
Yang paling berat dari mencintai adalah ketika kita harus melepaskan..
Merelakan dia pergi, disaat hati kita begitu menginginkannya..
Luka itu ada. Luka itu nyata. Tapi, kita tak mungkin melawan takdir Tuhan..
Dan cara lain mencintai dalam kondisi ini adalah dengan merelakan dia pergi ke sisi-Nya,
Dan membiarkan Tuhan menjaganya..
.
.
.
This Story Begins..
“Deepest Pain”
©ByunRa93_
.
.
.
Pagi itu Baekki sudah bersiap dengan stelan jas hitam yang tengah ia kenakan. Dia terlihat sibuk menyiapkan pemakaman Airin. Sementara Taehyun, Jira, Tuan Han, Ibu dan Ayah Nara menunggu di ruangan Nara dengan wajah berkabung suram. Mereka terlihat kompak menggunakan pakaian serba hitam dengan mata sembab setelah menangis sepanjang malam.
Taehyun menautkan jari-jari tangannya dengan Nara. Menggenggam erat tangan istrinya seolah meminta kekuatan dari sana. Ia tertunduk, menciumi tangan Nara dan menangis dalam diam yang ia miliki. Air mata yang turun dari manik mata Taehyun menetes membasahi kulit tagan Nara. Membuat wanita itu tersadar. Perlahan ia mulai menggerakkan jari-jari tangannya menyentuh dan berusaha membalas genggaman tangan Taehyun. Taehyun terkesiap. Ia menatap Nara panik saat melihat mata Nara mulai bergerak-gerak resah hendak terbuka.
"N..Nara, kau bangun?" ujar Taehyun.
Ia merasakan Nara menarik tangannya dalam genggamannya dan Taehyun mulai panik saat melihat Nara langsung menyentuh perutnya yang datar. Wanita itu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Tidak. Ini tidak mungkin! Nara tak bisa merasakannya. Tak ada pergerakan lagi di dalam sana. “Tidak mungkin!” Teriak wanita itu dalam batinnya. Nara mulai dilanda sebuah ketakutan besar dalam dirinya. Firasat buruk mulai ia rasakan.
Ia memaksakan dirinya untuk bangun dari tidur panjangnya. Dengan batuan dari Taehyun, Nara duduk di atas tempat tidur rumah sakit itu, menatap satu persatu orang\-orang yang tengah berdiri disana. Ibunya, ayahnya yang sangat ia cintai, kedua mertuanya, juga Jihyun tengah berdiri disekelilingnya dengan pakaian serba hitam. Ini menakutkan bagi Nara. Sungguh ia tak bisa berhenti membayangkan sesuatu yang buruk dalam benaknya. Terlebih saat ini, semua orang\-orang itu menatapnya dengan mata sembab kesakitan.
"Tidak.. Tidak!!" rancau Nara mulai panik.
Nara menatap kembali Taehyun dan kalimat pertama yang terlontar dari bibirnya adalah sebuah pertanyaan, "Airin, dimana Airin?"
Nara terus meraba perutnya sambil menuntut jawaban dari semuanya. Tapi tak seorang pun disana mampu menjawab.
"Kenapa kalian semua diam? Dimana Airin?”
“Katakan, dimana putriku, Airin!" Nara mulai histeris. Ia berteriak-teriak dan mulai menangis ketika meyakini apa yang ia takutkan tengah terjadi.
"Eomma, ku mohon. Katakan, dimana Airin?" Nara berusaha menyentuh tangan Jira disampingnya dengan mata memohon yang menyakitkan. Jira menangis, dan tangisan itu jelas memberikan jawaban pasti untuknya.
"Tidak. Ini tidak mungkin.." Nara terisak dalam tangisnya sendiri.
Melihat itu, Taehyun berusaha merengkuh Nara dalam pelukannya. Di sentuhnya bahu istrinya dan ia hendak memeluk tubuh ringkih itu. Tapi Nara menolak. Ia terus menepis lengan Taehyun yang akan menyentuhnya. Tatapan mata Nara menghundus dalam manik mata Taehyun.
