
_Previous Chapter_
.
.
“hyun, cepat turun kebawah! Siapkan mobil! Kita harus segera membawa Nara kerumah sakit!”
Baekki segera berlari menuruni pegunungan itu untuk menunggu Taehyun di bawah sana. Saat itu Taehyun berniat mendekati tubuh istrinya, namun Hyeri tiba-tiba menahan lengannya.
“Taehyun-ah, kau akan pergi. Apa yang--”
“Manager Shin, bawa Hyeri bersamamu..” ucap Taehyun pada Jihyun. Ia melepaskan tangan Hyeri di lengannya dan berlari ke arah Nara. Masih dengan sikap dinginnya, Taehyun meraih tubuh istrinya dari pangkuan Jaehyun. Ia mengangkat tubuh itu, kemudian berjalan turun tanpa mengatakah sepatah katapun. Pandangan Taehyun menggelap, ia benar-benar takut terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.
Mendapati tubuh Nara tak lagi berada di pangkuannya, Jaehyun berdiri. Ia menatap punggung Taehyun yang menjauh dalam tatapan yang sungguh menyakitkan. Ia masih menangis, masih merasakan sakit di ulu hatinya ketika menatap kondisi Nara tadi.
.
.
.
***
.
.
.
I can arouse your curiosity by saying difficult words
I can spend this night with that common game
But I want you to know my heart now
I will love you more than anyone in this world
I will love you until always, I will love you..
.
.
.
“My Possessive Husband”
©ByunRa93_
.
.
.
Jaehyun duduk pada sebuah bangku putih di taman villa keluarga Han. Tepat dibawah pohon Ek yang sedang bersemi mengikuti sang musim. Kepalanya tertunduk dalam, tangannya masih bergetar, sedang matanya tak pernah lepas dari telapak tangan kirinya yang masih bersimpuh darah. Bukan darahnya, melainkan darah gadis yang begitu ia cintai. Darah Kim Nara, gadis kecilnya yang sejak dulu begitu ia sayangi.
Jaehyun menengadahkan kepalanya, menatap langit diatasnya yang putih tertutup awan-awan tipis yang menggulung. Nafasnya mendesah dengan parau. Ia memejamkan matanya lelah, kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel hitam miliknya. Perlahan dan masih dengan bibir yang terus menggumamkan doa untuk Nara, Jaehyun menghubungi seseorang melalui ponselnya.
“Hallo, Ahjumma. Ini Jaehyun..” sapanya pelan.
Ia bisa mendengar suara wanita paruh baya itu terdengar masih begitu ramah dan bersahabat saat menjawab panggilan telponnya.
“Ahjumma, tolong dengarkan ini dengan tenang. Dan jangan terlalu khawatir..” Ia memberi jedah pada ucapannya, membiarkan seseorang di ujung sambungan telepon itu mengatur nafasnya yang masih terdengar normal.
“N-Nara..”
“Nara? Ada apa dengan Nara?” tanya wanita itu melalui ujung telepon.
“Ahjumma, Nara terjatuh saat mendaki gunung hari ini. Kepalanya terbentur sebuah batu hingga Taehyun terpaksa harus membawanya ke rumah sakit. Sekarang Nara ada si rumah sakit Seoul..” Jaehyun menghembuskan nafasnya berat ketika mendengar suara Yumi di ujung telepon yang terdengar bergetar. Wajar jika wanita itu khawatir akan kondisi putrinya, mengingat trauma yang Nara miliki.
“Ahjumma, tolong jangan terlalu khawatir. Aku sudah mengirimkan seorang supir untuk menjemputmu di daegu. Jadi bersiap-siaplah.”
