
-Previous Chapter-
.
.
“Baek, berikan kunci mobilmu..” sergah Taehyun dengan nada memerintah yang selalu ia gunakan.
“Ya?”
“Cepat berikan kunci mobilmu, Lee Baekki!” gertaknya marah. Baekki mendesah. Lagi-lagi pria itu di perlakukan seenaknya oleh sang atasan. Namun sayangnya, ia tak bisa membantah, mengingat wajah Taehyun yang terlihat tidak baik.
Baekki merogoh saku celananya dan memberikan benda kecil itu pada Taehyun. Disaat yang bersamaan, Taehyun langsung mendorong tubuh istrinya untuk masuk ke dalam mobil. Nara terlihat meronta. Namun Taehyun terus memaksanya.
“Ku pinjam mobilmu, Baek..” ucap Taehyun datar sebelum ia masuk ke dalam mobil itu dan melajukannya dengan kecepatan tinggi di tengah jalanan Seoul malam itu.
.
.
***
.
.
Terkadang kau harus berdamai dengan keadaan,
Mengalah pada keegoisan,
Hanya untuk meraih apa yang benar-benar hatimu inginkan..
.
.
.
My Possessive Husband
©ByunRa93_
.
.
Suasana di dalam mobil masih hening tanpa ada yang bersuara. Taehyun mengeratkan genggamannya pada stir mobil milik Baekki. Rahangnya mengeras, bahkan nafasnya tersengal ketika ia mati-matian menahan amarah dalam dirinya. Sedang Nara sedari tadi memalingkan wajahnya, tanpa berniat sedikitpun menatap ke arah Taehyun. Ia mengarahkan pandangannya ke arah jendela yang ada disampingnya. Pikirannya masih bergelut dengan berbagai hal yang rumit.
Saat itu, Taehyun melirik sekilas raut wajah istrinya kemudian ia meraih kotak tissue di atas dasboard mobil dan melemparkannya pelan ke pangkuan Nara. Gadis itu menoleh, menatap tajam ke arah suaminya.
“Bersihkan bibirmu!” perintah Taehyun. Nara masih bersikeras. Ia tak menghiraukan ucapan Taehyun dan kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela mobil.
“Kau tak mendengarku? Bersihkan bibirmu, Kim Nara!” ulang Taehyun dengan nada yang meninggi. Nara masih tak merespon. Ia masih terlalu kesal pada suaminya.
“Cepat bersihkan dengan itu, atau kau akan menyesal!” kali ini tak ada nada bercanda dari suara Taehyun. Ia benar-benar serius dan marah. Nara tau itu. Dan mungkin setelah ini hal buruk benar-benar akan terjadi padanya.
Nara mengambil selembar tissue dan mengelap sudut-sudut bibirnya sekenanya, membuat Taehyun menggeram kesal. Ketika lampu merah di depannya menyala Taehyun menginjak rem mobilnya dalam-dalam. Tangannya dengan segera mengambil tissue di pangkuan Nara, kemudian membersihkan bibir ranum istrinya yang terlihat memerah. Dengan sangat arogan Taehyun mengelapnya menggunakan tissue ditangannya.
“Kita belum selesai, Kim Nara!” bisik Taehyun di telinga Nara. Ada sebuah ancaman dibalik nada bicaranya yang terdengar dingin. Nara bergerdik. Sedang Taehyun kembali ke posisinya, menginjak gas mobilnya dalam ketika lampu lalu lintas berwarna hijau menyala.
.
.
***
.
.
“Brakk..!”
Taehyun membanting pintu mobil itu dengan keras. Kembali ia mencengkeram lengan istrinya kuat-kuat dan menariknya keras untuk masuk kedalam rumah. Nara terlihat tersandung kecil ketika high heels yang sedang ia kenakan terselip pada anak tangga menuju pintu masuk rumah keluarga Han yang cukup tinggi. Belum lagi, dress selututnya yang sedikit menyulitkan langkahnya yang terus ditarik paksa. Ia meruntuk dalam hatinya. Menangisi keadaan kakinya yang beresiko memar akibat siksaan High Heels yang terus menggores jari-jari kakinya.
“Hentikan!” bentak Nara keras, ketika dirinya sudah mulai muak akan perlakuan suaminya.