"Katakan, apa yang terjadi! Dimana Airin kita?"
"Nara, ku mohon tenanglah. Lihatlah, kau terus bergerak dan membuat darahmu naik dalam infus ini." Elak Taehyun yang coba menenangkan istrinya. Ia menghela Nara untuk kembali terbaring, tapi wanita itu kembai menepis keras tangan suaminya.
"Aku tak butuh semua ini!" Nara melepas semua peralatan medis yang melekat di tubuhnya. Dengan kasar, sambil sesekali terlihat meringis kesakitan ia mencabut infus di pergelangan tangannya. Ia juga melepaskan slang oksigen yang bertengger di hidungnya.
"Aku tak butuh semua ini! Yang kubutuhkan hanyalah anakku. Tolong bawa Airin padaku. Ku mohon.." lirihnya miris.
"Nara.." Taehyun tak mampu melanjutkan perkataannya.
"Baiklah, jika kau tak bisa mengatakan dimana Airin, aku akan mencarinya sendiri!" Nara menyibak selimut putih yang membungkus tubuhnya. Ia bergegas turun dari tempat tidurnya. Namun tiba-tiba ia berhenti saat merasakan perih yang seolah mengiris bagian perutnya.
"Aaaargh..." teriaknya sakit.
__ADS_1
Dia hampir saja kehilangan keseimbangannya dan jatuh kalau saja Taehyun tak dengan sigap menahannya. Ia langsung mengangkat tubuh Nara dan membaringkannya paksa di ranjang rumah sakit.
"Jangan melakukan hal bodoh!" tegur Taehyun tegas.
Ia lantas menatapi Nara dengan tatapannya yang dalam dan mengunci. Saat itulah semua orang disana berjalan keluar, merasa tak ingin mengganggu waktu keduanya untuk berbicara secara serius.
"Kau ingin tau dimana Airin?"
"Ya!"
"Baiklah. Aku menyesal harus mengatakan hal ini padamu. Kau tau ini juga bukan keinginanku tapi Tuhan berkata lain. Putri kita, Airin kita meninggal pagi tadi.."
Nara langsung terbangun dari tidurnya. Ia merasakan sesak di dadanya. Rasanya sangat sakit dan menyiksa. Kepalanya mendadak terasa begitu pusing, dan pandangan matanya mulai menggelap.
"Apa? Apa kau bilang? Tidak Taehyun-ah. Tidak!!" Nara merancau, menggeleng dan masih tampak histeris.
"Nara, ku mohon tenanglah.."
"TIDAK!! Airin tidak boleh meninggal. Tidak!”
“Aku bahkan belum sempat melihatnya. Aku belum sempat memeluknya dan menyusuinya. Tidaaakkk...!" teriak Nara. Dia menangis, menjambak rambuutnya sendiri dan kemudian pingsan dalam tekanan yang mendera batinnya.
.
.
.
***
.
.
.
Baekki terus berdiri dekat dengan sahabatnya. Tak henti-hentinya menepuk bahu Taehyun dan seolah menjadi cagak kokoh yang menopang tubuh lelah sang presdir. Sementara diatas kursi roda, Nara duduk termenung dengan pandangan kosong. Kalau saja harus memilih satu orang yang paling sedih atas kepergian Airin, maka Nara lah jawabannya. Wanita itu tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Ia mengutuk kecerobohannya yang telah membunuh putrinya sendiri. Ia bahkan tak mampu lagi menangis. Tubuhnya terasa ribuan kali lebih sakit, terlebih ketika melihat gundukan tanah itu mulai menutupi peti mati Airin.
Nara mencengkeram gaun hitam yang ia kenakan, menahan sesak di dadanya sambil menangis tak bersuara dengan pandangan mata kosongnya. Mati. Sungguh saat ini ia hanya ingin mati bersama putrinya. Ikut merasakan gelapnya dunia kala ia terkubur di dalam sana.
