My Possessive Husband

My Possessive Husband
Ending Scene


__ADS_3

Taehyun’s House – Gangnam, South Korea


December 31th, 2019


.


.


.


Seoul tengah dilanda udara dingin yang begitu menusuk kulit. Suhu udara di sana mencapai batasan minimum bahkan menembus angka minus pada termometer yang menggantung di sudut ruangan. Tapi agaknya hal itu sama sekali tak dapat membendung keindahan langit malam itu. Salju putih yang begitu lembut berjatuhan dari atas langit. Membasahi sekitar dan mengubah warna alam menjadi putih dan penuh dengan kelembutan.


Di taman belakang kediaman keluarga Han, beberapa orang tengah berkumpul, menyalakan api unggun kecil sebagai pusat dan melakukan kegiatan-kegiatan yang penuh makna. Tepat di sebelah api unggun itu, ada sebuah papan besar yang terletak di bawah pohon sakura yang telah kehilangan daun-daunnya. Ranting-ranting itu berubah warna, tertutupi putihnya salju yang menebal.


Disana Tuan Han tengah duduk dengan kaki tertutup selimut coklat yang terlihat begitu nyaman. Badannya yang ringkih tengah mengenakan jaket rajut juga sebuah syal yang melindungi dirinya dari terpaan rasa dingin. Jira duduk tak jauh dari suaminya dan keduanya tampak berbincang lirih sambil memperhatikan anak-anaknya dari sudut itu.


“Yak, hentikan! Apa yang kau lakukan, huh..” teriak Nara sambil berlari menghindari Taehyun yang terus mengganggunya dengan melemparkan bola-bola salju kecil itu ke arah Nara. Keduanya terlihat saling mengejar walaupun sebenarnya, keduanya sama sekali tak berniat untuk benar-benar berlari. Nara menggeram kesal. Ia merunduk, mengambil salju di bawah kakinya dan membentuknya menjadi bulatan kecil, untuk kemudian ia lemparkan tepat di tubuh Taehyun.


“Kau—“ ujar Taehyun yang tertahan. Pria itu menatap bekas salju di pakaiannya dan kembali mengejar Nara yang terlebih dulu berlari dari hadapannya. Nara melihat Hyeri dan Hyunjin yang tengah sibuk dengan daging yang mereka panggang. Ia berlari mendekati Hyeri, menarik tubuh wanita itu dan bersembunyi di balik punggungnya.


Hyeri sedikit tersentak kaget, namun sepersekian detik setelahnya ia merasa sedikit canggung ketika Taehyun mulai berjalan mendekatinya. Ia mencoba menyentuh Nara yang terus bergerak kesana kemari di balik punggung Hyeri.


“Aigoo, apa yang sedang kalian berdua lakukan..?” tegur Hyeri yang merasa tubuhnya kini bagai tiang permainan bagi sepasang suami istri yang sangat kekanakan itu.


“Yak, Lee Hyeri menyingkirlah. Biarkan aku menangkapnya..” seru Taehyun yang terus mencoba meraih lengan istrinya.


“Bagaimana mungkin kalian berdua begitu kekanakan seperti ini. Berhentilah! Kau akan menjadi seorang ayah, Han Taehyun! Kau tak malu dengan tingkahmu saat ini?” dengus Hyeri pada Taehyun.


Saat laki-laki itu menghentikan permainannya barulah Hyeri berbalik dan menatap ke arah Nara. “Berlarian jelas bukan gerakan yang baik bagi perutmu. Hentikan!” marahnya. Baik Taehyun dan Nara hanya diam sambil menatap Hyeri yang tampak sangat berbeda.


“Menikah membuatmu sedikit lebih galak, Lee Hyeri..” celoteh Taehyun sambil memeluk bahu istrinya. Hyeri tak berniat menyahuti ucapannya. Karena kini wanita itu tengah kembali bergelut dengan pembakaran dan membalik daging di hadapannya yang terlihat matang. Hyeri tersenyum singkat, mengambil sebuah daging disana dan menyuapkannya di mulut Hyunjin sambil tersenyum ramah.


“Wah, daebak. Ini sangat enak.” Sorot mata Hyunjin terlihat begitu menyukai masakan istrinya. Bibirnya yang mengunyah potongan daging yang terlihat begitu menggiurkan. Hal itu cukup membuat dua orang yang kini menatapnya menyentuh perutnya lapar.