“Lepaskan aku Han Taehyun!” ia terus meronta, berusaha melepaskan cengkeraman suaminya yang terasa semakin mengeras.
Taehyun sama sekali tak menghiraukan. Ia justru semakin menarik tubuh Nara untuk menaiki anak tangga menuju kamar mereka di lantai dua rumah itu. Mendengar keributan yang terjadi, tuan Han yang tengah beristirahat keluar dari kamarnya. Ia terlihat begitu terkejut melihat putra bungsunya tengah menarik tangan istrinya kasar.
Taehyun menghempaskan tangan Nara untuk masuk kedalam kamar mereka. Kemudian yang terdengar setelahnya hanya suara keras pintu yang membentur hebat akibat tendangan dari kaki Taehyun. Dengan begitu tiba\-tiba, Taehyun merengkuh wajah Nara dan mencium bibir gadis itu.
Nara benar-benar terkejut, sampai kedua matanya membulat sempurna. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Dan Taehyun, entah apa yang membuatnya bertindak seperti itu. Dirinya seperti tengah hilang kendali.
Beberapa saat berlalu, Taehyun akhirnya melepaskan ciumannya. Ia masih mengurung Nara dalam kedua tangannya yang menghimpitnya pada dinding rak buku. Ia memajukan tubuhnya selangkah dan membiarkan jarak tubuhnya dan Nara semakin terkikis. Wajahnya masih begitu dekat dengan wajah Nara, hingga hembusan nafas Nara yang terputus-putus membelai permukaan pipinya.
“Kenapa kau membiarkan pria itu mencium mu, huh!” tegur Taehyun yang mulai mendapatkan kembali pengendalian dirinya.
“Bukankah sudah ku katakan, jangan pernah membiarkan orang lain menyentuhmu!” kesalnya.
“Cukup!” ucap Nara yang berhasil mendorong tubuh Taehyun menjauh. Nafasnya masih begitu memburu, bahkan lututnya terasa begitu lemas. Ia seperti tak memiliki tenaga untuk berdiri dengan kedua kakinya, sehingga kini tubuhnya bersandar pada dada Taehyun. Tak ingin melewatkan kesempatan itu, Taehyun dengan sigap memeluk pinggang istrinya erat, sambil menciumi puncak kepalanya posesif. Untuk sesaat mereka bertahan di posisi itu.
__ADS_1
“Kita harus bicara, Nara..” ucap Taehyun parau sambil melepaskan pelukannya di pinggang istrinya. Nafasnya masih terdengar memburu, bahkan raut wajahnya tampak begitu tersiksa saat menahan perasaan yang meronta dalam hatinya. Dengan begitu hati-hati, tangan-tangan kecil miliknya menyentuh bahu Nara. Menggiringnya perlahan untuk duduk pada pinggiran tempat tidurnya yang cukup luas.
Taehyun berdiri dihadapan istrinya yang tengah terduduk. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya. Kedua tangannya menyentuh pinggiran tempat tidur, mengunci tubuh Nara agar tetap disana. Taehyun mendekatkan kembali wajahnya hingga Nara terpaksa mendongak untuk menatapnya. Buncahan perasaan ingin memiliki itu masih begitu besar dalam diri Taehyun, semakin menggila dan terus membuat dirinya merasa tersiksa. Tapi sekuat tenaga ia terus menahannya.
“Maafkan aku, Nara. Maafkan aku..” bisiknya tepat di daun telinga Nara. Nara hanya terdiam tak menjawab.
Lama tak mendapatkan balasan dari Nara, Taehyun mulai bangkit dari posisinya. Ia kembali berdiri dan menatap raut wajah Nara dengan sungguh-sungguh.
Taehyun berjalan pelan ke arah nakas disamping tempat tidurnya. Ia mengabil sebuah map biru dari dalam sana dan membawanya. Perlahan ia duduk disamping istrinya, membuka map ditangannya dan mengambil selembar kertas di dalamnya. Taehyun menoleh. Matanya terlihat penuh dengan keraguan kala tangannya menyentuh bahu Nara, membuatnya menoleh perlahan.
