
I don’t even understand about my feeling..
I don’t even understand why I’m angry..
I just scared that someday I will fall in with you..
.
.
.
My Possessive Husband
©ByunRa93_
.
.
.
Nara’s House – Daegu [South Korea]
@05.30 PM
.
.
Langit perlahan merubah warnanya. Senja tampak menghiasi ufuk dengan warna oranye yang terlihat romantis. Di tengah hamparan pasir putih itu, Taehyun sedang duduk memeluk kedua lututnya sambil memandang jauh laut yang seolah tak berujung dari tepi pantai. Kini, hatinya tengah resah. Ia tau hal buruk sedang terjadi di hidupnya. Apa yang selama ini ia takutkan mulai terlihat nyata.
“BODOH!! Harusnya ini tak boleh terjadi!!” umpatnya kesal. Lagi, ia melemparkan sebuah batu ke dalam air laut untuk membuang amarahnya yang kian melonjak.
Sudah semenjak tadi, ia begini. Menyembunyikan perasaannya seorang diri. Dan kini di saat akhirnya dia menemukan tempat untuk menyendiri, Taehyun seolah ingin melupakan semua perasaannya. Walaupun semua itu harus terganggu, ketika suara itu kembali ia dengar.
“Taehyun-ah..” pantaunya dari kejauhan.
Gadis itu berlari kecil menghampirinya, kemudian duduk disamping suaminya seperti tanpa sebuah beban.
“Hey Han Taehyun, kau masih marah padaku, humm?” tanyanya dengan wajah ceria yang berusaha ia tunjukkan. Melihat Taehyun masih tak bereaksi, ia kembali menggumamkan pertanyaan yang sama.
“Yak, apa kau benar-benar marah? Berhentilah mendiamkanku. Kau tau bukan, aku tak bermaksud mendekatinya..” Nara masih menunggu jawaban dari bibir pria itu.
“Tapi kalau di pikir lagi, sebenrnya untuk apa kau marah padaku? Bukannya kau tak punya alasan untuk marah? Kau yang menyuruhku untuk mendekatinya bukan?” bentak Nara yang kesal sedari tadi terus diacuhkan.
Taehyun berbalik, menatap wajah istrinya tajam. Nara bergerdik ngeri saat mata elang itu mengunci matanya.
“Kim Nara..” pantau Taehyun lirih.
“Apa?” jawab Nara dengan mengerucutkan bibirnya lucu.
“Tentang perjanjian itu..”
“Ya?”
“Kau ingat point dimana tugas utamamu adalah menggoda Jaehyun..” Taehyun menggantungkan ucapannya.
“Memangnya kenapa?”
“Tentang point itu, aku ingin kau melupakannya! Mulai hari ini, aku akan menghapusnya” tegas Taehyun tanpa berniat menatap wajah itu lagi.
“K-kenapa? Kau menyesal? Atau kau sedang jatuh cinta padaku?” ucap Nara setengah mengejek.
SIAL! Batin Taehyun mengumpat kesal. Harga dirinya, harga diri yang selalu ia coba pertahankan terlihat begitu ternodai ketika gadis itu dengan penuh percaya diri mengatakan jika ia mencintainya.
“BODOH! Kau pikir aku akan tertarik dengan wanita sepertimu? Wanita kasar, tak berkelas sepertimu? Aku bahkan bisa mendapatkan puluhan gadis yang jauh lebih anggun dan cantik!”
“Tsk! Baiklah, aku percaya itu..” gumam Nara santai sambil mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Entah sepertinya hati gadis itu telah terbiasa akan hinaan yang selalu Taehyun lontarkan padanya. Hingga tak lagi ada celah baginya untuk merasa sakit.
“Lalu apa alasanmu menarik perjanjian itu?”
Taehyun tersenyum licik. Senyum dingin yang selalu jadi andalannya. Sekilas ia menatap langit biru di atas sana, kemudian ia meletakkan sebelah tangannya pada bahu Nara. Menariknya untuk sedikit mendekat dan membisikkan sesuatu yang tadi ingin ia ketahui.
“Aku hanya sedang berfikir untuk mengambil pilihan kedua untuk menguasai Han’s group..” lagi dan lagi Taehyun tersenyum licik, ia mengarahkan wajahnya pada bahu Nara, menghirup aroma mawar yang selalu menjadi ciri khasnya dan mencium pipi tirus gadis itu dengan bibir tipisnya. Nara bergerdik, ujung bulu romanya terasa berdiri setiap kali namja itu menyentuhnya. Dan kini rasa lembab di daerah pipinya juga memberikan kesan yang begitu berbeda.
