
“Apakah sebuah kepercayaan itu tak layak kau berikan untukku?
Atau memang kau terlalu egois untuk bisa mengerti?”
.
.
.
My Possessive Husband
©Byunra93_
.
.
.
Han’s Group – Gangnam district, South Korea
09.00 A.M
.
.
Jaehyun baru saja masuk kedalam gedung megah Han’s Group. Senyum selalu mengembang di bibir tipisnya tiap kali menjejakkan kakinya pada lantai gedung ini. Beberapa karyawan merundukkan kepalanya memberi hormat saat berpapasan dengan sang direktur di lobby. Dan Jaehyun selalu membalas satu persatu senyum mereka dengan ramah. Hal itulah yang selama ini selalu membedakan dirinya dengan Taehyun. Jaehyun memang sedikit jauh lebih populer dikalangan pekerjanya. Wajah tampan, sosok hangat dan senyuman yang tak pernah lepas dari bibir tipisnya membuat sosok itu begitu digandrungi.

“Waaah, direktur Han benar-benar sangat tampan..” gumam seorang resepsionis saat tubuh tegap Jaehyun baru saja melewatinya.
“Tiap hari kau selalu mengatakan hal yang sama..!” tegur teman gadis itu
“Itu karena tiap hari tingkat ketampanannya terus bertambah”
Jaehyun hanya tersenyum samar disudut bibirnya ketika ia masih dapat mendengar gunjingan keduanya. Jaehyun melanjutkan langkahnya santai. Kini ia tengah berada di dalam lift yang sedang bergerak naik ke lantai 10 gedung megah Han’s Group.
Dentingan kecil terdengar sebelum pintu lift benar\-benar terbuka. Jaehyun melangkah keluar dan berjalan menuju ruangannya, saat tiba\-tiba teguran seorang gadis terdengar olehnya.
“Oppa..”
Jaehyun berbalik sekedar memastikan sumber suara yang ia dengar, namun setelahnya ia justru berdecah malas. Alih-alih menghiraukan gadis berambut coklat yang kini menghampirinya, Jaehyun justru berbalik dan melanjutkan langkahnya seolah ia tak bisa mendengar suara So Yeon yang terus meneriakkan namanya.
“Oppa, kau berpura-pura tak mendengarku?” Soyeon kini berdiri di depan Jaehyun dengan wajahnya yang sengaja ia buat seimut mungkin. Jaehyun menggeser sedikit tubuhnya dan berjalan melewati Soyeon, seperti sosok itu tak pernah muncul dihadapannya.
“Kenapa kau selalu seperti ini padaku? Apa salahku? Aku tau kau bisa mendengarku. Aku tau kau bisa melihatku, tapi kau selalu berpura-pura tak mendengar dan tak melihat. Aku tau kau masih menyukai Nara. Tapi kau juga harus menyadari dia adalah adik iparmu! Kau tak –“
“Jaga ucapanmu Soyeon-ssi!” sela Jaehyun geram. Kedua jari tangannya terkepal marah dan rahangnya juga ikut mengeras. Jaehyun merasa harga dirinya dilukai. Ia berbalik dan berjalan menghampiri Soyeon, menghimpit tubuh kecil itu diantara dinding koridor.
“Ku peringatkan padamu, jangan mengatakan hal-hal yang sama sekali tak kau ketahui!” mata Jaehyun menatap tepat pada kedua manik mata Soyeon. Memberinya sebuah peringatan keras melalui tatapan matanya.
“Jadi harus seperti ini untuk membuatmu paling tidak menatapku? Harus membicarakan tentang cinta masalalumu terlebih dahulu?”
Cengkeraman keras di kedua lengan Soyeon terpaksa membuatnya menghentikan ucapannya. Jaehyun tak sedang bercanda, sekarang. Hal itu terlihat jelas dari sorot matanya. “Katakan apa maumu dan segera pergi dari hadapanku!”
“Aku ingin kau membuka hatimu untukku. Berikan aku sebuah kesempatan yang sama!” Soyeon menepis lengan Jaehyun yang masih mencengkeram kedua lengannya. Ia kemudian tersenyum dengan begitu manis ketika menyodorkan sebuah tas kertas yang sedang dibawanya pada Jaehyun.
“Oppa, ini makan siangmu hari ini. Aku membuatnya sendiri. Ku harap kau menyukainya” Seru Soyeon. Raut wajah Jaehyun tetap datar dan terkesan dingin. Ia tak sedikitpun menggerakkan tangannya untuk mengambil benda itu.
“Sudah berapa kali ku katakan aku tak membutuhkannya! Kenapa kau selalu mengirimkan makan siang untukku? Apa kau tak punya sedikit saja rasa malu nona Cho?”