“PHIP..” sambungan telpon itu terputus. Jaehyun terlihat begitu khawatir hingga ia kembali menundukkan kepalanya resah. Saat itu ia bisa mendengar derap langkah seseorang yang berjalan mendekatinya. Namun, Jaehyun masih tak peduli. Masih bertahan pada posisinya dan tak sedikitpun tergoda untuk mengangkat kepala. Bisa ia rasakan seseorang tengah duduk disampingnya, memandangnya lekat\-lekat seolah tengah memperhatikan wajahnya baik\-baik.
“Direktur..” tegurnya ragu. Jaehyun pada akhirnya mendongak, menatap seseorang disampingnya sambil mengernyitkan dahinya malas.
“Ini..” gadis itu mengulurkan sekaleng orange juice pada Jaehyun. Sepertinya ia cukup tau kondisi laki-laki itu yang sedang resah. Dari sorot matanya, ia seolah tengah meminta Jaehyun untuk mempercayainya.
“Bolehkah aku bicara sebagai Cho So Yeon teman SMA mu, dan bukan sebagai Cho So Yeon designer di kantormu?”
Jaehyun tak berniat menjawab, tapi priaitu membuka kaleng minuman yang tadi So Yeon berikan. Hingga gadis itu berfikir bahwa Jaehyun memberinya ijin untuk berbicara lebih jauh.
“Aku tau kau begitu khawatir. Aku tau kau masih peduli padanya. Tapi harusnya kau tak perlu bersikap seperti itu..” So Yeon meraih sebelah tangan Kiri Jaehyun yang terlihat penuh dengan darah. Dengan begitu perhatian, ia membersihkan noda itu dengan tissue basah yang memang sengaja ia bawah. Awalnya Jaehyun terlihat risih. Ia beberapa kali berusaha menarik tangannya, namun So Yeon masih bersikeras untuk membersihkan noda-noda darah itu.
“Apa maksudmu?”
So Yeon tersenyum dingin. “Kau bahkan tak sadar puluhan karyawan memperhatikanmu sedari tadi. Kau pikir mereka tak curiga ketika melihat direktur mereka menangisi adik iparnya yang terjatuh? Kau bahkan jauh terlihat khawatir dibanding Taehyun yang notabennya adalah suami Nara..” So Yeon menghentikan sejenak ucapannya. Gadis itu mengambil nafas panjang sambil masih begitu serius memegangi jemari-jemari Jaehyun dan membersihkannya. “Kau masih mencintainya?”
“Kau tau bukan, aku akan selalu mencintainya..”
“Dan kau tau, aku senang melihatmu akhirnya tau apa itu perasaan terluka ketika seseorang yang kau cintai sama sekali tak melihatmu. Tak lagi menganggapmu penting di hidupnya..”
Kini giliran Jaehyun yang tersenyum sinis. Ia **** senyum kecil di bibirnya saat menatap gadis di hadapannya. Cho So Yeon, seorang gadis yang sedari dulu memang mencintainya dengan segala kesederhanaannya. So Yeon bahkan tau bahwa Jaehyun tak sekalipun menatapnya. Tak sekalipun menganggap kehadirannya. Namun, sialnya perasaan gadis itu tak kunjung hilang walaupun bertahun-tahun telah berlalu. Bahkan bekerja di Han’s Group hanya So Yeon lakukan demi melihat pria itu. Demi mengikuti jejak hatinya yang terus tertuju pada satu titik. Dan akan selalu menuju pada satu titik ujung, yaitu Han Jaehyun.
“Kau masih menyukaiku Cho So Yeon..!” ucap Jaehyun yang syarat akan tuduhan.
So Yeon hanya bisa tersenyum. Terluka? Yah, sedari dulu harga dirinya memang telah jauh terluka karena mencintai Pria bermarga Han ini. Tapi toh inilah cinta. Sejauh apapun hatimu terluka, sejauh apapun dia menginjakmu, tapi perasaan itu bukan sebuah rasa sesaat yang akan dengan mudah hilang. Ia menghentikan gerakan tangannya untuk membersihkan telapak tangan Jaehyun dan beralih menatap pria itu dengan pandangannya yang terlihat begitu teduh.