“Apa maksudmu?” tanya Nara yang memang sudah mencium gelagat aneh suaminya sejak di mobil tadi.
“Aku sedang berfikir tentang keputusan untuk mempunyai seorang Anak..”
“A-APA!” pekik Nara yang sepertinya tau ke arah mana pembicaraan ini.
“Aku akan mengganti point itu dengan kehadiran seorang anak. Bagaimana? Menarik bukan? hahaha..”
“YAK! Apa mengganti jalan pikiran adalah salah satu hobimu Han Taehyun? Kau pikir aku mau mengandung anak dari laki-laki sepertimu!”
“Dan apa kau pikir aku memberimu pilihan Kim Nara? Kau lupa setelah kau menandatangani perjanjian itu, aku punya hak penuh atas dirimu! Kau milikku!” tegas Taehyun dengan memberi penekanan pada setiap kata yang ia lontarkan terlebih pada kata ‘Milik’. Ia tersenyum miring saat mendapati raut wajah tertekan dari gadis itu. Ia membelai lembut rambut coklatnya dan beralih untuk mengecup bibir ranum istrinya. Merasai rasa manis yang selalu ia dapat ketika tautan itu terjadi. Sebuah rasa yang memabukkan dan tak pernah membuatnya bosan. Hebat, bahkan menurut Taehyun bibir gadis ini adalah sesuatu yang unik. Walaupun ia beberapa kali merasakan bibir wanita lain tapi rasanya tetap tak sama. Tak ada yang semanis bibir Nara.
“Mulai sekarang kau hanya boleh menatapku! Karena hanya akulah suamimu! Mengerti?” ingat Taehyun yang seperti sebuah ancaman.
“Dan, bersiaplah untuk Malam Pertamamu, Kim Nara!” bisik Taehyun sebelum kemudian ia berdiri, berjalan menjauh ke arah kanan dimana jalan kecil yang tadi ia lalui terlihat begitu jelas. Ia hanya tersenyum mendenngar umpatan Nara yang menyumpahinya dengan sumpah serapah tanpa henti.
“KAU GILA HAN TAEHYUN! AKU MEMBENCIMU!”
.
.
.
__ADS_1
***
.
.
.
Taehyun’s House – Gangnam District
08.00 PM
.
.
Laki\-laki tua itu terbatuk keras. Sedari tadi ia memegangi dadanya yang terasa berat sambil masih duduk pada kursi roda miliknya. Tangan rentannya berusaha meraih botol obat dari atas meja kerja. Ia berusha dengan begitu keras untuk menjangkaunya. Sampai pada akhirnya, sebuah tangan terulur untuk membantunya.
“Presdir Han, anda baik-baik saja?” ujar Baekki panik sambil menyerahkan botol obat itu pada sang Presdir. Baekki mengambil segelas air putih dan membantu tuan Han untuk meminumnya.
“Presdir Han, sudah saatnya anda berhenti bekerja. Kondisi anda akan semakin buruk jika terus seperti ini..”
“Tak perlu mengkhawatirkanku, Baekki. Aku baik-baik saja.” Pria tua itu berusaha menunjukkan wajah tegarya di hadapan sang sekretaris.
“Bagaimana tugasmu? Kau sudah mendapatkan informasi tentang wanita itu?”
Baekki mengangguk pelan, kemudian menyerahkan sebuah amplop coklat ke hadapan Presdir Han.
“Kau memang selalu bisa ku andalkan. Tapi, jangan memberi tau Taehyun terlebih dahulu tentang ini..” titah sang Presdir dengan suaranya yang masih terasa berat.
“Saya mengerti Tuan..”
“Akkh..” lagi-lagi Tuan Han meringis memegangi dadanya yang terasa sakit. Sakit yang luar biasa hingga tubuhnya hampir saja terjatuh dari kursi roda kalau saja Baekki tak dengan segera menjanngkaunya.
“Tuan Han.. Tuan..” panggil Baekki yang tak lagi mendapatkan jawaban karena tubuh laki-laki tua itu tengah tak sadarkan diri.
.
.
.
***
.
.
.
When I try to open My Heart, everything feels bad..
Should I give up now?
.
.
.
Nara’s House – Daegu
@ 08.00 PM
.
.
