
Kalau tiap orang punya satu hal yang mereka benci.
Maka bagiku itu adalah kamu..
I Hate You with all my guts!
.
.
.
“My Possessive Husband”
©Byunra93_
.
.
.
Gwangju Resto, 08.00 PM
Suasana gelap tampak di hamparan langit kota Seoul malam ini. Bintang masih setia dengan tugas utamanya untuk menemani sang bulan, dalam peredarannya menerangi langit malam yang selalu tampak mencekam. Di salah satu ruangan private dalam resto itu Ny. Yoon dan anaknya tengah duduk menunggu seseorang. Jaehyun terlihat bosan, namun lagi\-lagi Ny. Yoon memaksanya untuk tetap menunggu.
Setelah hampir 30 menit berlalu, seorang laki-laki paruh baya masuk ke dalam ruangan berpintu kertas dengan lantai kayu sebagai alasnya itu bersama seorang sekretaris yang mengekor di belakangnya.
“Apa kabar Tuan Jung..” sapa Ny. Yoon sambil menundukkan kepalanya memberi hormat.
“Maaf membuat kalian menunggu terlalu lama. Aku harus menyelesaian beberapa urusan terlebih dahulu” jawab pria itu santai.
“Itu bukan masalah, Tuan. Aku Senang, malam ini bisa bertemu dengan anda. Terimakasih telah meluangkan waktumu hari ini.” Ny. Yoon tersenyum dengan begitu tulus.
“Tuan Jung, perkenalkan ini putraku, Han Jaehyun..”
Jaehyun memberi hormat dengan menundukkan kepalanya.
“Perkenalkan, aku Han Jaehyun..”
“Wah, lihatlah. Kau benar-benar mirip ayahmu Jaehyun-ah. Sangat tampan dan berkarisma..” puji Tuan Jung yang membuat Jaehyun lagi-lagi menunduk memberi hormat sambil mengucapkan terimakasih dari bibirnya.
“Tentang kerjasama itu. Aku sudah memutuskan untuk berada di pihakmu. Aku rasa kau memang jauh lebih pantas menjadi penerus Han’s Group daripada anak muda yang sok itu. Han Taehyun, dia terlalu arogan untuk berada di posisi presdir.”
“Ah, Terimakasih Tuan Jung..” ujar Ny. Yoon bahagia.
“Dan, tentang rencanamu untuk menggulingkan kepemimpinan Taehyun. Kau tak perlu khawatir soal itu. Aku bisa pastikan, bahwa aku akan berada di pihakmu. Aku akan membantumu menyingkirkannya..”
.
.
.
It all begin..
My Love, Your feel and My revenge..
.
.
.
Han Family’s House, Gangnam – South Korea
@10.00 PM
.
.
Nara terbangun dari tidurnya. Ia menatapi Taehyun yang tengah terlelap di sebelahnya sekilas. Rasa haus semakin mencekik tenggorokannya, hingga gadis itu berniat untuk turun ke dapur dan megambil segelas air untuk menghilangkan rasa itu. Nara perlahan mengangkat sebelah lengan Taehyun yang melingkar di pinggangnya, memindahkannya dengan begitu hati-hati dan ia mulai beringsut turun dari tempat tidurnya.
Dengan mengendap, Nara menuruni satu persatu anak tangga dengan memegangi pinggiran tangga dengan erat, karena penerangan di rumah itu telah padam. Nara kesulitan menatapi jalanan di hadapannya.
Sesaat setelah sampai pada ruang kecil di sebelah kiri tangga itu, Nara dengan segera menyalakan saklar lampu dan berjalan menuju kulkas untuk mengambil segelas air dingin untuk ia minum.
“Kim Nara..” sebuah suara memekik dari balik punggunng Nara. Membuatnya tersedak karena kaget. Nara terbatuk -batuk kecil saat berbalik. Dan ia mendapati sosok Jaehyun tengah duduk di sebuah meja kecil yang terletak di sudut kiri dapur itu.
