
Kini wanita itu berada di kamar Jaehyun. Ia berniat segera keluar dan kembali ke kamarnya tanpa memikirkan hal ini lebih jauh. Tapi langkah Nara terhenti ketika pandangannya menatap nakas disamping tempat tidur Jaehyun. Disana, ia melihat foto itu terbingkai dengan indah. Fotonya bersama Jaehyun dulu. Di foto itu, Jaehyun terlihat tersenyum tulus sembari memeluk bahu Nara yang juga tampak bahagia. Hati Nara mencelos. Kenapa semua jadi seperti ini..?
“Nara..” suara panggilan Taehyun terdengar memekik di luar sana. Nara terlonjak kaget dan melepaskan bingkai foto yang berada di tangannya. Matanya membulat menatap bayangan sosok suaminya yang kini tengah mengamatinya dari ambang pintu.
“T-Tae...”
.
.
.
My Possessive Husband
©Byunra93_
.
.
.
“Tae..”
Nara terus mengejar langkah suaminya yang kini masuk ke dalam kamar mereka. Taehyun tak sedikitpun bicara. Raut wajahnya juga terlihat datar tanpa sebuah emosi, hingga Nara sendiri merasa bingung tentang apa yang saat ini tengah suaminya pikirkan.
“Taehyun-ah..” rengeknya setelah menutup pintu kamar mereka.
“Apa yang kau lakukan disana, humm?”
Nara hanya merunduk dengan wajahnya yang terlihat murung.
“Kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Taehyun yang terdengar melunak.
Bukannya menjawab Nara justru melingkarkan kedua lengannya di pinggang Taehyun. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya yang telah berbalut kemeja berwarna biru terang. Entah kenapa, tapi wanita itu merasa dirinya benar-benar ingin menangis. Tanpa bisa ia tahan, Nara terisak kecil di sana. Membuat Taehyun yang tak tau apa yang terjadi bingung dan cemas.
“Hey, ada apa? Kenapa kau seperti ini?” ujar Taehyun lembut sambil membelai punggung istrinya untuk membuatnya tenang.
“Maaf..” gumam Nara lirih. Ia mengeratkan pelukannya di pinggang Taehyun dan semakin dalam menghirup harum aroma tubuh pria itu yang menguar di indra penciumannya.
Taehyun terdiam. Ia memang tak tau apa yang tengah terjadi. Tapi ia tau kini perasaan wanita itu sedang tak baik. Ia tak ingin lagi mendesaknya. Yang Taehyun lakukan hanyalah mencoba menenangkan sembari menunggu istrinya akan menceritakan yang terjadi.
“Taehyun-ah..” pantau Nara lirih
“Humm?”
“Jaehyun oppa tau kalau aku hamil..” lanjut Nara yang jelas terdengar gamang.
“oh..”
“oh? Kau tak terkejut? Kau tak marah?”
“Aku yakin cepat ataupun lambat dia akan tau. Jaehyun hyung begitu memperhatikanmu. Bahkan mungkin jika terjadi sesuatu padamu dialah orang pertama yang akan tau. Karena itu sering kali aku merasa cemburu padanya. Aku ini suamimu, tapi kenyataannya dia tau lebih banyak tentangmu.” Sahut Taehyun yang terdengar sedikit frustasi.
“Tak masalah jika Jaehyun oppa tau?”
“Dia bukanlah seseorang yang bisa berniat jahat padamu. Dia menyayangimu. Setidaknya saat ini aku bersyukur akan itu. Walaupun terkadang itu juga membuatku marah. Tenanglah, dia tak akan melakukan hal buruk..” Taehyun menyentuh sebelah pipi Nara dan memandang istrinya lembut.
“Tumben hari ini kau tak cemburu pada Jaehyun oppa?”
“Haruskah aku cemburu? Kau milikku. You’re mine, Kim Nara. Dan di dalam sana, kau telah mengandung benih cintaku. Apa lagi yang harus ku khawatirkan. Kau selamanya akan menjadi milikku.” dengus Taehyun yakin. Ia tersenyum penuh ejekan ke arah istrinya yang kini terlihat merengut kesal.
“Cih! Bagaimana jika ku katakan kalau baru saja aku berduaan dengan Jaehyun Oppa di kamarnya?” ucap Nara yang terdengar memprovokasi. Taehyun masih terlihat tenang. Ia justru berjalan mendekati tempat tidurnya dan mengambil dasinya yang tergeletak disana.
“Apapun yang kau lakukan, kau adalah milikku Kim Nara!” Taehyun berbalik dan kembali berdiri di depan Nara. Tangannya mengulurkan dasi berwarna biru tua itu kepada Nara. Menatapnya seolah tengah menyuruh wanita itu mengikatkannya di lehernya. Nara cukup tanggap dan mengerti akan tugasnya setiap pagi. Ia mengambil dasi milik Taehyun dan mulai mengikatnya disana.