__ADS_1
“Han Jaehyun-ssi, tak inginkah kau keluar dari semua kepura-puraan ini? Berhentilah bersikap seolah-olah kau adalah sosok antagonis disini. Kau selalu mengatakan kau tak suka, kau selalu menolak makan siang yang kuberikan, tapi aku tau dibalik itu kau tetap memakannya. Kau juga melakukan hal yang sama pada Taehyun. Bersikap seolah kau begitu membenci adikmu, ingin merebut semua yang ia miliki, padahal yang terjadi sesungguhnya kau ingin melindunginya. Kau tak bisa melihatnya dalam kesulitan, jadi membantunya diam-diam. Ia memang telah merebut hal yang paling berharga darimu. Merebut cinta pertamamu. Tapi kau tetap tak bisa membencinya-“
“Tutup mulutmu!” bentak Jaehyun keras.
“Kenapa? Ada yang salah dengan ucapanku? Aku rasa tidak! Puluhan tahun aku mengenalmu. Aku bahkan mengikutimu, membiarkan diriku berkerja di perusahaan ini hanya demi melihatmu. Selama ini kau selalu bersikap dingin padaku dan menghindar dariku, bukan karena kau tak menyukaiku. Semua itu kau lakukan karena kau takut aku akan tau lebih banyak dari ini. Jauh dalam dirimu kau menyadari aku bisa memahamimu lebih dari siapapun, jadi kau selalu bersikap kasar padaku. Aku tau, dan aku akan selalu tersenyum dan mengatakan bahwa diriku baik-baik saja. Lebih baik seperti ini. Lebih baik kau terus bersikap buruk, daripada kau yang berpura-pura tak mengenalku.” So Yeon menghembuskan nafasnya parau. Ada sebuah perasaan sesak di dadanya.
“Sekalipun kau selalu mencoba melukaiku, aku akan tetap menunggu. Karena pada dasarnya kau bukanlah orang yang seperti itu, Jaehyun-ya.”
Jaehyun tak bergeming. Tak mencoba menjawab ataupun menyangkal. Yang ia lakukan hanyalah berdiri pada posisinya sambil menatap mata gadis itu dalam.
“Akan ku titipkan makan siang ini di meja sekretaris Lee..”
Pembicaraan itu belum benar\-benar selesai. Gurat wajah keduanya masih terlihat menyimpan begitu banyak asa. Tapi nyatanya mereka harus menghentikan sejenak perdebatan itu tatkala sosok wanita dengan dress hitam yang jelas terlihat mewah itu tengah berjalan anggun ke arah anaknya. Soyeon melihat sosok itu lebih dulu dan ia benar\-benar terlihat takut saat merundukkan kepalanya untuk memberi hormat.
“Eomma, apa yang kau lakukan disini?”
‘PLAK...!!’
Sebuah tamparan keras berhasil menyela ucapan Jaehyun. Tak hanya Jaehyun yang terkejut. Soyeoon juga meunjukkan reaksi yang sama. Gadis itu sontak membulatkan matanya tak percaya. Demi Tuhan hal-hal seperti ini tak pernah sekalipun terlintas dalam benak kecilnya. Dari sorot mata Jaehyun, So Yeon mulai menyadari sebuah perasaan luka tergurat dalam wajahnya. Laki-laki itu terlihat tertekan. Ini lah luka yang selama ini selalu pria itu sembunyikan. Mungkin inilah sebuah alasan yang membuat sosok Jaehyun terlihat menjadi sosok antagonis.
“Kembalilah ke ruanganmu, Jaehyun-ah!!” ujar Nyonya Yoon yang lebih seperti sebuah perintah bagi putranya.
Jaehyun berjalan tenang memasuki ruang kerjanya. Ia terus menghela nafas berat selagi kakinya melangkah. Jujur, ia memang telah memprediksi hal ini sebelumnya. Harusnya ia tak lagi merasa takut ataupun ragu. Jauh ketika ia memutuskan untuk membantu adiknya, ia sangat tahu resiko apa yang akan ia hadapi. Termasuk kenyataan bahwa ia harus menentang ibunya sendiri. Jaehyun terdengar berdeham kecil saat dirinya kini berdiri di hadapan ibunya yang sedang berbicara serius pada sekretarisnya.
Wanita itu menghentikan pembicaraannya. Ia masih duduk pada kursi kerja Jaehyun. Nyonya Yoon menyentakkan kecil kepalanya, memberikan sebuah isyarat pada sekretarisnya untuk keluar dari ruangan itu. Dan ia terlihat berdiri setelahnya, dan bersidekap sambil menatap anaknya tajam.
“Kau sedang mabuk? Otakmu sedang terluka?” tegurnya keras. Jaehyun masih merunduk. Ia tau ini tak baik.
