My Possessive Husband

My Possessive Husband
Beautiful Morning


__ADS_3

Suara burung di luaran sana terdengar bernyanyi merdu. Pancaran sinar mentari bersinar cerah, menyelinap masuk melalui kelambu putih yang tengah disingkap oleh tangan Taehyun. Laki-laki itu sudah terlihat rapi dengan kemeja putih yang ia padukan dengan celana biru kehitaman. Rambutnya yang masih basah sengaja ia biarkan berantakan, menambah kesan sexy pada dirinya. Ia berbalik, menatap istrinya yang masih begitu lelap dalam tidurnya. Taehyun tersenyum ketika ingatannya kembali pada kejadian tadi malam. Segala fantasi yang telah ia bayangkan sejak lama, akhirnya dapat ia capai.


Ia berjalan mendekati tempat tidur, duduk pada pinggiran sisi tempat tidur dimana Nara tengah terbaring.


“Nara..” pantaunya. Tangannya perlahan menyentuh bahu gadis itu dan mengguncangnya pelan.


“Hey, bangunlah. Ini sudah jam 7 pagi..” ujar Taehyun yang terus mengganggu tidur istrinya. Nara melenguh. Ia mulai mengerjapkan matanya yang terasa berat.


“Kim Nara..” Tegur Taehyun lagi masih dengan nada suara lembut dan berat miliknya. Nara membuka kedua matanya. Menatap pria itu berat.


“Bangun, Nara..” pinta Taehyun lagi.


“Hmm..” Hanya itu jawaban yang coba Nara lontarkan. Ia mencoba bangkit dari posisi tidurnya. Tapi tiba-tiba ia berhenti, sambil *** selimutnya kuat-kuat. Raut wajahnya tampak menahan sesuatu, yang entah apa.


“Kau baik-baik saja?” tanya Taehyun yang tampaknya mulai menyadari itu. Nara hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia mencoba tersenyum walapun wajahnya jelas masih tampak kesakitan.


“Maaf, Nara..” ucap Taehyun, seperti merasa bersalah.


“Kau baik-baik saja?”


“Tunggu, aku punya sesuatu untukmu..” Taehyun berdiri dan berjalan menuju meja riasnya. Ia mengambil sebuah tart kecil dari atas sana dan mulai menyalan lilin-lilinnya. Sementara Nara berusaha keras menutupi tubuhnya dengan menggunakan selimut. Susah payah ia mencoba melilitkan benda putih itu di tubuhnya, sampai Taehyun tiba-tiba berbalik. Pria itu berjalan mendekat sambil menggumamkan sebuah nyanyian kecil dari bibirnya.


“Happy Birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you..” Taehyun mengarahkan kue itu di hadapan Nara sambil tersenyum sangat tampan.


“Maaf aku terlambat merayakannya..” ucapnya pelan. Ia menatap Nara sungguh-sungguh. Menunggu istrinya meniup lilin-lilin kecil di atas kue yang ia bawa. Nara terdiam sesaat, sebelum akhirnya gadis itu mulai meniup lilinnya setelah mengucapkan sebuah doa di dalam hatinya.


“Selamat Ulang Tahun Istriku. Terimakasih telah percaya padaku. Terimakasih telah memberiku sesuatu yang sangat berharga. Aku mencintaimu..” Taehyun mencium bibir Nara gemas.


“Ya Tuhan, Nara!” Taehyun menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


“Kenapa?” Nara menatap pria itu bingung.


“Kau tau? Kau sangat berbahaya, Nara..” runtuk Taehyun yang terlihat sebal.


“Apa maksudnya?”


“Kau membuatku ingin kembali menerkam mu, sekarang..” runtuk Taehyun kesal.


“Dasar Mesum!” cibir Nara.


“Hahaha..” Tawa pria itu terdengar menggema renyah. Wajahnya terlihat bercahaya dan begitu bahagia pagi ini.


“Terima kasih..” ucap Nara setelahnya. Ia tersenyum kecil. Berbeda dari hari-hari sebelumnya. Kali ini, senyum di bibirnya tampak tulus. Hingga Taehyun mengacak pelan rambut istrinya yang memang sudah berantakan. Ia merogoh saku celananya dan mengambil kotak kecil berwarna hitam dari sana. Perlahan, ia membukanya di hadapan Nara. Kemudian memberikannya pada istrinya.


