My Possessive Husband

My Possessive Husband
Just Need, ya!


__ADS_3

Taehyun’s House, 20.00 P.M


Gangnam – South Korea


.


.


.


Malam itu Taehyun duduk di ruang tengah lantai dua rumahnya. Ia duduk pada sofa cream di depan TV sambil sibuk membalik lembar demi lembar kertas dihadapannya. Sebenarnya begitu banyak design di genggaman tangannya, tapi tak satupun yang membuatnya tertarik. Ia selalu merasa design-design itu tak cukup baik untuk menggantikan design Lee Hyeri yang telah dicuri. Pikiran Taehyun kacau, terlebih hari ini begitu banyak masalah yang datang padanya. Beberapa investor besar yang telah berinvestasi pada proyek HS kali ini pun menarik investasinya, dan itu jelas bukan perkara mudah untuk di atasi.


Secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa kini HS sedang dalam masalah serius. Taehyun terlihat mengepalkan jemari tangannya marah. Ia terus berkonsentrasi pada pekerjaannya, tapi pada kenyataannya ia tetap tak bisa melakukan hal itu dengan baik. Ia masih terus saja menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan lengan kirinya dengan resah. Sudah pukul delapan lebih, tapi Nara belum juga kembali. Hal itu semakin menambah rumit kinerja otaknya dalam berfikir.


“SIAL! Sebenarnya kemana perginya?” gumamnya resah. Biar bagaimanapun ia sangat berharap istrinya berada disampingnya disaat-saat seperti ini. Ia merindukan gadis itu.


Walaupun terdengar berlebihan, tapi Taehyun tak peduli. Ia hanya merindukan istrinya. Ia ingin memeluk tubuh istrinya, menjernikan pemikirannya untuk kemudian kembali menyusun sebuah rencana untuk membawa HS bangkit dari keterputukan ini. Ia tak bisa berfikir dengan baik, terlebih ketika Nara tak disampingnya. Taehyun benar-benar membutuhkan Kim Nara-nya.


Dengan gerakan tubuh yang melambat, Taehyun meraih secangkir kopi di hadapannya dan meneguknya pelan. Hatinya tak tenang, sementara pikirannya terus memikirkan akan keadaan istrinya yang entah dimana. Bukan Taehyun tak mencoba menghubunginya. Semenjak tadi, ia terus mencoba menelpon Nara. Tapi nyatanya ponsel gadis itu selalu berada diluar jangkauan. Ia juga tak bisa menghubungi Jihyun sejak siang tadi.


Dimana keduanya? Kemana mereka pergi mencari Baekki? Apa mereka baik-baik saja? Pertanyaan itu terus menghantui pikiran Taehyun. Memperumit jalan pikirannya hingga kembali membuatnya merasakan berat di kepalanya. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menunggu istrinya pulang sambil berharap tak ada sesuatu yang buruk yang akan menimpanya. Taehyun menghembuskan nafas panjang dari bibirnya ketika pada akhirnya pilihan itulah yang harus ia ambil. Ia terus mencoba mengusir perasaan gelisah dalam dirinya melalui hembusan nafas yang keluar.


Kembali, Taehyun memaksa dirinya untuk memperhatikan detail design dihadapannya dengan sungguh-sungguh, sampai suara itu samar-samar terdengar menusuk telinganya.


“Han Taehyun..” suara itu terdengar berat. Taehyun menghentikan sejenak kesibukannya dan menoleh kearah Jaehyun yang tengah berdiri bersandar di tepian tangga disebelah kanannya. Sorot mata Jaehyun tampak teduh, walaupun matanya sedikit memerah. Taehyun tak yakin, tapi sepertinya kakak tirinya itu baru saja menangis.


