My Possessive Husband

My Possessive Husband
Unpredictable Situation


__ADS_3

Maybach Landaulet putih, mobil mewah yang beberapa saat lalu berhasil wanita itu dapatkan dari hasil penggelapan uang perusahaan yang sering kali ia lakukan, kini tampak melaju dengan begitu anggun menyusuri jalanan kota Seoul yang terlihat padat. Layaknya seorang ratu, wanita itu hanya duduk dengan sangat tenang pada bangku penumpang sambil terlihat sibuk dengan berbagai pemikirannya yang rumit. Sedang di bangku depan, sekretarisnya sedang memperhatikan semua gerak geriknya yang tampak resah. Tak ada pembicaraan yang berarti. Hanya keheningan dan suara laju mobil sekitar yang terdengar dari dalam sana. Sampai ketika sang nyonya mulai membuka suara.


“Hentikan semua pencarian tentang Lee Baekki. Mulai sekarang fokuslah terhadap Jaehyun. Aku ingin kau mengawasi semua gerak-geriknya”


“Tapi nyonya---“


“Tak ada gunanya lagi mencari Baekki, sementara bahaya yang begitu besar tengah mengintai kita.” Tegasnya. Sekretaris bertubuh tegap itu hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa mengerti apa maksud dan tujuan wanita itu.


“Sepertinya Jaehyun sudah mulai goyah. Ia sudah melupakan tujuannya. Aku tak ingin karena kebodohan anak itu semua rencana yang sudah lama kita persiapkan harus hancur begitu saja. Karena itu, terus awasi semua gerak-gerik Jaehyun!”


“Saya mengerti nyonya..”


Nyonya Yoon terdiam sejenak. Ia terlihat mempertimbangkan sesuatu dengan begitu sungguh-sungguh sebelum ia melanjutkan kembali ucapannya.


“Dan aku memberimu ijin sepenuhnya untuk melakukan tindakan apapun pada Jaehyun. Kau boleh melakukan cara kasar jika kau memang membutuhkannya. Apapun yang terjadi kau harus menghentikan Jaehyun jika anak itu bertindak melebihi batas.” Nyonya Yoon merunduk dalam. Ia mengeratkan genggaman tangannya.


“Baiklah nyonya..”


Mobil itu menepi dipelataran istana megah keluarga Han. Supir pribadi Nyonya Yoon terlihat tergopoh membuka pintu belakang mobil itu. Tapi dengan begitu tenang, tangan sang nyonya menyentuh bahunya, memintanya berhenti bergerak dan segera masuk kembali ke dalam mobil untuk mematikan mesinnya.


Pandangan wanita itu menghundus melewati kaca depan mobilnya. Disana, tepat di depan pintu masuk itu seorang pria tengah berjalan keluar dengan sebuah tas kerja yang sedang ia genggam erat. Dahi Nyonya Yoon tampak mengernyit, mencoba mencerna keadaan dan situasi yang tengah terjadi.


“Menurutmu apa yang sedang pengacara Anh lakukan?” tanya Nyonya Yoon pada sang sekretaris yang hanya dibalas dengan hardikan kedua bahu dan gelengan singkat seolah mengatakan ketidaktahuan laki-laki bertubuh kekar itu.


“Hubungi kantor pengacara nya dan cari tau apa yang sedang ia kerjakan!” tukasnya


“Baik nyonya..”


Sang sekretaris tampak sibuk dengan ponselnya. Ia terlihat bernegosiasi secara serius dengan seseorang dbalik telponnya. Ia bahkan sedikit menyinggung bayaran yang akan nyonyanya berikan pada sang pembicara atas informasi yang ia berikan. Dan semua perdebatan itu akhirnya selesai. Sekretaris itu mematikan telponnya dan berbalik menatap Nyonya Yoon dengan raut wajah datar yang terlihat dingin dan tegang.


“Tuan meminta pengacara Anh datang untuk mengganti surat wasiat beliau”


“A-Apa?”


“Saham Han’s group milik Tuan Han yang semula diberikan pada Jaehyun, beliau mengalihkan semua itu pada Taehyun. Termasuk tentang kepemilikan Tuan Han atas resort keluarga di jepang.”


Wanita itu berdecah. Kemarahan jelas terlihat di wajahnya. Tertekan, mersa dihianati dan dipermainkan. Ia tak bisa diam saja membiarkan laki-laki itu bertindak seenaknya.