Kim Jaemin, pria paruh baya itu duduk di ruang tengah rumahnya sambil menyesap secangkir kopi dari cangkir keramik putih yang saat ini tengah ia pegang. Disampingnya, sang menantu juga tengah melakukan hal yang sama. Sedang Nara, masih berada di kamar merawat Ibunya yang masih terlihat lemah karena karena operasi transplantasi hati yang baru selesai ia jalani. Suasana hening tentu masih begitu terasa di wilayah ini, mengingat ini adalah kawasan tepi pantai dimana kendaraan masih jarang berlalu lalang. Bahkan design rumah di kawasan ini masih menggunakan design tradisional dimana pintunya masih terbuat dari kertas dengan lantai kayu yang akan begitu rentan terhadap cuaca. Beruntung saat ini musim semi lah yang menaungi. Kalau saja musim dingin yang sedang berjalan maka mereka tak akan bisa bertahan duduk pada lantai itu dengan tanpa alas dan membakar kayu bakar di halaman rumah.
Taehyun terdiam, ia mengamati tiap inchi rumah itu sambil mencoba menyelami tentang kehidupan Nara. Mencoba memahami akan gadis yang kini menjadi istrinya. Gadis yang sedang ia pertimbangkan untuk mengandung keturunannya. Seorang gadis keras kepala yang tak pernah gentar untuk menentangnya. Design rumah itu benar\-benar biasa. Tak ada yang menarik, dindingnya berwarna cream dengan daun\-daun pintu di tiap ruangannya yang terbuat dari selembar kertas tua khas pintu\-pintu rumah tradisional Korea. Disana, di atas pintu masuk ruang tengah ada sebuah ventilasi kecil namun begitu berpengaruh terhadap suhu rumah. Di luar sana cuaca cukup dingin, tapi entahlah Taehyun merasakan kehangatan di dalamnya. Sesuatu yang tak pernah ia temui di rumahnya, di istananya yang begitu megah.
“Appa, aku merindukanmu..” ujar gadis itu yang entah sejak kapan sudah berada disana. Lengannya memeluk leher Jaemin dari belakang dan dagunya ia letakkan di bahu Ayahnya yang nyaman.
Taehyun menatapi wajah itu lagi, namun kali ini dengan jauh lebih teliti. ‘Cantik’, itulah satu kata yang terbersit di pikirannya. Kim Nara benar-benar tampak cantik dengan tanpa make up diwajahnya. Bahkan atasan berbahan satin dengan motif bunga itu terlihat begitu pas dipadukan dengan rok panjang dengan nuansa peach yang kini tengah ia gunakan.
“Kau ini sudah menikah tapi tetap saja seperti ini. daripada memeluk appa, peluklah suamimu..” tandas Jaemin saat memperhatikan sorot mata Taehyun yang sedari tadi tak pernah lepas dari anaknya.
“Aku benar-benar merindukanmu Appa..” rengek gadis itu manja.
Jaemin mengangguk, menarik tubuh anaknya ke dalam pelukannya. Ia membelai rambut panjang Nara dengan penuh kasih sayang. Dan untuk sesaat Taehyun terdiam dengan hati yang bergetar ketika menatapi tingkah ayah dan anak di hadapannya yang nampak begitu harmonis.
Ia memaksa otaknya untuk mengingat dan mengingat lagi kapan terakhir kali ayahnya memeluknya. Seperti seekor anak kucing yang haus kasih sayang, kini Taehyun terlihat begitu miris. Benar, ia memang masih bisa mengingat kapan terakhir kali ayahnya memeluknya. Hari itu tepat di ulang tahunnya yang ke-6. Dan itu adalah saat terakhir ayahnya datang mendekatinya. Merentangkan kedua tangannya dan memeluk tubuh mungilnya, kemudian memberikan miniatur gedung Han’s Group sebagai hadiah ulang tahunnya. Masih bisa ia ingat dengan baik, ketika Ayahnya berkata jika suatu hari nanti ia harus benar-benar memiliki Han’s Group. Bukan hanya sekedar miniatur semata. Dan itu membuat Taehyun menjadi sosok arogan seperti saat ini. Ia hanya ingin mewujudkan janjinya pada sang ayah.
Taehyun tersenyum miris. Sudah terlalu lama memang, bahkan ia sudah lupa tentang bagaimana hangat pelukan kedua orang tuanya. Tapi dia masih saja selalu merasa bahagia ketika ia mengingat kenangan itu. Ia rindu, rindu akan keluarganya. Rindu ketika ayahnya menyebut dan memanggilnya ‘Putraku’. Sebuah kata yang puluhan tahun tengah hilang. Seolah kata itu telah begitu usang untuk diucapkan. Sekeras-kerasnya Han Taehyun, sedingin apapun perasaan pria itu, tetap saja ia hanyalah seorang anak yang selalu merindukan belaian hangat dari kedua orang tuanya. Dan tetap saja ini terasa begitu berat baginya.
