My Possessive Husband

My Possessive Husband
Meet Up


__ADS_3

Baekki menggeliat kecil dari tidurnya. Ia mengernyit kala merasakan sakit yang mendera bagian belakang tempurung kepalanya. Matanya yang terpejam mulai perlahan terbuka. Ruangan itu gelap. Hanya cahaya lampu tidur yang memberi penerangan pada ruangan berdesign klasik yang terlihat elegan dimata sayunya. Baekki sedang mencoba untuk bangun dari posisi tidurnya. Rasa sakit yang masih terasa membuatnya harus benar-benar berhati-hati untuk bergerak.


“Kau sudah bangun, Baek..?” suara wanita terdengar dari arah gorden putih kamar itu. Kontan Baekki terlonjak kaget karenanya. Area itu terlihat gelap hingga Baekki harus mengerjapkan matanya beberapa kali agar ia bisa melihat dengan lebih jelas.


“S-siapa kau?” tanya Baekki yang mulai beringsut mundur. Perlahan wanita itu berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Cahaya lampu tidur memantul mengenai wajah cantinya. Beberapa kerutan tipis tampak menghiasi mata Jira yang indah, namun hal itu tak mampu mengurangi aura kecantikan yang terpancar melalui mata indahnya. Hangat dan menenangkan. Itulah sorot yang tergambar dimatanya. Kim Jira, wanita paruh baya itu tetap sama seperti puluhan tahun lalu. Masih begitu cantik dan mempesona.


“Kau masih mengingatku Baek?” tegur Jira dengan nada suaranya yang lembut. Ia duduk pada sebuah kursi disamping tempat tidur Baekki dan memandangi anak laki-laki itu penuh harap.


“Nyonya, anda..”


“Iya. Ini aku Baek. Kim Jira. Aku benar-benar minta maaf karena membawamu dengan cara seperti ini. Apa kau baik-baik saja?” Baekki hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia masih tak percaya dengan apa yang kini dilihatnya. Benarkah ini Kim Jira? Ibu kandung Taehyun? Ia tak terlalu bisa mengingat dengan jelas akan bayangan sosok Jira yang dulu di kenalnya. Baekki masih berusia 6 tahun ketika terakhir melihat wanita itu. Tapi memperhatikan mata itu, hidung bahkan raut wajah Jira, bayangan Taehyun sontak terlintas di benaknya. Kala itu barulah Baekki yakin ia benar-benar Ibu Taehyun. Keduanya terlihat begitu mirip.


“Dokter bilang ada sedikit memar di bagian belakang kepalamu. Sekali lagi aku minta maaf tentang hal itu Baek. Aku tak berniat melukaimu..”


“Aku baik-baik saja, nyonya.. Tapi, bagaimana bisa anda berada di Korea? Bukankah anda sedang berada di luar negeri? Aku bahkan tak bisa melacak keberadaan anda nyonya..”


Jira tersenyum, matanya ikut tertarik membentuk sebuah lengkungan indah yang terasa hangat. “Aku tak pernah meninggalkan Korea Baek. Aku tak mungkin membiarkan Taehyun hidup sendiri dengan wanita kejam seperti ibu Jaehyun. Sekalipun wanita itu berhasil mengusirku, tapi tak akan ku biarkan dia menyentuh Taehyun ku. Walaupun aku tak bisa berada di dekatnya, tapi aku selalu melihatnya tumbuh dari kejauhan.” Gumamnya lirih.


“Anakku, Han Taehyun tumbuh dengan begitu baik. Dia menjadi sosok pemuda yang sangat tampan. Dia selalu bersinar seperti sebuah bintang yang indah. Dia bintangku Baek..” Jira menatap foto Taehyun yang tergantung pada dinding kamar yang sedang Baekki tempati. Jira berdiri, berjalan menuju dinding di sebelah pintu dan menekan tombol on pada saklar lampu kamar.


Sesaat setelahnya lampu diruangan itu menyala dengan terang. Disaat itulah mata Baekki manatap ratusan pigura tertempel pada dinding kamar dengan satu objek yang sama, ‘Han Taehyun’. Ada berbagai pose gambar Taehyun kecil hingga ia tumbuh dewasa yang terpampang disana. Termasuk foto pernikahan Taehyun dengan Nara. Gambar-gambar itu selalu diambil Jira diam-diam.