“Ini apa?” tanya Nara saat memandang sebuah kalung yang begitu berkilauan di sana. Permatanya yang putih berbentuk menara Eiffel.


“Hadiah ulang tahun dariku..” Taehyun mengambil benda itu. Ia berdiri dan mengenakannya di leher Nara.


Nara menyentuh benda di lehernya itu, sedikit memandangnya dan kemudian tersenyum senang.


“Ini sangat cantik..” gumam Nara.


“Bagiiku, kau jauh lebih cantik..” balas Taehyun dengan pandangan penuh cinta.


“Aigo..” Nara menggelengkan kepalanya menolak. Ia kemudian bergerak turun dari tempat tidurnya dengan tangan yang mencengkeram kuat-kuat nakas disampingnya, ketika rasa sakitdi kembali ia rasakan. Dengan sedikit merintih dalam hati, Nara berjalan pelan menuju kamar mandi.


Lima belas menit setelahnya, Nara keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan bathrobe yang menutupi tubuhnya. Ia berjalan dengan begitu santai saat keluar. Tapi ia benar\-benar terkejut saat mendapati suaminya yang masih duduk di kursi meja rias mereka.


“Kau masih belum berangkat kerja? bukankah ini sudah jam delapan?” tanya Nara.


“Tak mungkin aku bisa berangkat tanpa terlebih dulu memastikan kalau kau benar-benar baik-baik saja.” Taehyun segera berjalan mendekati Nara yang masih berdiri kaku di depan pintu kamar mandi. Pria itu menyingkap leher bathrobe yang Nara gunakan, membukanya hingga bagian leher hingga bahu gadis itu terlihat dengan begitu jelas.


“Upppss!” umpatnya saat menatap banyak sekali lebam disana. Ia menyentuhnya pelan. Sangat pelan karena Taehyun tak ingin istrinya merasa sakit, ketika ia menyentuhnya.


“Apa ini juga ada di bagian tubuhmu yang lain?” tanya Taehyun lagi. Nara hanya menganggukkan kepalanya tanpa berani berkata.


“Ku pikir aku melakukannya dengan benar. Tapi aku benar-benar bodoh! Maaf, Nara..” gumamnya yang lagi-lagi terlihat menyesal.


“Aku baik-baik saja..” tukas Nara yang berusaha meyakinkan melalui nada bicaranya yang terdengar normal, walaupun sejujurnya itu semua adalah kebohongan. Taehyun tak menjawab, tapi pria itu dengan segera menarik tubuh Nara untuk ia peluk dengan erat.


“Sekali lagi terima kasih, Nara..” bisik Taehyun di telinga gadis itu.


.


.


.


My Possessive Husband


©ByunRa93_


.


.


.


Thoughts of you,

__ADS_1


Have Swithched my Day and Night..


.


.


.


Sepasang suami istri yang tengah dimabuk asmara itu masih saling memeluk. Mengungkapkan seberapa besar kasih sayang yang mereka miliki melalui dekapan hangat tubuh masing-masing. Nara terlihat mendorong sedikit tubuh Taehyun agar memberinya sedikit celah untuk bernafas. Di tatapnya kerah kemeja Suaminya yang masih polos tanpa sebuah dasi disana. Nara mengernyitkan dahinya sekilas, kemudian melirik meja riasnya dan ia sedikit tersenyum ketika mendapati benda yang ia cari tergeletak diatas sana.


Gadis itu mengambil sebuah dasi berwarna gelap yang memang terlihat sesuai dengan celana yang kini tengah Taehyun gunakan. Ia kembali mendekati suaminya. Jari-jari tangannya bergerak menyusuri kerah leher Taehyun dan mulai mengikatkan dasi hitam itu disana.


“Waaah, rupanya istriku menjadi ribuan kali lebih manis setelah kejadian semalam..” goda Taehyun sambil memeluk pinggang istrinya. Ia mencium sebelah pipi Nara sekilas dan terkekeh saat mendapati wajah istrinya yang memerah.


“Yak! Berhentilah mengungkit kejadian itu!”


“Hahaha.. Memangnya kenapa? Kau malu?” Taehyun semakin terkikik melihat wajah polos Nara yang memerah.