Perlahan Jaehyun berjalan mendekati Taehyun yang masih terduduk pada posisinya tanpa sedikitpun melakukan gerakan yang berarti. Taehyun hanya sedikit terkejut. Tak biasanya Jaehyun bertindak seperti ini. Bahkan selama ini keduanya hampir tak pernah duduk bersama. Sudah beberapa tahun terakhir, hal itu tak lagi pernah terjadi. Bahkan Jaehyun hampir tak pernah menegurnya. Itulah yang membuat mata Taehyun kini menghundus dalam dan menelisik jauh menatap kedalam manik mata Jaehyun.


Taehyun hanya bersikap waspada terhadap kakak tirinya yang kini tengah duduk disampingnya. Pertama kalinya, dijarak sedekat itu, Taehyun dapat menangkap gurat kepedihan dari mata Jaehyun. Jaehyun mencondongkan tubuhnya kedepan, menopang tubuhnya menggunakan kedua sikunya yang ia letakkan di atas lututnya yang sedikit terbuka. Ia terdengar mendesah pelan kemudian memandang Taehyun sekilas.


“Dimana Nara?” tanyanya ringan.


Dahi Taehyun secara otomatis berkerut. Bahkan raut wajahnya tanpa sadar tampak begitu tegang seiring dengan otaknya yang mulai menerka tentang apa yang saat ini Jaehyun inginkan.


“Hey, tenanglah. Aku hanya bertanya karena dari tadi aku tak melihatnya. Bukankah hari ini dia ke kantor bersamamu?” terang Jaehyun. Ia tau adiknya akan berubah sangat sensitif jika sudah berurusan dengan istrinya. Paling tidak Jaehyun cukup sadar kalau bukan hal yang baik untuk menyulut emosi adiknya yang terkadang sulit untuk dikendalikan.


“Bukan urusanmu!” sergah Taehyun. Mendapati reaksi keras dari Taehyun, Jaehyun hanya menyunggingkan sebuah senyum miring di wajah tampannya. Ia tak terlalu mengambil pusing tentang hal ini.


“Tidakkah sikapmu berlebihan padaku Han Taehyun. Bukankah aku ini kakakmu..?” Jaehyun merunduk, menatap jari-jari tangannya yang saling terpaut.


“Cah, kakak? Sejak kapan kau menganggap aku ini adikmu! Apa yang sebenarnya kau inginkan, hah?” tanya Taehyun yang terdengar tak nyaman dengan ucapan Jaehyun. Jujur saja ia bingung akan sikap kakaknya yang begitu tiba-tiba.


Jaehyun tersenyum ringan. Ia mengangkat kepalanya dan menatap adiknya. Ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama ia memperhatikan raut wajah Taehyun. “Ku dengar beberapa investor besar menarik investasinya dari HS? Apa yang akan kau lakukan setelah ini?”


“Jadi inikah yang membuatmu datang padaku? Sedang berpura-pura menjadi seorang kakak yang baik dengan mengkhawatirkan keadaan adiknya? Kau tak perlu khawatir, akan ku pastikan HS berada dalam keadaan yang sangat baik setelah ini”


“Bagaimana caramu melakukannya? Aku tau apa yang kau lakukan hari ini. Kau datang pada tuan Jung untuk memintanya berinvestasi pada proyekmu bukan? Kau bahkan tak bisa mendapatkan investasi darinya, lalu bagaimana caramu mengembalikan keadaan HS?” Jaehyun memberikan sedikit jeda pada ucapannya. Ia hanya ingin melihat reaksi apa yang akan adiknya tunjukkan.


Taehyun hanya terdiam, membuat Jaehyun terlihat puas akan apa yang ia dapatkan. “Kau tak bisa melakukan semua hal dengan baik tanpa Lee Baekki. Tidakkah kau sadar akan hal itu?”


“Hentikan omong kosongmu dan pergilah!” Taehyun tak lagi memperdulikan keberadaan Jaehyun. Ia jauh lebih memilih untuk kembali menatap dokumen-dokumen dihadapannya dan kembali berkonsentrasi membaca detail isi dokumen miliknya.