“Aku rasa dia sudah benar-benar gila! Laki-laki tua itu, aiisshh!!” kepala Nyonya Yoon berkedut dengan hebat. Membuatnya merasakan pusing yang teramat sangat hingga reflek tangannya menyentuh dahi dan mengurut pelipisnya pelan.


“Nyonya, anda baik-baik saja?” tanya sekretarisnya


“Aku yakin dia sudah tau semuanya. Aku yakin Baekki sudah memberitahu semua yang ia ketahui pada tua bangka itu!” geram Nyonya Yoon.


“Aishh, jinja! Lee Baekki, aku akan membunuhmu!” pekiknya kesal.


“Temukan Baekki secepatnya! Apapun yang terjadi kau harus menemukan Baekki dan membawanya ke hadapanku!” teriak Nyonya Yoon marah.


“Baik nyonya. Saya sendiri yang akan mencari Baekki.”


“Brengsek! Aku harus bicara pada laki-laki itu! Tidak! Tak akan ku biarkan Jaehyun kehilangan sebanyak itu!”


“Maaf nyonya, tapi Tuan Han belum menandatangani surat itu. Beliau hanya meminta pengacara Anh untuk merubah isi surat wasiatnya. Setelah melakukan perubahan harusnya pengacara Anh akan kembali pada Tuan Han dan meminta beliau untuk tanda tangan. Dengan kata lain anda masih memiliki kesempatan untuk merubah keadaan..”


Mendengar penuturan sekretarisnya, Nyonya Yoon terlihat tersenyum licik. Matanya berbinar. “Dia pikir dia bisa terlepas dariku? Kau pikir dirimu cukup pintar Han Taekyung? Cah, kau tak lebih dari seorang lelaki tua yang lemah. Ku pastikan kau akan mendapat balasan yang setimpal karena berani bermain-main denganku!”


.


.


.


***


.


.


.


Taman Hiburan, 10.15 A.M


.


.


“Kau dimana?” tanya Taehyun melalui sambungan telponnya yang terhubung dengan ponsel milik istrinya. Sedari tadi ia terus berputar, mengamati satu persatu wajah orang-orang di pintu masuk untuk mencari keberadaan istri yang akhir-akhir ini selalu ia khawatirkan. Ia terdengar mendesis kesal.


“Bukankah ku suruh kau menunggu, kenapa pergi begitu saja!” Ia mengeluarkan selembar tiket dari dalam saku jas hitam yang ia kenakan dan memberikannya pada petugas di pintu masuk. Masih dengan nada suara kesalnya Taehyun berujar pada ponselnya.


“Tetap disana!”

__ADS_1


Taehyun melangkahkan kakinya lebar. Taman di dekat pintu masuk. Itulah yang tadi Nara katakan sebelum mengakhiri panggilannya. Taehyun kembali mendesah marah. Bagaimana mungkin wanita itu justru meninggalkannya sendiri seperti ini? Bukankah ia harusnya menunggu suaminya dan masuk bersama? Taehyun terlihat sedikit bingung dengan jalanan yang ada disana. Hal yang wajar, mengingat sudah beberapa tahun berlalu semenjak terakhir kali dirinya pergi ke tempat ini. Terlebih pandangan beberapa orang terhadapnya agaknya membuatnya sedikit risih.


Taehyun menghentikan sejenak langkahnya. Ia memperhatikan penampilannya melalui kaca jendela pada salah satu kafe yang ia lewati. Dirinya masih mengenakan pakaian resmi. Jas hitam yang dipadukan dengan kemeja putih dan celana hitam. Dasi itu masih melekat di kerah kemejanya, membuat penampilannya terlihat begitu mencolok.


‘Haaaahhh..’ helaan nafas pria itu cukup menggambarkan betapa ia sadar akan kebodohannya. Tak seharusnya ia pergi ke tempat seperti ini dengan pakaian kerjanya. Ia tampak seperti seorang CEO yang tengah melakukan inspeksi mendadak terhadap pegawainya. Taehyun menghempaskan tangannya kasar kemudian menghentakkan kakinya kesal dan melangkah cepat untuk pergi dari sana dengan kepala merunduk menyembunyikan malu.


Taehyun sampai di taman yang Nara maksud. Ia berputar menyisir tempat itu dengan mata tajamnya. Namun, ia masih tak menemukan istrinya. Taehyun mengeluarkan ponsel hitam itu lagi. Berniat menghubungi istrinya dan bertanya dimana keberadaannya. Tapi sebelum berhasil menghubunginya, panggilan kecil terdengar di telinganya.