__ADS_1
“Oppa..” sapanya. Dengan perlahan ia berjalan mendekati Jaehyun.
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Nara.
“Menurutmu? Aku lapar. Jadi aku mencari sesuatu yang bisa dimakan. Hahaha..” Jaehyun tertawa sambil mengangkat piring di hadapannya, seolah menunjukkan pada Nara tentang apa yang baru saja ia sebut dengan makanan.
“Ramyeon?”
“Humm..”
“Cah! Oppa, kau masih suka memakan Ramyeon mentah?”
Jaehyun mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum simpul sambil memandang wajah gadis itu dalam-dalam.
“Jangan memakannya seperti itu. Tunggulah, aku akan memasakkannya untukmu.”
Nara berdiri, hendak berbalik menuju almari dapur, tapi dengan cepat Jaehyun menahannya. Membuatnya duduk disampingnya.
“Ramyeon akan lebih enak saat dimakan seperti ini” Jaehyun memotong sebagian ramyeon mentah di tangannya, memberinya sedikit bumbu, kemudian ia sodorkan pada Nara.
“Cobalah..”
Nara menerima potongan Ramyeon itu dan menatapnya sekilas.
"ini akan membuat perutku sakit."
"Siapa bilang? jangan mudah menyimpulkan hal yang bahkan belum kau coba. Makanlah.." bujuk Jaehyun sambil setengah memaksa Nara memakan ramyeon di tangannya.
"Seleramu benar-benar aneh, oppa."
Nara memutuskan untuk mencoba memakan ramyeon itu dalam diam. Untuk sesaat hanya suara kunyahan mereka yang mendominasi. Tak ada yang memulai pembicaraan. Keduanya tampak canggung satu sama lain. Sampai akhirnya Jaehyun mulai memberanikan dirinya untuk memulai.
“Bagaimana suamimu?” tanyanya sekedar berbasa basi.
“Taehyun? Dia sedang tidur. Mungkin terlalu lelah dengan pekerjaannya. Kau sendiri, kenapa justru menghabiskan malam mu di dapur seperti ini? Kau tau, kau terlihat mirip tikus oppa.. hahaha..”
“Aku, hanya tak bisa tidur”
Nara hanya mengangguk kecil sebagai reaksinya atas jawaban yang baru saja terlontar dari bibir Jaehyun.
“Ku dengar kau tak enak badan? Apa sudah baik-baik saja?”
“Y-ya?” Nara nampak kikuk. Ia menggelengkan kepalanya pelan seolah sedang menampik keterangan tentang keadaannya.
Tatapan Jaehyun terhenti pada titik itu. Di area leher Nara yang nampak memerah lebam. Jaehyun menghembuskan nafasnya berat. Hatinya seperti tengah tertumbuk sebuah batu besar yang membuatnya sesak.
“Itu..” gumam Jaehyun yang menatap tajam pada titik itu. Nara yang menyadari akan arah pandang Jaehyun mulai membenarkan letak posisi rambutnya, mencoba menutupi bagian itu dengan amat canggung dan malu.
“Aku baik-baik saja, Oppa..” Nara tersenyum kikuk. Berbanding terbalik dengan hatinya yang tengah meruntuk dan mengumpat tentang prilaku Taehyun terhadapnya tadi.
“Kau benar-benar bukan lagi gadis kecilku dulu. Kau tumbuh begitu cepat, Nara..” Air wajah Jaehyun terlihat sayu. Bahkan tak ada lagi gairah dalam nada bicaranya. Ia menatap nanar ke arah Nara sambil terus mencoba mengatur raut wajahnya agar tak terlihat sedih.
“Oppa..” pantau Nara yang nampak bersalah. Jaehyun terlihat merunduk, kembali mengambil potongan Ramyeon dan memakannya perlahan.
