
Sesungguhnya apapun yang kita miliki di dunia ini hanyalah sebuah titipan..
Tak ada yang tahu akan seperti apa hidup kita kedepannya..
Tak ada yang tau bagaimana Tuhan menuliskan jalan takdir kita..
Kita juga tak mungkin bisa menghindari takdir itu..
Karena semua ini adalah rahasia Tuhan, yang harus kita terima..
.
.
.
This Story Begins..
“Our Destiny”
©ByunRa93_
.
.
.
Morning at Tae-Ra’s Room..
.
.
Pagi itu Nara bangun sedikit lebih awal karena tendangan Airin di dinding rahimnya yang terasa begitu keras. Kram kembali ia rasakan. Nara secara hati-hati mulai menghitung intensitas tendangan Airin di perutnya. Ia hanya sedang mencoba memastikan bahwa gerakan bayi itu masih dalam tahapan yang normal dan wajar. Sambil mencoba bangkit dari posisi tidurnya, Nara mulai mengatur laju nafas yang melewati paru-parunya. Ia menghirup dalam-dalam oksigen di sekitarnya dan menghembuskannya perlahan. Saat tendangan dan kram itu mulai menghilang, Nara mulai tersenyum kecil. Ia membelai perutnya seolah tengah membelai kepala Airin penuh cinta.
“Anak pintar..” gumamnya.
Ia beralih pada ranjang disampingnya, menatap sosok suaminya yang masih tertidur pulas dengan posisi memeluk erat sebuah buku yang semalam ia baca. Nara mendesis, merasa kasihan terhadap suaminya yang tampak kelelahan. Perlahan di ambilnya buku itu dari dekapan Taehyun. Di pandanginya halaman buku yang masih terbuka dan ia benar-benar tersentuh saat melihat tulisan kecil di sudut kanan atas lembar terakhir buku itu.
"Dua minggu lagi. Malaikat kecilku, Airin.." disana juga terselip selembar kertas kecil hasil foto USG yang baru kemarin dokter Shin berikan. Foto dari sosok bayi perempuan yang sudah terlihat sempurna tengah meringkuk malas di dalam rahimnya.
"Kau lihat Airin, ayahmu begitu menantikan kehadiranmu. Lahirlah dengan selamat putri ku.." batin hati Nara sendu sambil kembali mengelus perut buncitnya yang kian membesar.
Nara bergegas bangun dari atas tempat tidurnya. Ia berjalan menuju kamar mandi, membersihkan badannya dan kemudian turun ke dapur yang terletak di lantai satu rumah itu. Suasana rumah sangat sepi. Hampir tak terdengar suara di dalam sini, hanya bau harum masakan bibi Hyo dan beberapa maid yang terlihat sibuk membersihkan rumah yang menjadi bukti adanya kehidupan disana. Rumah sebesar ini tanpa tuan dan nyonya Han rasanya sangat berbeda. Nara tak suka suasana yang seperti ini. Wanita itu berjalan menghampiri bibi Hyo yang tengah menumis. Di sentuhnya bahu wanita paruh baya itu yang membuatnya berbalik.
"Selamat pagi bibi.." sapanya ramah.
"Nyonya Nara, apa yang anda lakukan disini?"
"Oh ayolah! Berapa kali ku katakan panggil aku Nara. Hanya ada kita berdua disini. Dan aku tak suka mendengarmu memanggilku nyonya."
"T-tapi apa yang kau lakukan disini, Nara? Taehyun akan marah jika tau kau--"
"Bibi, aku hanya ingin memasak untuk suamiku. Jadi biarkan aku melakukannya." Nara tersenyum dengan sangat manis. Ia mengambil alih masakan bibi Hyo dan melanjutkannya dengan tangannya sendiri sekalipun wanita paruh baya itu terus mencoba menghentikannya.
"Bibi, kau siapkan yang lain. Biarkan aku yang menyelesaikan ini"
Tak bisa lagi membantah, bibi Hyo hanya dapat mengikuti perintah nyonya muda di rumah itu. Ia bergegas ke ruang makan dan menyiapkan semua peralatan makan di meja panjang itu. Sementara Nara sibuk dengan masakannya.