“Taehyun-ah..”


Tubuh Taehyun tersentak saat tiba-tiba Nara muncul dibelakangnya dan melingkarkan kedua lengannya erat pada pinggangnya. Dagu Nara ia letakkan pada bahu Taehyun, sedang nada suaranya terdengar begitu manja. Taehyun bersyukur karena ia masih bisa mempertahankan keseimbangan tubuhnya hingga tak harus jatuh terjelembab di atas permukaan tanah keras dibawahnya ketika sang istri mulai bertingkah ceroboh seperti ini.


Ada saat-saat dimana Nara menjadi sosok yang begitu manja. Dan itu sering terjadi akhir-akhir ini. Ia akan memeluk tubuh suaminya tanpa ragu. Bahkan mencium terlebih dulu sudah tak segan lagi ia lakukan ketika dirinya sedang menginginkan sesuatu. Seperti saat ini. Dan hal itu cukup membuat Taehyun menggelengkan kepalanya pasrah.


“Apa lagi sekarang?” Taehyun membalikkan tubuhnya, sementara Nara terus berusaha mempertahankan ekspresi menyedihkan diwajahnya.


“Aku lupa membawa dompetku. Aku tak punya uang sama sekali sekarang. Beri aku sedikit uang..” ucapnya sambil menengadahkan tangan dan menyodorkannya tepat di bawah wajah suaminya.


“Apa?” ujar Taehyun terkejut akan tingkah aneh istrinya.


“Yak, aku hanya meminta sedikit uang. Haruskah kau begitu terkejut seperti itu??”


“Ada apa denganmu? Akhir-akhir ini kau sangat aneh, Kim Nara!” Taehyun merogoh saku celananya dan mengambil dompetnya. Ia memberikan benda itu pada tangan Nara yang masih terulur.


“Gunakan sesukamu..” ujarnya datar. Nara benar-benar tersenyum sekarang.


“Kau memang suami yang baik. Terimakasih..” Nara mengecup sekilas pipi kanan Taehyun dan segera berbalik hendak menuju tempat lain. Tapi niat itu segera ia urungkan ketika ingat akan tas yang sedang ia bawa.


“Ah, hampir saja aku melupakan ini..” Nara menyerahkan tas itu pada Taehyun.


“Ini apa?”


“Kau tak mungkin berkeliling di tempat ini dengan pakaian seperti itu. Sebaiknya ganti dulu dengan itu. Disana ada kamar mandi. Pergilah..”


Taehyun terlihat berjalan ke arah kamar mandi yang tadi ditunjuk oleh Nara. Sementara Nara sedang berjalan riang menghampiri sebuah kedai ice cream yang letaknya bersebrangan dengan taman itu. Ia memesan ice cream coklat kesukaannya dan tanpa ragu menggunakan uang milik suaminya untuk membayar. Ia segera berjalan kembali ke taman dan memutuskan menunggu suaminya di bangku putih, tepat di bawah pohon sakura yang tampak berguguran indah. Tangan wanita itu masih memegang ice cream dan memakannya riang.


“Ice cream tak membuatmu ingin muntah?” tanya Taehyun tiba-tiba. Laki-laki itu berdiri disamping Nara dengan kaos putih lengan pendek dan celana jeans yang terlihat casual ketika dipadukan dengan sebuah topi berwarna biru terang yang tengah ia gunakan.


Nara menggeleng. “Aku rasa ice cream ini bisa dicerna dengan baik oleh tubuhku. Kau mau mencobanya?” Nara menyodorkan ice cream ditangannya pada Taehyun.


“Tidak, tidak..” laki-laki itu duduk disamping istrinya.


“Kita hanya perlu mengambil beberapa foto baju yang sering digunakan remaja bukan? Sebaiknya kita mulai berkeliling sekarang.”


Tak dapat di dipungkiri, Taehyun dan Nara terlihat bergerak canggung ketika mereka melihat hampir semua pasangan kekasih yang berjalan dihadapannya saling menautkan tangan mereka, menggenggam denga erat. Nara memalingkan wajahnya, merasa jika dirinya pun ingin melakukan hal yang sama. Berbulan-bulan menikah, tapi rasanya belum sekalipun ia berjalan beriringan sambil menautkan tangan seperti itu dengan Taehyun. Ia mengerucutkan bibirnya dan sesekali menatap wajah Taehyun yang masih terlihat datar.


