My Possessive Husband

My Possessive Husband
Memories


__ADS_3

Minyeo, [Kedai Kecil di Pinggiran Kota Seoul]


08.00 PM


Langit diatas sana tampak temaram. Gelapnya sang malam seperti tengah menggambarkan sebuah kesendirian bagi orang-orang yang tengah terluka. Nara sengaja memilih tempat duduk di pinggir. Disamping sebuah jendela kaca yang dengan begitu jelas menampakkan hiruk pikuk orang yang sedang berlalu lalang di sekitar kedai. Masih dengan perasaan yang memburuk, Nara terus menerus memperhatikan orang-orang diluar sana. Pikirannya masih kosong, tak bisa memikirkan apapun dengan benar. Di depannya segelas coklat panas terlihat mengepul, namun belum juga ia sentuh. Ia masih sibuk dengan pemikirannya tentang perceraian.


Nara memaksa memorinya untuk terbuka. Mengingat kembali bagaimana caranya untuk hidup di masalalu tanpa seorang Han Taehyun. Tapi seperti ada pembatas di dalam memorinya hingga ia tak bisa mengingat kembali saat-saat itu.


“Kau kenapa, Nara? Hari ini kau terlihat tidak baik..” tegur nenek Shin pemilik kedai.


Wanita tua itu memang sudah mengenal Nara dengan sangat baik, mengingat sejak masa SMA, Nara selalu datang ke kedai ramyeon miliknya. Bahkan nenek Shin selalu ingat dengan minuman favoritnya. Segelas coklat panas dengan banyak krim dan sedikit gula. Sang nenek menggenggam tangan Nara. Mengelusnya pelan seperti tengah menenangkan pikiran anak muda dihadapannya.


“Aku akan bercerai nenek..” ucap Nara yang terdengar seperti sebuah rintihan.


“Apa? Bukankah kau sangat mencintai suamimu Nara? Apa yang membuat kalian memutuskan untuk bercerai?”


Dititik itu air mata Nara mengalir dengan sendirinya tanpa bisa ia bendung. Hatinya terasa begitu sakit. Memikirkan bagaimana kehidupannya setelah ini, membuatnya begitu terluka. Ia tak bisa menemukan titik terang untuk menjalani hidup tanpa Taehyun. Tanpa suaminya, tanpa laki-laki yang begitu ia sayangi.


“Nenek..” rintih Nara saat ia merasa hatinya semakin sakit. Air matanya turun dengan semakin deras.


“Nara-ah tenanglah.. Selesaikan semuanya baik-baik..” nenek Shin terus membelai punggung Nara dengan lembut dan mencoba membuatnya merasa nyaman.


Nara masih menikmati coklat panas di tangannya, membiarkan rasa pahitnya bercampur dengan rasa manis gula dan krim dalam mulutnya. Beberapa kali ia tampak menghembuskan nafasnya berat. Namun ketika ia mengingat kembali perkataan nenek tadi, hatinya terasa sedikit lebih baik.


“Nara, pernikahan itu seperti musim yang akan selalu berputar. Ada kalanya kita merasa begitu bahagia. Merasa dicintai dan semua terasa begitu indah. Seperti musim semi yang selalu dinantikan. Tapi ketika kemudian musim hujan datang, hanya petir, guntur dan gelapnya langit yang selalu mewarnai. Akan ada saat dimana masalah mulai satu persatu muncul ke permukaan. Ada saat dimana perbedaan dua insan terasa begitu berat untuk di satukan. Saat itu, air mata akan dengan begitu mudah turun dari pelupuk matamu. Dan kau akan merasakan sebuah ketakutan akan kesendirian.” Nenek itu menatap Nara dalam.


“Hati manusia akan merasakan sesuatu yang kering dan gersang ketika musim gugur tiba. Dan itu semua akan semakin menjadi ketika musim dingin. Sebuah saat dimana kau merasa seluruh hatimu membeku. Namun setelah musim dingin menghampiri, akan selalu ada musim semi yang hangat. Jika sekarang kau sedang dalam saat-saat yang sulit maka percayalah jika sebentar lagi kau akan mendapatkan sesuatu yang indah, Nara. Percayalah pada suamimu..” ucapan nenek shin kembali berputar dalam benaknya.