"Maafkan ibumu, Airin. Maafkan ibu..." kalimat itu tak henti-hentinya Nara ujarkan dalam hati.
Jihyun menggenggam tangan Nara, berdiri disampingnya dan menatapnya iba. Ia bisa merasakan kepedihan yang tergurat jelas di mata Nara. Sungguh dia bisa merasakan hal itu.
"Airin akan bahagia disana. Kuatkan dirimu Nara.." gumam Jihyun yang mengeratkan genggaman tangannya saat merasakan Nara melemah. Wanita itu hanya mengangguk pelan.
Hujan mulai turun, dari kejauhan Baekki berlarian dengan payung hitam besar menuju ke arah Taehyun, Nara dan Jihyun. Ia memberikan payungnya pada Taehyun dan membuka payung lain di tangannya kemudian menarik Jihyun berdiri disamppingnya. Mereka bergegas kembali ke dalam mobilnya. Baekki langsung mengambil alih kursi kemudi dengan Jihyun disampingnya. Sedang Taehyun dan Nara duduk di bangku belakang.
"Kita pulang.." ujar Nara. Baekki sempat menoleh sejenak ke arah Nara.
"Apa maksudmu? Tidak. Kembali ke rumah sakit, Baek!" potong Taehyun.
Ia menatap Nara yang sedari tadi terus memalingkan wajahnya menatap ke arah luar jendela dan seolah tak mau menatapnya barang sedetik.
"Baekki, ku mohon.." pinta Nara dengan nada rendah yang sangat menyentuh. Baekki sempat luluh. Ia sudah berniat berbelok dan mengantar Nara pulang. Tapi bentakan keras menghantam telinganya.
"Kau tak mendengarku? RUMAH SAKIT, Lee Baekki!”
“Kita kembali ke rumah sakit!" tegas Taehyun. Ia kembali mengarahkan tatapannya pada Nara.
"Kau belum sehat, Nara. Jadi kita akan kembali ke rumah sakit."
Tak berniat menjawab dan berdebat, Nara diam dalam kesendirian yang ia ciptakan. Ia bahkan masih enggan untuk menatap suaminya.
.
.
__ADS_1
.
_FIN_
kemarin aku lupa buat kasih foto baby airin sebelum meninggal. Itu baby nya ya.. 😊
Dan ini adalah baby Airin waktu masih di Inkubator, waktu Taehyun kasih dia susu untuk pertama kalinya..
Suasana Makam Airin..
Kegalauan Nara
Kesedihan Taehyun yang selalu ia sembunyikan dari Nara..
Pada kenyataannya, dia masih selalu menangisi kepergian putrinya saat dia sendiri. Tanpa satu orang pun tau..
-Han Taehyun-
.
.
.
Author’s Note:
.
.
Dear My Lovely Byunranation..
Gimana, menurut kalian sudah cukup kah bonus ini?
Aku rasa udah cukup yah kita sedih-sedihannya. Mari kita relakan bersama kepergian baby Taehyun dan Nara. Semoga dia bahagia disana sekalipun tak bersama dengan kedua orang tuanya.
Pada akhirnya seperti ini lah akhir dari kisah ini. Semoga kalian nggak terlalu kecewa..
Terimakasih udah ikutin kisah ini dari part awal sampai dengan part-part bonus. Semoga kisah ini bisa menghibur kalian.
Satu pesen aku, jangan dulu keluarin “My Possessive Husband” dari gudang kalian. Karena aku masih punya satu hidden bab yang akan menjelaskan bagaimana kondisi pernikahan Taehyun dan Nara setelah Airin pergi. Apakah pernikahan mereka akan tetap bertahan? Ataukan harus ikut terpisah?
Happy or sad ending ada di bab itu. Jadi tetap gudangin cerita ini ya..
Dan sampai jumpa di bab selanjutnya..
Jangan lupa tinggalkan like, komen dan ulasan kalian tentang cerita ini.
.
.
.
With Love,
__ADS_1
ByunRa93_