“Bagaimana keadaan Ibumu?” tanya Jaemin saat melepaskan pelukan putrinya.
Nara hanya tersenyum sambil menggumamkan sebuah kata yang mengisyaratkan jika Yumi kini baik-baik saja. Seolah dengan itu Nara sedang meminta ayahnya untuk tak lagi khawatir akan kondisi ibunya.
“Kalian berdua, menginaplah disini. Ini terlalu malam untuk kembali ke Seoul” ulas Jaemin pada sepasang suami istri yang tengah saling menatap itu. Nara bermaksud menolak karena paling tidak ia tau suaminya bukan orang yang akan menikmati suasana rumahnya yang sempit. Tapi nyatanya Taehyun terlihat begitu antusias untuk tetap tinggal. Sepertinya ia tengah menemukan sebuah titik kenyamanan sendiri disana.
.
.
.
Jadilah kini mereka disana. Di sebuah kamar kecil berukuran 3 x 3 dan dengan perabotan yang sangaat minim di dalamnya. Disana hanya ada sebuah kasur lantai dengan almari yang terletak pada bagian ujung kamar yang berhadapan langsung dengan pintu masuk. Taehyun sedang berdiri di tengah ruang kecil itu, mengamati sekelilingnya heran saat Nara perlahan menggeser pintu kamarnya yang terlihat usang.
__ADS_1
“Apa baru sekarang kau melihat rumah seperti ini, hum? Pandanganmu berlebihan tuan muda Han!” sungut Nara saat merasa sedikit risih akan cara pandang suaminya yang aneh.
“Kau sebut ini rumah? Ah, aku pernah melihat yang seperti ini di televisi. Tapi aku benar-benar tak pernah berpikir akan tidur di dalamnya.”
“Dan bukankah sudah ku katakan untuk kembali ke Seoul? Kau sendiri yang bersikeras tinggal!”
Taehyun menyeringai tajam ke arah istrinya. Ia menghampiri Nara yang masih berdiri di depan pintu. Di tatapnya wajah gadis itu dalam. Kemudian ia berdiri disampingnya, memeluk bahu Nara dengan sebelah tangannya posesif.
“Bukankah ini suasana yang unik untuk Malam Pertama kita?” bisik Taehyun sambil mengarahkan pandangan gadis itu pada kasur lantai yang terletak di tengah ruangan. Nara bergerdik. Cepat-cepat ia melepaskan lengan Taehyun dari bahunya dan berjalan mundur beberapa langkah untuk menjauh.
“Kau tak benar-benar berpikir untuk melakukannya bukan! Tidak!” tegas Nara sambil menggelengkan kepalanya menolak
“Cah, bukankah sudah ku katakan aku sedang berfikir untuk mempunyai seorang anak?”
“Kau gila! aku tak akan pernah melakukannya denganmu!” Nara sedikit mendorong tubuh Taehyun yang sudah berada di depannya.
“Dan kita lihat saja seberapa jauh kau bisa menolakku!” tantang Taehyun dengan senyum dingin itu lagi. Tangannya dengan begitu keras menarik lengan Nara mendekat, kemudian Taehyun merapatkan tubuhnya pada tubuh Nara. Mengunci pinggang rampingnya dengan sebelah tangannya yang bebas, sedang sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk membelai pipi tirus istrinya. Memberikan sentuhan menggoda yang berhasil membuat Nara semakin bergerdik ngeri.
“SIAL! Apa yang akan kau lakukan padaku BODOH! Han Taehyun!” geram Nara yang susah payah menahan volume suaranya agar tak terdengar dari luar sana. Tangannya terus mencoba mendorong tubuh Taehyun, tapi semakin ia berusaha terlepas semakin Taehyun menghimpit tubuhnya yang sudah bergesekan dengan dinding kamar di belakangnya. Bibir tipis Taehyun telah mencium bibir ranum Nara. Membuat Nara mengepalkan tangannya kesal sambil menahan umpatan yang ingin ia lontarkan pada pria itu. Beberapa kali Taehyun memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, memberinya celah untuk sekedar mencuri nafas di tengah lumatannya yang semakin ganas di tiap titik bibir Nara yang manis.
