
Han’s Group – Gangnam [South Korea]
08.00 PM
.
.
“Hari ini cukup sampai disini. Tetap awasi perkembangan proyek Jeju yang Jaehyun tangani dan berikan laporannya padaku” tukas Taehyun. Ia menggerakkan lehernya memutar sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya lelah, lantas melirik jam dinding di ruangannya yang menunjuk angka delapan malam. Tubuhnya benar-benar terasa lelah, sedang matanya mulai tampak berat.
“Baiklah. Aku tau..” Baekki hendak berdiri dari tempatnya, saat Taehyun tiba-tiba menahannya.
“Baek, aku sedang mempertimbangkan mengenai sesuatu..” wajah Taehyun masih tetap di penuhi ekspresi serius seperti beberapa jam yang lalu. Inilah Han Taehyun, ia akan menjadi sosok orang yang berbeda ketika sudah menyangkut tentang pekerjaan. Baekki cukup tau atasannya sedang bersungguh-sungguh kali ini, hingga ia kembali duduk pada kursi di hadapan Taehyun dan menunggu laki-laki itu menjelaskan maksud dari perkataannya yang terdengar ambigu.
“Ini tentang Shin Jihyun”
Bagus. Tepat saat nama itu disebut, Baekki segera menatap manik mata Taehyun tajam.
“Hey, tenanglah. Jangan menatapku seperti itu. Aku ingin menarik Jihyun ke bagian design. Ketua tim design yang baru. Bagaimana menurutmu?”
Baekki menghembuskan nafasnya yang tadi sempat tertahan. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat duduknya dan melipat sebelah kakinya sambil masih menatap Taehyun datar.
“Kau benar-benar ingin mengurung kami rupanya..” ujar Baekki yang terdengar seperti sebuah sindirian halus.
Ketua tim design? Menurut Baekki ini sedikit keterlaluan. Jihyun akan benar-benar sibuk ketika ia berada di posisi itu. Bahkan dalam hati Baekki sempat berfikir, bahwa ini adalah cara Taehyun untuk kembali menunda pernikahannya. Tapi bahkan Baekki sendiri tak bisa melakukan apapun. Atasannya ini memiliki hati keras yang sulit untuk di tebak.
“Baiklah kalau kau pikir itu yang terbaik..”
Taehyun tertawa terbahak ketika mendapati perubahan ekspresi wajah Baekki yang benar-benar tampak tersiksa.
“Jangan berfikiran buruk terhadapku, Baek. Aku akan memberimu cuti untuk menikah setelah peluncuran lebel HS kali ini.”
“Kau sudah mengatakan hal yang sama sejak pertengahan tahun lalu, Han Taehyun!”
“Hahaha.. Benarkah?”
“Berhenti tertawa, atau aku benar-benar akan membunuhmu!” geram Baekki. Laki-laki itu segera bangkit dari posisinya, membereskan berkas-berkas dimejanya dengan raut wajah merajuk bagai seorang anak kecil yang kehilangan mainannya.
“Hey, kau marah padaku?” tegur Taehyun
“Cepat pulang kerumah! Istrimu pasti sudah menunggu” Dan Lee Baekki benar-benar pergi setelahnya. Taehyun yang di tinggalkan mulai sedikit menyesali tindakannya. Tanpa ia sadari bahkan bibirnya tengah menggumamkan sebuah permohonan maaf pada sang sekretaris yang kini sudah berada di ambang pintu ruang kerjanya.
“Baek, maaf..”
Lee Baekki dengan langkahnya yang berat dan tubuhnya yang jelas terlihat begitu lelah tengah berjalan pada lorong\-lorong panjang baseman perusahaan Han yang sudah terlihat sepi. Ia sempat melirik jam di pergelangan tangannya saat mencari kunci mobilnya tadi, dan ia seperti sudah terbiasa ketika melihat jarum jam yang sudah menunjuk pada pertengahan angka sembilan malam. Sedang pada kenyataannya, dirinya masih saja berkeliaran pada kawasan gedung ini. Pekerjaan yang tiada hentinya, membuat Baekki harus merelakan hampir setengah dari waktunya dalam sehari untuk berada di kantor, menatap berkas\-berkas di mejanya yang selalu menumpuk dan kehilangan masa mudanya begitu saja.