“Nyonya, jadi anda yang selama ini—“ ucapan Baekki tercekat. Ia tampak terkejut hingga tak kuasa melanjutkan arah pembicaraan itu.


“Kau benar. Dugaanmu benar Baek. Akulah yang selama ini mengirimkan foto-foto itu padamu. Aku hanyalah seorang ibu yang telah diusir dengan cara kotor oleh wanita simpanan suamiku. Aku hanya tak ingin dia memperlakukan anakku dengan cara yang sama. Aku hanya sedang melindungi putraku.” Jira menghentikan sejenak ucapannya. Meredam segala bentuk emosi yang sepertinya sulit untuk ia tutupi.


“Layaknya seorang ibu, aku ingin melihat putraku tumbuh, menjaganya, memberinya kasih sayang. Tapi aku bahkan tak memeiliki kesempatan untuk itu. Aku ingin menyentuhnya, aku ingin memeluknya, dia putraku Baek. Aku selalu merindukannya. Karena itu, karena itulah aku selalu mengikutinya, berusaha mengabadikan setiap momen tumbuh kembangnya, menjaganya dari kejauhan” Jira mulai terisak.


“Nyonya, kenapa anda tak datang menemui Taehyun?”


“Belum saatnya Baek. Taehyun mengenalku sebagai ibu yang kejam. Seorang ibu yang mencampakkannya dan berselingkuh dengan laki-laki lain. Aku tak ingin berhadapan dengan putraku dibalik cerita itu. Aku tau dia sangat membenciku..”


“Anda tak pernah melakukan kedua tuduhan itu nyonya. Anda tak pernah mencampakkan Taehyun ataupun berselingkuh dengan laki-laki lain!”


Jira mengangguk. Ia tersenyum, bersyukur ketika ada seseorang yang masih mempercayainya.


“Nyonya Yoon memfitnah anda, seperti dia memfitnahku. Membuat tak satupun orang percaya dengan apa yang kita katakan dan kemudian menguasai segalanya yang ia inginkan. Dia jauh lebih berbahaya dari apa yang selama ini ku bayangkan” Ujar Baekki. Lagi-lagi Jira hanya tersenyum tanpa arti.


“Itu hanyalah sebagaian kecil dari kejahatan wanita itu Baek. Ada hal-hal lain yang belum kau ketahui. Tujuan terbesarnya adalah menguasai Han’s Group, menghancurkan HS dan menyingkirkan Taehyun. Karena itulah aku membawamu kemari Baek. Karena aku membutuhkanmu untuk menyelamatkan suami dan putraku..”


“Saya tau nyonya. Dan saya akan dengan senang hati membantu anda..” Baekki merundukkan kepalanya memberi hormat.


“Terimakasih, Baek. Sama seperti mendiang ayahmu, kau selalu bisa diandalkan.” Jira menepuk bahu Baekki pelan sembari tersenyum menatapnya.

__ADS_1


.


.


.


***


.


.


.


Taehyun-Nara’s Room – 03.30 AM


.


.


Sang surya belum benar-benar tampak diperaduannya. Gelap masih menyelimuti pagi kota Seoul. Bahkan dinginnya udara musim gugur yang sedikit kering masih begitu terasa ketika ia mulai menyusup pada celah-celah kecil di atas jendela kamar lantai dua istana megah mereka. Tak ada yang terusik. Gulungan tebal selimut putih itu masih begitu setia melindungi sang empunya dari hujaman dingin yang menusuk. Keduanya masih terlelap, masih saling bergumal dengan alam bawah sadar masing-masing yang seolah tanpa batas, tanpa celah dan begitu nyaman. Terlebih bagi Nara. Hal yang begitu ia inginkan hanyalah terlelap sepanjang hari ini. Tubuhnya terasa lelah. Bahkan pegal masih benar terasa di kedua kakinya. Hal yang cukup wajar memang jika mengingat kemarin hampir setengah harinya ia habiskan untuk berjalan menyusuri kota Seoul hanya untuk membantu sahabatnya mencari sosok yang begitu ia cintai.