“Kau terlihat begitu menyedihkan. Kau bahkan membiarkan dirimu dihina. Membiarkan harga diri yang begitu kau junjung tinggi harus jatuh begitu saja saat tuan Jung menolakmu. Bagaimana ini? Haruskah aku membantumu?”


Detik itu Taehyun menghentikan segala kegiatannya. Ia menutup kasar lembaran dokumen di tangannya dan menatap Jaehyun geram. Rahang laki-laki itu terlihat mengeras tapi ia masih tetap memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


“Tak perlu terlalu mengkhawatirkanku Hyung. Urusi saja hidupmu!” Taehyun segera berdiri dari posisinya dan berniat menghilang dari sana secepat yang ia bisa, sebelum urat sabarnya terputus. Tapi tampaknya Jaehyun tak ingin membiarkan adiknya pergi dari sana.


“Jujur saja, aku berniat membantumu. Aku akan mendapatkan investasi tuan Jung untukmu. Aku juga akan membantumu mendapatkan investor lain. Siapkan saja kontraknya, dan aku akan membawamu menemui mereka besok.”


“Apa yang sebenarnya kau inginkan!”


“Tak ada. Aku hanya ingin membantumu. Kau bilang kau tak akan membiarkanku untuk menang. Paling tidak, kita harus berada dalam posisi yang sama untuk dapat bertanding dengan adil. Aku hanya tak ingin kau jatuh dengan begitu mudah” Jaehyun tampak menghela nafasnya pendek dan kembali melanjutkan ucapannya, namun kali ini dengan nada yang begitu rendah hingga nyaris tak terdengar. Bahkan sepertinya Taehyun juga tak dapat mendengarnya dengan baik.


“Aku hanya tak ingin membiarkan semua rencana wanita itu berjalan dengan baik. Aku tak ingin ia mengendalikan hidupmu seperti dia mengendalikan hidupku..”


“Aku tak tau maksud apa yang kau sembunyikan dibalik ini, tapi satu-satunya yang aku inginkan adalah menyelamatkan keadaan HS. Jadi tak peduli apa yang akan terjadi kelak aku tetap harus mendapatkan investasi itu”


Jaehyun kembali tersenyum ringan melalui daun bibirnya. “Pilihan yang cukup bijak. Temui aku diruanganku besok” Jaehyun menepuk ringan bahu Taehyun kemudian berjalan masuk kedalam kamarnya.


Cahaya lampu masih terlihat menerangi sudut kamar Taehyun dengan terang, walaupun di keadaan yang sesungguhnya penghuninya tak begitu membutuhan penerangan. Taehyun memang sedang membawa sebuah dokumen di tangannya, namun ia tak benar\-benar sedang membacanya. Pikirannya jauh melayang, mempertimbangkan akan keputusan besar yang baru saja ia buat. Menerima bantuan dari kakak tirinya, ia tak tau itu langkah yang benar atau tidak. Ia hanya sedang dalam keadaan sulit dimana ia memang benar\-benar membutuhkan investasi untuk proyek barunya. Dia tak memiliki sebuah pilihan lain disini. Ini antara menerima bantuan dari musuhmu untuk bertahan hidup, ataukah membiarkan dirimu perlahan mati tanpa sebuah usaha.


Jam di dinding kamarnya sudah menunjuk pada angka sembilan saat daun pintu itu terbuka. Nara tampak masuk dengan wajah yang begitu lusuh. Ia jelas terlihat begitu lelah. Bahkan penampilannya begitu berantakan dengan kemeja kusut dan rambut yang terlihat lusuh. Taehyun menatap keberadaan istrinya tajam. Keadaan yang membuat Nara tau bahwa dirinya sedang dalam ancaman. Nara tersenyum, sedikit membuat aegyo di wajahnya dan kemudian duduk disamping suaminya.


“Kemana saja kau!” teriak Taehyun saat Nara baru saja menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dan menghembuskan nafas lelah dari kedua daun bibirnya.