Lagi, Nara hanya memalingkan wajahnya canggung. Tapi yang terjadi setelahnya, ia merasakan sesuatu menyentuh jari-jari tangannya. Membuatnya berpaling dan menatap jari-jarinya yang kini di genggam sang suami. Taehyun menyusupkan jari-jari tangannya diantara jari Nara. Ia menggenggamnya erat. Mata keduanya sempat bertemu pandang sepersekian detik. Tapi cepat-cepat keduanya mengalihkan pandangannya sambil menyembunyikan rona merah diwajahnya. Taehyun tersenyum riang. Hal yang sama juga Nara lakukan, sementara langkah mereka masih terus berjalan dengan irama yang sama.


Nara menghentikan langkahnya secara tiba\-tiba ketika ia melihat penjual topeng, bandu\-bandu kelinci dan aksesoris lain yang tampak lucu di pinggiran jalan yang ia lewati. Ia menarik tangan Taehyun untuk mendekat dan dengan sebelah tangannya yang bebas Nara mengambil sebuah bandu dengan telinga kucing diatasnya. Menurutnya itu terlihat lucu dan manis. Dalam benaknya ia sudah membayangkan bagaimana jika benda kecil itu dikenakan oleh suaminya. Terbayang dalam benak Nara bagaimana wajah lucu Taehyun ketika menggunakannya. Ia pun berbalik menatap suaminya dengan aegyo dan senyum manja yang sengaja ia buat di wajah cantiknya.


“Apa..?!” seolah mengerti dengan tatapan menggelikan itu Taehyun cepat-cepat merubah air wajahnya agar terlihat dingin dan menakutkan.


“Ayolaah, mereka juga menggunakannya..” Nara menunjuk beberapa pasangan muda disana yang menggunakan benda-benda yang sama.


“Cah, kau memintaku menggunakannya? Oh yang benar saja Kim Nara. Ini lucu sekali..” sindir Taehyun yang tak sedikitpun merubah keinginan Nara. Wanita itu masih terus beraegyo sambil menyodorkan benda menggelikan itu tepat di depan wajah Taehyun.


“Tidak..!! Ayo kita pergi..” Taehyun menarik pelan tangan Nara dan berusaha membawa wanita untuk segera pergi dari sana. Tapi bukankah Nara bukan orang yang akan dengan mudah menyerah. Selain itu ada sebuah dorongan besar dalam diri Nara agar ia bisa melihat suaminya menggunakan itu.


“Bukankah kau bilang akan menuruti semua keinginanku? Ayolaaah.. Humm?”


Taehyun mendesah sekali dan ia hanya diam pada posisinya dan membiarkan Nara mendekat dan meletakkan benda itu di kepalanya. Senyum terlihat terukir indah di bibir Nara. Cepat-cepat ia menggunakan benda yang sama dan segera mengeluarkan ponselnya untuk sekedar mengabadikan moment yang mungkin hanya akan terjadi sekali sepanjang hidup Taehyun.


“Yak, tersenyumlah..” tegur Nara saat menatap hasil foto mereka yang terlihat tak seimbang. Hanya Nara yang tersenyum disana, sedang kesal tampak jelas di wajah Taehyun. Nara mengulang foto itu. Ia megarahkan kamera lagi ke atas dan memaksa Taehyun untuk tersenyum walaupun senyuman yang dilontarkan hanya sebuah senyuman alakadarnya yang jauh dari kata natural.


“Lihatlah, kau sangat manis..” Nara segera menyimpan ponselnya dan kembali membiarkan jari-jari tangannya di genggam erat oleh Taehyun. Mereka melanjutkan kembali perjalanan itu.


“Taehyun-ah..” panggil Nara


“Humm..?” deham Taehyun lirih. Ia masih menatap lurus ke depan sembari menunggu istrinya yang mulai berbicara.


“Ku dengar Hyeri akan segera kembali ke Paris?”


“Ya. Mereka akan kembali lusa. Kita sudah sepakat untuk melanjutkan proyek HS melalui email. Biar bagaimanapun, aku tak punya hak untuk melarangnya kembali. Pernikahannya dan Hyunjin akan segera dilaksanakan.”


Nara mengangguk, menyetujui penuturan suaminya yang memang seutuhnya benar.


“Nara, apa yang biasa dilakukan ketika berkencan?” tanya Taehyun


“Ya..?”


“Aku ingin berkencan denganmu. Apa yang akan kita lakukan?”

__ADS_1


Nara terdiam. Sedikit bingung untuk mulai menjawab.