“Begitukah menurutmu? Lalu apa ketika aku mengatakan aku masih menjadi Cho So Yeon yang dulu. Yang masih selalu mengikuti hatimu, apa kau akan mencintaiku? Apa kita akan berkencan kemudian menikah?” So Yeon meneguk air liurnya susah setelah mengatakannya, tenggorokannya terasa tercekat walaupun ia masih terus mencoba menetralkan raut wajahnya sedatar mungkin.
__ADS_1
“Tidak. Aku akan mengambil gadisku kembali. Aku akan membawa Nara kembali ke sisiku..”
.
.
.
***
.
.
.
Dilain sisi Taehyun terlihat begitu gugup. Sedari tadi ia masih tak bisa berhenti dan duduk tenang di tempatnya. Ia terus melangkahkan kakinya untuk sedikit berputar-putar kecil di depan sebuah ruangan putih dengan bau obat-obatan yang begitu menyengat. Sesekali ia mengintip melalui kaca kecil di daun pintu ruangan, sambil terus menggumamkan sesuatu yang tak jelas.

“Han Taehyun, bisakah kau duduk dengan tenang? Jangan membuatku pusing!” bentak Baekki yang mulai jengah.
Taehyun masih tak sedikitpun merespon. Bukan ia tak mendengar perkataan Baekki, ia hanya terlalu enggan untuk membalas. Suasana hatinya sedang dalam kondisi yang cukup buruk sekarang. Kepalanya terasa pusing ketika mencium bau anyir darah yang masih melekat di bajunya. Bahkan pandangannya sedari tadi menggelap.
“Cklek..” daun pintu ruangan itu terbuka. Seorang gadis dengan jas putih yang melekat di tubuhnya terlihat berjalan keluar dengan sedikit tergopoh. Taehyun segera menghalangi jalan gadis itu, memaksanya berhenti sejenak dan memberi penjelasan akan kondisi istrinya yang sedang bertaruh memperjuangkan hidupnya di dalam sana.
“Suster bagaimana keadaan istriku? Katakan bagaimana keadaannya..” ucap Taehyun memohon.
“Maaf tuan, saya harus segera pergi. Istri anda masih tak sadarkan diri. Ia kehilangan banyak darah. Permisi..” jawab suster itu sebelum ia melanjutkan langkahnya untuk sedikit berlari kecil kemudian kembali dengan sekantong darah segar di tangannya. Pintu itu kembali tertutup.
Taehyun kembali duduk. Kali ini ia terlihat jauh lebih tenang. Ia hanya beberapa kali menghela nafas panjang sambil menyandarkan kepalanya pada dinding rumah sakit yang dingin. Matanya terpejam dengan dahi yang mengerut. Suasana benar\-benar hening, sampai derap langkah seseorang perlahan mulai mendekat.
“Taehyun-ah..” panggil Yumi dengan nada suaranya yang bergetar. Wanita itu menangis dalam pelukan suaminya.
Taehyun membuka matanya, menatap wajah mertuanya dengan sangat menyesal. Ia meraih tangan Yumi dan menggenggamnya erat. Taehyun tertunduk sambil terisak.
“Maafkan aku, eomma. Aku benar-benar minta maaf”, rancaunya.
Melihat menantunya yang begitu khawatir, Yumi melepaskan pelukan Jaemin di bahunya. Wanita itu berjalan mendekati tubuh sang menantu dan memeluknya. Jemari Yumi membelai punggung Taehyun sambil masih menguraikan air mata di pelupuk matanya.
“Maaf, eomma. Aku tak menjaga Nara dengan baik. Aku mohon maafkan aku..”
“Sudahlah Taehyun, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini sudah takdir yang harus Nara jalani.”
Yumi melepaskan pelukannya. Ia membelai pipi Taehyun sambil menghapus air mata yang mengalir dari mata elangnya.