“Nara-ya, ayo kita akhiri semua ini..” gumam Taehyun lirih yang masih bisa Nara dengar dengan begitu jelas. Jantungnya serasa berhenti berdegup. Kedua tangannya bergetar hebat dan matanya memerah menahan tangis. Ia menatap kedua manik mata Taehyun dengan tatapannya yang memberat. Bibirnya bergetar, susah untuk berucap.
“K-Kau, menceraikanku Tae?” tanyanya pelan. Suaranya seperti sangat sulit untuk bisa di dengar.
“Tidak, Nara. Bukan itu maksudku.” Elak Taehyun.
“Sudahlah, berhenti membohongiku..” Pinta Nara yang terdengar menyedihkan.
“Demi Tuhan aku tak akan pernah menceraikan mu, Nara. Aku bahkan tak pernah berniat melepaskanmu. Akan ku lakukan segala cara untuk mengurungmu disisiku. Sampai kapanpun!”
“Apa?” Nara terlampau sulit untuk mencerna segala ucapan Taehyun yang begitu membuatnya syok.
“Nara, ayo kita akhiri semua perjanjian konyol ini. Berhentilah berpura-pura jadi istriku. Aku tak ingin kau melakukannya lagi. Kita akhiri semua sandiwara ini dan--” Taehyun menggantungkan ucapannya. Ada setitik keraguan dalam dirinya, hingga sejenak ia terlihat memupuk niat dalam dirinya dan mengumpulkan segala keberaniannya untuk menerima segala resiko yang mungkin akan ia dapatkan.
“Jadilah istriku yang sesungguhnya. Kita mulai segalanya dari awal. Atas dasar kejujuran, bukan karena perjanjian yang mengikat kita”. Taehyun diam. Ia menunggu gadis itu mencerna segala ucapannya. Dan beberapa menit kemudian, barulah ia mulai menuntut Nara untuk memberi jawaban.
“Nara..” belum sempat ia melanjutkan ucapannya, Nara tampak mulai bersuara.
“Apa maksudmu, Tae?”
“Aku menyukaimu, Nara. Aku menyukaimu..”
“A-Apa? Tapi, sejak kapan kau-”
“Jauh sebelum kau mengenalku.” Potong Taehyun singkat. Ia menatap ke dalam manik mata Nara yang kini membulat terkejut.
“Kau ingat pesta ulang tahun perusahaan tahun lalu? Aku masih ingat, saat itu kau datang dengan menggunakan gaun hitam selutut. Kau terlihat sangat cantik malam itu, Nara..” Taehyun tersenyum dalam ingatannya sendiri.
“Saat itu aku benar-benar merasa bosan. Kau tau bukan, kalau aku bukanlah seseorang yang menikmati sebuah pesta dengan begitu banyak orang yang saling berdiri berdesakan disana. Itu memuakkan. Karena itu, aku menghindari mereka semua dan memilih untuk berkeliling. Tapi saat aku mulai jengah. Seorang gadis menabrakku, menumpahkan minuman ditangannya ke jasku. Kau tau apa kesan pertama yang kutangkap darinya? Dia benar-benar gadis yang cantik. Sorot matanya yang lembut menunjukkan perasaannya yang hangat. Aku tak tau pasti, tapi sejak saat itu aku mulai memikirkan tentangnya. Perlahan-lahan wajahnya terus muncul dalam benakku. Ekpresinya ketika meminta maaf, terus terbayang dalam pikiranku. Dan kau tau, hal yang paling membuatku gila adalah sentuhannya ditubuhku yang tak akan pernah bisa kulupakan. Tiap hari aku selalu memikirkannya. Apa yang sedang ia lakukan? Apakah ia menjalani hidupnya dengan baik? Apa dia sudah memiliki seseorang yang ia cintai? Apa dia memikirkanku? Aku hampir gila karenanya.”
“Coba saja bayangkan, ia bahkan tak sedikitpun tau tentangku. Tapi ia begitu mempengaruhi ku. Sejak saat itu aku terus berusaha mengumpulkan segala sesuatu tentangnya. Menyuruh sekretaris pribadiku untuk mengikutinya dan melaporkan setiap gerak-geriknya padaku. Sampai mulai terbersit ide gila untuk memilikimu.”