“Kau mau coklat panas..?” suara yang datang terdengar memecahkan keheningan. Shin Jihyun datang dengan membawa sebuah nampan berisikan beberapa cangkir coklat panas yang baru saja ia buat. Ia mengarahkan nampan itu pada Taehyun dan Nara.


“Di mana Baekki?”


“Ah, dia sedang berbincang dengan Tuan Han..”


Arah pandang Taehyun seketika berbalik, menatap ke arah tempat dimana kini ayahnya tengah berbincang serius bersama Baekki dan ibunya. Sejenak Taehyun melenguh.


“Suruh kekasihmu itu sejenak berhenti bekerja. Dia kan bukan robot yang tak memiliki rasa lelah. Bahkan disaat bersantai seperti ini dia masih saja membahas pekerjaan.” Protes Taehyun


“Bukankah kau presdirnya? Harusnya tak kau biarkan dia bekerja sekeras itu” sela Hyunjin yang tampaknya mulai ikut campur dalam pembicaraan.


“Sudahlah. Daripada terus bicara tak berguna sebaiknya kalian bantu aku!” Hyeri memberikan piring berisi daging di tangannya pada Taehyun, sedang japit pembalik ia berikan pada Hyunjin. Ya, cara itu cukup ampuh dalam membuat orang-orang yang berdiri disana mendekati pemanggang dan ikut membantunya memasak dalam pesta kecil ini. Semua benar-benar terlihat bahagia disana.


.


.


 


Disisi lain, seorang pria tampak sangat murung. Beberapa hari ini ia bahkan terus terlihat diam dan menyendiri. Han Jaehyun, pria malang itu seolah kehilangan Jiwanya. Ia hampir lupa tentang bagaimana caranya untuk tersenyum. Raut wajahnya kacau. Rambutnya tak tertata rapi, dan wajahnya terlihat sedikit pucat. Ia mendesah lagi, entah ini sudah yang keberapa kalinya. Tapi wajahnya kini benar\-benar terlihat sangat lelah. Semuanya dalam hidupnya terasa begitu melelahkan.


 


Sedari tadi ia memang berdiri disana, di balik jendela kaca yang membatasi antara ruang tengah dengan taman dimana pesta kecil itu telah di laksanakan. Ia bisa melihat dengan jelas orang-orang itu tersenyum.


Orang-orang yang selama ini disakiti tengah tersenyum bahagia diluar sana. Lee Hyeri, Kim Hyunjin, Lee Baekki, Shin Jihyun, mereka bahkan bukanlah kerabat ataupun saudara, tapi mereka bisa begitu menyatu dan diterima. Jauh lebih baik bukan daripada dirinya.


Ya, dia hanyalah anak haram yang seharusnya tak disana. Benar apa yang selama ini ia pikirkan. Kehadirannya sama sekali tak diharapkan. Dirinya hanya akan membawa luka di keluarga itu. Mereka terlihat mematikan percikan api di pemanggang, kemudian berjalan ke papan dimana Tuan Han tengah duduk. Hyeri mengaitkan lengannya di tangan Hyunjin, menyandarkan kepalanya pada bahu suami yang baru di nikahinya. Nara dan Taehyun saling berjalan beriringan, dan Jihyun yang kini membawa sepiring besar daging di tangannya tengah tersenyum manis menghampiri kekasihnya. Han Taekyung dan Jira juga terlihat begitu bahagia menatapi mereka. Entahlah, tapi pemandangan itu cukup menyakiti hati dan perasaan Jaehyun. Mendadak ia merasakan takut yang amat sangat dalam dirinya. Tubuhnya bergetar dan ia seperti ingin menangis pilu dalam kesendiriannya.


“Tuan muda, Tuan Han meminta anda untuk bergabung..” kata salah seorang pelayan yang perlahan berjalan mendekatinya. Cepat-cepat Jaehyun menghapus air matanya dan berusaha sebisa mungkin untuk menetralkan raut wajahnya agar tak terlihat menderita.


 


Jaehyun berjalan dengan sangat pelan. Amat pelan sampai rasanya tubuhnya tak bergerak walau ia tengah melangkah. Wajahnya ia tundukkan dalam dan jari\-jari tangannya saling terpaut resah. Ketika langkahnya semakin mendekat ia mengangkat kepalanya, menatap yakin seiring dengan kemantapan hatinya.