“Eomma..”
“Eomma tau kau tak akan sebodoh itu untuk membantu musuhmu. Kau pasti memiliki sebuah rencana besar di balik ini. Beritahu eomma, agar eommamu ini tak lagi salah paham terhadapmu..”
Tangan Jaehyun *** bagian bawah tuxedonya. Pandangan matanya tampak risau, sedang otaknya terus berusaha memikirkan jawaban apakah yang akan ia berikan untuk menutupi semua ini.
Rahang nyonya Yoon mengeras. Wajahnya memerah padam. Ia marah. Emosinya tak lagi bisa ia bendung. Berulang kali ia mengumpat tak jelas dan berdecah kesal sebagai lupan emosinya agar tak melukainya putranya lagi.
“Han- Jae- Hyun..!!” ejanya geram.
“Eomma tak pernah mendidikmu menjadi seorang anak yang bodoh seperti ini. Kemampuanmu? Kau ingin mengandalkan kemampuanmu untuk menjadi seorang presdir? Apa yang bisa kau lakukan? Kau pikir kau bisa menngalahkan Taehyun dengan kemampuanmu itu!!!”
“Jadi kau lebih mempercayai cara-cara kotormu daripada kemampuan anakmu sendiri, eomma?”
“Tentu. Aku sudah bertahan puluhan tahun dengan cara ini, dan tak akan ku biarkan siapapun menghentikanku, termasuk jika itu kau. Putraku sendiri!!” Kedua ibu dan anak itu saling melemparkan tatapan sengit.
“Mungkin kau lupa dengan tujuanmu Jaehyun-ah. Kau dilahirkan untuk menjadi presdir Han’s Group. Kau satu-satunya yang akan mendapatkan posisi itu! Puluhan tahun Eomma bersabar, bertahan hidup dengan laki-laki tua itu. Semua eomma lakukan hanya demi menjadikanmu seorang presdir. Kau harus mendapatkan posisi tertinggi dan membalaskan semua ketidak adilan yang selama ini kita peroleh. Kau masih ingat bukan bagaimana dulu kita dihina, direndahkan dan dicaci? Semua orang bahkan mengataimu anak haram. Kau masih ingat bagaimana kita harus mengemis demi sepiring nasi? Kau ingin kembali pada masa itu? Kau ingin jatuh dan kembali dihina?” bentak nyonya Yoon marah.
“Tidak Jaehyun-ah, Tidak!! Eomma tidak akan pernah kembali!” Nyonya Han meneguk air lirnya susah. Matanya terlihat berkaca-kaca sedang nafasnya terdengar pendek. Ia tampak benar-benat tertekan dan seperti sedang berada dalam sebuah ketakutan besar ketika kembali mengingat masa itu. Rahangnya masih terus mengeras seiring dengan buku-buku jarinya yang ikut terkepal erat.
“Eomma, hal itu tak pernah terjadi lagi. Sekalipun kita hentikan semua ini sekarang, tak akan ada yang berubah. Kita masih bisa hidup berkecukupan dan layak sekalipun aku bukan seorang presdir.”
“Tidak!” bentak nyonya Han lantang.
“Kau tetap harus memiliki semuanya!”
“Eomma—“
“Diamlah Han Jaehyun! Kau hanya perlu mempersiapkan dirimu. Eomma akan mengurus semuanya.”
Sesaat setelah mengatakan hal itu nyonya Yoon berjalan keluar dari ruangan itu tanpa mengindahkan lagi panggilan putranya.
“Aaaarrrggh..!!” teriak Jaehyun marah.

__ADS_1
Tangannya meraih kasar vas bunga di atas meja kerjanya dan melemparkannya keras. Suara pecahan terdengar memekik nyaring, sedang Jaehyun kini tertunduk dengan nafasnya yang terengah. Sesaat kemudian ia terlihat meraih punggung sofa disampingnya dan berjalan mendekat untuk duduk bersandar disana. Matanya terpejam dan sebelah tangannya mengurut pelan pelipisnya yang berdenyut nyeri.
‘Tok... Tok.. Tok..’ pintu ruangan itu diketuk pelan. Jaehyun membuka kedua mantanya dan menatap ke arah daun pintu itu enggan.
‘Tok.. Tok.. Tok..’ suara itu terdengar kembali hingga pada akhirnya Jaehyun hanya membiarkan seseorang disana untuk masuk.
Sekretaris Lee berjalan masuk dengan beberapa berkas di tangannya.
“Direktur, anda harus memeriksa kembali dokumen ini dan segera menandatanganinya” ujar sekretaris Lee. Ia tau mungkin tak seharusnya ia memberikan dokumen itu sekarang. Paling tidak suara pertengkaran ibu dan anak beberapa waktu lalu jelas terdengar di ruang kerjanya. Tapi ia tak bisa menunggu terlalu lama. Dokumen itu benar-benar penting dan harus segera di tanda tangani.