“Apa maksudmu, Taehyun-ah?”
“Dengan berkedok balas dendam, berpura-pura memanfaatkanmu untuk mendapatkan apa yang ku inginkan, aku mencoba mengikatmu di dekatku. Kau tau betapa bahagianya aku ketika kau bersedia menyetujui perjanjian ini? Seperti sebuah mimpi, tiba-tiba aku bisa memilikimu. Memiliki gadis yang kucintai. Menjadikannya istriku walaupun aku tau ia tak mencintaku. Aku terus berharap seiring berjalannya waktu kau akan membuka hatimu untukku.”
“Aku bersedia menunggu, walaupun harus menghabiskan seluruh hidupku. Tapi sikapmu padaku selalu membuatku kesal. Kau bahkan selalu besikap dingin dan seolah membenciku. Kau seperti tak pernah menganggapku, Nara. Aku hampir kehilangan akal untuk dapat memilikimu. Sampai suatu ketika, ayah menyuruhku pergi ke Paris. Waktu itu aku memang sengaja tak membawamu bersamaku. Bukan karena aku tak ingin pergi denganmu. Tapi sebenarnya, aku hanya ingin kau mulai menyadari kehadiranku. Aku ingin kau merasakan kehilangan ketika aku tak berada disisimu. Dengan sengaja aku mengabaikan semua penggilanmu dan tak memberimu sedikitpun kabar. Tujuanku hanya satu, aku ingin kau merindukanku.” Taehyun tersenyum kecut.
“Tapi aku salah, bukannya memikirkanku kau justru menghabiskan waktumu untuk berduaan dengan pria sialan itu. Bahkan ketika aku dengan sengaja pulang lebih awal karena merasa diriku hampir mati merindukanmu, yang kudapati adalah istriku sedang tidur bersama dengan pria lain. Pernahkah kau memikirkan bagaimana perasaanku, Nara? Aku terluka. Rasanya benar-benar sakit. Bukan karena kau tak mencintaiku, tapi ini karena perlakuanmu yang selalu berbeda terhadapku. Bersama pria itu, kau bisa terlihat begitu bahagia. Kau selalu membiarkannya menyentuhmu. Tapi kenapa kau selalu berlaku dingin padaku, selalu menolak segala bentuk sentuhanku. Aku bukan orang yang mengidap penyakit menular, kau tak perlu takut akan hal itu.” geramm Taehyun marah.
“Tae..”
“Aku meminta Hyeri datang ke Seoul ketika ia tengah sibuk mengurusi Persiapan pernikahannya di Jeju. Aku sengaja memintanya datang, karena aku tau kau cemburu padanya. Aku ingin kau menngakui perasaanmu. Kau ingat kejadian pagi itu di lift? Saat Hyeri mengatakan padamu jika aku bermalam di apartemennya. Saat itu wajahmu terlihat marah Kim Nara. Untuk pertama kalinya, Kau bahkan mencoba mempertahankanku di hadapan Hyeri. Hari itu kau tau, aku benar-benar bahagia. Sepanjang hari, ku habiskan untuk tersenyum. Bahkan kalimat yang kau ucapkan kala itu masih terus ku hafal. Aku tak percaya kau akan mempertahankanku.”
“Aku menemui Hyeri setelahnya. Aku memohon padanya untuk berpura-pura menggodaku dihadapanmu. Aku bahkan harus berlutut dihadapan Hyeri demi ini. Semuanya ku lakukan asal aku bisa membuatmu mengakui perasaanmu, Nara. Tapi kenapa semua diantara kita terasa begitu rumit. Ketika aku tengah mencoba mendapatkan hatimu, aku justru membuatmu terluka. Karena aku, kau bahkan harus terjatuh ketika mendaki. Saat itu aku benar-benar khawatir. Melihat begitu banyak darah keluar dari kepalamu, sungguh aku mengutuk diriku sendiri. Aku selalu membuatmu terluka, selalu mengingkari janjiku untuk menjagamu. Sebenarnya bukan itu yang ku inginkan..” Taehyun menghentikan ucapannya sejenak. Ia mengambil nafas dalam-dalam ketika hatinya kembali merasakan sebuah rasa sakit.