 


“Oppa, kemarilah..” teriakan Nara terdengar di telinganya. Mungkin hanya wanita itu yang masih sudi untuk tersenyum padanya setelah kejadian kemarin. Mungkin hanya wanita itu yang masih mau menatapnya setelah apa yang eommanya lakukan pada keluarga ini. Jaehyun berusaha menarik kedua sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyum klise.


“Maaf, aku terlambat” ujar laki-laki itu ragu. Ia bediri di depan orang-orang itu yang terasa menatapnya asing.


“Anio Hyung. Kami bahkan belum memulainya.. Kemarilah..” uluran tangan Taehyun seperti sebuah jembatan yang membawanya menyatu dengan keluarga itu. Jaehyun duduk disamping Taehyun dan Jira. Menatap canggung pada ayahnya dan kemudian menundukkan kembali kepalanya malu.


“Aku senang kita bisa berkumpul seperti ini. Ini sangat menyenangkan..” sambut Tuan Han dengan suara ringkihnya yang terdengar serak.


“Kita harus sering-sering melakukan ini aboji..” Taehyun terlihat menyetujui.


“Akan lebih menyenangkan jika ada suara tangis seorang bayi di tengah-tengah kita..” semua pandangan langsung tertuju pada Nara. Ya, mereka semua menatap ke arah yang sama. Menatap ke arah perut wanita cantik yang pipinya tengah merona merah itu.


“Jangan menatapku seperti itu..” ujar Nara malu. Ia benar-benar menundukkan wajahnya dan memasang ekspresi yang sangat lucu disana. Semua orang terdengar tertawa kecil mendengar penuturannya.


 


Mereka mulai makan bersama setelah itu. Tak ada lagi suara yang memekik, tak ada lagi gelak tawa, karena semua tengah sibuk dengan berbagai makanan dan pembicaraan\-pembicaraan kecil dengan pasangannya. Saat itulah dehaman dari bibir Jaehyun seolah mengintrupsi. Laki\-laki itu meletakkan sendok di tangannya dan tampak mengamati masing\-masing wajah di sekitarnya ragu.


 


“Maaf, tapi ada sesuatu yang ingin ku bicarakan padamu aboji..” ujar Jaehyun. Tuan Han terlihat meraih segelas air putih untuk ia tegak sebelum menatap dalam-dalam wajah putra pertamanya itu.


“Ada apa, Jaehyun..?”


“Aboji, bisakah aku menukar semua hak milikku atas perusahaan dengan sesuatu yang lain?”


Tuan Han mengernyit bingung. Hal yang sama juga tengah Taehyun dan Baekki tunjukkan. Mereka sama-sama mengernyit dan tampak menerka-nerka akan pemikiran pria itu.


“Apa maksud perkataanmu, Han Jaehyun?”


“Aku menolak posisi Direktur Utama di Kim Group, dan sebagai gantinya bisakah kau memberikan penginapan keluarga di Jepang padaku? Jika kau tak keberatan aboji, aku ingin mengelolahnya..”


“Apa?!” jerit Taehyun.


“Tidak! Apa yang sedang kau pikirkan, huh..?”


“Taehyun-ah..” redam Nara. Wanita itu menyentuh sebelah lengan suaminya untuk menenangkan.


“Jaehyun-ah, kau tau penginapan itu bahkan hampir di tutup karena pendapatannya yang terus menurun drastis. Kenapa kau menginginkannya? Itu sama sekali tak menguntungkan.” Jelas Tuan Han secara terang-terangan. Kali ini Jaehyun tersenyum.


“Karena itu sama sekali tak menguntungkan bagimu aboji, bisakah kau berikan itu padaku? Akan ku tukarkan dengan semua saham dan hakku atas Han’s Group..”


“Kau sama sekali tak menginginan posisi Direktur Utama?” tanya Tuan Han sekali lagi.


“Tidak”


“Bisa kau berikan alasan mengapa kau melakukan ini?”


“Agar suatu saat nanti aku bisa menatapmu kembali ayah. Setelah semua yang terjadi, aku tak yakin bahwa diriku mampu menatap dan memanggilmu ayah. Ada banyak hal disini yang membuat ku kehilangan harga diri dan juga kepercayaan diriku. Aku ingin memulai semuanya dari awal.” Jawab Jaehyun. Ada setitik genangan air mata di sana. luka laki-laki itu terlihat dengan sangat jelas.


“Akan ku berikan perusahaan lain padamu, yang jauh lebih baik daripada penginapan itu!”