“Dia akan baik-baik saja Taehyun-ah. Jangan khawatir..” ucap Yumi yang berusaha menenangkan. Sedang Jaemin, sedari tadi laki-laki itu terus menanyakan kejadian dan keadaan Nara pada Baekki.
Suasana kembali hening. Taehyun masih terus tertunduk sambil mendoakan istrinya agar tetap bertahan melalui ini. Jaemin tak pernah sekalipun melepaskan pelukannya dari bahu Yumi istrinya, yang tampak masih belum bisa mengendalikan rasa khawatirnya yang begitu berlebihan. Sampai akhirnya pintu ruangan itu terbuka. Kali ini laki\-laki dengan jubah putih yang keluar dari sana. Ia terlihat melepaskan masker dari wajahnya sambil menatap ke arah Taehyun lelah.
“Dokter bagaimana keadaan anak saya?” tanya Jaemin. Sang dokter terlihat menghela nafasnya panjang. Ia memperhatikan satu persatu keluarga Nara, kemudian menepuk pelan bahu Taehyun yang tampak putus asa.
Disaat bersamaan, keempat orang yang sedang berdiri di depan ruang operasi itu tampak bernafas lega mendengar penjelasan dokter. Seperti mereka tengah mendapat pasokan oksigen yang begitu berlimpah dari Tuhan. Sungguh, mereka sangat bersyukur akan ini.
.
.
***
.
.
Nara tengah dipindahkan ke ruang inap beberapa saat yang lalu. Kini Taehyun duduk disamping ranjang kecil berwarna putih dimana istrinya tengah terbaring lemah. Nara masih belum juga sadar, sekalipun kini telah melewati jam makan siang. Bahkan beberapa jam lagi mungkin matahari akan tenggelam di ufuk. Tapi sepertinya gadis itu masih begitu menikmati tidurnya yang tenang. Taehyun terus menggenggam jemari istrinya. Menatap wajah tak berdosa itu dengan pandangan menyesal yang teramat sangat.
“Pergilah makan. Kau bahkan melewatkan makan siangmu Taehyun-ah. Eomma akan menjaga Nara..” Yumi menyentuh bahu menantunya. Membujuknya untuk setidaknya sejenak bangkit dari sana, mengingat sejak beberapa jam yang lalu menantunya itu terus menolak ketika diminta pergi makan. Atau ketika ia menyuruhnya untuk istirahat. Taehyun seperti tengah menebus kesalahannya dengan menunggui istrinya tanpa sedetikpun mau untuk meninggalkannya.
“Nanti saja Eomma..” elak Taehyun untuk yang kesekian kalinya.
“Eomma tau kau sangat khawatir, tapi kau juga harus makan. Sebentar lagi bahkan masuk jam makan malam. Pergilah, eomma akan menjaga Nara dengan baik. Kau harus sehat, agar kau bisa menjaganya. Jadi pergilah makan, humm..”
Kali ini Taehyun tak lagi menolak. Setidaknya ia tau apa yang Yumi katakan benar. Ia mendesah pelan, sejenak menatap kembali wajah cantik istrinya kemudian berdiri dari tempatnya duduk.
“Eomma, tolong jaga Nara. Beritahu aku kalau dia sadar, eomma..” pintanya
“Aku mengerti, sudah sana pergilah. Sekalian ganti pakaianmu. Lihatlah banyak bercak darah disana.” Yumi menunjuk baju Taehyun yang penuh dengan darah.
Taehyun hanya mengangguk singkat. Perlahan ia mulai melangkah pergi dari ruangan itu. Ia menutup pintu ruang inap itu dengan hati-hati, seolah tak ingin membuat istrinya terganggu.
.
.
.
***
.
.
.
Seoul Hospital, 07.00 PM
.
.