“Beri aku 5 menit untuk bernafas dan kau boleh memarahiku setelahnya..” gumam Nara yang nyaris tanpa tenaga. Taehyun hanya bisa menatapi istrinya yang sedang menggeliat meregangkan otot-ototnya yang tampak kelelahan.


“Daripada hanya berdiam menatapku, bagaimana jika kau pinjamkan bahumu untuk bersandar Tuan Han..” rayunya.


“Lucu sekali.. Kau pikir berapa harga bahuku ini? Aku tak sembarangan meminjamkan bahuku! Kau tau itu!”


“Bukankah aku ini istrimu?” rengut Nara


“Tak ada aturan yang mengatakan aku harus meminjamkan bahuku padamu bukan?”


“Kau Menyebalkan!” rajuk Nara. Gadis itu memalingkan tubuhnya membelakangi Taehyun dan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa yang sedang ia duduki.

__ADS_1


“Apa bagusnya bahumu, sofa ini jauh lebih nyaman!” ejek Nara yang masih saja terlihat kesal.


Taehyun menatap punggung istrinya dan tersenyum simpul. Suasana hatinya terasa jauh lebih baik setelah wanitanya kembali. Bahkan pertengkaran kecil yang sengaja ia ciptakan ini terasa begitu menyenangkan. Melihat Nara merajuk dan kesal, Taehyun menyukainya.


“Waktumu tinggal dua menit. Aku akan memarahimu setelahnya, jadi sebelum itu terjadi bersandarlah pada sofa sepuasmu”


“Suami menyebalkan!”


“Aku mendengarmu, Kim Nara!” Nara benar-benar terdiam setelahnya. Tak ada yang memulai pembicaraan hingga suasana disana terasa begitu sepi.


“Hey, apa tubuhmu tak pegal terus duduk dalam posisi seperti itu? Akan lebih nyaman kalau kau berbaring..” tegur Taehyun setelah melihat Nara terus duduk memeluk lututnya sambil bersandar pada sofa.


“Kemarilah..” ia menarik bahu Nara dan memutar tubuh istrinya kemudian membuatnya berbaring pada sofa dengan posisi kepala yang berada di atas pangkuannya.


“Begini jauh lebih baik bukan..?”


“Kau bilang aku tak boleh bersandar dibahumu!”


“Kau tak sedang bersandar dibahuku. Kau hanya sedang tidur dipangkuanku..”


“Kau menyebalkan!”


“Aku hanya bercanda. Kemana saja kau hari ini? Meninggalkan suamimu begitu saja tanpa sebuah kabar termasuk tindakan terlarang bagi seorang istri. Kau tau itu bukan?” tegur Taehyun dengan suara lembut. Sedang tangannya membelai ringan rambut Nara yang terurai di pangkuannya.


“Aku hanya menemani Jihyun mencari dimana Baekki..”


“Lalu apa kalian menemukannya?”


“Tidak. Kami sudah memeriksa CCTV perusahaan tapi entah apa yang terjadi, tapi sepertinya ada seseorang yang sengaja mematikan rekaman CCTV dilantai 10 hari ini.”


“Jadi menurutmu ada seseorang yang dengan sengaja menculik Baekki?”


“Entahlah.. Kami akan mencarinya lagi besok”


“Tak perlu mencarinya. Sudah kusuruh orang untuk menemukan dimana keberadaan Baekki. Kau dan Jihyun tak perlu khawatir tentang ini. Aku akan mendapatkan kembali Lee Baekki. Kalian berdua konsentrasilah pada design baru yang akan diluncurkan”


“Kau benar-benar melakukannya? Bukankah kau tak peduli dengan hilangnya Baekki?”


“Baekki tetaplah tanggung jawabku, Nara. Aku juga tak ingin kau pergi dariku lagi. Aku membutuhkanmu. Disaat seperti ini, aku begitu membutuhkanmu..” Taehyun tertunduk. Raut wajahnya terlihat sedih.