“Jangan. Ku mohon, jangan. Aku tak cukup pantas untuk itu aboji. Ku mohon biarkan aku memiliki penginapan itu, dan biarkan aku membangunnya kembali atas dasar usaha dan kemampuanku.”


“Jaehyun-ah, kau sama sekali tak perlu melakukan ini hanya karena rasa bersalahmu, nak. Kau tetap putraku. Bahkan setelah apa yang terjadi. Tak bisakah kau menganggapku sebagai ibumu?” Jira menggenggam erat tangan Jaehyun di pangkuannya. Ia bahkan membelai sebelah pipi Jaehyun dengan tangannya yang lain.


“Suatu kehormatan bagiku jika orang sebaik anda bersedia menjadi ibuku, nyonya. Aku tentu akan sangat bahagia. Tapi aku tak bisa. Aku tak mungkin bisa memanggil anda ibu jika aku tetap berada disini. Kesalahan yang telah eommaku lakukan begitu besar. Bahkan eommaku telah menyakiti anda, menghancurkan keluarga dan juga kebahagiaan di keluarga ini. Aku mewakilinya meminta maaf. Ku mohon maafkan ibuku. Maaf jika selama ini ibuku telah merusak keluarga anda yang bahagia.”


Air mata Jira luruh. Hatinya terasa begitu sakit. Ia juga seorang ibu, dan ia mungkin akan bisa merasakan bagaimana rasa sakit itu datang ketika melihat anaknya meminta maaf atas kesalahan yang sama sekali tak pernah ia lakukan. Tidak, ini bukan salah Jaehyun. Ia bahkan tak pernah ingin semua ini terjadi. Dan sungguh tidak adil jika laki-laki muda seperti Jaehyun harus menerima segala akibat dari kejahatan ibunya. Jira memeluk erat tubuh Jaehyun dalam dekapannya..


“Tidak Jaehyun-ah, ini bukan salahmu. Jangan pernah merasa bersalah atas kesalahan yang sama sekali tak kau perbuat. Jangan seperti ini..”


Sedari tadi Jaehyun terus mencoba menahan laju air matanya yang terus memaksa turun. Ia mencoba tegar dihadapan semuanya.


“Aku tak mengijinkanmu pergi. Tetaplah disini..” seru Jira sesaat setelah melepaskan pelukannya di tubuh Jaehyun. Ia menatap lembut manik mata Jaehyun.

__ADS_1


“Aku tidak bisa. Aku tidak mungkin melakukannya..” Jaehyun menggelengkan kepalanya lemah.


“Ku Mohon Aboji..”


“Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Akan ku berikan penginapan itu padamu, berjanjilah untuk mengelolahnya dengan baik.” Jaehyun segera mengangguk yakin saat menatap ayahnya.


“Dan berjanjilah kau akan hidup dengan baik disana.”


“Tentu. Tentu ayah..” laki-laki itu memeluk ayahnya erat.


“Aku akan pergi besok pagi.”


“Apa..?!” seru Taehyun tak percaya


“Ta-Tapi kau tak perlu pergi secepat itu Jaehyun-ah..!” larang Tuan Han.


Jaehyun hanya tersenyum. Ia belum sempat memberikan jawaban lain karena tiba-tiba terdengar suara letusan kembang api yang terlihat sangat indah di langit sana. Semuanya tampak terkejut dan memandang ke arah langit takjub. Siratan dari percikan kembang api tampak berjatuhan indah. Sangat indah hingga mampu membuat semua tersenyum, tak terkecuali Jaehyun yang kini juga tersenyum di tengah-tengah dekapan ayahnya dan juga Jira. Malam Pergantian Tahun yang terasa begitu indah dan penuh haru.


.


.


.


***


.


.


.


Jam disana menunjuk pada angka 12. Beberapa menit pertama di awal tahun yang baru saja berjalan. Jaehyun menatap langit diluar sana melalui balkon ruang tengah di lantai dua. Kembang api masih terlihat mewarnai hamparan langit gelap itu, memberikan warna-warna tak terlupakan. Bagai hidup yang akan terus berwarna.


Memutuskan pergi terlebih dulu dari pesta dan menyendiri sembar meratapi nasib buruknya, itu yang sebenarnya ingin Jaehyun lakukan. Tapi semuanya berantakan saat wanita itu tiba-tiba muncul di belakangnya. Nara berjalan pelan untuk sampai di samping Jaehyun. Ia meletakkan kedua lengannya yang tengah bertaut diatas besi pembatas balkon dan masih menatapi kembang api di langit itu dengan takjub. Walaupun ia terus menatap Jaehyun yang tengah menatapnya melalui ekor matanya. Nara memutar sedikit tubuhnya agar berhadapan dengan Jaehyun.