Sejujurnya Nara tak sebegitu mengerti akan ucapan wanita tua itu yang terdengar rumit dan klise.Tapi entahlah, seperti ada sebuah keyakinan dalam hatinya saat mendengar itu. Kembali, Nara menyesap sedikit coklat dicangkirnya yang mulai dingin. Tanpa ia sadari pandangannya kini menatap kearah pintu masuk, dimana sosok seorang laki-laki tengah berdiri disana. Ia tersenyum sambil melambaikan sebelah tangannya kearah Nara. Matanya terlihat teduh ketika menatap gadis itu. Dan ada seutas ketulusan dari balik senyumnya. Jaehyun berjalan perlahan mendekati Nara. Ia menarik sebuah bangku di depan Nara, sesaat setelah ia sampai dihadapannya.


“Kau masih mengingat tempat ini? Kau masih sering kemari?” tanya pria itu dengan raut wajahnya yang selalu terlihat tenang. Kali ini Nara meneguk liurnya susah. Ia kembali menatap jalanan diluar sana dari balik jendela kaca tanpa memberikan penolakan. Karena memang nyatanya ia selalu datang ke tempat itu ketika hatinya tengah gundah.


“Selamat Ulang Tahun, Nara..” gumam Jaehyun penuh senyum. Dia berhasil membuat Nara memalingkan pandangannya untuk menatap Jaehyun sepenuhnya.


“Mau merayakannya seperti dulu?” ajak Jaehyun yang mengarahkan sebelah tangannya ke arah Nara. Pria itu masih menunggu Nara menyambut uluran tangannya dengan begitu sabar. Raut wajahnya terlihat begitu tenang.


Setelah cukup lama mempertimbangkan, akhirnya Nara menerima uluran tangan Jaehyun dan disaat yang bersamaan Jaehyun menggenggam tangan itu erat-earat seolah enggan untuk melepaskannya sekali lagi. Keduanya berdiri dan meninggalkan tempat itu dengan Jaehyun yang terus menggandeng tangan Nara.


Masih dengan berjalan kaki, Jaehyun terus menggenggam tangan Nara. Senyum tak pernah terepas dari bibirnya. Mereka melewati sebuah gang sempit ditengah pemukiman padat penduduk. Keduanya terlihat sudah hafal betul tentang kawasan ini. Hingga suasana yang gelap bukan lagi menjadi sebuah hambatan.


Mereka sampai di ujung belokan kecil yang menghadap sebuah taman bermain yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal Jaehyun dulu. Nara menatap sekelilingnya. Sejenak ia hanyut dalam ingatan masalalunya. Sampai pelukan Jaehyun di bahunya membuatnya kembali tersadar.


“Kenapa? Kau masih mengingatnya bukan?” tegur Jaehyun yang tersenyum mendapati usahanya tak sia-sia. Nara kembali mengingat saat-saat kebersamaan mereka.


“Ayo kita rayakan ulang tahunmu..” Jaehyun mengangkat kotak yang sedari tadi ia bawa di depan Nara. Sebuah kotak kecil yang berisi kue ulang tahun yang memang sengaja ia beli.


“Kita tak akan merayakannya di atas jembatan papan seluncur itu kan?” tanya Nara yang hanya dibalas dengan hardikan bahu dari Jaehyun.


“Ya! Itu kekanak-kanakan Oppa!”


Sepertinya Nara mulai bisa mengendalikan perasaannya yang sedang sedih. Bahkan kini gadis itu mulai bisa menguntai senyum di bibirnya. Percaya ataupun tidak, kehadiran Jaehyun sangatlah berpengaruh terhadap perubahan moodnya. Kehadiran Jaehyun selalu memberinya kekuatan.