Taehyun yang terbangun dari tidurnya segera bergegas bersiap\-siap dan turun saat mencium harum aroma sup ikan yang begitu menyeruak. Dia dengan stelan tuxedo hitam yang tak terlalu formal dan sebuah dasi berwarna biru tua yang belum terikat telah berdiri di pinggiran pintu dapur. Di tatapnya wanita bertubuh gemuk itu dengan wajah dingin yang masih tak bersuara. Perlahan di dekatinya tubuh istrinya dan di peluknya dari belakang. Kedua telapak tangannya mengelus pelan bagian perut buncit Nara, memberikan sapaan dan ucapan selamat pagi bagi Airin yang sepertinya juga sudah mulai aktif bergerak dalam perut ibunya.
"Kau sudah bangun.."
"Humm.. kau memasak?"
"Ku mohon jangan marah. Aku hanya ingin menjadi istri yang baik. Semalaman kau begadang dan memijit punggungku. Anggaplah ini ucapan terimakasih dari istrimu.." Ujar Nara. Ia mematikan kompor di depannya dan berbalik menatap Taehyun yang juga tengah menatapnya.
"Kau benar-benar pintar mencari alasan, Kim Nara. Kemarilah.."
Taehyun memeluk tubuh Nara, merasakan perut Nara yang berhimpit dengan perutnya dan ia bisa merasakan pergerakan Airin di permukaan kulitnya. Taehyun merunduk, mensejajarkan wajahnya dengan perut Nara.
"Waaah, anak appa sedang bermainh bola, ya? hahaha.."
Di ciumnya perut buncit Nara dan kemudian beralih pada sang ibu. Taehyun mendaratkan kecupan singkat di bibir istri yang begitu ia cintai.
“Aku mencintaimu, Nara..” ujar Taehyun tulus.
.
.
.
***
.
.
.
Keduanya tengah makan bersama dalam meja panjang yang sudah di penuhi hidangan yang tadi Nara masak. Sup ikan, galbi, kimchi dan beberapa makanan pelengkap lain sudah disana. Dan Taehyun melahap semua itu dengan antusias. Lain halnya dengan Nara yang hingga saat ini belum memasukkan sesuap nasi pun ke dalam mulutnya. Ia hanya diam menatapi makanan-makanan itu tak berminat.
Mendadak kepalanya terasa berdenyut pusing dan sepertinya perutnya terasa mual. Tidak, ini tak pernah terjadi sebelumnya. Sejak usia kandungannya menginjak angka empat bulan, Nara tak pernah lagi merasakan pusing dan mual. Tapi ada apa dengan dirinya pagi ini? Taehyun sepertinya mulai menyadari kediaman Nara. Di tatapnya wajah pucat istrinya itu penuh tanda tanya.
"Kenapa?" tanyanya khawatir.
"Entahlah. Aku hanya sedikit pusing."
"Kau baik-baik saja? Apa kita perlu ke dokter?"
Nara menggeleng penuh penolakan. Ia tau suaminya harus menghadiri meeting penting pagi ini dan dia tak ingin mengacaukan itu. Dia tak boleh terlihat kesakitan saat ini, atau laki-laki itu akan memaksanya ke rumah sakit dan secara otomatis membatalkan meeting yang telah di atur selama berbulan-bulan ini.
"Tidak. Aku rasa aku kurang tidur semalam. Aku akan tidur dan istirahat."
"Kalau begitu aku akan menemanimu.."
"Apa?"
Benar bukan, laki-laki itu akan selalu seperti ini. Dia pasti sedang berfikir untuk membolos kerja dan membiarkan meeting itu berlalu tanpa dirinya hanya untuk menemani Nara dirumah.
__ADS_1
"Aku akan menemanimu, memijit punggung dan kakimu sampai kau bisa tertidur dengan nyenyak"
"Dan kau akan meninggalkan meeting dengan tuan Hwang? Sejak kapan memijit punggung dan kaki istrimu lebih penting dari perusahaan? Kau adalah seorang presdir, Han Taehyun"
"Tapi aku juga seorang ayah dari bayi yang kau kandung Kim Nara. Jangan membangkang!" tegas Taehyun saat mulai mencium gelagat pembangkangan dari istrinya.