Baekki membuka pintu mobil putih miliknya dan berniat untuk segera masuk ketika sorot lampu yang begitu terang menghujami matanya. Refleks Baekki menghalangi kedua matanya dengan sebelah lengannya. Saat itu, Taehyun baru saja masuk dari pintu baseman yang tak jauh dari tempat Baekki berdiri. Taehyun bisa melihat dengan begitu jelas saat Baekki tengah mencoba menatap jauh ke arah mobil sedan hitam yang berhenti di depannya.
Taehyun bahkan bisa mendenngar bunyi klakson dari mobil itu dengan sangat jelas, seolah sang empunya tengah meminta Baekki untuk datang padanya. Dan pada kenyatannya Baekki memang berjalan menghampiri mobil hitam itu, sesaat setelah menutup kembali pintu mobilnya. Si Pemilik mobil membuka pintu penumpang mobilnya dari dalam, dan Baekki langsung duduk disana.
Saat lampu dalam mobil menyala, saat itu juga Taehyun membelalak dan benar-benar terkejut dengan apa yang tengah ia lihat. Orang itu, wanita disamping Baekki adalah Nyonya Yoon, ibu tirinya. Kening Taehyun berkerut bingung. Ia bersembunyi di balik salah satu mobil yang berada disana dan terus memperhatikan gerak-gerik Baekki dan Nyonya Yoon yang tampak mencurigakan.
Disisi lain, Baekki juga terkejut. Sejak beberapa menit yang lalu, matanya tak sekalipun terlepas dari Nyonya Yoon.
“Lee Baekki-ssi, lama tak bicara denganmu. Kau telah tumbuh menjadi pria tampan sekarang. Rasanya baru kemarin aku melihatmu masih belajar bersepeda dengan Appamu. Kau benar-benar sudah dewasa..” sapa nyonya Yoon berbasa-basi.
“Maaf nyonya, sebenarnya ada apa ini? Anda ingin bicara pada saya?” Nyonya Yoon tersenyum licik, kemudian menatap kedalam manik mata Baekki.
“Ini yang ku suka darimu, Baek. Sama seperti mendiang ayahmu, kau bukan tipe orang yang senang berbelit-belit. Baiklah, kita langsung pada inti pembicaraan ini. Aku tertarik padamu. Berkerjalah untukku Lee Baekki-ssi.”
“Ya?”
“Bukankah tujuanmu mengabdi pada suamiku selama ini hanya demi uang? Berapa banyak yang laki-laki tua bangka itu berikan untukmu? Katakan saja berapa jumlahnya, dan aku akan memberimu tiga kali lipat.” Nyonya Yoon menghentikan sejenak ucapannya dan menunggu reaksi dari Baekki.
“Aku tak mengajukan syarat yang sulit untukmu. Aku juga tak akan memberimu tugas yang berat. Hanya tetaplah berada disisi Taehyun. Tetaplah menjadi orang kepercayannya dan laporkan semua gerak geriknya padaku!”
Dahi Baekki berkerut tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dengan telinganya. “Maaf nyonya, saya tak mengerti dengan maksud anda.”
“Dan kau pikir aku percaya dengan ucapanmu itu? Oh ayolah Baek. Aku tau kau tak sebodoh itu..” kembali nyonya Yoon menggantungkan ucapannya. Ia terus mengamati perubahan pada mimik wajah Baekki untuk paling tidak menebak apa yang ada dalam pikiran anak muda itu.
“Kau hanya perlu memberikan dokumen-dokumen penting perusahaan padaku. Dan sebagai imbalan akan ku berikan apapun yang kau mau..”
“Maaf nyonya, tapi saya tidak akan pernah melakukan hal itu!” tolak Baekki tegas.
__ADS_1
“Jangan terburu-buru, pikirkan baik-baik tentang tawaranku ini, Baek. Aku hanya tak ingin kau menyesal pada akhirnya” bujukan nyonya Yoon sepertinya terdengar sia-sia mengingat Lee Baekki bukanlah tipe orang yang akan tergiur dengan rayuan-rayuan seperti itu. Baekki tetap teguh pada pendiriannya. Bahkan ia berniat untuk membuka pintu mobil nyonya Yoon dan berlari keluar dari sana. Tapi tangan Baekki segera terhenti pada pintu mobil saat nyonya Yoon kembali membuka suara.
