
Jaehyun menghentikan derum suara mobilnya ketika kini ia sepenuhnya masuk di pelataran gelap sebuah rumah kecil di pinggiran kota Seoul. Rumah itu memang cukup jauh dari pemukiman penduduk sehingga hampir tak ada suara bising disana. Sepi, dan sangat sepi.
Malam ini suasana disana terlihat cukup mencurigakan. Halamannya yang biasanya kosong, kini terlihat penuh dan ramai. Beberapa mobil mewah berjajar disana, seolah memberikan sebuah gambaran yang jelas jika pemiliknya memang tengah berkumpul di dalam. Jaehyun masih terdiam di dalam mobilnya. Ia belum berniat untuk keluar, sebelum benar-benar bisa memprediksi akan kondisi dan situasi yang tengah ibu nya ciptakan di dalam sana. Yang Ia lakukan hanya memandangi dinding kertas rumah tradisional kecil milik keluarganya itu baik-baik.
Kenangan buruk masa kecilnya begitu saja menyusup dalam benaknya, membuat Jaehyun sedikit gemetar dan takut dalam imajinasi yang ia ciptakan sendiri. Sudah puluhan tahun ia meninggalkan rumah kecil itu. Ia bahkan tak pernah tau jika ibunya masih mempertahankan tempat ini dan merawatnya. Kini rumah itu tampak sedikit lebih baik dan nyaman. Jauh dari kondisinya dulu yang kumuh.
Sinar lampu di dalamnya yang menyala terang memberikan sebuah isyarat jika pertemuan besar itu benar-benar di lakukan di dalam sana. Jujur saja, hingga detik ini masih sulit bagi Jaehyun untuk mempercayai jika ibunya sampai hati melakukan pertemuan ilegal dengan para pemegang saham Han’s Group di rumah kecil mereka. Rumah itu adalah sebuah gubuk kecil yang selama ini menjadi saksi bisu akan bagaimana sulitnya kehidupan seorang Yoon Eunhee di tengah pelariannya. Eunhee bahkan melahirkan Jaehyun seorang diri dirumah ini. Bagaimana mungkin, rumah yang memiliki kenangan ini di jadikan sebuah tempat untuk membangun konspirasi oleh ibunya?
Jaehyun menggelengkan kepalanya saat ia merasakan pusing yang teramat sangat yang kini menderanya.
‘Haaahhh..’ helaan nafas itu terdengar begitu lelah. Sampai kapan semua ini akan terus berjalan? Kenapa ibu nya selalu melakukan cara-cara seperti ini? Bahkan ketika ayah nya masih terbaring tak berdaya di rumah sakit. Wanita itu justru bertindak semakin melewati batasannya. Ia semakin menjadi dan seolah ingin mendapatkan semua milik Tuam Han tanpa sisa.
Jaehyun tau jika di dalam sana Ibu nya tengah merencanakan satu serangan akhir yang memang tengah ia persiapkan selama puluhan tahun. Ia tau dan sangat mengerti akan ambisi besar Ibu nya dan dendamnya dimasa lalu. Ibu nya selalu berfikir jika selama ini Tuan Han tidak adil dengan memberikan posisi yang lebih tinggi di perusahaan pada Taehyun. Ia juga selalu berfikir bahwa Tuan Han akan memberikan perusahaan pada Taehyun. Jadi ia selalu melakukan berbagai tindakan-tindakan seperti ini untuk menuntut sebuah keadilan.
Tapi Tidak. Bukan ini yang Jaehyun inginkan. Sungguh ia tak pernah menginginkan kehidupan seperti ini. Bagi Jaehyun ini semua sudah lebih dari kata cukup. Ia bukan lah seorang yang tamak. Baginya Tuan Han sudah cukup memberikan hak-hak dirinya sebagai seorang anak yang sebenarnya sama sekali tak di harapkan. Ia cukup sadar jika dirinya hanyalah anak dari mantan kekasih ayahnya yang harusnya tak berhak atas apapun harta Tuan Han. Awalnya ia setuju melakukan ini semua hanya demi hidup yang sedikit lebih baik daripada kehidupannya di masa lalu. Dan ia telah mendapatkannya. Ia tak ingin apapun lagi saat ini. Sekalipun ia memiliki sebuah keinginan maka keinginan itu hanyalah mendapatkan kembali cintanya, wanitanya.