Nara cukup terkejut akan perubahan raut ekspresi Taehyun. Gadis itu beranjak bangkit dari pangkuan Taehyun dan duduk menatapi wajah suaminya khawatir.


“Kau baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu yang buruk?” tanya Nara.


Gadis itu bangun dari posisinya dan duduk pada sofa panjang kamarnya sambil menatap Taehyun dengan kedua tangannya yang menelangkup wajah suaminya dalam. Taehyun masih terdiam. Perlahan ia mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Nara.


“Aku baru saja mengambil sebuah keputusan yang sangat besar, Nara. Aku tak tau jalan ini benar atau tidak. Aku hanya sedang berusaha menyelamatkan HS..”


“Kau tau bukan, banyak investor besar yang menarik investasinya pada HS. Dan kau tau, aku gagal mendapatkan investasi dari tuan Jung dan beberapa perusahaan lain. HS jauh lebih terpuruk dari apa yang kita bayangkan.” Taehyun menghela napasnya berat.


“Berkerja di dunia bisnis itu sama halnya dengan terjun di dunia hiburan. Begitu cepat melejit hingga sampai pada puncak, tapi begitu sebuah skandal datang, semuanya akan hancur. Semua kerja kerasmu juga akan hancur..” Taehyun mendesah parau.


“Tae..” pantau Nara. Ia mendekatkan tubuhnya ke arah Taehyun dan memeluknya. Jujur saja Nara tampak bingung. Ia ingin membantu suaminya, tapi ia tak banyak tau tentang bisnis. Yang tengah ia coba lakukan hanyalah menjadi seorang istri yang baik. Istri yang akan selalu ada untuk memberikan dukungan bagi suaminya.


“Keadaan ini benar-benar tak baik, Nara. Tadi Jaehyun hyung datang padaku..”


Mendengar Taehyun menyebut nama Jaehyun, Nara melepaskan pelukannya.


“Ia menawarkan bantuan padaku. Ia berjanji untuk membantuku mendapatkan investasi untuk HS. Sejujurnya aku ingin menolaknya. Tapi yang terjadi justru aku mengatakan aku akan menerimanya. Aku tak tau apa yang baru saja ku lakukan!”


“Bukankah itu suatu hal yang baik? Lalu kenapa kau terlihat murung?”


“Aku hanya tak tau apa maksud dan tujuannya membantuku. Bisakah aku mempercayainya? Sejak Eomma ku sendiri pergi meninggalkanku. Sejak wanita itu menghianati aboji dan mencampakkanku, terlalu sulit bagitu mempercayai seseorang. Semua yang kupercaya satu persatu menghianatiku. Aboji, eomma, Baekki, lalu pada siapa aku harus percaya? Apa memang dalam kehidupan ini tak ada satupun yang bisa kita percaya?” helaan nafas Taehyun terdengar frustasi, tertekan dan lirih.


“Kau bisa mempercayaiku. Kau lupa kau masih memilikiku? Sebagai istrimu, aku akan selalu berada dipihakmu. Jangan lagi merasa kau sendiri. Paling tidak kau memiliki kami. Aku, Hyeri, Jihyun, Hyunjin, kami semua ada dipihakmu. Kami akan selalu membantumu.” Nara mencoba meyakinkan suaminya bahwa ia tak sendiri. Ia tersenyum dan membiarkan tubuhnya sekali lagi jatuh dalam pelukan hangat suaminya.


“Tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Menurutku tak ada salahnya mencoba mempercayai Jaehyun oppa. Jaehyun yang aku kenal adalah sosok laki-laki yang begitu hangat dan bijaksana. Dia selalu memegang teguh ucapannya. Jika dia mengatakan dia akan membantumu, maka dia akan benar-benar membantumu. Aku percaya padanya. Kau pun juga harus mulai mencoba untuk mempercayainya..”