"Airin dan aku baik-baik saja. Aku akan tidur seharian dan aku rasa saat aku bangun nanti pusing ini akan hilang dengan sendirinya. Jadi, pergilah ke kantor dan dapatkan tender besar dari Tuan Hwang. Penawaran yang cukup adil bukan?" Nara mulai mengeluarkan teknik nya dalam membujuk suaminya, tak lupa juga ia memamerkan senyum manis di wajahnya yang semakin terlihat berisi.
"Kau bisa menjamin kau dan Airin akan baik-baik saja?"
"Tentu. Kami akan baik-baik saja sampai kau pulang, appa.." jawab Nara dengan menirukan nada suara khas anak-anak.
"Aigo, bagaimana aku bisa menolak keinginan istriku ini. Baiklah, jaga dirimu. Aku akan segera kembali.."
"Iya..." nada suara Nara terdengar melembut.
Ia mendekatkan wajahnya dan menghampiri bibir Taehyun yang terlihat akan menciumnya. Bagus, laki-laki itu masih sama. Masih selalu bergairah akan dirinya, bahkan tak peduli akan bentuk tubuhnya yang sekarang jauh dari kata indah. Dan Nara selalu tersanjung akan hal itu. Nara memasang dasi di leher suaminya, membiarkan Taehyun mengecupi pipi dan kepalanya selagi laki-laki itu menunggu.
"Selesai. Pagi ini kau sangat tampan.." puji Nara.
"Sedang merayuku untuk tinggal bersamamu?" sindir Taehyun menggoda.
"Pergilah. Aku yakin sekretarismu sudah menunggu.."
"Ya, kau tau bukan betapa cerewet Lee Baekki itu. Aku pergi..”
“Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu. Dan ISTIRAHAT Kim Nara! Jangan mencoba untuk membangkang!"
"Aku tau..."
Taehyun pergi setelah itu. Dan rumah ribuan kali terasa lebih sepi. Para maid sepertinya sedang sibuk dengan pekerjaan dan tugas masing-masing. Bibi Hyo beberapa saat lalu meminta ijin untuk berbelanja dan dirinya hanya seorang diri tanpa teman dengan kepala yang terus berdenyut nyeri.
Nara terus memegangi kepalanya sambil berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya untuk sampai di kamarnya. Dengan berpegangan pada dinding di samping tangga ia terus bergerak naik. Dan saat Nara berhasil sampai di lantai dua. Gadis itu langsung masuk ke dalam kamarnya, berbaring dan berusaha memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sakit itu. Hanya itu yang bisa ia lakukan karena tak mungkin baginya untuk mengkonsumsi sembarang obat di tengah kehamilannya. Taehyun pasti akan membunuhnya kalau sampai hal itu terjadi.
Sudah satu jam wanita itu terus mencoba untuk terbaring memejamkan matanya tapi rasa pusing di kepalanya bukan semakin reda, namun semakin terasa menjadi. Ia tak bisa, tak sanggup lagi menahan rasa yang terus mengoyak bagian kepalanya. Ia terus merintih, meringis sambil berujar kesakitan.
"Dokter Shin. Aku harus menghubungi dokter Shin.." ucapnya berulang-ulang.
Nara beranjak dari tempat tidur, mencari ponsel putih miliknya yang lupa ia letakkan dimana. Ia mencari di dalam laci, di atas tempat tidur tapi belum juga menemukan ponsel kecil itu. Sampai Nara berjalan mendekati sofa. Ia melihat ponselnya disana. Cepat-cepat ia mengambil benda itu dan menghubungi dokter shin.
"Hallo, dokter.”
“Ya, aku Nara.." sela Nara begitu suara renyah dokter muda itu terdengar di ponselnya.
"Dokter, kepalaku. Kepalaku sakit. Aku mengalami pusing yang parah.." paparnya dengan menahan sakit pada sang dokter.
"Kau sedang dalam operasi?”