“Ku dengar kau dan manager Shin punya hubungan yang sangat serius? Ku dengar kalian akan segera menikah?”
‘Deggh..’ saat itu juga Baekki memalingkan wajahnya dan mulai tampak panik. Shin Jihyun, Baekki sama sekali tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada gadisnya. Tidak, Baekki tak akan pernah bisa memaafkan dirinya kalau sampai Nyonya Yoon melakukan hal buruk pada gadis itu. Bukan berfikiran buruk tentang wanita dihadapannya, tapi Baekki cukup tau dan benar-benar memahami tabiat buruk nyonya Yoon yang selama ini selalu ia selidiki secara diam-diam. Wanita itu bahkan bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan apapun yang ia inginkan. Termasuk menyingkirkan ibu Taehyun dari istana keluarga Han dengan sebuah tuduhan buruk yang tak beralasan.
Beberapa tahun silam Tuan Han mengusir ibu Taehyun dari rumah karena mendapati istri yang begitu ia cintai tengah berada di ruang bawah tanah kediamannya bersama Tae Jung supir pribadinya. Tuan Han kala itu telah termakan oleh hasutan nyonya Yoon yang telah mempersiapkan sebuah rencana besar untuk menjebak ibu Taehyun dan Tae Jung. Membuat skenario seolah-olah keduanya telah benar-benar berselingkuh di belakang Tuan Han.
Baekki tak akan mengetahui perkara ini kalau saja Ahjumma Hyo, salah satu maid di kediaman tuan Han tak datang padanya beberapa hari yang lalu. Entah apa yang mendorong wanita paruh baya itu untuk mengungkapkan sebuah kebenaran besar itu pada Baekki. Tapi yang Baekki tau, tak ada kebohongan dimata bibi Hyo saat menceritakan detail kronologi kejadian malam itu. Bahkan masih Baekki ingat benar kedua tangan bibi Hyo bergetar saat mengatakan Nyonya Yoon akan benar-benar membunuhnya jika ia tau bibi Hyo menceritakan hal ini pada orang lain.
“Lee Baekki-ssi..” pantau Nyonya Yoon yang berhasil mengembalikan pikiran Baekki yang sempat berkelana. Laki-laki itu sedikit tersentak saat merasakan sentuhan lembut dibahunya. Ia menatap nyonya Yoon sambil sekali menggumamkan kata maaf dari bibirnya.
“Bagaimana Lee Baekki-ssi? Kau tertarik untuk berkerja padaku?”
Baekki masih terdiam. Ia terlihat tertunduk ragu.
“Ku dengar kau begitu mencintai Shin Jihyun? Kau tak ingin bukan, sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi pad---”
“Jihyun sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan hal ini Nyonya! Jangan libatkan dia dalam hal apapun!” sergah Baekki tajam.
“Dan itu berarti kau akan berkerja untukku..” nyonya Yoon menarik sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman licik.
“Apapun yang terjadi kau tetap akan berada di pihakkku, Baek. Aku akan melakukan segala cara untuk itu..” gumam nyonya Yoo lirih.
.
.
.
***
.
.
.
.
.
Minggu ketiga pertengahan musim gugur. Angin di luar sana berhembus dengan kencang. Daun-daun pohon ek di taman belakang rumah itu terlihat berterbangan terbawa angin. Gumpalan awan putih tipis masih menghiasi birunya langit yang tengah membiaskan semu cahaya kuning sang mentari. Nara berdiri di balkon kamarnya yang menghadap langsung pada taman belakang kediaman keluarga Han yang tampak luas. Sejak beberapa hari yang lalu inilah yang selalu ia lakukan. Berdiam diri di kamarnya tanpa melakukan sesuatu yang bermakna.
Ia ingin keluar dari sana, tapi lagi-lagi semua keinginan itu harus sirna ketika suaminya yang keras kepala terus saja melarangnya untuk keluar. Nara bagai seorang tawanan sejak kejadian malam itu. Taehyun hanya memberinya ijin untuk keluar ketika ia mengatakan bahwa dirinya ada jadwal kuliah. Dan disaat seperti itu pun, Taehyun tak membiarkan Nara untuk pergi seorang diri. Ia selalu meminta Jindo, sang supir pribadinya untuk mengantar Nara dan menunggunya hingga segala urusannya terselesaikan. Demi Tuhan, Nara jenuh akan hidupnya. Ia bahkan sudah terlalu lelah untuk meruntuk, protes dan mengumpat pada suaminya. Semua itu terasa percuma mengingat betapa keras pendirian Taehyun.
