
Apa yang kau pikir buruk, belum tentu sebuah keburukan..
Hanya Tuhan yang tau skenario di balik alur yang berputar di bumi ini..
Jadi, biarkan Tuhan yang menunjukkan padamu,
Apa yang menurutnya baik dan buruk.
Dan biarkan waktu yang akan menjawab..
.
.
.
-My Possessive Husband-
©ByunRa93_
.
.
.
Caramel Kafe, 10.00 AM
.
.
Bangunan kecil di tengah kota Seoul itu terlihat minimalis namun sangat unik, karena gayanya yang dipenuhi dengan nuansa caramel yang manis. Dari design luarnya sudah benar-benar terlihat bahwa menu yang pasti akan di tonjolkan dari kafe itu berbahan dasar caramel. Nara berdiri diluarnya sambil menghembuskan nafasnya ragu. Dalam hatinya terus bertanya tentang tujuan seorang Lee Hyeri ingin bertemu dengannya. Ada setitik rasa cemas dalam hatinya mengingat hubungannya dengan Hyeri yang selama ini terkesan tak baik. Nara mendesah sejenak, dan segara masuk ke dalam sana. Matanya menelisik jauh ke dalam bangku-bangku kafe yang terlihat penuh. Sampai seorang pelayan berjalan mendekatinya.
“Maaf nona ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan berwajah tampan dan terlihat sopan itu pada Nara. Belum sempat Nara menjawab, panggilan seseorang terdengar jelas di telinganya. Nara menatap gadis itu.
Hyeri tengah tersenyum sambil mengangkat sebelah tangannya untuk melambai ke arah Nara. Dari jarak sejauh ini pun, Nara masih melihat bahwa gadis itu benar-benar cantik. Wajahnya yang putih tampak bersinar cerah. Matanya terlihat indah dan daun bibirnya yang kecil tampak tertarik membentuk sebuah senyum yang demi apapun itu terlihat menawan. Tak ada kata lain yang mampu mendeskripsikan seorang Lee Hyeri selain ‘cantik’. Nara lagi-lagi mendesah ketika menyadari bahwa saat ini, ia tengah memuji mantan kekasih suaminya.
Ia berjalan mendekati bangku tengah kafe, dimana Hyeri sedang berdiri untuk menyapanya. Dari jarak dekat, barulah Nara menyadari kehadiran seorang pria yang berdiri di samping Hyeri. Kalau boleh mendeskripsikan, menurut Nara wajah pria itu terlihat sangat tampan. Tubuhnya tinggi dengan bahunya yang lebar. Dia juga punya senyum yang memikat. Walaupun pada dasarnya tak semanis senyum Taehyun, suaminya. Nara ******** senyum di bibirnya. Ia membalas uluran tangan Hyeri dan segera duduk ketika gadis itu mempersilahkannya untuk duduk.
“Ah, aku senang kau datang Nara. Tadinya, ku pikir kau tak akan mau bertemu denganku mengingat hubungan kita tak terlalu baik dimasa lalu.” Ucap Hyeri sambil tersenyum manis. Nara hanya tersenyum untuk menanggapi ucapan Hyeri. Sebuah senyuman yang terlihat alakadarnya. Ia kembali menatap pria disamping Hyeri, penasaran. Hyeri yang menyadari hal itu, lantas mengambil inisiatif untuk memperkenalkannya.
“Dia Kim Hyunjin, tunanganku. Kau bisa memanggilnya Jin.” Terang Hyeri sambil tersenyum. Nara jelas terlihat terkejut mendengar ucapan Hyeri. Sampai-sampai ia tak menyadari bahwa Jin tengah mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.
“Hai, aku Hyunjin. Senang bisa bertemu denganmu, Nara..” sapa Jin ramah.
“Eh? Ah, maksudku aku juga senang bisa bertemu denganmu..” Nara menatapi wajah Jin dengan seksama, mencoba mencerna tentang apa yang sebenarnya terjadi disini.