“Sampai kapan?”
“Satu jam lagi..?
“Baiklah, aku mengerti.."
Nara memutuskan sambungan ponselnya, mendesah sambil menahan sakit yang teramat sangat. Ada apa dengannya? Tidak mungkin menunggu dokter shin untuk datang. Ia tak yakin bisa bertahan menunggu 1 jam sampai dokter itu datang. Wajahnya sudah semakin pucat karena rasa sakit yang terus coba di tahannya. Keringat dingin sudah tak terhitung mengaliri seluruh bagian tubuhnya.
Tidak, dia tak boleh hanya menunggu. Diliriknya jam di dinding kamarnya yang masih menunjuk ke arah sembilan pagi. Meeting baru saja dimulai dan Nara tak mungkin menelpon Taehyun untuk pulang. Jangan Nara, jangan. Ujarnya pada dirinya sendiri.
Baiklah, ia akan pergi dengan Jindo sang supir. Ya, Jindo hanya perlu mengantarnya sampai di rumah sakit dan dia akan segera memperoleh penanganan. Nara berjalan ke arah almari dinding di dekat pintu kamar mandi kamarnya. Ia mengambil mantel putih piliknya dan cepat-cepat menggunakannya.
Nara keluar dari kamarnya sambil berteriak memanggil\-manggil nama bibi Hyo. Berharap wanita paruh baya itu sudah pulang dari kegiatannya berbelanja dan akan datang untuk menolongnya. Tapi sepertinya rumah masih begitu sepi. Tak terdengar suara orang disana. Namun Nara tetap terus berteriak memanggil nama bibi Hyo.
Perlahan ia berjalan sambil berpegangan pada pagar pembatas lantai dua. Ia sampai pada ujung anak tangga paling atas lantai rumah ini. Tangannya mencengkeram kuat-kuat pegangan tangga. Berusaha mempertahankan keseimbangan dan konsentrasinya di tengah kepalanya yang rasanya mau pecah.
Dengan menggigit ujung bibirnya dan mencengkeram pegangan tangga, Nara merasakan perutnya yang seperti di tentang dengan begitu keras. Sakit. Perutnya sakit. Ada apa? Apa yang terjadi? Rasa sakit yang ia rasakan bertambah dua kali lipat. Di kepala juga perutnya. Nara mengatur nafasnya susah. Ia sudah menuruni lima anak tangga teratas, tapi sakit yang ia rasakan membuatnya terpaksa harus berhenti. Nara menangis.
"Ya, Tuhan apa yang sedang terjadi? Kau baik-baik saja?" lenguh Nara yang memandangi perutnya. Nara melepaskan pegangannya di pagar tangga, ia beralih memeluk perutnya, berusaha menenangkan Airin di dalam sana. Namun naas, tubuhnya kehilangan keseimbangan. Nara tergelincir dan terguling di tangga.
"Aaaarrrrgghhh...." teriakan itu mendentum keras diiringi degan bunyi dentuman tubuhnya dengan lantai yang keras. Nara terus berusaha melindungi perutnya, mendekapnya erat dan terus berdoa dalam sakitnya agar tak terjadi sesuatu yang buruk pada bayinya.
"Toloooong...." Raungnya miris.
"Bibi ku mohon..."
"Toloongg....!!" masih tak ada yang mendengarnya.
Nara, dengan sisa-sisa tenaga dan kekuatan yang ia miliki berusaha bangkit dari posisinya yang terlentang. Sulit, dia tak memiliki tenaga dan cukup kekuatan terlebih ketika ia berhasil melihat dan merasakan cairan bening bercampur darah yang mengalir melewati pahanya.
"Ya Tuhan, Tolooooong....!!”
“Siapapun ku mohon tolong anakku!!”
“Arrrrrggghhh..." teriak Nara sekali lagi dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki. Sampai ia tak kuat lagi berteriak dan pandangannya mulai mengabur. Tubuhnya terasa sangat lemas. Otaknya terus memerintahkan kaki itu untuk bergerak dan bangun mencari pertolongan, tapi tubuhnya tak juga merespon. Ia kehilangan semua tenaganya. Bahkan rasa sakit yang tadinya amat sangat terasa, kini hambar. Ia tak lagi bisa merasakan apapun.