“Apa yang kau lakukan?” tegur Taehyun dari dalam kamar. Laki-laki itu baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Ia mengenakan celana hitam dan juga sebuah kemeja putih berlengan panjang yang belum terkancing sepenuhnya. Sebelah tangannya memegang handuk putih yang sedang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Sungguh wajah Taehyun benar-benar tampak menggoda dengan tetasan air yang menetes dari juntaian rambut hitamnya. Nara berdecah. Hal gila macam apa lagi yang sedang Taehyun lakukan. Apa laki-laki itu sedang menggodanya sekarang? Tidak, Nara tak ingin lagi masuk ke dalam jebakannya.
“Ku tanya, apa yang sedang kau lakukan Kim Nara. Kenapa kau tak menjawabku?” Taehyun masih berdiri di ambang pintu balkon kamarnya. Pandangan matanya menatap Nara penuh minat.
“Cah, kau pikir apa yang bisa ku lakukan di dalam kamar ini Han Taehyun? Sampai kapan kau akan mengurungku seperti ini?” Nara berjalan masuk kedalam kamarnya, melewati Taehyun yang berdiri di pintu balkon tanpa sedikitpun memandangnya. Ia berjalan pada almari dinding yang terletak di sudut kanan ruang itu dan mengambil sebuah tuxedo hitam dan dasi bergaris dengan warna senada. Kemudian berjalan keluar sambil memperhatikan suaminya yang masih berdiri diambang pintu balkon yang terbuka.
“Sampai kau sadar dan berjanji untuk mematuhi semua perintah suamimu..” gumam Taehyun.
Nara berjalan mendekati suaminya. Tangannya terulur untuk mengancingkan satu persatu kancing kemeja putih Taehyun, kemudian meraih kerah kemejanya dan mengaitkan sebuah dasi disana. Sembari melakukan tugasnya, Nara tampak tak menyerah untuk menggoyahkan pendirian suamianya.
“Aku sudah melakukan semua yang kau perintahkan, Tae! Aku bahkan tak sekalipun keluar dari kamar ini tanpa seijinmu. Apa lagi yang kau inginkan dariku? Kau ingin aku menua di dalam sini? Kehilangan semua masa mudaku dan terkurung bagai seorang tahanan di dalam rumah ini? Ayolah, aku benar-benar bosan, Tae..”. Nara tertunduk saat menggumamkan keinginannya. Sorot matanya benar-benar tampak bosan dan di titik itu Taehyun tau bahwa dirinya sedikit berlebihan.
“Kau benar-benar ingin keluar dari sini?” tanya Taehyun sembari mengangkat dagu Nara untuk menatapnya. Nara mengangguk. Bibirnya tergerak untuk membentuk sebuah senyuman manis, hingga tanpa banyak bicara Taehyun mendaratkan bibirnya pada permukaan daun bibir merah Nara dan menciumnya gemas. Beberapa saat setelahnya ia tampak tersenyum ringan.
“Baiklah. Ikutlah denganku ke kantor. Hari ini pekerjaanku tak banyak, jadi mungkin kita bisa pergi ke suatu tempat nanti. Bagaimana?”
Nara menganggukkan kepalanya dengan mata berbinar. Tanpa ia sadari wajah cantiknya terlihat begitu lucu ketika ia melakukannya dan Taehyun justru memeluk tubuh istrinya erat.
“Haah, Kim Nara kau benar-benar berbahaya! Aku rasa aku tak akan bisa menahan diriku ketika berada di dekatmu..” dengus Taehyun yang kemudian melepaskan tubuh istrinya. Ia mengambil tuxedo di tangan Nara dan segera mengenakannya.
.
.
.
***
__ADS_1
.
.
.
Suasana luar gedung Han’s Group tampak sama seperti hari-hari sebelumnya. Masih berdiri kokoh dan terlihat megah di tengah kota Seoul yang indah. Sebuah mobil sedan hitam milik Taehyun terparkir di pelatarannya yang terlihat lenggang. Taehyun membuka pintu kemudi, memberikan kunci mobilnya pada salah satu karyawannya dan berjalan menghampiri Nara yang tengah berdiri di depan pintu masuk gedung perusahaan Han. Taehyun menggenggam sebelah tangan Nara dan pergi ke ruangannya di lantai sepuluh.