Taehyun melepaskan pelukannya pada tubuh Nara dan menatap tajam ke arah istrinya. “Kau masih menyukainya!” tuduhnya keras.


“Aku memang menyukainya..” jawab Nara polos


“YAK! KIM NARA! Kau mau mati hah?!” bentak Taehyun keras. Nara terkikik ketika meihat reaksi keras yang suaminya lontarkan.


“Aku memang masih menyukainya. Tapi aku hanya mencintai suamiku. Cinta, hati dan tubuhku telah menjadi milikmu. Lalu apa lagi yang kau ragukan dariku?”


“Waaaahh, Daebak! Sedang merayu suamimu Nyonya Han?” sindir Taehyun. Nara hanya merengutkan wajahnya dan berpura-pura kesal di hadapan suaminya.


“Kemarilah..” Taehyun menarik lengan Nara mendekat. Ia mencium bibir istrinya pelan. Kedua lengan Taehyun memeluk punggung Nara erat.


“Truuutt... Trruuutt..” deringan ponsel Taehyun terdengar begitu keras. Memaksa kedua insan itu untuk melepas tautan bibir mereka dan menatap pada satu titik yang sama. Pada sofa dimana ponsel hitam yang tengah menyala. Taehyun meraih ponsel miliknya dan kembali meletakkan benda itu di sofa saat menatap nama Hyeri tertera disana.


“Kau tak menjawabnya?” tegur Nara. Ia belum benar-benar melepas kedua lengannya yang melingkar di leher Taehyun.


“Aku jauh lebih ingin melanjutkan ciuman kita ketimbang menjawab telponnya” Taehyun kembali mendekatkan wajahnya pada Nara. Sedikit lagi bibir keduanya akan kembali menyatu kalau saja Nara tak menghindar.


“Bagaimana jika ada sesuatu penting yang harus ia bicarakan?”

__ADS_1


“Dia akan menelpon lagi nanti jika itu benar-benar penting. Hyeri akan mengerti kalau ku katakan aku sedang menciummu dan mengabaikan telpon darinya..”


“Tsk, memalukan! Cepat jawab telponmu, Han Taehyun!” Nara mengambil dan menyodorkan ponsel itu pada Taehyun sambil memelototi suaminya agar mau menjawabnya. Tak ada pilihan lain. Taehyun hanya mengambil ponsel dari tangan Nara dan menjawabnya malas.


“Hallo..” sapa Taehyun


“YAK! Apa yang sedang kau lakukan! Kenapa lama sekali!” bentak Hyeri keras sampai Taehyun terpaksa harus menjauhkan letak ponsel dari telinganya.


“Masih untung aku menjawab telpon. Kau tak lihat sekarang jam berapa? Kau tak lupa bukan kalau aku masih pasangan pengantin baru?”


“Aisshh! Direktur Han, aku tau. Kau tak perlu memperjelas semuanya!”


“Aku sedang menikmati malamku yang indah bersama istriku, jadi cepat katakan ada apa kau menelponku. Aku hanya memberimu waktu 2 menit nona Lee. Aku tak ingin istriku menunggu terlalu lama..” Nara melotot pada Taehyun tajam, sedang laki-laki itu hanya tersenyum tanpa dosa.


“Dasar Mesum! Dengarkan baik-baik! Direktur Han, aku ingin kau melakukan research di lapangan. Besok pergilah ke taman hiburan. Amati baik-baik dan berikan foto-foto baju yang sedang digemari para remaja untuk berkencan. Aku sedang membuat suattu konsep tentang baju musim dingin kita. Target pasarku kali ini adalah remaja berusia 17 – 22 tahun. Ah, bawa Nara bersamamu. Ku beri kalian kesempatan untuk berkencan. Anggaplah sebagai permintaan maafku karena telah mengganggu malam kalian..”


“Kau pikir aku punya waktu untuk berkencan? Kau gila, Lee Hyeri!”