“Taehyun-ya, kau!” ucapan Nara segera terhenti, tatkala Taehyun justru mencium daun bibirnya. Membuatnya diam disaat bersamaan.


“Cepat ganti bajumu, dan antarkan suamimu ini kebawah..” Bisik Taehyun lirih di daun telinga Nara. Ia tersenyum saat menyadari satu kata yang baru saja ia ucapkan pada Nara. Satu kata ‘suamimu’ yang menurutnya terdengar begitu konyol.


Jujur saja, ia masih belum benar-benar mempercayai bahwa mereka memang telah menjadi suami istri yang sesungguhnya. Taehyun kembali tersenyum saat mengacak helaian rambut istrinya yang terlihat masih sedikit basah.


Nara berjalan pelahan. Ia terdiam sejenak saat menunggu suaminya menutup pintu kamar mereka.


“Kau benar-benar baik-baik saja?” ucap Taehyun dengan gaya bicaranya yang masih begitu datar.


“Hmmm..” jawab Nara singkat.


“Maaf. Aku tau aku sedikit berlebihan semalam. Lain kali aku akan lebih berhati-hati”


Nara sontak membulatkan matanya lebar. ‘lain kali?’ kata itu entah kenapa terus berputar dalam pikirannya. Benarkah ada lain kali? Ia akan kembali melakukan itu? Lagi? Pipinya merona dan wajahnya seperti memanas entah karena apa.


“Bukankah sudah ku katakan agar tak lagi membahas tentang itu? Kau membuatku malu, Tae!” rajuk Nara yang terlihat mengerucutkan kedua daun bibirnya lucu.


“Hahaha.. kau masih saja seperti ini. Kau begitu menggemaskan istriku.” Namja itu kembali tertawa lepas.


“YAK, Berhentilah tertawa!”


“Kau membuatku terlambat, Kim Nara. Ayo cepat..”


“Kau sendiri yang membuang waktumu untuk terus mengatakan hal bodoh!” rengut Nara


“Jangan membuatku semakin tak ingin pergi. Ah, bagaimana kalau hari ini aku membolos saja?”


“Hey, apa yang kau pikirkan huh? Cepatlah berangkat! Bukankah kau ini seorang Direktur? Bagaimana mungkin Direktur justru menelantarkan perusahaannya seperti ini!”


“Yak, apa yang kau lakukan! Jangan seperti ini, Tae..” Nara berusaha melepaskan dirinya tapi Taehyun justru semakin memeluknya erat.


“Astaga, kita masih punya banyak waktu untuk ini Taehyun-ssi. Pergilah bekerja..” tegur Nara lagi.


“Baiklah.. Baiklah..” ada ketidak rela an yang jelas tergambar dari nada bicara Taehyun saat ini. Ia melepaskan pelukannya di tubuh istrinya, menatap wajah itu dalam-dalam sebelum kembali mengacak pelan rambut panjang Nara.


“Jaga dirimu selama aku bekerja. Jangan biarkan orang lain menyentuhmu, atau kau akan menyesal!” Taehyun sengaja membuat ekspresinya terlihat dingin dan menakutkan.


“Aku tau..” hanya itu yang Nara gumamkan sebagai jawaban atas perintah dari suaminya.


‘tap.. tap.. tap..’


Derap langkah kaki di atas anak tangga terdengar begitu menuntut, diirngi sebuah teriakan histeris yang berhasil membuat pandangan Taehyun dan Nara beralih untuk menatap ke arah yang sama. Keduanya terlihat mengernyit, namun masih sama-sama berada dalam posisinya.


“Oh ya Tuhan, Jaehyun-ah ada apa denganmu? Apa yang terjadi dengan wajah tampanmu?” teriak Nyonya Yoon histeris sembari mengejar langkah kaki putranya yang bergerak semakin cepat.


“Jaehyun-ah, sebenarnya apa yang terjadi?” desaknya lagi. Jaehyun menghentikan langkahnya, sejenak menatap Taehyun dengan tatapannya yang syarat akan amarah yang begitu meletup-letup. Keduanya saling melempar tatapan sengit, sebelum akhirnya Jaehyun menyudainya dengan membanting pintu kamarnya keras-keras.


