My Possessive Husband

My Possessive Husband
She is My Mom


__ADS_3

Han’s Group – 20.00 KST


December, 23th 2019


My Possessive Husband


©Byunra93


Malam itu udara di luar sangat lah dingin. Salju sudah mulai turun sejak beberapa hari yang lalu dan berbagai pernak pernik natal mulai tampak menghiasi Seoul dengan warna merah, putih dan hijau. Entah apa yang kini laki-laki itu pikirkan, tapi ia terlihat begitu serius ketika memutar posisi kursi kerjanya untuk menghadap ke arah jendela kaca besar di belakangnya. Wajahnya masih terlihat sama, datar dan dingin seperti buliran salju di luar sana. Tapi matanya jelas terlihat sangat resah. Taehyun berulang kali mendesah dan mengusap wajahnya menggunakan telapak tangannya yang tampak pucat.


“Masih tak berniat untuk pulang?” tanya seseorang yang kini tengah berjalan masuk ke ruangan presdir itu tanpa perlu bersusah payah untuk mengetuk atau meminta ijin terlebih dahulu untuk masuk.


Taehyun tak berniat memutar kursi kerjanya kalau hanya sekedar ingin tau siapa yang tengah berani mengusik ketenangannya, bahkan masuk ke dalam ruang kerjanya tanpa permisi. Dari suaranya saja Taehyun sudah bisa menebak jika itu sekretarisnya. Tak mendapati jawaban yang memuaskan, Baekki bergerak semakin dekat. Ia duduk pada sofa di tengah ruangan sambil menyilangkan kakinya anggun. Ia terdengar berdeham sejenak sebelum benar-benar mulai kembali bertanya.


“Kau bertengkar dengan Nara? Tak biasanya kau habiskan malammu untuk berada di kantor. Bukankah kau selalu meminta ijin untuk pulang lebih awal karena ingin menjaga istrimu? Ada apa?”


Kali ini Taehyun memutar kursi kerjanya menghadap ke arah Baekki. Ia terlihat merunduk sejenak, tampak menimbang antara membagi perasaannya ini dengan Baekki atau tidak. Jauh lebih tepat di katakan jika laki-laki itu tengah berfikir, antara mempercayai sekretaris yang sudah ia anggap seperti saudaranya ataukah lebih memilih untuk menyimpan semua ini sendiri. Taehyun **** daun bibirnya sejenak, kemudian meletakkan kedua tangannya yang saling terpaut di atas meja kerjanya.


“Hari ini aboji kembali ke rumah.” Ujarnya singkat.


“Lalu, apa masalahnya? Bukankah itu baik?”


Taehyun menekan pelipisnya yang terasa berat. “Wanita itu juga akan kembali ke rumah..”


“Siapa yang kau maksud?” Baekki menghentikan sejenak ucapannya selagi otaknya mencerna keadaan. Kemudian ia tampak menegakkan tubuhnya saat rasa terkejut datang padanya.


“Yang kau maksud adalah nyonya Kim? I-Ibu-Ibumu? Kim Jira?”


Taehyun mengangguk pelan. “Jujur saja, ini terasa aneh. Aku merindukannya, aku berharap ia kembali, tapi ketika aku mengingat semua yang telah ia lakukan padaku, hatiku sakit, Baek. Dia telah meninggalkanku sendiri. Waktu itu usiaku masih 6 tahun dan aku harus hidup tanpa kasih sayangnya. Dia sama sekali tak peduli padaku. Ia tak pernah tau apakah aku tumbuh dengan baik atau tidak. Ia tak pernah merindukanku. Yang ia lakukan hanya bersenang-senang dengan selingkuhannya itu! Aku marah, aku marah akan tindakannya. Tapi dibalik itu semua aku bahagia ia kembali.”


“Kau merasa canggung, bingung darimana kau harus mulai berbicara padanya?” tebak Baekki yang kemudian mendapat sebuah anggukan setuju dari kepala Taehyun.


“Taehyun-ah, satu yang harus kau tau. Kau telah salah paham terhadap nyonya Jira. Dia bukan tak pernah peduli padamu, hanya saja keadaan yang membuatnya seperti itu. Nyonya Kim juga tak pernah berselingkuh seperti apa yang selama ini kau yakini. Tidak, itu semua tidak benar!”


“Apa maksudmu, Baek? Kau tau sesuatu tentang eomma? Kau menyembunyikan sesuatu dariku?” tatapan Taehyun tampak menajam. Ia mencium sebuah kejanggalan dari raut wajah Baekki saat ini.