“Kau benar-benar tak marah? Kau tak cemburu?” tanya Nara takjub. Kali ini Taehyun hanya menggeleng. Ia masih diam sambil mengamati wajah Nara saat wanita itu mengikat dasi di lehernya.
“Ku beritahu satu hal. Jaehyun oppa masih menyimpan foto ku bersamanya. Ia benar-benar menyimpannya dengan baik.” Kali ini, Taehyun tampak menggeram tertahan.
“Aku rasa Jaehyun oppa masih benar-benar berharap aku kembali padanya.” Taehyun menatap wanita itu tajam. Tapi Nara masih tak memperdulikannya. Entah, ia hanya ingin melihat sampai seberapa jauh Taehyun bisa bertahan dalam mengendalikan rasa marah dan cemburunya yang selama ini sama sekali tak terbendung.
“Jaehyun oppa orang yang baik. Dia adalah laki-laki bijak yang sangat mempesona. Aku berharap---“ belum sempat Nara melanjutkan ucapannya tapi bibirnya sudah lebih dulu di bungkam. Taehyun mencium bibirnya kasar. Sebelah tangan Taehyun melingkar di pinggang Nara, menariknya untuk mendekat dan menempel di tubuhnya. Ciuman Taehyun kali ini benar-benar menuntut. Nara tau laki-laki itu marah. Dari caranya mencium, ia tau Taehyun sedari tadi menahan amarahnya. Meluapkannya melalui ciuman yang kini menghujami bibirnya.
Nara mendorong sedikit dada Taehyun untuk mundur. Taehyun awalnya tak ingin berhenti begitu saja. Tapi tiba-tiba ia teringat akan kehidupan lain yang kini tumbuh di dalam diri Nara. Ia tau jika tetap melanjutkan ini pasti dirinya tak akan bisa menahan diri dan pada akhirnya akan berakhir di tempat tidur bersama Nara. Tidak. Dia harus menghentikannya sebelum ini berdampak buruk bagi janin kecil di rahim Nara. Taehyun melepaskan tubuh Nara dari pelukannya. Ia menatap wanita di hadapannya yang tersengal saat bernafas, mengisi pasokan oksigen di paru-parunya yang berada dalam batas minimum.
“KAU INGIN MEMBUNUHKU??” pekik Nara.
__ADS_1
“Jangan berteriak. Itu tak baik bagi kandunganmu.” Ujar Taehyun santai. Ia berbalik dan mengambil jas nya yang ia letakkan di atas tempat tidur sambil berusaha mengendalikan dirinya agar tak tergoda dan kembali menciumi istrinya lagi.
“Aish! Dasar mesum!” kesal Nara
“Jangan bicara buruk selagi kau hamil!” tegur Taehyun yang sedang menggunakan jas hitam miliknya. Taehyun berjalan mendekati tubuh Nara.
“Jangan lagi memancing ku atau aku akan kembali menciummu. Apapun pemikiranmu tentang Jaehyun hyung dia hanyalah kakak iparmu. Ingat itu!”
Nara mengangguk yakin. “Aku tau..” gumamnya sambil menatap lekat-lekat mata suaminya.
Taehyun berjalan mendekati nakas dan mengambil segelas susu yang tadi di buatnya dan memberikannya pada Nara. “ Minumlah..”
“Ini apa?”
“Susu Hamil. Aku sengaja bangun lebih awal hanya untuk membuatkanmu itu, jadi minumlah. Aku memang tak bisa terus menemanimu dirumah, tapi hubungi aku kapanpun kau menginginkan sesuatu. Dan jangan terlambat makan..” ingat Taehyun yang jauh seperti sebuah peringatan keras yang harus wanita itu patuhi.
“Minumlah.. Aku ingin melihatmu meminumnya..”
Nara meminum segelas susu putih yang tadi Taehyun berikan. Entah apa, tapi Taehyun merasa begitu bahagia hanya dengan melihat wanita itu meminum susu hamil nya. Ada sebuah perasaan yang membuatnya merasa haru. Begitu Nara selesai menghabiskannnya Taehyun segera mengambil gelas di tangannya dan meletakkannya di atas nakas. Ia mendekati tubuh istrinya dan memeluknya penuh cinta.
“Aku pergi ke kantor dulu.. Hati-hati dirumah..” bisik Taehyun di telinga istrinya dan kemudian mengecup singkat pipi kiri Nara sebelum pergi.
.
.
.
***
.
.
.
Ginza – Tokyo, Japan
13 November 2019 - 17.00 PM
.
.