Taehyun melepaskan sejenak ciumannya, menatap Nara yang tengah terengah dan mendorong tubuh ramping istrinya ke atas kasur lantai di ruangan sempit itu.
“Han Taehyun, Stop!” geram Nara tertahan ketika Taehyun memindahkan ciumanya pada bahu hingga lehernya.
“Kenapa? Kau takut, Kim Nara?” Taehyun **** senyumnya yang menyebalkan.
“Jangan gila!”
“Apanya yang gila? Kau lupa, kau adalah istriku sekarang? Wajar bukan, kalau aku menginginkan seorang anak darimu?”
“Tap—“
Taehyun tak memberikan kesempatan pada Nara untuk mendebatnya lagi. karena pria itu sudah terlebih dahulu mencium bibirnya. Membungkam mulut Nara agar tak banyak bicara.
‘Truuut.. Truuut.. Truuut..’ suara deringan ponsel Taehyun terdengar memekik di seluruh penjuru ruangan. Nara mendorong tubuh Taehyun pelan, membuatnya menghentikan aktifitasnya dan menatap gadis itu lekat\-lekat.
“Ponselmu” gumam Nara serak. Ia masih terus berusaha menetralkan suara dan nafasnya yang seolah tersengal. Sedang Taehyun tampaknya tak berniat sedikitpun untuk bergeser dari tubuh gadis itu. Ia menatap layar ponselnya malas. Sedikit mengumpat dalam hati ketika kesenangannya harus di ganggu oleh sesuatu yang seperti ini.
‘Lee Baekkie’ gumam pria itu geram saat membaca sederet huruf pada layar ponsel miliknya yang terus menyala. Taehyun mengendus sambil menggeser tombol hijau di layar ponselnya dan meletakkan ponsel hitam itu di telinganya.
“Kenapa?” tanya Taehyun dingin. Ia tak sedetikpun melepaskan pandangannya dari wajah Nara yang tengah memerah padam. Ia kembali melanjutkan aktifitasnya mengukir tanda-tanda indah itu di leher Nara, sambil menunggu Baekki menjawab dari ujung sana.
“Kau dimana? Apa masih dirumah Nara?” tanya Baekkie yang terdengar mendesak. Taehyun hanya berdehum sebagai jawaban.
“Kau sedang tidur atau apa? Ada apa dengan suaramu?” tanya Baekki yang sepertinya mulai curiga. Lagi-lagi hanya dehuman dari Taehyun yang ia dapatkan.
“YAK! Apa tak ada jawaban lain yang bisa kau berikan selain ‘hmmm’, Han Taehyun! Cepat Bangun!” gertak Baekkie dengan nada tinggi yang mungkin akan menyentuh nada ‘Si’ pada nada lagu yang biasa digunakan. Taehyun mendesah kasar, ia kemudian bangun dari posisinya kemudian mulai membuka suaranya yang terdengar parau.
“Ada apa? Aku benar-benar akan membunuhmu kalau sampai kau mengatakan sesuatu yang tidak penting” ancam Taehyun kesal
“Tuan Han berada dirumah sakit sekarang..”
“Apa? bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja bukan?” Taehyun benar-benar tampak panik.
“Kau harus segera kembali ke Seoul..”
“Baiklah, aku tau. Aku mohon jaga dia Baek. Aku kembali sekarang..” ucapnya gusar.
‘PHIP..’ sambungan itu terputus. Taehyun membenarkan letak kemejanya yang kusut kemudian ia melirik Nara yang terlihat bangkit perlahan dari tidurnya sambil menutupi kancing atasannya yang sedikit terbuka.
“Cepat benarkan bajumu! Kita kembali ke Seoul sekarang!” ucapnya kasar sambil meraih kunci mobil yang tadi sempat terlempar di lantai depan almari. Dengan segera Taehyun berdiri dan menarik lengan istrinya, sedikit menyeret gadis itu untuk mengikuti langkahnya yang lebar tanpa memikirkan apapun lagi di benaknya.
“Yak, Han Taehyun! Kau ini kenapa!”
“Taehyun-ah..”
.
.
.
-To Be Continue-
.
.
.
Author’s Note:
.
.
Buat yang kurang suka dan tidak berkenan dengan adanya kisah ini. Silahkan skip aja ya. Aku mohon, jangan di hate..
Kritik, saran, komen, like dan ulasannya aku tunggu ya..
Terimakasih..
.
.
With Love,
Byunra93_
__ADS_1