My Possessive Husband

My Possessive Husband
How Could?


__ADS_3

Ketika kepercayaan itu sedang di uji..


Ketika sebuah persahabatan dan satu hubungan dekat di pertaruhkan..


Akankah kesetiaan itu dapat hilang begitu saja?


.


.


.


My Possessive Husband


©ByunRa93_


.


.


.


“Lee Baekki, dimana?”


Jihyun menggeleng. Ya, gadis itu memang sama sekali tak mengetahui dimana keberadaan kekasihnya. Baekki bahkan tak menghubunginya sejak semalam. Terakhir kali Baekki menelponnya, ia hanya berkata bahwa mungkin ia akan benar-benar sibuk besok. Dan Baekki meminta Jihyun untuk menjaga dirinya, berhati-hati dengan sekitarnya dan tetap waspada. Sungguh, sampai detik ini Jihyun pun masih bingung dengan apa maksud dari perkataan Baekki. Tapi ia cukup yakin bahwa laki-laki itu hanya tak ingin sesuatu buruk terjadi padanya.


“Hallo, kau dimana? Bisakah ke kantorku sekarang?” ujar Taehyun di balik telponnya.


“Sesuatu yang buruk terjadi di perusahaan. Design musim dingin yang kau buat bocor. Dan perusahaan lain telah memasarkan produk itu secara besar-besaran..” Taehyun berusaha menjelaskan dengan sangat singkat.


“Baiklah, cepat datang, aku menunggumu Lee Hyeri..” nada bicara Taehyun terdengar begitu resah. Ia bahkan terpaksa harus meminta Hyeri datang disaat gadis itu tengah berada di bandara dan berniat kembali ke Paris. Sungguh perasaan Taehyun benar-benar kacau. Bagaimana mungkin hal seperti ini bisa terjadi? Hal itu terus berputar dalam benak Taehyun, sampai-sampai ia tak menyadari bahwa tangannya sedari tadi terkepal menahan amarahnya yang begitu mendidih.


Nara berjalan mendekati suaminya yang sedang duduk pada kursi kerjanya. Ia menyentuh bahu Taehyun, membelainya pelan dan terus berusaha menenangkan melalui sentuhannya.


“Shin Jihyun, kau masih belum bisa menghubungi Lee Baekki?” tukas Taehyun pada gadis yang sedari tadi terus bergelut dengan ponselnya itu.


“Tidak. Dia mematikan ponselnya. Aku benar-benar tak tau dimana Baekki..”


“Apa yang sebenarnya sedang dia lakukan? Kemana dia disaat seperti ini!”


“Sudahlah, Tae. Ada banyak hal yang harus Baekki selesaikan. Jangan seperti itu padanya..” Nara kembali berusaha meredam emosi suaminya yang kembali mencuat.


‘Braaakk..’ pintu ruangan Taehyun terbuka dengan begitu keras. Lee Hyeri berjalan masuk dengan langkahnya yang terlihat marah. Di belakangnya, Hyunjin mengikuti langkah Hyeri dalam diam.


“Bagaimana mungkin hal seperti ini bisa terjadi? Itu desain ku, Tae! Kau bahkan melihatku menggambarnya waktu itu! Ini tak mungkin!” bentak Hyeri sambil melemparkan baju tiruan yang dia bawa di meja Taehyun.


Ya, di bandara tadi ia memang menemukan designnya di pajang pada salah satu toko. Hyeri membeli salah satu baju itu dan mengamatinya di sepanjang perjalanan menuju gedung perusahaan Han tadi. Ia marah. Tentu saja, designnya telah di tiru, mana mungkin Hyeri tak marah.


“Maafkan aku, Hyeri. Ini salahku karena tak langsung mendaftarkan designmu dan justru menyimpannya di kantor. Tapi tak ada satu orang pun yang tau aku meletakkan design itu disini.”


“Lalu bagaimana bisa seseorang mencurinya Han Taehyun!”


“Itulah yang sedari tadi ku pertanyakan Lee Hyeri! Tak ada yang tau aku meletakkannya di dalam sana. kecuali kau, aku dan Baekki”


“Tak mungkin aku membocorkan designku sendiri, Tae! Kau pikir aku gila?!”


“Aku juga tak mungkin melakukan hal buruk pada perusahanku Hyeri-ah!”