“Really nice to meet you Mrs. Kim. I hope that by doing this mission, I can help you to reach your rightful authority” ujar laki-laki Jepang itu yang terlihat tulus.
“Thank you..”
“I know that it’s really hurt you and I hope it will be the equitable repayment for her.”
“Actually I don’t want anything. I just want to save my Taehyun from her. I don’t want the bad things comes to my son.” Sorot mata Jira menunjukkan kesungguhan wanita itu untuk menyelamatkan putra tercintanya. Nada bicaranya juga terdengar begitu sungguh-sungguh.
“I know your feeling and I promise to help you”
“Thank you, Mr. Nakamoto..”
“See you in Korea Mrs. Kim”
Laki-laki bertubuh kekar di belakang Nakamoto dengan segera membuka pintu mobil mewah sang CEO dan mempersilahkan tuannya untuk duduk disana. Nakamoto kembali menatap Jira sendu, kemudian laki-laki itu menyentuh bahu Jira dan menepuknya pelan. Berusaha menguatkan diri wanita itu melalui sentuhannya. Jira tersenyum ramah. Kepalanya ia tundukkan sedikit dan melambaikan tangannya saat mobil di depannya mulai melaju pelan. Sesaat setelahnya ia segera berbalik dan mengangguk yakin penuh senyum pada Baekki.
“Kita berhasil, Baek..” ujarnya penuh haru. Dan Baekki pun tampak mengangguk menyetujui.
“Aku tau kita akan berhasil nyonya..” Baekki menyambut uluran tangan Jira dan menggenggamnya erat.
“Berapa total saham yang kita miliki?” tanya Jira tak sabar.
Belum sempat Baekki menghitung dengan detail, mobil putih Jira telah sampai di pelataran restoran. Taejun turun dari kursi penumpang bagian depan mobil dan segera membuka pintu bagi sang majikan. Jira dan Baekki masuk ke dalamnya.
“Bagaimana Baek, berapa jumlah saham yang kita miliki?” tanya Jira lagi pada pria muda disampingnya yang tampak membuka catatan kecil disakunya.
“Anda memiliki 10% saham Han’s group. Taehyun secara pribadi mendapatkan 20% saham dari Tuan Han dan Mr. Nakamoto memiliki 8.5% saham. Jika Mr. Nakamoto telah berpihak pada kita maka total kita memiliki 38.5% saham Han’s Group. Dengan kata lain itulah suara yang dimiliki Taehyun saat ini untuk menjadi seorang Presdir.” Terang Baekki sambil menutup kembali catatan kecil miliknya.
Jira terdengar mendesah lirih. Ia menggelengkan kepalanya yang berdenyut nyeri. Sudah sejak 4 hari yang lalu, setelah mendapatkan berita buruk tentang kondisi Han Taekyung, wanita itu telah melakukan segala cara untuk mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Ya, ini memang tak lepas dari rencana buruk Nyonya Yoon. Hari dimana Taekyung di bawa ke rumah sakit, wanita itu justru melakukan pertemuan rahasia dengan beberapa pemegang sahan Han’s Group di Korea. Dan beberapa hari setelahnya ia mengadakan rapat pemegang saham untuk menentukan siapa presdir Han’s Group yang akan menggantikan posisi Taekyung.
Dokter memang mengatakan bahwa kondisi Taekyung tak kunjung membaik. Sudah 4 hari laki-laki itu tak sadarkan diri. Ia koma. Berbagai peralatan medis kini melekat di tubuhnya, terus memeriksa keadaan jantungnya paska operasi. Nyonya Yoon yang licik menggunakan itu sebagai alasan untuk mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan. Dengan berkedok demi kebaikan Han’s Group, ia mengusulkan pemilihan presdir baru Han’s Group pada rapat pemegang saham kemarin. Dan berdasarkan persetujuan hasil rapat akan di adakan voting antara seluruh pemegang saham untuk menentukan siapa diantara Taehyun dan Jaehyun yang akan duduk pada posisi tertinggi di Han’s Group. Dan tentang keputusan itu, Taehyun adalah satu-satunya orang yang menentang keras keputusan itu. Bagaimana mungkin mereka justru lebih berkonsentrasi pada posisi presdir daripada kondisi Ayah nya yang masih terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Ia bahkan sedikit bersitegang pada rapat pemegang saham kemarin.
Tapi toh tak ada yang bisa anak itu lakukan. Nyonya Yoon telah mengatur hal ini sedemikian rupa hingga tak ada celah baginya untuk melawan. Ia bahkan dengan berani merubah isi surat wasiat Tuan Han yang pada intinya memberikan kekuasaan penuh atas Han’s Group pada Nyonya Yoon sampai terpilihnya presdir Han’s Group yang baru.