“Hahaha.. jangan terkejut begitu. Dia ini tunanganku. Tujuanku memintamu kemari sebenarnya karena aku ingin menjelaskan semuanya padamu. Aku tak ingin ada kesalah pahaman diantara kita.” Ucapan Hyeri terhenti sejenak karena seorang pelayan meletakkan segelas karamel coklat di atas meja di hadapan Nara. Merasa tenggorokannya tiba-tiba terasa kering, Nara langsung meneguk sedikit karamel coklat miliknya.
“Lalu apa yang ingin kau jelaskan padaku, Hyeri-ssi?” tanya Nara
“Ini tentang kesalah pahaman yang sering terjadi diantara kita. Tentang hubunganku dan Taehyun. Kalau kau masih berfikir bahwa aku dan Taehyun masih saling mencintai, maka kau harus segera membuang pemikiran konyol itu. Aku dan Taehyun memang masih begitu dekat, tapi itu murni karena aku menganggapnya sebagai seorang kakak. Begitu banyak kemiripan diantara kami sampai terkadang tak perlu saling bicara untuk tau perasaan kami masing-masing. Tapi percayalah, aku dan dia telah memutuskan untuk menjalani hidup kita dengan jalan yang berbeda. Dia hanya mencintaimu, Nara. Hanya kau. Dan tentang aku, kami berdua akan segera menikah bulan depan.” Hyeri melirik ke arah Jin sejenak dan kembali tersenyum ramah.
“Menikah? Benarkah?”
“Ya. Sebenarnya tujuanku kembali ke Korea bukanlah untuk menggoda atau ingin kembali ke pelukan Taehyun, seperti yang mungkin selama ini kau pikirkan. Aku kembali ke Seoul semata-mata hanya untuk menemani Jin yang sedang menjalankan bisnisnya di Jeju. Sekalian kami mempersiapkan pernikahan kami yang juga akan dilangsungkan di Jeju. Saat itulah Taehyun menghubungiku. Ia memohon padaku agar membantunya. Membuatmu sadar akan perasaanmu padanya. Aku tak perlu terlalu menjelaskan tentang kronologinya bukan? Aku rasa ia sudah berhasil menjelaskannya padamu.” Ada gurat senyum canda dalam nada bicara Hyeri saat mengatakannya. Gadis itu mengeluarkan sebuah undangan dari dalam tasnya, kemudian meletakkan benda itu di meja yang terletek dihadapan Nara.
“Aku sangat berharap kalian akan datang ke Pernikahan kami..”
Nara mengambil undangan dihadapannya, melihat sampul depannya yang berdesign elegan dengan menampakkan foto keduanya yang terlihat serasi. Hyeri semakin cantik dengan gaun putih pernikahannya yang panjang, sedang Jin terlihat ribuan kali lebih tampan dengan tuxedo putihnya. Nara tersenyum.
“Tentu saja kami akan datang..” Nara menyanggupinya dengan sebuah perasaan lega yang tak mampu ia sembunyikan.
“Aku senang mendengarnya..” keduanya terlihat saling menatap hangat dan melempar senyum tulus di bibirnya.
“Kalau boleh aku bertanya. Apa kita sudah teralu banyak saling menyakiti untuk menjadi seorang Teman, Nara?” Ucap Hyeri.
“Aku rasa kita masih saling bisa mengobrol sebagai seorang Sahabat, Lee Hyeri..” jawab Nara.
“Maafkan aku. Karena aku tak pernah mengenalmu, jadi begitu kau muncul diantara aku dan Taehyun, aku selalu berpikiran buruk tentangmu. Aku benar-benar minta maaf untuk itu. Dan terimakasih, kalau bukan karena kehadiranmu mungkin hubunganku dan Taehyun tak akan seperti sekarang. Aku benar-benar berterimakasih pada kalian” lanjut Nara. Hyeri hanya menganggukkan kepalanya singkat sambil menggumamkan bahwa ia baik-baik saja.