Perlahan dahi Nara tampak mengernyit. Matanya yang terpejam mulai nampak terusik akan sesuatu yang mulai terasa di dalam sana. sebenarnya ia berniat mengabaikan rasa yang berputar di dalam perutnya. Ia tak ingin hal itu mengganggu waktu istirahatnya yang begitu berharga. Nara tetap memaksakan kedua matanya untuk terpejam. Bahkan ia sedikit memutar posisi tubuhnya, mencari posisi yang benar-benar bisa membuatnya nyaman. Nara meringkuk sambil mempererat gulungan selimut putih di tubuhnya. Tangannya yang bebas ia lingkarkan pada pinggang suaminya, sedang kepalanya ia sandarkan pada dada Taehyun. Ia berharap akan kembali terlelap dalam posisi itu.


Ia masih berdiri disana. Menatap cermin pada dinding toilet dengan wajah pucat dan tubuh yang tampak lemah. Tak ada tenaga yang tersisa setelah semua isi dalam perutnya ia keluarkan. Bahkan nafasnya masih belum kembali pada jalur yang normal.


“Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?” tanya seseorang yang kini berjalan mendekatinya. Bayangan laki-laki yang terpantul pada cermin itu terlihat begitu tampan sekalipun ia baru saja terjaga dari tidurnya.


“Apa kau sakit?” tanyanya lagi. Kali ini wajahnya tampak begitu cemas ketika menatap wajah istrinya yang tampak pucat. Nara tak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya perlahan.


“Hey, wajahmu pucat, Nara. Kau tak bisa mengelaknya! Apa kau merasa tak enak badan?” Taehyun menyentuh dahi istrinya dengan telapak tangannya yang dingin.


“Aku baik-baik saja. Hanya merasa sedikit mual”


Suasana tampak hening setelahnya. Taehyun menatap dalam ke manik mata Nara seolah tengah memikirkan sesuatu dengan begitu sungguh-sungguh. Tak ada yang memulai pembicaraan. Keduanya sibuk bergumal dengan arah pemikiran masing-masing yang sangat berlawanan.


“Eummb, mungkinkah?” gumam Taehyun yang tampak ragu.


“Kenapa?”


“Nara, kau hanya merasa mual? Tak merasakan sesuatu yang lain? Tak napsu makan atau sejenis itu—“


Nara terdiam, tak cukup mengerti dengan maksud dibalik pertanyaan suaminya yang tergolong aneh.

__ADS_1


“Aku hanya mual” tekannya lagi.


“Kau tidak sedang hamil bukan?”


Nara mengernyit. Sorot matanya perlahan mulai berubah misterius seolah tengah tertawa akan apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya. Ah, atau bahkan kini gadis itu tengah mempertimbangkan akan umpatan yang tepat untuk ia lontarkan pada Taehyun. Yang jelas raut wajah Nara tak terbaca, sulit utuk digambarkan ataupun di deskripsikan. Nara berjalan keluar dari kamar mandinya, meninggalkan Taehyun yang kini tengah berjalan mengikutinya.


“Nara..” pantau Taehyun. Nara terpaksa berbalik dan menatapi wajah suaminya dalam diam.


“Kau sedang hamil bukan?” tanya Taehyun sekali lagi. Nara terdiam. Matanya bergerak liar menatapi lantai dibawahnya seperti tengah tampak resah akan sesuatu.


“Apa yang kau harapkan? Berharap kau bisa membuatku hamil hanya karena beberapa kali melakukannya? Oh, ayolah. Aku hanya terlalu lelah.”


Taehyun hanya berdiri di tempatnya. Raut wajahnya jelas terlihat tak puas akan jawaban yang baru saja terlontar dari bibir istrinya. Ia menghela nafasnya singkat. Nara cukup menyadari perubahan ekspresi suaminya. Sebenarnya bukan ia tak ingin dirinya hamil. Ia hanya tak ingin memberikan harapan kosong pada Taehyun. ia cukup tau jika suaminya benar-benar berharap besar dirinya akan hamil dan melahirkan seorang anak. Terlebih seorang anak laki-laki yang jelas akan memperkokoh posisinya di dalam Han’s Group. Sebenarnya Nara juga tengah berfikir hal yang sama. Ia juga merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Tapi setidaknya ia harus benar-benar memastikan hal itu terlebih dahulu sebelum memberikan sebuah harapan pada Taehyun.