“Yang paling membuatku terluka adalah ketika kau selalu mengatakan kata ‘Cerai’ dari bibirmu. Seolah aku ini sama sekali tak berarti di hidupmu. Kau bahkan mengatakan dengan begitu tegas bahwa satu-satunya hal yang membuatmu bahagia adalah ketika aku menceraikanmu. Demi Tuhan, aku tak ingin melakukannya Nara..” Taehyun terdiam. Ia menyentuh pelipisnya yang terus berdenyut hebat.
“Ayo kita akhiri perjanjian ini sampai disini...” Taehyun menunggu Nara yang memalingkan tubuhnya membelakangi Taehyun. Saat itu Taehyun kembali menghembuskan nafasnya lelah. Ia terlihat putus asa karena Nara tak kunjung memberinya jawaban. Dengan memaksa keberaniannya, Taehyun melingkarkan sebelah tangannya di leher Nara, sedang tangannya yang lain memeluk tubuh gadis itu dengan begitu erat. Taehyun memeluk Nara dari belakang, menyandarkan dagunya pada bahu Nara.
“Nara, percayalah. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Nara..” bisiknya
Nara membulatkan matanya, masih tak percaya dengan telinga nya sendiri. Detakan jantungnya seketika itu melemah, seluruh tangannya bergetar hebat, dan seperti sedang ada ribuan kembang api yang menggelitik perutnya. Air matanya mengalir keluar dengan sendirinya. Bukan air mata kepedihan yang tadi sempat turun. Ini adalah air mata kebahagiaan. Laki\-laki yang ia cintai, suaminya yang selama ini terlihat dingin, ternyata menyimpan perasaan cinta yang begitu besar untuknya. Bahkan satu kata yang selama ini begitu ingin ia dengar akhirnya terucap dari bibir Taehyun. Sungguh Nara bahagia.
“Nara, bersediakah kau menjadi istriku? Orang terakhir yang akan berada di sisiku, menemaniku, merawatku dan menjagaku hingga akhir. Maukah kau menjadi pelabuah terakhir ku? Mau kah kau menjadi rumah bagiku? Bersediakah kau menghabiskan seluruh waktumu dan menua bersamaku?” Taehyun menggantungkan ucapannya sejenak.
“Aku tak bisa menjanjikan apapun padamu. Aku bahkan tak tau sampai kapan aku akan bertahan di posisiku sebagai direktur perusahaan Han. Aku memang tak bisa menjanjikanmu harta yang berlimpah. Tapi kalau saja kau mau menjadi istriku, aku bisa menjanjikanmu sebuah cinta yang mungkin tak akan pernah ada ujungnya. Sekalipun wajahmu mulai mengeriput, sekalipun kau tak lagi bisa berjalan dengan tegap, tapi aku berjanji akan selalu berada disisimu, menggenggam tangamu dan selalu memberikan cintaku untukmu..” lanjutnya dengan penuh ketulusan.
Nara menangis kala itu. Perlahan ia mulai berbalik, menatap wajah tampan suaminya yang terlihat menahan sesuatu yang ia sendiri tak tau apa.
“Bisakah kau mengatakannya sekali lagi?” ucap Nara yang terdengar seperti sebuah permohonan. Pandangan gadis itu menatap kedalam mata Taehyun, terus berusaha mencari kebohongan di dalam sana.
“Aku, Han Taehyun benar-benar mencintai Kim Nara. Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Jadi, maukah kau menjadi istriku? Istri dalam artian yang sesungguhnya, bukan seorang istri diatas perjanjian. Maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku, menua bersamaku, dan--”
Tidak, Nara tak ingin mendengar apapun lagi dari bibir Taehyun. Semua itu sudah cukup baginya. Ia tak mau menjadi sosok yang serakah dengan menginginkan lebih. Hanya mengetahui suaminya mencintainya, semuanya sudah cukup bagi Nara. Ia benar-benar tak berharap apapun lagi.
Dengan begitu tiba-tiba, Nara merengkuh kedua pipi Taehyun dengan telapak tangannya. Gadis itu memiringkan sedikit kepalanya, mencari posisi yang benar-benar tepat dan mulai mencondongkan bibirnya untuk perlahan mencium daun bibir Taehyun. Melalui ciuman itu, ia seolah menggambarkan betapa dirinya juga mencintai Taehyun.