Baru saja keduanya turun dari lift dan berniat berjalan menuju ruangan Taehyun, tapi tiba-tiba sebuah teriakan dari arah belakang terdengar begitu melengking nyaring. Shin Jihyun tampak berlari kecil menghampiri Taehyun dan Nara. Langkahnya terdengar begitu mendesak dan kedua tangannya tengah memegangi sebuah baju dengan begitu erat. Kening Taehyun berkerut saat Jihyun sampai dihadapannya. Gadis itu susah payah mengatur nafasnya yang masih tersengal. Bahkan sebelah tangan Jihyun memegangi lengan Nara sebagai penompang tubuhnya yang tampak lunglai.
“Ada apa ketua tim? Kenapa kau terlihat panik?” tanya Taehyun. Jihyun masih mencoba mengatur laju udara di paru-parunya yang masih terasa berat. Kemudian ia menyerahkan baju di tangannya ke arah Taehyun. Sorot mata Jihyun tampak kebingungan.
“Bukankah ini baju musim dingin yang Hyeri buat? Ada apa? Bukankah kau sudah menunjukkan sampel baju ini padaku kemarin?” ucap Taehyun saat mengamati baju di tangannya. Ia menatap Jihyun bingung.
“Direktur, lihatlah label pada baju itu..”
Dan Taehyun segera membuka kerah baju di tangannya dan melihat lebel perusahaan Diamond tertera disana. Mata elang Taehyun menghundus tajam ke arah Jihyun.
“Ini apa?!” teriaknya.
Jihyun hanya tertunduk, tapi ia terlihat mulai menguraikan kata demi kata untuk menjelaskan situasi yang terjadi disini.
“Direktur, sepertinya design musim dingin perusahaan kita telah bocor. Perusahaan Diamond telah melakukan produksi besar-besaran dengan design yang sama persis dengan design lebel HS. Bahkan mereka sudah mulai memasarkan produk ini di pasaran. Jelas ada seseorang yang telah mencuri design kita. Karena tak mungkin mereka bisa memproduksi sesuatu yang persis sama. Bahkan kita baru memulai proses produksi dua hari yang lalu..”
Taehyun terdiam. Kepalanya berdenyut nyeri hingga ia bergerak untuk memijit pelipisnya pelan.
“Ku dengar hal ini sudah di ketahui Presdir Han dan beliau benar-benar sangat marah, direktur.” imbuh Jihyun dengan nada rendah yang terdengar penuh tekanan.
Mata Taehyun kembali menatap ke arah Jihyun. Ada gurat khawatir dalam tatapannya dan ia tampak berdecak kesal sembari menghembuskan nafas panjang dari bibirnya. Jari-jari Taehyun menyusup kedalam saku tuxedonya dan segera mengambil ponselnya. Ia menatap layar ponsel itu sejanak dan mulai menghubungi seseorang. Sementara menunggu nada sambung dari ponselnya ia kembali menatap Jihyun dan menanyakan keberadaan sekretarisnya.
“Lee Baekki, dimana?”
Jihyun menggeleng. Ya, gadis itu memang sama sekali tak mengetahui dimana keberadaan kekasihnya. Baekki bahkan tak menghubunginya sejak semalam. Terakhir kali Baekki menelponnya, ia hanya berkata bahwa mungkin ia akan benar-benar sibuk besok. Dan Baekki meminta Jihyun untuk menjaga dirinya, berhati-hati dengan sekitarnya dan tetap waspada. Sungguh, sampai detik ini Jihyun pun masih bingung dengan apa maksud dari perkataan Baekki. Tapi ia cukup yakin bahwa laki-laki itu hanya tak ingin sesuatu buruk terjadi padanya.
.
.
.
-To Be Continue-
.
.
.
Author’s Note:
.
.
Kira-kira dimanakah Baekkie? Apakah ada hubungannya antara kepergian Baekki yang misterius dengan bocornya desain perusahaan? Ulah siapakah ini?
Simak kelanjutannya di bab selanjutnya ya..
Semoga kalian suka..
Kritik, saran, like dan ulasannya selalu aku tunggu.
At the last, thank you to read this story..
I Purple You..
.
.
With Love,
ByunRa93_
__ADS_1