“Dan terimakasih Jin-ssi, karena kau sudah mengijinkan tunanganmu untuk menggoda suamiku. Hahaha..” ketiganya tertawa riang, seolah masing-masing dari mereka tengah menemukan satu lagi keluarga baru dalam hidupnya. Hyeri dan Nara saling memeluk sebelum mereka berpisah disana. Awalnya Hyeri memang ingin mengantar Nara pulang, namun gadis itu terus saja menolak. Sampai pada akhirnya, mereka memutuskan untuk berpisah di kafe itu.
.
.
***
.
.
Kini Nara tengah berjalan di pinggiran deretan pertokoan kota Seoul yang terlihat tenang. Sedari tadi ia terus memperhatikan satu persatu tempat\-tempat yang dulu sering ia kunjungi. Supermarket kecil di sudut jalan itu, dulunya adalah tempat pertama yang ia tuju disaat perutnya berbunyi di malam hari. Tepatnya ketika dirinya baru pulang dari bekerja. Ya, hanya sebuah ramen siap saji yang terus ia makan, karena gaji seorang pegawai part time memang lah tak cukup untuk bertahan hidup. Terlebih Nara masih harus membayar sewa rumah dan berbagai keperluan hidupnya.
Entah karena apa, ia benar-benar merindukan suasana tempat ini. Seperti menjadi orang asing, Nara merasa dirinya berbeda sekarang. Ia tak lagi menjadi seorang Nara yang hanya warga biasa semenjak ia menikah dengan salah satu pewaris dari Han’s Group, perusahaan adidaya yang begitu berpengaruh di Korea. Bahkan Taehyun memang tak pernah membiarkannya untuk pergi sendiri dengan berjalan kaki seperti sekarang. Taehyun selalu hanya memberinya ijin untuk pergi ketika Nara menggunakan supir pribadi yang memang sengaja ia siapkan untuknya.
Nara tersenyum saat ia melihat mobil penjual kue ikan tengah berhenti di dekatnya. Harum aromanya tercium oleh Nara. Mendadak perutnya terasa sangat lapar sampai akhirnya ia berjalan mendekat dan mengambil beberapa tusuk kue ikan yang kemudian mulai ia makan.
“Tak ada yang lebih enak daripada rasa kue ikan dipinggir jalan” pikirnya. Gadis itu terus melahap beberapa tusuk kue ikan di depannya sambil mengamati jalanan di sekitarnya yang hari ini terasa sedikit sepi.
__ADS_1
Tanpa di duga, mata Nara menangkap bayangan sosok yang ia kenal di seberang jalan. Seorang laki-laki bertubuh mungil dengan kulit putihnya yang berusaha ia sembunyikan di balik jaket kulit yang ia kenakan. Nara tak akan mengenali kalau itu adalah Lee Baekki kalau saja pria itu tak membuka topinya tadi. Baekki, dengan mengenakan topi dan kacamata di wajahnya, laki-laki itu berjalan mengendap sambil mengikuti seorang pria yang berada di depannya. Nara mengernyit saat menatap tingkah Baekki yang terlihat mencurigakan.
Dengan segera Nara merogoh sakunya, mengambil pecahan uang 10 ribu won dan memberikannya pada bibi penjual kue ikan dan kemudian berlari kecil menyebarangi jalan di depannya untuk sampai di tempat Baekki. Nara mengikuti langkah kaki Baekki dengan tenang. Ia terus memperhatikan pria berkulit tan yang sedang Baekki ikuti. Pria itu terlihat hendak berbalik. Mungkin ia mulai sadar bahwa ia tengah diikuti. Saat itu, Baekki terlihat bingung mencari tempat persembunyian agar tak tertangkap, tapi ia benar-benar terkejut ketika merasakan tangannya di tarik untuk masuk ke dalam lorong kecil diantara dua pertokoan di sebelah kanannya. Baekki membulatkan matanya ketika mengetahui siapa yang tengah menariknya.
“Nara, apa yang kau lakukan?” tanya Baekki yang tampak terkejut.
“Menyelamatkanmu” jawab Nara acuh. Mereka masih bersembunyi di balik dinding itu sambil mengamati namja berkulit tan yang kini tengah berdiri tak jauh dari mereka. Ia seperti tengah menunggu seseorang, hingga Baekki dan Nara terus mengamatinya.