Jaehyun memejamkan matanya sejenak, menimbang keputusan yang ia buat. Sampai akhirnya ia membuka pintu mobil disampingnya dan berjalan mendekat ke arah rumah. Belum sempat Jaehyun menginjakkan kaki disana, dua orang bertubuh kekar yang berdiri di depan pintu tampak menghalangi jalannya. Keduanya menatap sengit ke arah Jaehyun. Tak memberi sedikitpun jalan dan ruang baginya untuk bergerak maju.
“Apa yang kalian lakukan?” ujar Jaehyun datar.
“Maaf Tuan, anda tak boleh berada disini”
“Apa? Kalian tak tau siapa aku?”
“Nyonya meminta kami agar tak membiarkan anda untuk masuk.” ucap salah seorng dari mereka.
“Apa maksudmu? Kau ingin dipecat? Menyingkirlah!” seru Jaehyun yang sangat datar.
“Tuan tolong jangan buat keributan. Sebaiknya anda segera kembali..” Pria bertubuh kekar itu sedikit mendorong tubuh Jaehyun, menggiringnya untuk kembali dengan sedikit memaksa.
“YAK..!! apa yang kalian lakukan! Aku ingin masuk!” tegas Jaehyun sekali lagi. Ia terus memaksa, mendorong tubuh keduanya agar bisa masuk dan menghentikan semuanya.
“Tuan, tolong jangan paksa kami melakukan kekerasan pada anda. Sebaiknya anda kembali!”
“TIDAK! Minggir kalian!” bentak Jaehyun keras. Ia kembali menerobos tubuh kekar itu lagi, tapi dengan mudah kedua orang suruhan Nyonya Yoon menghentikan dan menghempaskan tubuh Jaehyun hingga jatuh tersungkur di atas tanah.
“Nyonya telah menyuruh kami melakukan kekerasan jika anda terus melawan.” ujar laki-laki dengan stelan jas hitam itu dengan penuh ancaman. Jaehyun tampak mencibir. Ia tersenyum sinis di sudut bibirnya. Bagaimana mungkin seorang ibu sampai melakukan tindakan seperti ini untuk menghentikan anaknya sendiri. Entah kenapa hatinya terasa ngilu.
“Baiklah. Kalau begitu lakukan apapun yang kalian inginkan!” Jaehyun bangkit dan terlihat berjalan tenang menuju ke arah pintu rumah. Ia tak merasa gentar ataupun takut pada keduanya. Rasa sakit dihatinya jauh lebih buruk dari apapun. Perasaan kecewa terhadap ibu yang begitu ia hormati membuatnya tak lagi berfikir ada hal lain yang jauh lebih buruk dari ini. Ketika tangan Jaehyun hampir meraih pintu rumah itu, kedua pria bertubuh kekar tadi kembali menghalangi. Ia mendorong bahu Jaehyun lagi dan lagi.
__ADS_1
“YAK..!!” teriak Jaehyun marah dan ‘Bughh..’ sebuah pukulan ia arahkan keras pada salah seorang pria disamping kirinya. Baku hantam tak lagi bisa dielakkan. Lupan-luapan emosi Jaehyun yang bertumpuk ia lepaskan melalui pukulan-pukulan dari tangannya. Rasa sakit yang selama ini selalu ia sembunyikan seolah menyeruak keluar bersamaan dengan gerakan tangannya yang terus memukul kedua orang itu marah.
‘Buggh..’ bunyi itu membentur tubuh Jaehyun dengan keras. Jaehyun tersungkur. Darah mengalir cukup deras. Rasa nyeri yang teramat sangat menghujami tubuhnya. Dua pria itu jelas lebih profesional darinya, hingga mau tak mau Jaehyun harus menelan pil pahit ketika beberapa kali ia harus merasakan sakitnya pukulan\-pukulan mereka.
“Hentikan!” teriak Nyonya Yoon yang berjalan mendekat. Ditatapnya wajah anaknya dengan ekspresi yang sulit untuk dibaca.