“Kau benar-benar akan pergi?” ujar Nara yang mendapat anggukan yakin dari Jaehyun.


“Kenapa kau lakukan ini Oppa?”


“Inilah yang harus ku lakukan. Dari awal aku memang tak seharusnya berada disini, Nara. Keluarga ini hanya akan bahagia tanpa kehadiranku dan eomma.”


“Oppa...”


“Menurutmu apa yang bisa ku lakukan sekarang? Eommaku berada di penjara. Kau pikir aku masih bisa berada diantara keluarga ini setelah eommaku mencoba menghancurkannya? Aku tak cukup kuat untuk menanggung ini semua..”


“Karena itu kau melarikan diri?”


“Terserah kau menyebutnya apa. Tapi bagiku ini adalah sebuah usaha untuk tetap hidup.”


“Oppa...”


“Aku juga tak bisa berada disini dengan perasaan seperti ini Nara. Jika aku tetap berada disini, aku tak akan pernah bisa berhenti untuk mengejarmu. Aku akan terus berfikir tentang cara mendapatkanmu kembali. Dan itu akan semakin membawaku dalam kehancuran. Jika aku ingin berada disini, aku harus membuang perasaan ini terlebih dahulu. Kau harus berada di jarak sejauh mungkin dariku, hingga aku tak mungkin lagi melihat ke arahmu..”


Nara memeluk tubuh Jaehyun. Menyisipkan kedua lengannya di pinggang Jaehyun dan menghirup lekat-lekat aroma tubuh kakak ipar yang dulu menjadi kekasihnya itu.


“Maaf..” gumam wanita itu.


“Maaf, Oppa..”


Jaehyun tak menjawab, tapi lingkaran erat tangannya di punggung Nara seolah cukup mengisyaratkan bagaimana laki-laki itu tengah memaafkan apapun yang telah Nara lakukan.


“Hiduplah dengan baik, Nara. Berjanjilah padaku untuk selalu hidup dengan bahagia..” Jaehyun tersenyum tepat di depan wajah Nara. Ia mengacak rambut wanita itu pelan.


“Kau juga. Temukan gadis lain yang benar-benar mencintaimu dan hiduplah dengan baik..”


Tak mau membuat gadis itu terus bersedih Jaehyun menjawab dengan nada ceria dan terdengar bahagia ketika ia mengatakan, “Aku sudah menemukannya..” dan ia memutar tubuhnya, menyandarkan kedua lengannya di besi pembatas baklon sambil tersenyum penuh arti.


“Benarkah? Kau sudah menemukan gadis lain? Siapa..?”


“Aku tak ingin memberitahumu..”


“Lebih cantik darimu..”


“Benarkah? Memangnya ada gadis yg lebih cantik dariku di dunia ini..? Apa aku mengenalnya?”


Jaehyun diam tak memberi jawaban, membuat Nara kesal dan memalingkan wajahnya, mencoba merajuk. Tapi saat itu tanpa sengaja pandangan mata Nara menangkap siulet bayangan seorang gadis yang tengah berdiri di depan pagar rumah. Gadis itu terlihat berjalan mondar mandir dengan kedua tangan yang saling *** cemas. Ia mengernyit sejenak.


“Oppa, apa gadis yang kau maksud itu berambut panjang..?”


“Ya..” jawab Jaehyun ringan. Ia masih bertahan pada posisinya bersandar di balkon dan membiarkan Nara membelakangingya.


“Apa dia berambut coklat dan bergelombang..?”


“Ya..”


“Apa dia seorang designer..?”


“Kenapa kau terus bertanya..?!” protes Jaehyun. Kali ini Nara membalikkan kembali tubuhnya. Ia menatap Jaehyun penuh senyum.


“Karena aku ingin tau Oppa. Apakah gadis itu seorang designer..?”


Jaehyun hanya mengangguk pelan. Mendapati jawaban yang begitu meyakinkan Nara pada akhirnya tersenyum senang.