“Bukankah yang sedari tadi kita lakukan adalah sebuah kencan?” ia menatap Taehyun canggung, dan segera mengalihkan tatapannya sambil berusaha melanjutkan argumentasinya.


“Maksudku, makan ice cream bersama, saling bergandengan tangan, menghabiskan waktu berdua dan berfoto bersama, bukankah itu sebuah kencan?”


“Hanya itu?” ulang Taehyun


“Apa maksudmu direktur Han..?”


Senyum miring terukir di bibir Taehyun. Ia menarik lengan Nara untuk mendekat dan meletakkan dagunya sejajar dengan daun telinga Nara, berusaha membisikkan sesuatu disana.


“Bagaimana dengan sebuah ciuman romantis dibawah pohon sakura yang sedang berguguran? Kau tertarik?” setelah membisikkan itu Taehyun menarik tubuhnya untuk menjauh. Ia menatap rona merah di wajah Nara dan tersenyum puas.


“Lihatlah, bahkan kau tak bisa menyembunyikan perasaan cintamu Kim Nara.” Taehyun terkikik geli. Sedang Nara mengerucutkan bibirnya kesal karena merasa dipermainkan. Wanita itu terlihat berbalik dan hendak melanjutkan langkahnya sendiri ketika tangannya justru ditahan oleh Taehyun. Taehyun menarik sebelah lengan Nara, memutar tubuhnya untuk menghadapnya dan mencium sekilas daun bibir Nara yang merah. Daun-daun bunga sakura di atas mereka berguguran disaat yang tepat. Paduan warna pink dan putih tampak berjatuhan diudara, membuat suasana menjadi begitu manis dan indah.


“Aku mencintaimu..” gumam Taehyun lirih. Ia masih memeluk tubuh ramping istrinya. Tak peduli dengan pandangan beberapa orang yang kini menatap mereka aneh.


“Aku juga mencintaimu..” Keduanya masih saling menatap penuh cinta.


‘Truuut... Truut.. Truuut..’ deringan ponsel Taehyun yang berdengung dengan nyaring membuatnya terpaksa melepaskan tubuh Nara dari pelukannya. Ia merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya disana. Taehyun menatap layar ponselnya sambil mengerutkan keningnya terkejut. Itu nomor rumahnya. Tak biasanya bibi Hyo menghubunginya di jam\-jam seperti ini. Taehyun menatap Nara sejenak dan kemudian menerima panggilan itu.


“Hallo..” sapa Taehyun. Orang di sana tak dengan segera menjawab. Yang terdengar justru sebuah tangisan yang memilukan.


“Hallo..” ulang Taehyun yang kini terlihat sedikit tegang.


“Taehyun-ah..” panggil suara itu. Taehyun bisa mengenali bahwa itu memang benar-benar bibi Hyo. Itu suara wanita tua itu. Tapi isakan yang terlontar dari bibir tua bibi Hyo membuat suaranya tak terdengar jelas di telinga Taehyun. Tak berselang lama suara ambulan terdengar dari sambungan telpon dan suara beberapa orang asing terdengar panik.


“Cepat bawa Presdir Han..”


“Presdir... Presdir...” isakan terdengar jelas disana.


“Bibi aku mohon tenanglah. Katakan apa yang terjadi bi..” ujar Taehyun yang terdengar sedikit lebih keras.


“Taehyun-ah cepat ke rumah sakit. Presdir, terjadi sesuatu yang buruk pada presdir—“


“Apa? Ada apa dengan aboji?”


“Cepatlah ke rumah sakit. Mereka membawanya ke rumah sakit..” hanya itu yang terus bibi Hyo katakan di sambungan telepon itu.


“Baiklah.. aku kesana..”


Taehyun terlihat panik. Ia segera menarik lengan Nara dan terlihat berlari secepat yang ia bisa untuk keluar dari taman hiburan.


.


.


.


_To Be Continue_


.


.


.


Author’s Note:


.


.


Dear, my lovely Byunranation..


Nggak bosen-bosen aku ucapin terimakasih sama kalian yang udah baca cerita ini dan masih terus mengikuti kisah ini hingga sekarang. Tenang aja, dan jangan bosen dulu ya..


Cuma tinggal beberapa part terakhir aja kok..


Kira-kira apakah yang terjadi dengan Tuan Han? Apa yang membuatnya harus di bawa ke rumah sakit?


Tuliskan prediksi kalian di kolom komentar ya..


Karena komentar dari kalian adalah semangatku..


Thankyou so much..


.


.

__ADS_1


With Love,


Byunra93_


__ADS_2