“Kembalilah! Suamimu pasti akan menyadari ketika kau tak lagi disampingnya..” tukas Jaehyun tanpa berniat menatap wajah gadis kecilnya itu lagi. Nara masih pada posisinya, menundukkan kepalanya jauh lebih dalam.
“Apa lagi yang kau tunggu? Kembalilah..” tukas Jaehyun lagi, yang mau tak mau membuat Nara berdiri dan mulai berjalan meninggalkan dapur untuk kembali ke kamarnya.
.
.
.
***
.
.
.
Morning in Taehyun’s House
Monday, 14th October 2019 – 07.30 AM
.
.
__ADS_1
“Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan?” tanya Nara yang nampak frustasi di balik telpon genggam miliknya.
“Apa? Menggodanya?? YAK!! Shin Jihyun, kau gila? Kau menyuruhku menggodanya agar dia melepaskan hukuman ini dariku? Ini sangat berbahaya kau tau..” cecar gadis itu kesal pada sahabatnya.
“Ah,, baiklah.. baiklah.. Akan ku lakukan. Jangan katakan tentang hal ini pada kekasihmu! Aku akan membunuhmu kalau sampai Baekki tau tentang ini!! Mengerti?”
‘PHIP..’ sambungan telpon itu terputus. Nara menghempaskan tubuhnya pada sofa putih di kamarnya. Gemericik air shower bisa ia dengar dengan begitu jelas, menandakan bahwa pria itu masih disana.
Nara memijit pelipisnya yang terasa berdenyut sakit. Kembali ia memikirkan akan saran Jihyun yang terdengar sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin gadis itu memintanya untuk menggoda suaminya agar melepaskan dirinya dari hukuman?
“Aissh..”
Nara mendesah kasar. Sungguh, tidak mungkin baginya bertindak konyol seperti itu. Tapi ia benar-benar membutuhkan ijin Taehyun untuk keluar. Hari ini adalah hari dimana ibunya pulang dari rumah sakit. Dan ia benar-benar harus menenui ibunya. Ia tak ingin menjadi anak durhaka dengan mengabaikan keadaan ibunya sendiri.
Tapi sejak beberapa hari yang lalu, Taehyun sedang menghukumnya. Melarangnya meninggalkan rumah tanpa seijinnya. Dan itu benar-benar membuat Nara frustasi.
“Ah baiklah Kim Nara, lakukan! Kau pasti bisa melakukannya. Lakukan Nara! Fighting..!!” ujar Nara menyemangati dirinya. Dia menghembuskan nafas berat dari bibirnya dan kemudian beranjak dari tempat duduknya. Nara berjalan ke arah almari dinding di sudut kanan kamar dan mengambil sebuah tuxedo berwarna biru gelap dan dasi berwarna senada. Ia berjalan keluar, saat indra pendengarannya menangkap suara pintu kamar mandi yang terbuka.
Nara menghampiri Taehyun yang sedang mengancingkan satu persatu kancing kemeja putih yang tengah ia gunakan.
“Kau sudah selesai?” tanya Nara sekenanya. Ia terlihat membuka tuxedo biru di tangannya dan merentangkannya, memberi isyarat pada Taehyun untuk menggunakannya.
“Ada apa denganmu? Kepala mu terbentur sesuatu?” Taehyun mengernyit heran namun tetap memasukkan lengannya ada tuxedo yang sedang Nara pegang. Sedang Nara hanya tersenyum klise.
“Dimana ahjumma?” tanya Taehyun sambil mengambil sebuah dasi dari tangan Nara.
“Hari ini aku yang akan membantumu menggunakannya. Kemarikan dasi itu!” pinta Nara. Han Taehyun, sejak dulu pria itu memang tak pernah bisa mengenakan dasi di lehernya. Terlalu sulit bagi Taehyun untuk mengikat benda itu. Jadi, ia selalu meminta ahjumma untuk membantunya.
Nara meraih leher jenjang Taehyun, melingkarkan tali dasi berwarna biru gelap itu disana dan mulai menyimpulkan sudut\-sudutnya. Sedang Taehyun sedang duduk pada kursi meja rias sambil menatapi wajah istrinya lekat\-lekat.