Kedua orang itu saling bersitegang. Keduanya mencoba saling memahami arah pemikiran masing-masing hingga tak perlu banyak berkata pun mereka tau maksud masing-masing.


“Kalau bukan kita, berarti hanya ada satu orang bukan?” ucap Taehyun datar.


“Tak mungkin Lee Baekki melakukannya, Tae..” bela Nara. Ia berjalan semakin mendekat ke arah Taehyun dan Hyeri yang tengah berdiri berhadapan. Sedang Hyunjin dan Jihyun sedari tadi hanya bisa menyaksikan perdebatan itu dalam diam.


Taehyun tak mendengarkan ucapan Nara. Ia jauh lebih fokus pada arah pembicaraannya dan Hyeri. Ia bahkan tengah meyakini pemikirannya saat ini hingga apapun yang Nara ucapkan seolah percuma baginya.

__ADS_1


“Kau ingat apa yang ku katakan padamu beberapa hari kemarin?” tanya Taehyun pada Hyeri. Gadis itu mengangguk memastikan.


“Semuanya sudah jelas sekarang. Aku tak menyangka Baekki akan bertindak sejauh ini” sahut Hyeri.


Mendengar beberapa kali nama Baekki disebut membuat Jihyun sedikit merasakan sesuatu buruk tengah terjadi pada kekasihnya. Jihyun yang sedari tadi hanya berdiam diri mulai terlihat memberanikan dirinya untuk bertanya.


“Se-sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa dengan Baekki? Apa yang dia lakukan?” tanya Jihyun.


Semua menatapnya saat itu. Tak terkecuali Hyeri. Ia menatap Jihyun sekilas dan kemudian kembali berhadapan dengan Taehyun seolah sedang berdiskusi melalui tatapan matanya yang terlihat dalam. Hyeri mengangguk pelan dan sesaat setelahnya Taehyun membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam sana. perlahan Jihyun mulai berjalan mendekati meja kerja Taehyun saat sang direktur membuka amplop coklat di tangannya dan mengeluarkan beberapa foto Baekki dari dalam sana.


“i-ini?” Jihyun mengambil selembar foto Baekki yang sedang berada di dalam sebuah mobil hitam. Disamping Baekki terlihat Nyonya Yoon yang tengah duduk di bangku kemudi.


Mata Jihyun menatap Taehyun, berusaha meminta penjelasan lebih lanjut tentang apa yang tengah terjadi. Nara pun melakukan hal yang sama. Ia juga menatap suaminya bingung.


“Sepertinya Baekki sudah berpaling. Aku melihatnya berbicara dengan wanita itu beberapa hari yang lalu. Setelahnya aku meminta Jindo mengikuti Baekki dan itulah yang ku dapatkan. Sepertinya Baekki tak lagi berada di pihak kita..”


Jihyun terkejut. Pandangan matanya membulat, bahkan selembar foto di tangannya terlihat terjatuh di atas lantai. Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. Tidak, itu tidak mungkin terjadi. Setidaknya itu yang tengah coba Jihyun yakini. Tak mungkin kekasihnya melakukan hal kejih seperti itu. Baekki bukan orang seperti itu.


“Apa yang sedang terjadi disini?!” pekik Tuan Han dari ambang pintu ruang kerja Taehyun. Semua orang di ruang itu memutar bola matanya pada satu titik yang sama, dimana sosok laki\-laki paruh baya itu tengah berjalan mendekat dengan seorang sekretaris yang mengekor di belakangnya. Tuan Han mendekati Jihyun dan sontak gadis itu menundukkan kepalanya memberi hormat.


Tangan Tuan Han terulur untuk mengambil sebuah foto yang berserakan di atas meja kerja Taehyun. Ia mengamati gambar Baekki sejenak, kemudian mengisyaratkan pada sekretarisnya untuk meninggalkannya berdua dengan putranya. Baik Hyeri, Nara, Jihyun dan Hyunjin, semua orang itu berjalan keluar dari ruang kerja Taehyun dan membiarkan keduanya berbicara lebih jauh. Tuan Han duduk pada sofa ruang kerja Taehyun. Manik matanya terus memperhatikan satu persatu foto Baekki disana.