__ADS_1
Tangan\-tangan Jira terkepal marah ketika ingatan itu menyeruak di otaknya. “Wanita Licik..!” geramnya marah. Lagi\-lagi Jira merasakan sesak di dadanya saat rasa marah itu membuat nafasnya terasa berat.
“Hingga saat ini, siapa saja yang berhasil dia temui Baek?” tanya Jira sulit.
“Berdasarkan laporan Kim Jong In, hampir semua pemegang saham Han’s Group di Korea telah ia temui nyonya” sahut Taejun yang sedari tadi juga turut menyimak pembicaraan nyonyanya.
Jira menggeleng, seolah menepis kenyataan yang ada di hadapannya. “Tidak. Ini tak boleh terjadi. Aku tak akan membiarkannya merebut posisi Taehyun!”
“Taejun-ah, perintahkan pada Jong In untuk tetap mengikuti semua gerak gerik Eun Hee. Dan..” Jira menghentikan sejenak ucapannya. Nada suaranya terdengar melemah.
“Tetap amati perkembangan kondisi Taekyung. Minta dokter Shin melakukan semua yang terbaik yang bisa ia lakukan. Aku ingin dia selamat. Pastikan Taekyung terus berada dalam penjagaan yang ketat”
“Aku mengerti, nyonya..”
Jira terdiam. Hatinya bergetar ketika mengingat kondisi Taekyung saat ini. Suaminya itu tak lagi berdaya kini. Bahkan mungkin ia tengah berjuang dalam hidup dan mati.
“Baek, apa yang harus kita lakukan?” desah Jira lemah.
“Masih ada jalan untuk kita nyonya. Aku mohon jangan putus asa.”
“Apa maksudmu, Baek?”
“Kalau memang Nyonya Yoon berhasil mendapatkan semua suara dari pemegang saham di Korea, maka kita juga harus bisa mendapatkan seluruh suara dari pemegang saham di luar Korea.”
“Ya?”
“Perusahaan tuan Hwang di cina memiliki 15 % saham Han’s Group, dan butik J di paris adalah pihak yang sangat berpengaruh di Han’s Group. Kita masih punya mereka nyonya..”
Ada setitik harapan di balik keyakinan Baekki kali ini. Ia percaya, jauh dalam dirinya percaya bahwa ia akan benar-benat berhasil. Dan ia memang harus berhasil. Sejujurnya Jira dan Baekki telah mengumpulkan berbagai bukti kejahatan Nyonya Yoon selama ini. Mereka bedua memilikinya. Hanya saja tak ada kesempatan bagi mereka untuk menyerang. Nyonya Yoon jauh lebih licik dari apa yang mereka bayangkan. Ini akan menjadi sebuah peperangan akhir antara Kim Jira dan Yoo Eun Hee.
Kalau saja kali ini Taehyun berhasil mendapatkan suara yang jauh lebih banyak dan menjadi presdir Han’s Group, tak kan ada lagi yang Jira takutkan. Ia akan benar-benar membuat riwayat Nyonya Yoon tamat. Ia berani bersumpah atas hal ini.
“Tapi Baek, hubungan ku tuan Hwang tidak lah sebaik hubunganku dengan Mr. Nakamoto. Tuan Hwang adalah tipe orang yang sangat sulit untuk di yakinkan. Dan jangan lupa, kita hanya memiliki waktu 2 hari sebelum voting itu dilakukan. Mampukah kita membujuk tuan Hwang dan butik J untuk berpihak pada kita..?”
“Aku tau, nyonya. Tapi kita pasti bisa. Percayalah bahwa kebenaran tak akan pernah kalah. Kita sudah terlalu banyak menderita. Kita tak boleh melepaskan wanita itu lagi nyonya..”
“Baekki..” rintih Jira sendu.
“Nyonya percayalah kita pasti berhasil..”
Rahang Jira mengeras. Ia bisa melihat kilatan keyakinan di mata sabit Baekki yang kini menatapnya penuh harap. Ia mengeratkan genggaman tangannya yakin dan membalas tatapan Baekki penuh hasrat.
“Ya, kita bisa!” teguhnya. Ia menatap ke arah Taejun setelahnya.
“Taejun-ah, kemasi semua barang kita. Siang ini juga kita terbang ke Cina!” tukasnya
“Dan Baekki, kau buatlah janji dengan tuan Hwang. Katakan padanya kita akan ke cina”
“Aku tau, nyonya..”
.
.
.
__To Be Continue__
.
.
.
Author’s Note:
.
.
Semoga kalian masih berkenan buat baca. Terimkasih sudah singgah..
Jangan lupa like, komen, dan review nya ya..
.
.
__ADS_1
With Love,
Byunra93_