“Maafkan kami, Nyonya..” kedua pria itu merunduk takut.
“Kembalilah Jaehyun-ah. Ku mohon, jangan membuatku seperti ini..” lirih Nyonya Yoon saat menatap anaknya dengan wajah kesakitan. Nyonya Yoon meminta para pengikutnya untuk pergi meninggalkan mereka berdua. Ia menghampiri dan memeluk putranya.
“Eomma, hentikan semua ini..” pinta Jaehyun.
“Tidak Jaehyun-ah. Tidak. Kau tau apa saja yang eomma lakukan demi ini..”
“Eomma, aku mohon..” Jaehyun menangis. Beban di pundaknya terasa begitu berat. Ia tak bisa lagi. Hidupnya sangat sulit sekarang. Ia tak ingin lagi hidup seperti ini. Ia hanya ingin hidup normal dan bahagia.
“Bersabarlah Jaehyun-ah. Tolong bersabarlah. Besok, hanya sampai besok. Tetaplah diam dan bertahan. Kau tak perlu terlibat lagi. Eomma tak ingin melibatkanmu nak. Pulanglah! Tidurlah dengan baik dan persiapkan dirimu. Besok, semua impian kita akan terwujud..”
“EOMMA!! HENTIKAN SEMUA INI! SUDAH CUKUP EOMMA!!” jerit Jaehyun. Ia menatap bengis ke arah Ibu nya.
“Maafkan eomma Jaehyun-ah..” disaat yang sama Nyonya Yoon menepukkan kedua tangannya, memanggil sekretaris pribadinya untuk mendekat.
“Shen, antarkan Jaehyun pulang. Pastikan ia benar-benar istirahat dengan baik dan obati lukanya” Nyonya Yoon menatap lekat-lekat wajah anaknya. Sorot matanya penuh dengan permintaan maaf.
Setelahnya, wanita itu kembali masuk ke dalam rumah dengan air mata yang tertahan. Shen meraih tangan Jaehyun, membantunya berdiri dan memapah tubuhnya untuk kembali ke mobil. Sedang yang di lakukan Jaehyun adalah menepis keras lengan shen dan duduk di bangku kemudi kemudian membanting pintunya keras. Jaehyun menginjak pedal gasnya dalam. Sementara Shen berteriak, terus memanggil nama Jaehyun untuk kembali, tapi sama sekali tak Jaehyun hiraukan.
My Possessive Husband
©ByunRa93_
I can’t take it,
The memories between you and me,
I don’t want to leave any behind..
I just want to live an ordinary life, happily with you..
But..
__ADS_1
THAT WAS A DREAM....
Jaehyun menghentikan laju mobilnya disini. Di depan sebuah gang sempit di ujung jalan. Kepedihan membawanya kembali kesini. Perlahan, Ia turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam sana kemudian duduk diatas ayunan taman bermain itu seorang diri. Ya, laki\-laki itu memang selalu datang kemari untuk beberapa alasan. Dan ia akan selalu datang ketika ia merindukan Nara. Juga ketika suasana hatinya sedang buruk. Hanya ada satu alasan baginya. Karena tempat ini, adalah satu\-satunya tempat yang memiliki sebuah kenanangan kuat baginya. Di tempat inilah ia bisa merasakan bahwa wanita itu nyata, wanita itu ada, dan dulu ia pernah menjadi miliknya. Segalanya tentang Nara tengah terukir di tempat ini. Bagaimana keduanya mengukir masa muda mereka, bagaimana mereka berdua tertawa dan menangis bersama, dan bagaimana ia selalu menghabiskan hari ulang tahunnya dan Nara di tempat ini.
Lagi-lagi tubuh Jaehyun bergetar, ia bahkan *** tangannya marah. Kenapa? Kenapa kehidupan ini tak pernah adil padanya? Ia terlahir sebagai anak haram dari mantan kekasih ayahnya. Keberadaannya bahkan sama sekali tak diinginkan dan di harapkan. Dan satu-satunya wanita yang paling ia cintai justru mencintai dan menjadi istri adik tirinya. Sungguh kehidupan seolah kejam padanya.