Langit diluar sana terlihat menggelap. Gemuruh suara angin seolah tengah mengalun begitu syahdu mendendangkan alunan musik klasik hingga membuat gadis itu masih terus bertahan dalam tidur panjangnya. Mata Nara masih tertutup, tak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda ia akan membuka matanya. Bahkan jari-jari tangannya masih tergeletak tenang disamping tubuhnya. Nara, gadis itu terlihat begitu tenang. Lain halnya dengan Yumi yang sedari tadi terus menunggu, memperhatikan setiap perubahan pada raut wajah anaknya yang beberapa saat lalu sempat mengernyitkan dahinya sejenak.
__ADS_1
“Sudahlah. Kau istirahat saja..” ujar Jaemin saat menatap raut jawah istrinya yang terlihat lelah. Yumi menggeleng. Ia menatap kembali wajah putrinya.
“Nara, bangunlah sayang. Kau tak lelah terus berbaring disana? Bangunlah, sayang..” gumam Yumi sambil menggenggam erat tangan anaknya. Seolah menggunakan batinnya untuk berkomunikasi dengan putri kesayangannya.
Menurut banyak orang, hati ibu dan anak memiliki sebuah ikatan tak kasat mata namun begitu erat. Tampaknya inilah yang tengah terjadi diantara ibu dan anak ini. Nara seolah merasakan hatinya menghangat ketika jemari tangan Yumi menggenggam tangannya. Perlahan tangan-tangan kecil milik Nara mulai bergerak. Merespon sentuhan tangan Yumi, kemudian membuka sedikit demi sedikit kelopak matanya.
Saat sinar putih lampu neon diatasnya perlahan mulai masuk, menembus lensa matanya yang kecoklatan, saat itulah Nara perlahan mulai dapat melihat wajah ibunya.
“e-eom-eomma..” pantaunya lirih.
“Nara, kau sudah sadar? Oh Tuhan terimakasih..”
“Iya. Ini eomma, Nara. Ini eomma..” Yumi membalas panggilan putrinya dengan begitu antusias bahkan ia tak kunjung menyadari bahwa air matanya mengalir dengan sendirinya melalui kedua pelupuknya.
“Kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?” tanya Yumi memastikan.
Nara masih berusaha untuk mendudukkan tubuhnya. Jaemin yang melihat usaha anaknya tak berdiam diri. Laki-laki itu membantu Nara, memegangi punggungnya dan menegakkan bantal di belakang Nara agar gadis itu bisa menyandarkan punggungnya dengan nyaman.
“Kau baik-baik saja?” tanya Jaemin khawatir.
Nara hanya mengangguk, namun sedetik kemudian ia terlihat mengaduh kesakitan ketika merasakan kepalanya berdenyut dengan begitu nyeri.
“Kau baik-baik saja? Appa panggilkan dokter sebentar..” ucap Jaemin yang mulai panik. Ia segera berlari keluar dari ruangan untuk memanggil dokter.
Dokter paruh baya itu terlihat memeriksa keadaan Nara. Ia mengarahkan senter ke arah mata Nara kemudian menanyakan beberapa pertanyaan untuk memastikan gadis itu masih mengingat semua memorinya. Setelahnya sang dokter terlihat tersenyum pada kedua orang tua Nara.
“Syukurlah dia baik-baik saja. Rasa nyeri itu hanyalah efek dari jahitan di kepalanya yang belum mengering. Beberapa hari lagi pasti sudah sembuh. Baiklah Nara, istirahatlah dengan baik..” ucap doker itu sambil tersenyum pada Nara. Kemudian ia mulai berjalan meninggalkan mereka.
“Syukurlah..” gumam Yumi yang langsung memeluk putrinya erat-erat.
“Eomma, aku merindukanmu..” bisik Nara pelan. Yumi tersenyum sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh putrinya.
“Eomma juga merindukanmu, sayang..” jawab Yumi senang.
“Tapi, bagaimana bisa eomma ada disini eoh? Darimana eomma tau aku mengalami kecelakaan?”