“Bukankah dia Lee Jong In? Supir Pribadi Tuan Han? Sedang apa dia?” tanya Nara setengah berbisik di daun telinga Baekki yang tengah berdiri di depannya.
Belum mendapat jawaban dari Baekki, tapi seorang laki-laki paruh baya terlihat turun dari bangku kemudi sebuah mobil hitam yang mewah. Jong in berjalan mendekat ke arah jendela bangku belakang mobil itu yang perlahan mulai terbuka. Seperti tengah menatap atasan yang begitu ia hormati, kini Jong In menundukkan kepalanya memberikan hormat. Kemudian ia terlihat berbicara sejenak dan mengulurkan sebuah amplop coklat melalui kaca jendela mobil yang terbuka.
Baekki benar-benar mengamatinya dengan sungguh-sungguh, menunggu dan berusaha mencari tau siapa yang sebenarnya tengah duduk di dalam mobil itu. Beberapa saat kemudian tampak tangan seorang wanita yang terjulur untuk mengambil amplop coklat yang Jong In serahkan. Kemudian mobil itu melesat pergi ketika sang supir kembali pada tempatnya.
Baekki berdecah kecil sambil mengumpat dalam hatinya ketika ia sadar ini tak semudah yang ia bayangkan. Entah kenapa semakin ia menyelidiki dari mana teror ini berasal, seperti semakin banyak hal yang harus ia selesaikan. Ia memijit pelipisnya yang kembali berdenyut nyeri.
“Kau baik-baik saja Baekki-ssi?” tanya Nara yang sedari tadi memang masih berada di depan Baekki. Baekki membuka matanya yang sempat tertutup, ia menatap istri atasannya itu dalam diam. Ia masih berusaha membuat ekspresinya terlihat datar agar gadis itu tak merasa curiga padanya.
“Nara, apa yang sedang kau lakukan di tempat seperti ini? Kau sendirian? Dimana Jindo? Apa dia tak mengantarmu?”
Nara terlihat tersenyum masam. Menampakkan sedikit sifat manisnya agar sekretaris itu tak mengadukannya pada suaminya yang jelas tak akan suka dengan apa yang hari ini ia lakukan.
“Aku baru saja bertemu dengan Hyeri, dan saat akan pulang, aku melihatmu sedang berjalan mengendap-endap mengikuti seseorang. Kenapa kau mengikuti Jong In? Ada apa dengannya?”
Mendapatkan berbagai pertanyaan yang menyudutkan dari Nara, Baekki terlihat sedikit kikuk. Ia berjalan keluar dari lorong toko dan mulai melangkah ke arah dimana mobilnya terparkir.
“Ayo ku antarkan kau pulang..” ujar Baekki pada Nara.
Suasana dalam mobil Baekki terasa sangat hening, tak ada yang mulai pembicaraan hingga keduanya merasa cukup canggung. Nara menatap sekretaris suaminya itu sejenak, dan berusaha mengartikan ekspresi wajah Baekki yang terlihat rumit.
“Hey, Lee Baekki kau belum memberiku penjelasan. Sebenarnya apa yang terjadi, huh?” Nara masih terus berusaha menyudutkan Baekki dengan pertanyaan-pertanyaannya yang sulit. Baekki menghembuskan nafasnya pelan, sebelum pada akhirnya memutuskan untuk memberitahu Nara akan rahasia ini.
“Bisakah kau menjaga rahasia?” tanya Baekki yang dibalas anggukan singkat dari Nara.
“Jadi begini. Akhir-akhir ini tuan Han sering mendapat teror dari seseorang”
“Teror? Apa maksudmu Lee Baekki?”
“Beberapa waktu lalu ada seseorang yang meletakkan sebuah amplop coklat berisikan foto-foto nyonya Yoon, tuan Jung dan Han Jaehyun di ruang kerjanya. Dirumahnya. Kemudian beliau memintaku untuk menyelidiki hal itu.” Ujar Baekki yang mencoba menjelaskan.