__ADS_1


“Maafkan aku karena tak memberitahumu.” Baekki berdiri, ia mendekati meja kerja Taehyun dan kemudian meletakkan sebuah amplop coklat yang semula ia sembunyikan di balik tuxedo yang ia kenakan.


“Bukalah, mungkin itu akan membantumu untuk tau semuanya.”


Taehyun meraih amplop coklat dimejanya, membukanya cepat dan cukup terkejut melihat isi di dalamnya. Puluhan foto di dalam sana menunjukkan gambar sebuah ruangan yang terlihat mirip dengan sebuah kamar dengan banyak sekali bingkai foto dirinya yang tertata rapi. Terlihat gambaran foto-fotonya mulai dari kecil hingga tumbuh dewasa. Bahkan Taehyun bisa melihat foto pernikahannya dan Nara juga berada di tengah-tengah bingkai yang lain, seolah menjadi pusat dan sengaja di cetak dengan ukuran yang paling besar.


“A-apa ini?” gumam Taehyun takjub.


“Kau fans ku?”


“Tidak. Bukan aku, tapi Eommamu. Itu adalah salah satu kamar yang berada di rumah nyonya Kim. Kau bisa lihat itu, eommamu bukan tidak peduli. Ia sangat peduli padamu, Tae. Dan ia sengaja melakukannya, mengamati tumbuh kembangmu dari kejauhan hanya untuk melindungimu dari Nyonya Yoon. Dia adalah orang yang memberikan bukti-bukti kejahatan Nyonya Yoon padaku dan tuam Kim. Dia melakukan segala hal untukmu Taehyun-ah. Bahkan ia harus terluka ketika berusaha mendapatkan suara tuan Hwang untuk menjadikanmu seorang presdir.”


“T-ter-terluka?”


“Eoh. Eommamu terjatuh ketika ia berusaha menghentikan tuan Hwang ketika laki-laki itu terus mengacuhkannya. Lengan kirinya terkilir. Harusnya nyonya kim dirawat waktu itu, tapi ia menolak karena ia bilang jika ia tak berhasil meyakinkan tuan Hwang sekarang maka kau akan ada dalam bahaya besar. Hanya kau yang beliau pikirkan selama ini.”


Sejujurnya hati Taehyun bergetar hebat. Ia tak percaya bahwa eommanya juga begitu mencintainya. Ia bahkan rela melakukan banyak hal hanya demi dirinya. “Itu hanya dia lakukan karena dia merasa bersalah telah menghianati aboji dan meninggalkanku.”


“TIDAK Taehyun-ah! Sudah ku katakan, Nyonya Kim tak pernah berhianat!” Baekki mengambil sebuah rekaman kecil yang tergeletak di atas meja Taehyun dan menyodorkannya sembari meminta pria itu mendengarkan.


Taehyun tak bergeming. Ia tak berniat mengambil benda itu dari tangan Baekki sampai membuat Baekki terpaksa harus menekan tombol on di sana dengan tangannya sendiri. Mulai terdengar pengakuan dari bibi Hyo disana. Ia dengan suara tuanya yang bergetar terdengar menceritakan dengan detail kejadian penjebakan yang dilakukan Nyonya Yoon terhadap Jira. Membuktikan bahwa wanita itu tak bersalah dan semua hanyalah rekayasa yang dilakukan wanita iblis bermarga Yoon itu.


Rahang Taehyun menggeram dan mengeras, sementara jari-jari tangannya mengepal penuh amarah. Tepat ketika rekaman itu berhenti, Taehyun berdiri dari singasana Presdir miliknya dan mengambil tuxedo yang ia sampirkan di punggung kursi. Ia mengenakannya cepat dan berlari keluar dari ruangannya. Meninggalkan Baekki yang kini hanya berdiri diam sambil menggelengkan kepalanya.


“Semoga semua ini segera berakhir..” gumam laki-laki imut itu lirih.


***


Taehyun terlihat tergesa begitu ia masuk ke dalam istana megah keluarga Han. Ia melihat istrinya yang berjalan menghampirinya dengan tertatih. Perlahan Nara menyentuh tangan Taehyun, mengambil alih tas kerja suaminya dan membuka tuxedo hitam yang tengah di kenakan Taehyun. Seperti biasa, Taehyun langsung memberikan sebuah kecupan singkat di dahi Nara. Tapi tak seperti biasanya, laki-laki itu tak bertahan lama dalam mengecapi dahi istrinya karena kini pandangannya tengah sibuk menjelajah seisi rumah untuk mencari sosok wanita yang sedari tadi berada di pikirannya. Nara mengernyit, tampak bingung dengan suaminya.