“Jaehyun menghubungi eomma. Dia mengirimkan supir ke Daegu untuk menjemput eomma.”
“Benarkah? Jaehyun oppa?”
Yumi menganggukkan kepalanya sebagai isyarat bahwa apa yang anaknya dengar itu adalah benar adanya.
“Lalu dimana Jaehyun oppa? Aku harus berterimakasih padanya. Saat aku tak sadarkan diri, saat aku mengalami kecelakaan itu. Aku mendengar suara Jaehyun oppa memanggilku. Ia menangis sambil terus memanggilku. Apa Jaehyun oppa yang membawaku kemari?”
Belum sempat Yumi menjawab pertanyaan putrinya tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka. Dengan amat tergopoh Taehyun berlari masuk kedalamnya. Ia berhenti beberapa langkah dari ranjang tempat Nara duduk, sambil menatapnya. Masih antara takut untuk mendekat dan rasa khawatir yang begitu menguasai. Taehyun masih nampak tertegun menatapi wajah istrinya. Sedang Nara kini justru menatapnya jijik. Gadis itu segera memalingkan wajahnya ketika manik matanya dan Taehyun bertemu. Ia sengaja menghindari kontak mata dengan suaminya.
“Oh Taehyun-ah, kemarilah..” ajak Yumi yang sepertinya perlahan-lahan mulai bisa mencerna keadaan. Ia tau putrinya sedang marah, tapi mau tidak mau mereka tetap harus menyelesaikan masalah mereka. Taehyun berjalan mendekat sampai kini ia berdiri disamping ranjang Nara. Yumi menjauh, memberikan ruang sepenuhnya bagi Taehyun untuk mendekati istrinya. Namun, Yumi dan Jaehyun masih memperhatikan mereka dari belakang.
“Kau sudah sadar? Kau baik-baik saja? Apa kepalamu sakit? Bagaimana keadaanmu?” tanya Taehyun khawatir.
Nara melirik sekilas wajah suaminya kemudian rahang gadis itu terlihat mengeras. “Apa yang kau lakukan disini! Tak perlu berpura-pura peduli padaku, Han Taehyun! KELUARLAH! Aku tak ingin melihatmu!” dengus Nara tajam.
“Aku tau kau marah tapi aku benar-benar mengkhawatirkanmu, Nara..”
“KAU TAK DENGAR APA YANG KU KATAKAN! KELUAR DARI SINI, HAN TAEHYUN!” teriak Nara keras diiringi dengan air matanya yang bergerak turun. Ia tak tau kenapa ia menangis. Ia juga tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Tapi yang ia tau ia merasakan hatinya sakit. Ia merasa terkhianati.
“Maaf, Nara. Maaf..”
“AKU MEMBENCIMU TAEHYUN-AH! AKU MEMBENCIMU!” Nara merancau. Kali ini ia bahkan mengambil bantal di punggungnya dan melemparkannya kasar pada Taehyun. Ia masih menangis namun tiba-tiba tubuhnya melemah dan sedetik kemudian, ia pingsan di atas ranjang putih rumah sakit itu.
“Nara..” teriak Taehyun yang langsung meraih tubuh istrinya.
“Kim Nara..” Pantaunya lagi. Kali ini, Taehyun bahkan mengoyak tubuh Nara agar terbangun.
“Nara, ku mohon jangan membuatku khawatir..”
“Kim Nara...” Taehyun terus memanggil nama istrinya, sementara mertuanya berlari memanggil dokter.
.
.
.
-To Be Continue-
.
.
.
Author’s Note:
.
.
Kira-kira apa yang terjadi pada Nara kali ini?
Apakah dia benar-benar tak akan memaafkan Taehyun?
Semoga kalian masih berkenan buat baca. Kritik, saran, like dan ulasannya aku tunggu ya..
.
.
With love,
ByunRa93_
__ADS_1