“Memangnya kenapa? Bahkan sampai usiamu 17 tahun kita masih selalu merayakannya disana. Dan aku rasa itu benar-benar sangat romantis dan manis Nara-ya..” Jaehyun sengaja menyentuh daun bibirnya, membuat semu merah seketika muncul di tulang pipi Nara ketika ingatan itu kembali muncul diotaknya. Ingatan perayaan ulang tahunnya yang ke 17. Kali itu Nara memang tengah merayakan ulang tahunnya dengan Jaehyun di atas sana. Dan saat itu Jaehyun dengan tiba-tiba menciumnya.


“Oppaaaa..” rajuk Nara, sedang Jaehyun hanya terkekeh mendengarnya. Pria itu mengapit bahu Nara dan membimbingnya untuk naik ke atas anak tangga menuju jembatan papan seluncur yang terletak ditengah taman.


***


Disisi lain kini Taehyun tengah kesal ketika Nara tak kunjung menjawab panggilan ponselnya. Tak henti-hentinya ia mencoba menghubungi istrinya walaupun ia tau hasilnya akan tetap sama. Nara masih marah, dan ia bisa memastikan bahwa gadis itu tak akan menjawab telponnya.


“Baek, bisakah kau lebih cepat..?” bentaknya dari bangku belakang kemudi pada sang sekretaris yang memang tengah memegang kendali mobil putih itu. Jihyun yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas pasrah.


“Diamlah atau aku turunkan kau disini!”

__ADS_1


“Kau sadar? Kau sedang membentak atasanmu, Baekkie!” ingat Taehyun


“Dan aku tak peduli” baiklah Baekki memang sudah merasa lelah dengan semuanya. Hingga sedikit saja orang memancingnya, maka akan segera terjadi pertengkaran disana. Beruntungnya Jihyun sedari tadi terus menggenggam tangan Baekki, mencoba meredam segala bentuk emosi yang terlihat bergejolak dalam diri kekasihnya.


“Baiklah,, baiklah..” Taehyun kembali menyandarkan punggunngnya sambil terus menghubungi istrinya.


Cukup lama mobil itu berjalan hingga mereka sampai pada sebuah kedai kecil di pinggiran kota Seoul yang terlihat sepi. Jihyun segera turun dari mobil dan berlari menghampiri seorang wanita tua yang tengah menutup kedai miliknya itu.


“Nenek..” panggil Jihyun. Wanita tua itu berbalik dan menatap gadis itu dalam diam.


“Nenek, kau masih mengingatku? Aku Jihyun, teman Nara. Apa Nara datang kemari hari ini?”


Wanita tua itu mengerutkan dahinya. Ia mengamati wajah Jihyun dengan seksama. “Kau mencari Nara?” tanyanya kemudian. Dengan segera Jihyun mengangguk memastikan.


“Tadi dia kemari, tapi seorang laki-laki membawanya pergi.”


“Laki-laki?” ucap Taehyun menambahkan.


“Iya. Sepertinya dia teman masa SMA Nara. Dulu dia juga sering datang berasama Nara”


Ketiganya saling melempar pandang kemudian kembali menatap nenek shin dengan sungguh-sungguh.


“Maaf Nenek, kau tau kemana mereka pergi?” tanya Baekki. Sang nenek menggelengkan kepalanya perlahan, kemudian ia mulai terlihat meninggalkan ketiga anak muda itu dalam segala kesibukannya.


“Bagaimana? Jihyun-ssi kau tau tempat lain yang sering Nara kunjungi?” tanya Taehyun pada Jihyun. Sejenak gadis itu terdiam. Ia mencoba kembali mengingat tentang tempat-tempat yang sempat Nara ceritakan padanya.


“Diujung sana ada sebuah jembatan yang mengarah langsung ke sungai han. Pemandangan disana sangat indah. Jadi kemungkinan Nara kesana.” Ucap Jihyun sambil menunjuk sebuah gang kecil di sebelah kirinya.


“Tapi Nara bilang dia suka merayakan ulang tahunnya di taman bermain”


“Taman bermain?” ulang Taehyun. Gadis itu mengangguk. Ia menunjuk arah kanan sambil mengumamkan sesuatu melalui bibirnya.