“Kau kenapa? Apa yang sedang kau cari?” tanya Nara


“Dimana eomma?”


“Eomma?”

__ADS_1


“Eoh.. Dimana eomma?” tanya Taehyun lagi yang kali ini terdengar lebih mendesak


“Di dapur. Kami sedang memasak saat kau menekan bel tadi. Sebenarnya ada ap---“ Nara belum menyelesaikan ucapannya saat Taehyun tiba-tiba berjalan meninggalkannya dan menuju dapur.


Nara sejenak menggeleng bingung, merasa sedikit cemburu ketika suaminya untuk pertama kali mengabaikannya seperti ini. Ia meletakkan tas dan tuxedo Taehyun di meja ruang tengah dan mengikuti langkah kaki suaminya dari belakang.


Begitu sampai di dapur, Taehyun melihat eommanya tengah sibuk menumis masakannya. Tangan\-tangan Jira tampak mengaduk masakannya.


“Kau kembali Nara? Bisakah kau membantu Eomma? Tangan kiriku masih belum bisa di gerakkan dengan baik. Bisakah kau pindahkan sayur ini di tempatnya?” ujar Jira tanpa berbalik. Ia mengira Nara lah yang datang kesana, ia sama sekali tak menyangka yang kini berada di belakangnya adalah putranya.


‘Grebb’


Taehyun memeluk tubuh Jira dalam dekapannya. Ia membiarkan punggung Jira bersentuhan dengan dadanya, dan tangan-tangan Taehyun menyusup di pinggang Jira dan semakin erat memeluk ibunya.


“Eomma, maaf..” bisik Taehyun.


“Maafkan aku, eomma..” ujarnya sekali lagi dengan nada yang terdengar bergetar. Jira meletakkan peralatan memasaknya, mematikan kompor di depannya dan berbalik menatap wajah putranya yang merunduk dalam.


“Taehyun-ah..” gumam Jira yang kemudian balas memeluk putranya dan membelai punggung Taehyun penuh kasih. Bagaimanapun, ini adalah kali pertama bagi ibu dan anak itu untuk saling menatap dan berbicara satu sama lain.


“Eomma, ku mohon maafkan aku..”


“Tidak Taehyun-ah. Kau tak perlu meminta maaf. Jangan lakukan itu..” keduanya saling melepaskan pelukan itu. Jira meraba pipi Taehyun, menyentuhnya penuh haru.


“Kau tumbuh dewasa tanpa aku Taehyun-ah. Maafkan eomma..”


“Kau bahkan tumbuh menjadi pria yang sangat tampan. Dan kau akan menjadi seorang ayah. Sungguh aku merasa aku bukanlah seorang ibu yang baik untukmu, Tae..”


“Tidak, eomma.. Tidak..” Taehyun menggelengkan kepalanya, membuatnya tampak begitu lucu karena di saat itu Jira masih menelangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Taehyun. Ia terlihat seperti seorang anak yang manis ketika berhadapan dengan ibunya. Setidaknya, itulah yang kini tengah berada di pikiran Nara. Perlahan Nara berjalan mendekati suaminya, Membuat ibu dan anak itu sama-sama menoleh ke arah yang sama.


“Eomma, kau membuatku cemburu..” gumam Nara pelan. Ketiganya terlihat tertawa ringan. Taehyun menarik pinggang Nara mendekat dan memeluk wanitanya.


“Maaf karena aku lupa menanyakannya. Bagaimana keadaan anak ku di dalam sana? Dia baik-baik saja?” tanya Taehyun saat melepaskan pelukannya di tubuh Nara. Ia beralih pada perut Nara yang sebenarnya masih begitu rata. Taehyun menyentuh dan mengelusnya pelan.


“Dia hanya sedikit membuatku mual hari ini.”

__ADS_1


“Anak pintar. Jangan membuat eomma mu mual lagi yah sayang..” gumam Taehyun sambil memandangi bagian perut Nara di bawah sana. Jira hanya tersenyum melihat kebahagiaan di raut wajah putranya, juga menantunya.


-To Be Continue-


__ADS_2