“Apa yang sebenarnya terjadi Han Taehyun? Kenapa kau begitu bodoh membiarkan hal seperti ini terjadi?!” tegur tuan Han keras.


“Maafkan aku, ayah..”


“Bukahkah sudah ku katakan untuk mengawasi proyek ini dengan baik? Bukankah sudah ku peringatkan untuk berhati-hati! Aku juga sudah memberitahumu bukan, bahwa produk ini sangat penting bagi keberlangsungan lebel HS. Kenapa kau begitu ceroboh!” bentak tuan Han.


Kali ini pria paruh baya itu juga melemparkan foto-foto Baekki di tangannya ke atas meja kerja Taehyun. Ia menatap anaknya marah.


“Kau tidak becus atau bagaimana, hah? Kalau kau tak bisa melakukan semua ini dengan baik harusnya kau katakan dari awal, jadi aku bisa menggantikan posisimu pada Jaehyun! Kau tau berapa banyak kerugian perusahaan karena kebodohanmu ini!”


Kedua tangan Taehyun terkepal erat. Amarahnya begitu terasa melalui sorot matanya yang terus menatap Tuan Han tajam.


“Kenapa kau hanya diam? Tak ingin mengatakan sesuatu tentang ini?”


“HAN TAEHYUN!!” pekik Tuan Han.


“Kalau memang kau ingin menggantikan posisiku dengan Jaehyun, maka lakukan saja. Lakukan semua yang kau mau aboji! Kau juga boleh mengusirku seperti kau mengusir eomma--”


‘Plakk..’ tamparan keras mendarat di pipi kanan Taehyun. “Berhentilah mengatakan hal-hal bodoh yang tidak berguna!”


Taehyun tertunduk. Sebelah tangannya memegangi pipi kanannya yang terasa panas, sedang bibirnya tak lagi berkata.


“Daripada kau habiskan waktumu untuk hal-hal yang tidak berguna sebaiknya kau pikirkan tentang masalah ini. Ku beri waktu dua minggu untuk mempersiapkan produk baru. Ini kesempatan terakhirmu, aku tak ingin melihatmu gagal. Selesaikan semuanya dengan baik atau aku benar-benar akan menggantikan posisimu dengan Jaehyun!” setelah mengatakan hal itu Tuan Han berjalan keluar tanpa mempedulikan lagi kondisi putranya yang tengah mengumpat dan menangis secara bersamaan dalam hatinya.


.


.


.


***


.


.


.


Ruangan bercat putih itu tampak tenang dan hening. Tuan Han duduk tertunduk di kursi kerjanya sambil menatap telapak tangannya nanar. Ada gurat penyesalan di raut wajahnya. Baru saja ia telah melakukan hal bodoh yang membuat putra yang begitu ia cintai jauh lebih membencinya. Sebenarnya bukan keinginan beliau untuk menampar Taehyun. Tapi disini Tuan Han memang selalu kehilangan kendali atas dirinya jika seseorang sudah mulai mengungkit kejadian beberapa tahun silam. Kejadian dimana dirinya dengan begitu kejam mengusir istrinya karena berselingkuh.


Sesungguhnya hati kecil laki-laki itu masih mempercayai Jira, istri pertamanya. Tapi ia melihat sendiri dengan mata kepalanya bahwa Jira, ibu Taehyun tengah berduaan dengan laki-laki lain dirumahnya. Bayangan sosok Jira memang masih melekat kuat dalam diri tuan Han. Tapi kebencian dan rasa marah karena terhianati juga masih berdiri kokoh di tengah perasaan rindu dan cintanya. Bukan Tuan Han tak pernah mencari Jira. Ia tengah beberapa kali menyuruh seseorang untuk menemukan dimana keberadaan ibu Taehyun, tapi hasilnya nihil.


Terakhir kali, Tuan Han mendapatkan informasi jika wanita itu telah meninggalkan Korea bersama Taejung supir pribadi yang juga merupakan laki-laki selingkuhan Jira. Tapi entah berita itu benar atau tidak, sampai detik ini Tuan Han tak tau pasti. Ia sudah putus asa untuk mencari Jira. Bahkan perlahan ia mulai sedikit demi sedikit menghapus sosoknya dari dalam hati. Yang paling membuat Tuan Han tersiksa selama ini adalah ketika ia menatap wajah Taehyun. Sorot mata Taehyun terlihat begitu mirip dengan mata Jira. Segalanya dalam diri Taehyun adalah refleksi bayangan Jira.