“Disebelah sana ada taman bermain. Kau hanya perlu berjalan lurus saja”


“Baiklah kita berpencar. Aku akan ke taman bermain dan kalian pergilah ke jembatan. Segera hubungi aku begitu kalian menemukan Nara. Mengerti?”


Baekki dan Jihyun hanya mengangguk kemudian segera pergi ke tempat tujuan mereka.


***


eonjenga uri dashi mannaneun geunal


geuttae uri he eoji jimayo


[suatu hari, saat kita bertemu lagi


mari berusaha untuk tidak lagi mengucapkan selamat tinggal]


Langit semakin gelap. Jalanan kecil di sekitar pemukiman penduduk itu juga terlihat sepi seolah penghuninya tengah ikut terbenam bersama sang mentari. Hanya sinar-sinar lampu jalanan dan cahaya rembulan yang menyinari tempat itu. Taehyun berjalan ditengahnya dengan langkah kakinya yang lebar. Sesekali ia memperhatikan sekitarnya sambil terus meneriakkan nama istrinya dalam hati.


Sejenak Taehyun melirik jam yang melingkar di tangan kirinya yang menunjuk pada angka 9 malam. Tapi ia belum juga menemukan taman bermain yang Jihyun katakan. Taehyun terus berjalan, sampai langkah kakinya akhirnya terhenti di sebuah belokan di ujung gang itu. Taehyun melihat ada ayunan dan papan seluncur disana. Senyumnya sontak terukir di bibirnya manis. Ia masih berharap gadis itu memang benar-benar disana.


Dalam hati Taehyun terus berjanji bahwa ia akan benar-benar mengakhiri semua perjanjian konyol itu sekarang. Ia akan mengutarakan segala perasaannya pada Nara dan akan meminta gadis itu untuk benar-benar menjadi istrinya. Disaat Taehyun mulai melangkahkan kakinya untuk masuk, tiba-tiba ia mendengar suara seorang pria yang memanggil nama istrinya.


“Nara..” suara itu terdengar begitu jelas di tengah suasana sepi taman bermain. Taehyun menghentikan langkahnya. Ia berdiri di pinggiran pintu taman bermain sambil menatap ke atas tangga papan seluncur dimana istrinya tengah berdiri dengan seorang laki-laki dibelakangnya.


Merasa namanya dipanggil Nara menoleh. Disaat itu lah, Taehyun bisa melihat dengan jelas wajah laki\-laki yang sedang berdri bersama Nara.


“Han Jaehyun..” gumam Taehyun lirih. Ia masih tak berniat mendekat. Masih bersembunyi di tempatnya sambil melihat apa yang akan kakak tirinya itu lakukan.


“Nara..” pantau Jaehyun lagi.


“Ya?” gadis itu membalikkan tubuhnya. Kini posisinya berada di tangga yang satu tingkat lebih tinggi daripada Jaehyun.

__ADS_1


“Nara, aku menyukaimu..”


“A-Apa?”


“Aku mencintaimu, Kim Nara. Aku mencintaimu..” Jaehyun menatap manik mata Nara dalam-dalam dengan wajah yang benar-benar serius.


“Oppa-”


“Aku tau kau juga masih menyukaiku. Kau masih mengingat semuanya tentangku bukan? Nara, kembalilah padaku. Kita kembali ke Daegu. Kita akan hidup bahagia bersama, dan aku bisa memastikan bahwa hidupmu jauh akan lebih baik dan bahagia ketika kau kembali padaku”


“Oppa..!!” bentak Nara


“Sudah cukup kau menjalani semua ini. Aku tau alasanmu menikah dengan Taehyun hanya demi uang bukan? Akhiri semuanya dan kembalilah padaku, Nara..”


“Kau gila Oppa!”


“Ya, aku memang gila. Aku gila karenamu. Aku gila karena aku tak pernah bisa menghentikan pikiranku yang terus terpaku pada namamu. Yang ku inginkan hanyalah kau. Ku mohon, Nara. Kembalilah padaku..”