“Gadis itu adalah Soyeon eonni. Kau menyukai designer Han’s Group, Cho Soyeon..” tebak Nara. Wajah Jaehyun terlihat sangat terkejut. Ia bahkan terlihat salah tingkah. Dan tiba-tiba ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal sambil tersenyum dengan pipi yang merona.


“Da-Darimana kau tau..?”


“Karena dia sedang menunggumu..” Nara menarik tangan Jaehyun. Membawa tubuh pria itu untuk berjalan ke sisi kanan balkon dan meunjuk ke arah seorang gadis yang memang tengah berjalan mondar mandir di depan gerbang. Jaehyun menatap itu dengan matanya yang membulat tak percaya.


“Oppa, dia gadis yang baik. Aku tau itu. Dia bahkan sudah mencintaimu sejak kita masih SMA. Dulu aku sangat cemburu padanya, karena dia tau lebih banyak tentangmu daripada aku. Tapi sekarang aku benar-benar sangat bahagia ketika aku mengetahui kau juga menyukainya.”


“Apa yang kau bicarakan! Aku tidak menyukainya!”


“Oppa, berhentilah berpura-pura. Cepatlah temui dia..!” Nara terus mendorong tubuh Jaehyun untuk menjauh dan turun menemui Soyeon. Dan saat melihat Jaehyun dan gadis itu saling berhadapan, Nara tersenyum senang di kejauhan. Ia terus memperhatikan keduanya dari atas balkon.


“Walaupun harus seperti ini akhirnya. Tapi setidaknya aku bisa bernapas lega. Karena aku bisa melihatmu tersenyum bahagia. Walaupun aku tak lagi jadi alasan kebahagiaanmu itu, oppa..” gumam Nara lirih sambil terus menatap ke arah keduanya.


“Semoga kalian berdua bisa selalu bersama..” imbuhnya sambil tersenyum seraya mengelus perutnya yang terasa sedikit mual.


“Apa yang sedang kau lakukan?” tegur sebuah suara berat yang kini menghampirinya. Nara menoleh ke arah itu, dan ia mendapati kedua tangan suaminya tengah menyusup di pinggangnya, memeluknya dari arah belakang.


“Lihatlah! Bukankah mereka berdua sangat cocok?” tanya Nara yang syarat akan nada bahagia di setiap ucapannya.


“Itu...”


“Soyeon eonni dan Jaehyun oppa..” sahut Nara antusias.


“Jadi mereka akhirnya memutuskan untuk mulai saling mencintai?”


“Hmmm..”


“Waaah...” gumam Taehyun takjub sambil mengeratkan pelukannya di pinggang istrinya.


“Wajahmu terlihat sangat bahagia, Han Taehyun-ssi..” ejek Nara.


“Hmmm..”


“Boleh ku tanya kenapa?” Nara mendongak ke arah belakang, berusaha menatap wajah suaminya yang berdiri di balik punggungnya


“Apa kau masih harus bertanya alasannya?” Taehyun membalas tatapan Nara tanpa melepaskan pelukannya.


“Apa?”


“Karena aku tak perlu lagi merasa khawatir akan kehilanganmu, Kim Nara..”


“You’re mine. And always be mine..” lanjutnya yang kemudian mencium pipi istrinya lembut.

__ADS_1


“Hanya itu?”


“Kau ingin yang lain?” Taehyun masih menatap kedua manik mata Nara lekat.


“Katakan kau mencintaiku..” rengek wanita itu manja.


“Eh?”


“Cepat katakan!”


“Ya Tuhan..” Taehyun menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


“Katakan! Anak kita ingin mendengarnya..” Nara memajukan bibirnya kesal.


“Terus saja jadikan anakku sebagai alasan..” dengus Taehyun tak suka.


“Apa susahnya mengatakan cinta?!”


“Ah, baiklah. Baiklah..” Taehyun menghela napasnya panjang, berusaha mengalah dan tak menyulut perdebatan dengan istrinya. Ia memutar tubuh Nara untuk menghadap ke arahnya.


“Kim Nara..”


“Hmmm?” Nara tersenyum sangat lebar menunggu suaminya mengatakan kalimat itu.


“I Love you..” ujar Taehyun singkat dengan wajah bersemu malu.


“Hahaha...” Nara terkikik sejenak dan memeluk suaminya erat.


“I Love You, too..” bisiknya di telinga suaminya.


.


.


.


-The End-


.


.


.


Epilogue


.


.


.