“Memangnya kenapa? Aku rasa kau selalu punya waktu yang cukup untuk istrimu. Lalu dimana letak masalahnya?”


“Hahaha..” tawa Taehyun sontak pecah begitu mendengar penuturan Hyeri.


“Kau selalu mengenalku lebih baik dari siapapun nona Lee. Aku selalu menyukaimu. Baiklah, aku tau. Akan ku lakukan hal itu. Hingga detik ini, hanya kau yang ku ijinkan memerintahku. Kau harus bangga akan hal itu. Hahaha..” Taehyun memutus sambungan telponnya dan meletakkan benda kecil itu pada permukaan sofa. Ia baru menyadari bahwa sedari tadi Nara tengah menatapnya sembari bersidekap dengan raut wajah kesal yang begitu kentara.


“Kau selalu mengenalku lebih baik dari siapapun? Aku selalu menyukaimu? Hanya kau yang ku ijinkan memerintahku? Cah, suami macam apa yang secara terang-terangan mengatakan menyukai wanita lain dihadapan istrinya?!” sergah Nara. Taehyun hanya tersenyum ringan.


“Aku memang selalu menyukainya. Tapi aku hanya mencintai istriku seorang. Cinta, hati dan tubuhku telah menjadi milikmu. Lalu apa lagi yang kau ragukan dariku?” senyum itu samar-samar terlukis di bibir Taehyun. Ada setitik ejekan dalam nada bicaranya ketika ia berhasil mengulang kembali perkataan Nara padanya tadi.


“Berhenti menggunakan kata-kataku! Kau menyebalkan!” Nara bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri tempat tidurnya dengan menggerutu kesal.


“Yak, tak ingin melanjutkan ciuman kita?” tegur Taehyun. Ia ikut bangkit dari sofa dan berjalan mengikuti langkah Nara sambil mencoba menggoda istrinya.


“Lakukan saja dengan Lee Hyeri!” kesal Nara


“Benarkah kau ingin aku melakukannya dengan Lee Hyeri? Kau benar menyuruhku melakukannya?”


“Aku akan membunuhmu kalau kau benar-benar melakukannya!”


“Kalau begitu lakukan denganku!” entah sejak kapan, tapi kini Taehyun sudah berdiri dihadapan Nara. Satu persatu mulai melangkahkan kakinya mendekati tubuh Nara dengan seringai nakal di bibirnya.


“Tidak! Aku tak mau melakukannya denganmu!” elak Nara. Taehyun semakin menghimpit tubuh Nara hingga Nara tak memiliki ruang lagi untuk mundur. Nara terduduk di tepian tempat tidurnya karena tubuhnya terdesak. Sementara Taehyun semakin melebarkan senyumnya.


“Kau lupa? Aku bukan tipe orang yang memberimu pilihan. Tak peduli kau suka ataupun tidak. Tak peduli kau mau atau tidak. Aku tetap akan melakukannya.” Taehyun berhasil melumpuhkan tubuh istrinya. Bahkan kini Nara sedang berada di bawah kendali suaminya. Tubuh kekar Taehyun telah berada di atas tubuhnya, membuatnya tak lagi bisa melawan.


“Kenapa kau selalu seperti ini!” gumam Nara lirih.


“Karena aku mencintaimu Kim Nara..”


“Dasar gila!”


“Aku gila karena mencintaimu..”


.


.


.


-To Be Continue-


.


.


.


Author’s Note:


.


.


STOP! Biarkan Nara dan Taehyun melanjutkan aktivitas mereka. Jangan ngintip ya..


Hahaha..


Kira-kira Baekki dimana? Dengan siapa? Sedang berbuat apa?


Apa kabar si Baekki ku tersayang?


Simak kelanjutannya ya..


Semoga kalian suka dengan cerita ini.


.


.

__ADS_1


With Love,


ByunRa93_


__ADS_2