“Sudahlah Oppa..!” Nara membalikkan tubuhnya, ia berniat menaiki tangga itu satu tingkat lebih tinggi dan menghindar dari Jaehyun saat tiba-tiba tangan pria itu menahannya. Jaehyun menarik lengan Nara, hingga kini gadis itu berbalik dan menghadapnya. Kedua manik mata mereka saling bertemu dan sedetik kemudian Jaehyun mendaratkan ciumannya di bibir ramun Nara.


Kedua tangan Jaehyun menahan Siku Nara yang terus memberontak saat bibirnya mulai bergerak diatas bibir Nara. Sungguh, Nara ingin berteriak kalau saja ia bisa. Tapi ia bisa apa? Jauh di dalam hatinya, mungkin rasa itu masih tertanam. Masih tersisa, dan masih selalu membuatnya merasa nyaman. Pada akhirnya Nara hanya terdiam dan membiarkan pria itu menciumnya.


“Bughh..”


Suara hantaman itu terdengar begitu keras mendentum sesaat setelah Taehyun menarik tubuh istrinya menjauh. Ia masih menatap tubuh kakak tirinya yang tersungkur di atas tangga dihadapannya. Taehyun meraih kerah kemeja yang Jaehyun kenakan dan menariknya keras, memaksa sang empunya untuk bangun dan berdiri diatas kakinya.


‘Bugggh..’


Lagi, Taehyun memukul wajah tampan sang kakak dengan tangannya. Tidak cukup hanya sekali, ia kembali memukulnya sampai emosinya perlahan mulai meredah. Di tatapnya laki-laki itu dengan pandangan tajam yang menghundus.


“Kau gila, Han Jaehyun!” umpat Taehyun marah. Matanya memicing tajam menatap Jaehyun.


“Ku peringatkan padamu Hyung! Jangan lagi menyentuh istriku! Kau pikir kau siapa, hah! Belum cukup kah kau merebut segalanya dariku! Berani –beraninya kau menciumnya!” Bentak Taehyun yang sudah sangat terbakar emosi.


“Kalau sampai itu terjadi lagi, aku tak akan segan-segan mematahkan lehermu, kau tau!”


Taehyun segera menarik lengan istrinya kasar untuk segera pergi dari tempat itu. Ia terus menggeret Nara paksa dan tak mendengarkan segala rintihan yang sedari tadi Nara ucapkan. Taehyun lagi-lagi seolah kehilangan kendali ketika emosinya membuncah. Ia terus mempercepat langkahnya tanpa peduli Nara yang kini berjalan tersohok untuk mengikuti langkahnya.


“Nara..” gumam Jihyun yang melihat gadis itu tengah berjalan di belakang Taehyun dengan langkahnya yang tersaruk-saruk. Perlahan kedua orang itu berjalan mendekat. Raut wajah Taehyun terlihat penuh amarah.


“Baek, berikan kunci mobilmu..” sergah Taehyun dengan nada memerintah yang selalu ia gunakan.


“Ya?”


“Cepat berikan kunci mobilmu, Lee Baekki!” gertaknya. Baekki mendesah. Lagi-lagi pria itu memperlakukannya seenaknya. Namun sayangnya, ia tak bisa membantah mengingat wajah Taehyun yang terlihat tidak baik.


Baekki merogoh saku celananya dan memberikan benda kecil itu pada Taehyun. Disaat yang bersamaan Taehyun terlihat mendorong tubuh istrinya untuk masuk ke dalam mobil. Nara terlihat meronta, namun Taehyun terus memaksanya.


“Ku pinjam mobilmu, Baek..” ucap Taehyun datar sebelum ia masuk ke dalam mobil itu dan melajukannya dengan kecepatan tinggi di tengah jalanan Seoul malam itu.


-To Be Continue-


Author’s Note:


Kira-kira apa yang akan Taehyun lakukan?


Kemana dia akan membawa Nara pergi?


Lalu, bagaimana dengan Jaehyun?


Simak kelanjutan kisahnya di bab selanjutnya ya..


Terimakasih sudah singgah dan membaca..

__ADS_1


With Love,


Byunra93_


__ADS_2