Jaehyun menghela nafas panjang saat berdiri di depan sebuah gerbang besi besar dihadapannya. Ia tampak begitu ragu untuk melangkah masuk. Hingga suara seorang gadis terdengar di telinganya.


“Masuklah..” ujar gadis berparas cantik itu ketika membelai sebelah lengan Jaehyun pelan.


“Ikutlah bersamaku..”


“B-Benarkah aku boleh ikut?”


“Tentu. Paling tidak aku harus mengenalkan gadis yang ku pilih pada eomma..” Jaehyun menggenggem erat tangan Soyeon untuk mengikuti arah langkah kakinya yang berjalan masuk.


Di dalam sana, wanita tua itu tengah duduk di sebuah kursi kayu yang tampak usang. Ia tak secantik dulu. Tak ada perhiasan yang melekat di tubuhnya, tak ada tatanan rambut mewah di kepalanya. Bahkan tak juga ada riasan dan baju bagus. Kondisi Eun Hee terlihat menyedihkan di tengah hukuman yang harus ia jalani dalam penjara yang mencekam itu.


“Eomma..” pantau Jaehyun pelan. Ia mengambil duduk di samping ibunya, menggenggam tangan ibunya erat dan membawa tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya. Keduanya terisak dalam tangis, dan Soyeon lagi-lagi hanya bisa memperhatikannya dari kejauhan.


“Semuanya sudah berakhir sekarang, Eomma..”


“Semuanya sudah berakhir..” rancaunya kacau.


“Jaehyun-ah, maafkan Eomma..” sang ibu ikut menangis dalam pelukan anaknya tercinta.


Kita memang tak pernah tahu bagaimana hidup akan berlaku pada kita. Karena kita tak tahu takdir apa yang Tuhan gariskan. Tapi dalam hidup ini, apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai nantinya. Jika kau berbuat baik, Tuhan tak akan tidur dan memberimu kebaikan yang berlimpah. Tapi ketika kau bertindak serakah, maka Tuhan juga bisa merebut semuanya darimu. Karena baginya, mengubah nasib dan hidupmu, semudah membalikkan telapak tangan. Disinilah kisah itu berakhir.


“Eomma, aku akan selalu menunggumu..” ujar Jaehyun lembut.


“Sampai kapanpun, aku akan menunggumu, eomma. Kita bisa hidup bersama kembali, nanti. Kau, aku dan dia..” Jaehyun menatap ke arah Soyeon sekilas yang memang berdiri disana diam.


“Jaehyun...” Wanita itu tak mampu berkata lain. Ia terlalu malu atas semua perbuatan kejih yang selama ini dirinya lakukan. Yang Eunhee lakukan hanya menangis memeluk lengan anaknya.


“Waktumu sudah habis!” tegur penjaga disana yang menarik lengan Eunhee untuk kembali ikut bersamanya.


“Tapi—“ Eunhee belum rela melepaskan tangan anaknya.


“Ayo!” penjaga wanita itu menarik tangan Eunhee menjauh.


“Eomma, kau harus baik-baik saja sampai saat itu. Kau harus selalu bertahan eomma. Aku janji, aku akan menjemputmu nanti. Kita akan kembali tinggal bersama dengan bahagia..” Jaehyun tak kuasa menahan tangisnya saat melihat tubuh ibunya yang sudah tampak rentan di seret seperti itu. Soyeon mendekatinya. Ia menyentuh lengan Jaehyun menenangkan.


“Tolong jangan sakiti Eomma ku. Jangan perlakukan dia seperti itu. Kau tak lihat, tubuhnya sudah sangat lemah. Ku mohon jangan paksa dia..”


“Jaehyun oppa, tenanglah..” Mata Soyeon ikut berkaca-kaca menatap air mata Jaehyun yang menggenang.


Karena setiap kesalahan harus di tebus. Agar kau dapat hidup dengan jauh lebih baik di kehidupan selanjutnya..


.


.


.


-FIN-


.


.


.


Author’s Note:


.


.


Finally....


Please, say good bye to “My Possessive Husband”... Huhuhu...


*belum rela pisah aku tuh*


For the last, I wanna say thank you to all of you my lovely readers..


Terimakasih udah ikutin cerita ini dari awal sampai akhir.


Semoga kalian suka akan endingnya, dan semoga cerita ini bisa berkesan di hati kalian..


Jangan lupa like, komen dan review nya ya..


I Purple You..


.


.


With Love,


ByunRa93_

__ADS_1



bye... bye... 😘


__ADS_2