Taehyun mendecah, menghembuskan nafasnya kesal saat memalingkan wajahnya dan menghadap ke arah Nara. Yang Taehyun dapati saat ini adalah, istrinya yang tengah menatap pintu kamar Jaehyun yang tertutup dengan tatapan sendu. Taehyun berdeham kecil, bermaksud membuat gadis itu tersadar dari lamunannya, namun sepertinya Nara masih begitu khawatir hingga ia tak mendengar dan menyadari perubahan ekspresi wajah suaminya.


“Nara..” pantau Taehyun.


“Ya?” sahut Nara yang terlihat gugup.


“Ayo..” Taehyun menyentuh bahu Nara, sedikit menariknya untuk mengikuti langkah kakinya yang mulai bergerak melewati pintu kamar Jaehyun, dimana Nyonya Yoon masih mengetuk daun pintu itu keras-keras sambil merancau mengkhawatirkan kondisi putranya. Langkah Taehyun terhenti di depan mobil hitam miliknya. Ia kembali menatap Nara.


“Jangan menunjukkan ekspresi seperti itu lagi dihadapanku. Mengerti?”


“Ya?”


“Aku tau kau mengkhawatirkannya. Tapi jangan tunjukkan di depanku, Nara. Itu membuatku marah”


“Tapi Tae, mungkin kau sedikit berlebihan. Wajah Jaehyun benar-benar mengerikan. Kau tak lihat lukanya begitu banyak?”


“Itu salahnya sendiri. Siapa suruh dia menyentuh istriku. Masih untung aku tak benar-benar membunuhnya!”


“Kau menakutkan, Han Taehyun!”


“Karena itu jangan berani selingkuh dibelakangku” ancamnya. Sesaat setelahnya mobil hitam itu terlihat mulai menghilang melewati pintu gerbang kediaman keluarga Han yang menjulang tinggi.


Nara kembali masuk ke dalam rumah. Ia menapakkan satu persatu kakinya pada anak tangga, berjalan naik ke lantai atas dengan sedikit rasa canggung dan khawatir. Senejak ia berhenti pada sudut tangga tertinggi dan menatap Nyonya Yoon dan seorang maid nya masih berdiri di depan pintu kamar Jaehyun. Wanita paruh baya itu masih meneriakkan nama putranya dan memohon agar anak laki\-lakinya mau keluar walau hanya sebentar.

__ADS_1


“Jaehyun-ah..” pantau Nyonya Yoon yang terdengar jauh lebih seperti sebuah permohonan.


“Han Jaehyun, eomma mohon keluarlah. Paling tidak kau harus makan. Eomma hanya akan membersihkan lukamu..” Nyonya Yoon tak lagi mengetuk pintu itu. Kini ia hanya berdiri di depannya sambil masih menggenggam botol obat itu kuat-kuat. Sementara sang maid hanya berdiri disamping nyonya nya sambil membawa nampan yang penuh dengan makanan.


“Han Jaehyun..” Nyonya Yoon memanggil nama putranya untuk yang terakhir, karena sesaat setelahnya ia meletakkan botol obat yang ia bawa pada nampan yang dibawa sang maid. Ia kembali menatap daun pintu kamar Jaehyun.


“Baiklah eomma akan meletakkan makanan dan obat di depan pintu. Makanlah Jaehyun-ah” tepat setelah mengetakan hal itu Nyonya Yoon terlihat berjalan melewati Nara dan turun kebawah. Nara masih berdiri disana, menunggu ibu mertuanya benar-benar pergi dan kemudian berjalan mendekati pintu kamar Jaehyun. Manik mata Nara menatap nampan dibawahnya iba. Gadis itu terlihat mengepalkan sebelah tangannya dan mengangkatnya ragu untuk mengetuk daun pintu dihadapannya.


‘Tok.. tok.. tok..’ bahkan suara yang dihasilkan oleh tangannya juga terdengar begitu ragu. Lirih dan dalam tempo yang lambat.


“O-Oppa..” bibirnya seperti sulit untuk menggumamkan satu kata itu.


“Jaehyun Oppa. Ini aku, Nara..” sapanya singkat.


“Oppa, kau baik-baik saja?” Nara bertanya dengan suaranya yang lembut dan tenang. Tapi sesaat setelahnya ia terlihat memejamkan matanya sambil menghela nafasnya yang terdengar parau saat Jaehyun tak juga menjawab.