“Letakkan saja disana akan ku lihat nanti” jawab Jaehyun tanpa sedikitpun membuka kedua matanya yang beberapa saat lalu kembali terkatup rapat.
“Maaf direktur, nona Cho Soyeon datang kemari beberapa saat lalu. Saya rasa dia mendengar perdebatan anda dengan nyonya jadi dia menitipkan ini dimeja saya. Dia meminta saya untuk memberikannya pada tuan”
Jaehyun membuka kedua matanya yang jelas tampak memerah. Ia menatap tas kertas yang kini terletak di atas meja tak jauh darinya.
“Kau boleh kembali pada pekerjaanmu sekretaris Lee.”
Sekretaris Lee hanya merundukkan kepalanya sebagai jawaban dan segera beranjak dari ruangan atasannya.
Jaehyun menghela nafas panjang. Ia menatap benda itu, memperhatikannya dengan begitu sungguh\-sungguh. Matanya yang sendu seolah menatap Soyeon ketika mengamati makan siang itu. Hatinya berdesir. Semuanya terasa begitu membingungkan untuknya. Bukankah sosok ibu adalah seorang sosok yang akan dengan sendirinya tau akan apa yang benar\-benar anaknya inginkan? Bukankah ibu yang baik akan selalu mendukung keinginan baik putranya? Bukan malah bertindak otoriter dan memaksakan segala kehendaknya. Bukankah sosok seorang ibu harusnya mengajarkan kebaikan dan membimbing putranya? Tapi semua itu seolah tak berlaku baginya. Awalnya Jaehyun terus mencoba untuk mengerti jalan pikiran wanita itu. Jaehyun tau ibunya hanya tak ingin melihatnya menderita. Jaehyun tau ibunya ingin yang terbaik untuknya. Ia tak ingin melihat Jaehyun kembali dihina, direndahkan dan dilecehkan. Itu adalah alasan awal kenapa ia bersedia dipertemukan dengan ayahnya. Hanya sekedar untuk memperoleh sebuah pengakuan atas dirinya.
Tapi yang terjadi setelahnya justru perseteruan yang terus ibunya ciptakan demi menguasai segalanya. Menguasai seluruh harta tuan Han, yang Jaehyun berani menjamin itu bukanlah miliknya. Jaehyun tau ia tak cukup berhak atas semua itu. Tapi pada kenyataannya harta itu adalah satu-satunya yang ibunya inginkan dalam hidup ini. Demi semua itu ibunya bahkan mengorbankan berbagai hal. Melakukan berbagai cara kotor yang justru melukai banyak orang. Ia tak mau. Jaehyun tak mau lagi bertindak dengan cara-cara itu. Sudah cukup penderitaan yang selama ini ia alami. Hidup terkekang dalam sebuah sangkar yang telah eommanya buat. Hidup bagai boneka yang selalu dikendalikan. Jaehyun muak! Ia tak ingin lebih lama lagi hidup dalam nkeadaan seperti ini.
Kembali, ucapan So Yeon seolah terngiang di telinganya. “Kau bukanlah orang seperti itu Jaehyun\-ah.”
Kalimat itu cukup singkat. Tapi bagi Jaehyun itulah yang ia butuhkan. Sebuah keyakinan pada dirinya bahwa ia bukanlah tokoh antagonis yang akan mengalahkan segala cara untuk merebut kekuasaan dan harta. Ia hanya butuh satu orang yang akan mempercayainya. Satu orang yang akan berdiri di sampingnya dan berkata bahwa Jaehyun bukanlah orang seperti itu. Ia hanya ingin seseorang mempercayai bahwa ia bisa, dengan kemampuan yang ia miliki Jaehyun bisa meraih apapun yang ia inginkan. Harta bukanlah tujuannya. Itu jelas bukan keinginan diri Jaehyun. Jauh dalam benaknya Jaehyun hanya ingin hidup dengan tenang dan bahagia. Hidup dengan mengandalkan kemampuannya. Ia hanya ingin melihat orang – orang disekitarnya tersenyum bahagia. Ia tak ingin melukai orang-orang itu lagi.
.
.
.
-To Be Continue-
.
.
.
Author’s Note:
.
.
Selamat malam readers ku tercinta..
Aku cuma mau ucapin terimakasih banyak karena udah ikutin cerita ini dari awal sampai sekarang. Semoga kalian suka dengan ceritanya ya..
Kritik dan saran dari kalian selalu aku tunggu, karena itu adalah semangat aku..
See you at the next chapter..
.
.
With Love,
ByunRa93_
__ADS_1