“Taehyun, maaf. Aku—“


“Naiklah ke tempat tidur. Berbaringlah dan istirahat. Aku akan turun kebawah dan mengambilkan sesuatu yang hangat untuk kau minum..” ujar Taehyun. Laki-laki itu kemudian berjalan keluar dari dalam kamarnya dan menutup pintu itu pelan. Sedang Nara terlihat menatap kepergian suaminya dengan sendu.


“Maaf..” gumamnya lirih.


Taehyun terlihat menuruni tangga lantai dua rumahnya dengan perlahan. Rumah itu tampak kosong dan gelap dimalam hari. Tapi ada sesuatu yang membuat arah Pandangan Taehyun tercekat pada satu titik. Pada ruang kerja ayahnya yang masih tampak terang. Ia melirik jam di dinding ruang tengah yang menunjuk pada angka 4 pagi.


“Apa yang sedang ia lakukan sepagi ini?” gumam Taehyun. Ia tertarik untuk berjalan mendekat ke arah ruangan bercat putih itu. Pintunya sedikit terbuka seperti tengah sengaja menarik Taehyun untuk jauh lebih masuk kedalamnya. Awalnya ia tampak ragu, namun rasa penasaran yang menggelayuti tubuhnya semakin mendorongnya untuk masuk.


Pintu ruangan itu terbuka, Taehyun berjalan masuk kedalamnya dan mencari dimana keberadaan laki-laki paruh baya yang selalu ia panggil appa. Meja kerja itu terlihat kosong. Namun suara rintihan mulai samar-samar terdengar di telinganya.


“Jira-ya.. Kim Jira..” gumam Tuan Han sambil terisak. Taehyun kontan memutar tubuhnya. Ia berjalan ke arah kelambu putih yang menjadi pembatas antara ruang kerja appanya dengan sofa tamu yang berada disana. Taehyun menyikap kelambu putih di hadapannya dan mulai berjalan lebih dekat. Kini ia bisa melihat sosok itu tengah terbaring pada sofa panjang. Matanya terpejam sedang sebelah tangannya memeluk foto ibunya erat dengan tangan yang lain membawa sebuah alat rekaman.


“Jira, maafkan aku..” rancaunya lagi. Taehyun berdiri dihadapan appanya yang sedang tertidur. Ditatapnya lekat-lekat wajah tua ayahnya.


“Aku merindukanmu. Ku mohon, jangan pergi..” laki-laki tua itu menangis dalam tidurnya.


Air mata perlahan mengalir di sudut matanya dan Taehyun dengan begitu jelas melihat hal itu. Ia menghela nafasnya singkat. Hatinya seolah tersayat. Rasanya sakit perlahan mulai muncul dalam dirinya. Melihat ayahnya dalam keadaan seperti itu membuatnya merasakan rasa sakit yang sama. Merasakan kerinduan yang sama terhadap Jira. Taehyun mengambil foto ibunya dari tangan Tuan Han dan meletakkan benda itu di atas meja. Ia mengambil sebuah selimut pada sandaran sofa dan meletakkannya ditubuh appanya yang tengah meringkuk menahan dingin. Pandangan Taehyun beralih pada foto ibunya lagi.


“Eomma, kau lihat ia begitu merindukanmu. Ia bahkan menangis dalam tidurnya karena merindukanmu. Eomma, tak bisakah kau kembali?” nada suara Taehyun terdengar bergetar ketika mengucapkannya. Ia tak lagi dapat menahan air matanya. Tapi secepat yang ia bisa Taehyun menghapus sudut matanya yang basah dan segera keluar dari ruang kerja ayahnya. Ia berjalan menuju dapur, membuatkan secangkir teh hangat dan segera kembali ke kamarnya.


.


.


.


_To Be Continue_

__ADS_1


__ADS_2