Sebenarnya bukan pria itu tak mendengar atau hatinya tak bereaksi lagi terhadap Nara. Jelas bukan seperti itu, karena sesungguhnya saat Nara memanggilnya tadi, Jaehyun dengan begitu refleks menolehkan wajahnya ke arah pintu. Bahkan kakinya juga telah memiliki gerakan dibawah sadar untuk berjalan mendekat. Hingga kini seperti orang bodoh, Jaehyun berdiri di balik pintu. Ia berusaha menahan hasrat dalam dirinya untuk menjawab dan yang lebih terlihat menyedihkan adalah ketika ia mati-matian menahan dirinya untuk tak membuka pintu dan menarik gadis itu dalam pelukannya.


“Oppa, maaf..” suara Nara terdengar begitu merdu di telinga Jaehyun. Sampai refleks ia menutup kedua matanya, mendengarkan baik-baik suara itu. Seolah hanya dengan mendengar suara Nara, kini ia seperti sedang memeluk tubuh gadis yang begitu ia inginkan. Jaehyun merindukannya, sangat merindukannya. Bahkan bibirnya masih benar-benar merasakan bekas ciuman semalam.


“Oppa makanlah. Jangan seperti ini..” masih tak ada jawaban dari dalam sana hingga lagi Nara terdengar merengek.


“Oppa, ku mohon..”


Hati Jaehyun semakin menjadi. Ia merasa dirinya benar-benar bodoh karena tak sedikitpun bisa melupakan gadis itu dari benaknya. Bahkan suara Nara jauh seperti sebuah sembilau yang menusuk jantungnya perih. Itulah yang ia rasakan. Ia masih berdiri di balik pintu kamarnya, memegangi dadanya yang terasa sakit sambil menggumamkan nama Nara dalam hatinya.


“Oppa, buka pintunya..” bujuk Nara dari balik pintu. Jaehyun terdiam, ia menghela nafas panjang dari birnya, terus mencoba untuk menahan diri.


“Pergi!” hanya kata itu yang mampu Jaehyun ucapkan dengan jelas.


“Apa? Oppa..”


“Pergilah, Nara!” jerit Jaehyun.


Ia berjalan menuju tempat tidurnya dan menghempaskan tubuhnya secara kasar disana. Jaehyun menutup telinganya menggunakan bantal, agar tak lagi mendengar suara Nara. Disisi lain, Nara belum ingin menyerah. Ia akan memanggil nama Jaehyun lagi dan lagi kalau saja ponsel yang sedang ia genggam tak sedang berbunyi. Nara menatap layar ponselnya sekilas. Tampak terkejut dengan nama seseorang yang tengah terlihat disana.


“Lee Hyeri? Untuk apa dia menghubungiku?” gumam Nara bingung. Ia membuka pesan singkat yang kini masuk dalam ponselnya.


“Caramel Cafe pukul 10. Bisa menemuiku disana? Aku mohon jangan terlambat karena kau akan menyesal kalau sampai itu terjadi – Lee Hyeri”


“Ini apa? Ada apa dengan gadis ini, huh? Dasar aneh!” rancau Nara sesaat setelah membaca pesan singkat dari Lee Hyeri, mantan kekasih suaminya.


“Apa yang ingin dia katakan padaku?”


“Apa aku harus menemuinya?” Nara terdiam dan berpikir sejenak.


“Tapi kalau dia bilang macam-macam bagaimana? Apa yang aku lakukan nanti?” gadis itu terlihat semakin dan semakin bingung.


“Apa aku datang saja? Dan memberinya pelajaran. Apa aku harus memperingatinya agar tak mendekati suami ku?” timbang Nara dalam diam.


.


.


.


-To Be Continue-


.


.


.


Author’s Note:


.


.


Kira-kira apa yang akan Nara lakukan?


Dan apa yang sebenarnya Hyeri mau?


Kenapa dia meminta Nara datang menemuinya?


Tunggu bab selanjutnya yah.. (


Mohon maaf bab ini berasa pendek. Karena aku lagi sibuk banget guys.


Ini aja nyempet-nyempetin buat typingnya..


Insyaallah besok aku panjangin lagi deh.


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa komen yah..


.


.

__ADS_1


With Love,


ByunRa93_


__ADS_2