“Tapi masalahnya, saat aku mulai melakukan penyelidikan. Teror kembali menghampiri kami. Ada seseorang yang dengan sengaja meletakkan sebuah bukti hubungan kerjasama ilegal antara tuan Jung dan Nyonya Yoon. Dan baru-baru ini kami menerima teror berisikan salinan rekening yang menunjukkan bahwa Nyonya Yoon telah mengambil uang sebesar 100 juta won dari perusahaan..”
“A-Apa?”
“Tuan Han memintaku melakukan penyelidikan diam-diam atas kasus ini. Dan ku harap kau tak akan memberitahu Taehyun. Aku dan Tuan Han hanya tak ingin ia terpengaruh akan hal yang belum pasti seperti ini. Kemungkinan terbesar, mereka tengah berkonspirasi untuk menjatuhkan Taehyun. Untuk mengambil alih kedudukannya. Karena itu, kami sedang berusaha melindungi Taehyun dari mereka.”
“Baiklah aku tau. Berdasarkan ceritamu, aku rasa orang yang memberimu teror sepertinya tengah berdiri di pihak kita. Apa orang itu Jong In?”
“Apa yang bisa ku lakukan untuk membantu Taehyun?”
“Entahlah. Tetaplah berada disamping Taehyun karena kau adalah sebuah kekuatan tersendiri baginya. Aku masih belum tau pasti kapan meraka akan mulai menyerang dan mulai menjatuhkan Taehyun secara perlahan. Yang ku bisa hanyalah melindungi Taehyun dari belakang seperti saat ini. Dan, ku harap semuanya akan baik-baik saja..”
.
.
.
***
.
.
.
Taehyun’s House – Gangnam Distric [South Korea]
08.00 PM
.
.
Terangnya sang mentari tengah terganti oleh cahaya bulan yang tampak indah. Suara gesekan dahan pepohonan di taman belakang kediaman keluarga Han terdengar begitu menenangkan melalui jendela ruang tengah lantai dua yang terbuka. Nara duduk di lantai ruang tengah rumah itu sambil menggerakkan tangannya untuk mengambar sebuah gaun pernikahan diatas kertas putih yang ia letakkan di atas meja sofa. Raut wajahnya terlihat serius dan sungguh-sungguh ketika ia menggambar. Sedang pikirannya masih berputar pada kata-kata yang tadi siang Baekki ucapkan.
Berbagai pertanyaan mulai muncul di benaknya. Benarkah ibu mertuanya dan Jaehyun akan bertindak sejauh itu untuk menghancurkan Taehyun? Untuk merebut semua hartanya? Rasa khawatir kembali menyelimutinya. Sungguh Nara tak ingin hal buruk terjadi pada suaminya. Ia ingin melindunginya, melindungi Taehyun nya.
Karena begitu serius dengan berbagai spekulasi di benaknya Nara sampai-sampai tak menyadari bahwa laki-laki itu tengah duduk di sofa yang terletak di belakangnya. Taehyun mengamati wajah istrinya yang terlihat serius sambil memperhatikan gerakan tangan gadis itu yang terus menorehkan sebuah gambar yang menurutnya cukup cantik.
“Hemmm..” Taehyun terdengar berdeham kecil disamping telinga Nara. Membuat gadis itu refleks menoleh dan terlihat terkejut mendapati wajah suaminya yang begitu dekat.
“Sejak kapan kau disana?” tanya Nara gugup.
“Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau pikirkan, humm? Kenapa kau bahkan tak menyadari kehadiranku?” Taehyun menarik lembar kertas putih di hadapan Nara dan menatapnya sambil membaringkan tubuhnya di atas sofa. Pria itu terlihat lelah, dan Nara baru menyadarinya saat ia menatap manik mata Taehyun.
Nara membalikkan badannya menghadap sofa dimana Taehyun tengah terbaring sambil memperhatikan design yang sedang ia buat.
“Kau membuat gaun pernikahan? Ah, Nara sebenarnya aku juga memang tengah memikirkan hal ini.”
“Apa?”
