhnya membelakangi Nara, kemudian menarik selimutnya hingga menutupi tubuhnya sebatas bahu. Sedang Nara hanya menatap punggung suaminya heran.
“Dasar Aneh!” gumam gadis itu sambil menggelengkan kepalanya
.
.
.
***
.
.
.
Suasana sarapan pagi keluarga Han hari ini terasa sedikit canggung. Masih seperti biasa Tuan Han duduk pada kursi kepala keluarga, walaupun dengan kursi roda yang sudah seminggu ini membantunya berjalan. Nyonya Yoon pagi ini terlihat cantik dengan dress merah marun yang melekat pas di tubuhnya yang indah. Sedang Jaehyun masih tetap terlihat tampan dengan stelan tuxedo hitam dan dasi berwarna biru tua di lehernya. Rambutnya sedikit acak-acakan, memberikan kesan sensual yang begitu sexy.
‘Akheemm.’ Dehum Taehyun yang menyadari arah pandang Nara yang menatap Jaehyun penuh minat. Nara melirik Taehyun yang duduk disampingnya dan segera merunduk ketika sorot mata tajam itu menghujaminya.
“Taehyun-ah dan kau Jaehyun, ada yang ingin ku katakan pada kalian berdua..” ujar Tuan Han menatap kedua anaknya.
“Seperti yang kalian ketahui, kondisiku sudah tak memungkinkan lagi untuk menjalankan perusahaan. Sudah saatnya aku menyerahkan perusahaan pada kalian. Sejujurnya, aku ingin membaginya secara adil. Namun pada kenyataannya, perusahaan hanya membutuhkan seorang Presdir yang mampu menaungi Han’s Group dan membawanya berkembang lebih pesat..” tuan Han menghela nafasnya yang semakin tak teratur.
“Aku akan mundur dari posisi Presdir, dan aku akan memilih salah satu dari kalian untuk menggantikanku. Aku akan menentukan siapa yang pantas menjadi presdir berdasarkan kemampuan kalian..”
Tak ada yang bicara, hingga tuan Han kembali melanjutkan ucapannya. “Jaehyun-ah, kau akan mengambil alih tugas ku dalam pemilihan designer untuk Han’s group. Acara kali ini akan di publikasi secara terbuka. Media akan menyiarkan tiap tahap penyisihan yang akan di lalui oleh para designer. Kita harus benar-benar mempertahankan citra perusahaan kita. Karena itu, aku percayakan hal ini padamu.” Tuan Han menatap Jaehyun sambil mengangguk yakin.
“Sedang kau Taehyun, pergilah ke prancis. Kau harus bernegosiasi dengan butik J milik Mike dan buat mereka bekerjasama dengan kita. Aku rasa kau akan mampu melakukan tugas ini dengan baik, mengingat Lee Hyeri adalah ketua tim design mereka. Kau bisa bernegosiasi dengannya. Tolong lakukan tugas ini dengan baik. Dan jangan membuatku kecewa..”
“Aku mengerti.” jawab Taehyun yakin.
“Nara, kau ikutlah bersama Taehyun. Perancis terkenal sebagai negara yang romatis bukan? Anggaplah ini hadiah kecil dariku untuk kalian. Sembari mengerjakan tugas itu. Kalian berdua juga bisa berbulan madu di sana. Dan aku akan sangat senang ketika nanti kalian kembali dengan seorang cucu. hahaha” suara tawa laki-laki tua itu terdengar begitu nyaring. Seolah menunjukkan pada dunia tentang semangat hidupnya yang tinggi. Seolah mendeklarasikan jika kondisi kesehatannya tengah semakin membaik. Nara hanya menatap suaminya sambil mengedipkan kedua matanya, seolah tengah merayu pria berhati batu itu untuk menngijinkannya pergi dan ikut bersamanya. Ia terlihat begitu antusias mendengar kata ‘PERANCIS’, negara yang selama ini selalu ia idam-idamkan. Taehyun tak bergeming. Ia masih belum mengatakan apapun dari bibirnya. Satu hal yang membuat Nara sedikit merasa geram.
“Ayolah Han Taehyun! Katakan sesuatu..” geram batin Nara yang tengah menunggu dengan cemas.
.
.
.
-To Be Continue-
.
.
.
Author’s Note:
.
.
Kira-kira apa jawaban yang akan Taehyun berikan? Akankah dia mengijinkan Nara untuk ikut bersamanya?
Semoga kalian masih berkenan buat baca..
Don’t be a siders! Don’t be Plagiat!
Just be a good Readers and grow together..
.
.
With love,
ByunRa93_
__ADS_1