__ADS_1


Itulah kenapa selama ini Tuan Han selalu menjauhkan dirinya dari Taehyun, bersikap dingin dan selalu menghindari tatapan Taehyun yang selalu membuatnya rindu akan sosok Jira yang begitu ia cintai. Tuan Han mulai merasakan sesak di dadanya. Rasa sakit itu kembali datang hingga ia mencengkeram kuat-kuat kerah tuxedonya sambil berusaha membuka laci meja kerjanya susah. Ia mengambil sebotol kecil obat dari dalam sana dan segera meminumnya. Untuk sesaat Tuan Han hanya tertunduk sambil menahan rasa sakit yang menerkam jantunganya. Nafasnya tersengal dan raut wajahnya tampak pucat.


‘tok.. tok.. tok..’ suara ketukan pintu perlahan terdengar semakin keras di telinga Tuan Han. Laki\-laki tua itu mengangkat kepalanya dan menatap ke arah pintu masuk yang mulai terbuka.


“Masuklah..” gumamnya pada sang sekretaris. Ia mulai mencoba duduk dengan tegap, menyembunyikan rasa sakit yang kini ia rasakan. Tuan Han menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya dan menatap lekat-lekat ke arah sekretarisnya.


“Tuan, anda baik-baik saja? Wajah anda pucat Presdir..”


Tuan Han hanya menggelengkan kepalanya pelan. Seolah menolak pertanyaan sekretarisnya yang hampir selalu sama setiap harinya. “Bagaimana? Apa yang Hyeri katakan tentang Baekki?”


Sekretaris itu menatap nanar ke arah Tuan Han. Masih ragu untuk memulai pembicaraan ini mengingat kondisi kesehatan Tuan Han yang sepertinya kembali memburuk. Ia terdiam cukup lama sampai teguran dari Tuan Han membuatnya terpaksa untuk mulai berbicara.


“Sebenarnya, Taehyun menemukan Baekki sedang berbicara berdua dengan Nyonya Yoon dalam sebuah mobil malam itu. Dan saya juga sudah memeriksa rekaman CCTV pada baseman. Memang benar Nyonya Yoon menemui Baekki tuan. Mereka terlihat berbicara berdua. Dan sepertinya Baekki memang ada sangkut pautnya dengan kasus ini. Semua bukti-bukti itu mengarah pada Baekki. Bahkan saya menemukan salinan rekening Baekki. Ia menerima seratus juta won setelah kasus ini mencuat. Anda masih ingat bukan beberapa waktu lalu Nyonya Yoon mengambil seratus juta won dari perusahaan?”


“Tidak! Baekki tak akan melakukan hal seperti itu. Aku percaya padanya. Puluhan tahun ia bekerja padaku”


“Saya menyesal harus mengatakan hal ini pada anda tuan..”


Rasa sakit di dada Tuan Han kembali mengoyak. Laki-laki tua itu kembali tertunduk sambil mencengkeram sudut meja kerjanya erat. Sekretaris Tuan Han tampak mulai panik. Ia berniat mendekat dan membantu sang atasan, namun Tuan Han kembali menghalanginya.


“Segera hubungi Baekki. Katakan padanya untuk segera menemuuiku!” titah Tuan Han yang tak terdengar jelas.


“Ponsel Baekki tak bisa di hubungi. Tapi saya sudah melacak dimana keberadaan Baekki dan akan segera membawanya kemari”


.


.


.


_To Be Continue_


.


.


.


Author’s Note:


.


.


Jadi Readers, teka-teki sudah di mulai disini..


Yuk, kita berspekulasi bersama.


Apakah menurut kalian benar-benar Baekki yang membocorkan desain milik Hyeri? Apakah Baekkie akan tega menghianati Taehyun?


Kalau memang iya, apa yang menjadi alasan di balik tindakan itu?


Siapkan jawabanmu, dan kita buktikan bersama kebenarannya di bab selanjutnya..


Jangan lupa tulis spekulasi kalian di kolom komentar ya..


Semoga kalian suka dengan cerita ini.


Terimakasih sudah singgah..


.


.


With Love,

__ADS_1


ByunRa93_


__ADS_2