__ADS_1
“Ayo kita menikah lagi. Sebenarnya aku ingin memberimu kejutan, tapi melihat kau juga sepertinya menginginkan ini sebaiknya kukatakan saja. Sebenarnya aku sudah meminta Hyeri untuk menyiapkan pernikahan kita di Paris. Bukankah kau sangat menyukai Paris?”
“Pernikahan kita? Bukankah kita sudah menikah?”
“Sebuah pernikahan yang sesungguhnya. Saling mengucap janji untuk setia di hadapan Tuhan.”
“Kita sudah melakukannya Han Taehyun” tegur Nara. Gadis itu terlihat menyentuh jari-jari tangan Taehyun yang tergeletak didepannya dan menautkan tangannya di atas jari-jari itu.
“Tapi waktu itu hanya aku yang mencintaimu. Hanya aku yang bersungguh-sungguh mengucapkan janji pernikahan dari hatiku”
“Ah, jadi kau sedang berfikir kalau waktu itu aku belum mencintaimu? Bodoh!”
“Apa?” mendengar dirinya di bilang bodoh Taehyun segera memekik hebat sambil melemparkan pandangan dingin kearah istrinya.
“Kau tau kapan pertama kali aku jatuh cinta padamu?”
“Mana ku tau. Kau tak pernah mengatakan kau mencintaiku!” Taehyun memalingkan wajahnya sambil nampak kesal.
“Aish, aku baru tau seperti ini sikapmu sesungguhnya. Benar-benar kekanak-kanakan. Kau hanya terlihat dingin dari luar, tapi sesungguhnya kau ini terlalu manis.” Ejek Nara.
“Aku mulai mencintaimu ketika melihatmu mengenakan tuxedo putih dan menungguku di altar. Saat itu aku mulai berfikir tentang menjalani kehidupan pernikahan yang sesungguhnya denganmu. Kau yang sedang berdiri menungguku saat itu terlihat ribuan kali lebih tampan dari dewa. Aku rasa saat itu aku jatuh kedalam hatimu” Nara mengerucutkan bibirnya saat ia tak sedikitpun mendapati reaksi yang baik dari suaminya.
“Hey, ayolah! Kau tak sedang marah hanya karena aku mengataimu bodoh bukan? Kau tak pernah seperti ini sebelumnya, Tae..”.
Taehyun masih saja mengalihkan pandangannya ke sisi lain sehingga Nara mendesah saat menatapnya.
“Baiklah terserah kau saja. Yang jelas saat mengucapkan janji suci pernikahan, aku benar-benar mengucapkannya dari hatiku”. Nara kembali mengambil kertas putih miliknya dari tangan Taehyun dan melanjutkan kembali design nya yang belum sepenuhnya selesai.
“Kau sungguh-sungguh dengan apa yang kau ucapkan?” tanya Taehyun
“Tentu saja” jawab Nara sekenanya.
“Lalu untuk apa kau menggambar gaun pernikahan itu?”
“Aku akan memberikannya pada Hyeri. Sebagai hadiah dan rasa terimakasihku padanya. Bagaimana menurutmu? Apa dia akan menyukainya?” Nara mengangkat kertas putih ditangannya dan menunjukkan design itu lagi pada Taehyun.
Taehyun hanya menganggukkan kepalanya singkat. Ia masih terbaring pada sofa. Sepertinya ia benar-benar tampak begitu lelah hari ini.
“Kau kenapa? Apa ada masalah di kantor?” tanya Nara sambil menatap lekat-lekat wajah suaminya yang tampak lelah.
“Kau tau, akhir-akhir ini aku sedang sedikit curiga pada Baekki. Apa Shin Jihyun sama sekali tak pernah menceritakan sesuatu padamu?”
“Tidak. Memangnya kenapa? Apa yang kau pikirkan tentang Baekki?”
“Akhir-akhir ini dia sering sekali meninggalkan kantor. Dia seperti sedang sibuk dengan urusannya sendiri”
Nara terdiam, bingung bagaimana ia harus menghadapi situasi semacam ini. Ia tak mungkin menceritakan apa yang tengah terjadi, pada suaminya. Ia telah berjanji untuk menjaga rahasia itu pada Baekki. Tapi Nara juga tak ingin Taehyun mencurigai sekretaris yang begitu setia bahkan rela berkorban demi melindunginya. Lagi dan lagi gadis itu selalu berada di posisi yang sulit.