“Selesai. Bagus bukan?” Nara tersenyum puas akan hasil karyanya.
Taehyun menatap pantulan dirinya sekilas pada cermin, kemudian ia segera berdiri, mengambil tas kerjanya di atas tempat tidur dan berniat pergi saat tiba-tiba Nara menghadangnya. Gadis itu berdiri di hadapan Taehyun sambil menunduk, menggigit bibir bawahnya ragu.
“Kenapa?” tanya Taehyun dingin.
Nara tampak meyakinkan dirinya, perlahan ia mulai bergerak mendekat, menyentuh sebuah kancing kemeja Taehyun dan memainkannya. Sebelah tangannya yang lain kini tengah berada di dada bidang suaminya.
“Ada apa denganmu, huh?!”
“Taehyun-ah..” pantau Nara manja. Membuat pria itu menatapnya heran.
Perlahan kedua tangan Nara tengah melingkar pada leher Taehyun, menariknya untuk mendekat dan mencium bibir tipis suaminya itu. Taehyun hanya terdiam. Satu hal yang membuat Nara meruntuk hebat dalam hatinya.
Dengan amat terpaksa Nara mulai menggerakkan bibir ranumnya, mencoba bergerak aktif di atas bibir Taehyun. Memancing pria itu untuk membalas perlakuannya yang begitu memalukan ini. Sungguh harga diri seorang Kim Nara yang selama ini ia junjung tinggi seolah runtuh, hancur tak berkeping di titik ini.
Pada awalnya gadis itu tampak begitu optimis akan berhasil membuat suaminya tergoda. Tapi tidak, semua tak berjalan seperti apa yang ia harapkan. Taehyun masih saja diam tanpa berniat membalas ciuman Nara.
Merasa usahanya sia-sia Nara beringsut mundur. Ia melepaskan ciumannya, tetapi kedua tangannya masih melingkar di leher jenjang Taehyun. Wajah gadis itu terlihat memerah padam.
“Ini apa? Kau sedang mencoba menjadi seorang istri yang baik hari ini? Apa yang sebenarnya kau inginkan, Kim Nara?”
Nara masih menyembunyikan wajahnya pada dada Taehyun, malu. Sampai akhirnya, Taehyun meraih dagunya, membuat kepala Nara terangkat untuk menatapnya.
“Hari ini ijinkan aku keluar..” ucap Nara dengan tatapan termanis yang ia punya.
“Jadi itu tadi bukanlah sebuah Morning Kiss, melainakan sebuah sogokan?” Taehyun tersenyum tipis.
“Bukan begitu. Aku hanya-”
“Kau sedang mencoba menggodaku, Nara?” tuduh Taehyun
“Taehyun-ah, ayolah. Aku harus ke rumah sakit. Hari ini ibuku keluar dari rumah sakit. Ijinkan aku melihatnya.”
"Ku mohon.."
Taehyun tersenyum simpul. Ia melingkarkan lengannya pada pinggang Nara, menarik tubuh gadis itu mendekat dan menatap manik matanya intens. Taehyun terkekeh pelan.
“Sekalipun kau tak menggodaku, aku akan tetap mengijinkanmu pergi, Nara. Hahaha..” ujar Taehyun menggoda.
“APA? DASAR MENYEBALKAN!! HAN TAEHYUN, AKU MEMBENCIMU!!” dengus Nara dengan penuh penekanan di tiap katanya. Ia membuang mukanya dari Taehyun, kesal.
“Sayang sekali. Tapi aku menyukainya. Kau benar-benar sangat manis pagi ini..” Taehyun menyentuh pipi tirus Nara, memiringkan kepalanya dan mencium bibir ranum gadis itu intens.
"Jadilah gadis yang penurut, humm.." gumam Taehyun sambil **** senyum di bibirnya.
.
.
__ADS_1
.
_To Be Continue_