.
.
.
***
.
.
.
"Pranggggg....." Bunyi pecahan gelas terdengar sangat keras di ruang kerja Taehyun. Kedua laki-laki itu sontak menatap ke arah yang sama. Ke arah serpihan-serpihan kaca yang berserakan di atas karpet coklat di bawah sofa di ruang kerja Taehyun.
Jantung Taehyun seperti berhenti berdetak. Siulet wajah Nara terlintas di benaknya dan mendadak seperti ada perasaan sesak yang entah karena apa, tapi begitu mengusiknya.
"Ada apa?" tanya Baekki.
Taehyun menggeleng. Ia tak tau apa yang terjadi, ia benar-benar tak sengaja menjatuhkan gelas itu tadi.
"Kau baik-baik saja?"
"Baek, apa meeting kita sudah selesai?" tanyanya dengan amat gusar.
"Ya, kita hanya tinggal menandatangani kontrak dan semuanya akan selesai. Ini kontrak yang harus kau tanda tangani."
__ADS_1
Taehyun merenggut kontrak di tangan Baekki. Mengambilnya paksa dan segera membubuhikan tanda tangan disana tanpa perlu membacanya lagi. Hatinya, ia merasakan hatinya tak tenang.
"Selesaikan urusan ini!" perintah Taehyun pada sang sekretaris. Ia berdiri, berjalan mendekati meja kerjanya.
"YAK, kau akan kemana?"
"Aku harus pulang. Nara, aku meninggalkannya yang sedang sakit tadi. Dan aku---"
"Kau tetap harus menyelesaikan ini Han Taehyun! Kau tak bisa pergi begitu saja. Bagaimana dengan tuan Hwang?"
"Baek! Kau tak mengerti!"
"truttt... truuut...." ponsel Taehyun berdering. Ia menghentikan sejenak perdebatannya dengan Baekki dan menatap kata 'HOME' di layar ponselnya. Bibi Hyo, nama itu langsung terlintas di pikiran Taehyun. Ia semakin yakin, ada hal buruk yang terjadi disana. Cepat\-cepat Taehyun menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Ya, bibi.."
"Taehyun-ah..." suara isakan wanita tua itu terdengar begitu menyayat. Suaranya bergetar dan terdengar putus-putus.
"Bibi.. ada apa? Apa yang terjadi?"
"Taehyun-ah.. Maafkan aku..."
"Bibi, katakan dengan jelas!" bentak Taehyun yang semakin panik.
"Nara.."
"ADA APA DENGAN NARA..?"
"Dia berdarah."
"Nara jatuh dari tangga. Ia berdarah dan tak sadarkan diri.."
"APA?!"
.
.
.
_To Be Continue_
.
.
.
Perview Next Chapter
.
.
"Apa yang kau katakan dokter! Tidak! Tidak! Ku mohon selamatkan mereka!"
"Kumohon..."
"Maafkan aku tuan.."
"Bertahanlah, Nara. Ku mohon bertahanlah.."
Ini hanya mimpi buruk bukan? Aku pasti sedang tertidur sekarang, dan saat aku bangun nanti semua akan baik-baik saja. Harusnya aku tak pergi. Harusnya tak ku biarkan Nara sendirian dirumah waktu itu.
"Bukankah kau berjanji akan menjaga Nara? Kau berjanji untuk membuatnya bahagia, jadi ku lepaskan dia dan membiarkan kau memilikinya. Tapi kau lihat! Kau sama sekali tak bertanggung jawab atas ucapanmu!"
"Jaehyun Hyung, maaf.."
.
.
.
***
.
.
.
Author’s Note:
.
.
Nah lho...
Apakah yang akan terjadi pada Nara dan Airin?
Dapatkah mereka berdua di selamatkan?
Gimana menurut kalian?
Jangan lupa kasih komen, like dan ulasannya yah..
Karena komen kalian adalah semangatku..
.
.
With Love,
ByunRa93_
__ADS_1