“Taehyun-ah, percayalah pada Baekki. Apapun yang ia lakukan di luar sana, ia pasti memiliki tujuan yang baik bagi perusahaan dan juga bagimu”
“Kau belum mengenal Baekki cukup baik Kim Nara, dan kau membelanya?” Taehyun menatap istrinya aneh.
“Jangan-jangan kau menyukainya? Kau menyukai Lee Baekki?” tuduh Taehyun yang segera mendapat pandangan tajam dari Nara.
“YAK! Kenapa kau kekanak-kanakan sekali! Mana mungkin aku mencintai kekasih sahabatku sendiri, Han Taehyun? Dan bukankah sudah ku katakan, kau adalah satu-satunya yang ku cintai”. Nara tak lagi memperdulikan suaminya. Ia kembali menatap kertasnya yang tergeletak di atas meja dan memunggungi Taehyun yang masih terbaring di atas sofa.
Tanpa Nara sadari kini Taehyun tengah tersenyum. Ia terlihat bahagia atas ucapan yang baru saja ia dengar. Taehyun bangkit dari tidurnya, ia menatap punggung Nara dihadapannya dan memeluknya dari belakang.
“Satu-satunya yang kau cintai? Bisakah kau katakan sekali lagi?” bisik Taehyun di telinga Nara. Ia masih memeluk tubuh istrinya dengan begitu erat.
“Ayolah katakan..” bujuk Taehyun.
Nara berbalik menatap suaminya, “Tidak..” tukasnya.
“Yak, kau benar-benar tak mau mengatakannya?”
“Tidak..” jelas Nara lagi.
“Yak, kim Nara. Dasar kau!” Taehyun menarik tubuh Nara mendekat, tanpa banyak bicara ia segera mencium daun bibir istrinya. Sebelah tangan Taehyun memeluk leher Nara sedang tangannya yang lain memeluk pinggang istrinya erat-erat. Nara sedikit mendorong tubuh Taehyun menjauh ketika melihat sosok Jaehyun yang berdiri di depannya sambil memperhatikan mereka dengan pandangan miris.
Taehyun yang belum menyadari kehadiran Jaehyun terlihat mendekatkan kembali wajahnya, hendak mencium gadis itu lagi. Namun cepat-cepat Nara menghindar dan mengarahkan pandangannya ke arah Jaehyun. Membuat Taehyun mau tak mau mengikuti arah pandang Nara. Taehyun terlihat tersenyum sinis setelahnya.
Raut wajah Jaehyun terlihat memerah, seperti tengah menahan amarah yang begitu besar dalam dirinya. Luka-luka bekas pukulan Taehyun masih bertahan di wajah Jaehyun. Membuat warna biru keunguan tampak mendominasi di pelipis dan sudut bibirnya.
“Oppa, akhirnya kau keluar. Kau baik-baik saja?” tanya Nara. Gadis itu hendak bangkit dan menghampiri Jaehyun, tapi Taehyun segera menahan lengannya. Ia menarik keras lengan Nara hingga gadis itu kini duduk disampingnya pada sofa cream di depan televisi itu.
“Hyung, sepertinya aku sedikit berlebihan kemarin. Maaf..” ujar Taehyun datar. Tak ada kesan tulus dalam permintaan maafnya itu. Semua orang bisa melihatnya dengan jelas. Jaehyun hanya tersenyum kecil, sebuah senyuman yang terkesan mengejek dan kemudian berlalu menuruni satu persatu tangga rumah itu dan pergi entah kemana.
“Kau keterlaluan, Tae..” tegur Nara pada suaminya.
“Dan aku tak peduli..” Jawab Taehyun acuh.
“Kau milikku, Nara. Aku bisa lakukan apapun yang ku mau. Karena kau istriku..” imbuhnya.
.
.
.
-To Be Continue-
__ADS_1