Taehyun mendorong tubuh Nara, hingga gadis itu terbaring diatas ranjangnya yang luas tanpa sedetikpun melepaskan tautan bibirnya yang semakin intens.
Cukup lama, akhirnya Taehyun melepaskan ciumannya sejenak. Ia menatap wajah Nara dari posisinya. Pandangan mata keduanya bertemu, saling menatap dalam. Saat itu, seolah ada rekaman memori dalam benak keduanya yang tengah berputar. Taehyun mulai mengingat kembali saat\-saat dimana dirinya untuk pertama kali bertemu dengan gadis itu. Sorot mata Nara masih sama seperti dulu, begitu hangat dan menengakan.
Sedang Nara perlahan mulai mengingat bagaimana sosok Taehyun dengan stelan tuxedonya yang indah sedang berdiri menunggunya di altar. Itu adalah kali pertama bagi Nara merasakan perasaan cinta bagi pria itu. Taehyun menatap sejenak wajah istrinya.
“Aku mencintaimu, Kim Nara..” ucapnya pelan. Ia mencium hidung Nara, kemudian beralih pada dahi istrinya. Memberikan kecupan penuh cinta disana. Sedetik kemudian Taehyun kembali menatap Nara. Pandangannya benar-benar mengisyaratkan betapa pria itu mengingainkannya.
“Nara..”
“Humm?”
“Apa kau juga mencintaiku?”
__ADS_1
“Apa aku harus menjawabnya?”
“Hmmm. Kau mencintaiku?” Taehyun mentap istrinya sungguh-sungguh.
“Ya. Aku mencintaimu, Han Taehyun. Aku rasa, aku benar-benar mencintaimu..” jawab Nara malu-malu.
“Benarkah?” Taehyun sedang mencoba menggoda istrinya yang terlihat semakin menggemaskan.
“Kau meragukanku?” tanya Nara, yang dengan segera di balas dengan gelengan singkat dari kepala Taehyun.
“Aku percaya kau, Nara. Tapi—“ Taehyun menggantungkan ucapannya.
“Tapi?”
“Bolehkah aku meminta sebuah jaminan untuk itu?” dahi Nara mengernyit tak mengerti.
“Jaminan? Jaminan apa?”
“Nara..” Taehyun mengentuh dan menggenggam jemari tangan Nara lembut. Kedua matanya menatap manik mata gadis itu tulus.
“Kau ini kenapa?”
“Nara..” pantau Taehyun lagi. Kali ini, nada suaranya terdengar jauh lebih manja.
“Apa?”
“Bolehkah aku memilikimu malam ini?” tanya Taehyun dengan wajahnya yang terlihat sangat lucu.
“Yak..!!” Nara memukul lengan suaminya malu.
“Ayolah. Bukankah kau ini istriku? Apa salahnya jika suamimu menuntut hak nya, huh?” Taehyun semakin memanyunkan bibirnya lucu.
“Ya?” tawarnya lagi pada Nara.
“Tidak..” jawab Nara tegas.
“Nara, ayolah..”
“Anggap saja ini adalah bentuk perdamaian diantara kita. Ya?”
“Tae..” Kali ini justru Nara yang menunjukkan wajah memelas di hadapan suaminya.
“Bodoh! Aku tak peduli. Kau mau atau tidak, suka atau tidak, aku akan tetap melakukannya..”
Taehyun menyentuh baju Nara.
“Yak, Han Taehyun..” protes Nara.
“Diamlah..!”
“Tae..!!”
“Diam, Nara!”
“Kau ini, issh—“
“Tae~~”
Dan seperti malam-malam sebelumnya, malam itu masih di penuhi pertengkaran diantara keduanya yang hampir tak pernah ada habisnya.
.
.
.
-To Be Continue-
.
.
.
Author’s Note:
.
.
Hayoloh! Apa yang Taehyun dan Nara lakukan pada akhirnya?
Udahlah, jangan kepo.. hehe..
Kritik dan saran aku tunggu ya..
Semoga kalian masih berkenan buat membaca..
.
.
__ADS_1
With Love,
ByunRa93_