Sejenak saja, jika di ijinkan Jaehyun ingin mengecap keindahan dalam hidup. Jauh dalam hatinya Jaehyun merindukan sebuah cinta. Sebuah cinta yang bahkan tak pernah ia dapatkan dari keluarganya sekalipun. Ia ingin semuanya kembali seperti dulu. Ia tak mau terus berperang dan saling menyakiti hanya demi sebuah harta dan kedudukan. Impian kecilnya hanya bisa hidup bahagia dengan wanita yang ia cintai dan membentuk sebuah keluarga yang hangat dan penuh cinta.
“Nara..” desah Jaehyun yang nyaris tak bersuara. Pandangannya menatap langit diatasnya yang bergemuruh nyaring. Butiran-butiran bening air hujan perlahan jatuh membasahi tubuhnya. Seolah langit telah turut berduka dan menangis dalam kepedihannya. Jaehyun sedikit meringis kesakitan saat air hujan jatuh mengenai luka di wajahnya yang terasa perih. Ia menangis dalam diam. Jaehyun merindukannya. Ia merindukan sosok Nara yang dulu akan selalu memeluknya, menggenggam tangannya, menyembuhkan segala luka-lukanya dan menahan beban tubuhnya kala ia tengah rapuh. Sekarang ia menyadari, tak ada lagi sosok itu disana. Nara tak lagi miliknya.
Sementara di lain sisi, Soyeon sedang berjalan pelan di jalanan menuju flat kecil miliknya. Ia bersembunyi di balik payung putih yang kini ia pegang untuk menghalau hujan yang mengguyur. Tangan Soyeon yang lain menjinjing sebuah tas plastik berisikan ramyeon dan beberapa minuman hangat. Ya, ia memang berniat kembali ke flatnya setelah pergi ke mini market beberapa saat lalu. Namun kini ia berhenti disaat matanya menatap benda itu. Mobil hitam milik Jaehyun yang tengah terparkir di depan sebuah lorong kecil yang ia tau menuju taman bermain.
Soyeon segera memutar arah pandangnya, menatapi lorong gang kecil itu dan mulai berjalan mendekat. Ia tau Jaehyun disana, di taman itu dan mungkin tengah menangis seorang diri seperti apa yang selalu namja itu lakukan selama ini. Soyeon tau ia masih sering datang hanya untuk menangis atau meraung ketika ia merindukan sosok Nara. Dan saat itu terjadi, yang bisa ia lakukan hanyalah memperhatikan Jaehyun dari kejauhan.
Benar, prediksi gadis itu sepenuhnya benar. Ia melihat kilatan bayangan Jaehyun yang duduk di atas ayunan tua di pinggir taman. Hujan yang mengguyur deras membuat tubuhnya basah hingga Soyeon tak bisa melihat air mata yang biasanya selalu bisa ia lihat. Seperti biasa Soyeon tak pernah berani mendekat. Ia selalu hanya memperhatikan sosok Jaehyun dari balik pintu taman. Selalu seperti itu.
Gadis itu akan berdiri disana sampai benar-benar memastikan Jaehyun dalam keadaan yang baik setelah ia meraung, menjerit dan menangisi segala kepedihan dalam hidupnya. Ia akan menjadi seorang pendengar ketika Jaehyun merancau dalam tangisnya, dan Soyeon baru akan kembali ke flatnya setelah namja itu pergi dari sana. Itulah kenapa Soyeon terus mempertahankan flat kecilnya di kawasan ini dan bukannya pindah ke apartemen mewah yang harusnya bisa dengan mudah ia beli dengan gajinya.
Ia terus memperhatikan Jaehyun. Ada yang berbeda disini. Soyeon tau ada sesuatu yang buruk yang sedang menimpa laki\-laki itu. Sudah berulang kali Soyeon melihat Jaehyun merintih, mendesis sambil memegangi sudut bibir dan perutnya. Ia juga terlihat menggigil saat hujan turun semakin deras. Kali ini Soyeon tampak ribuan kali lebih resah. Ia ******* ujung payung yang ia pegang risau, namun tubuhnya masih berdiri di balik pagar taman tanpa berani bergerak mendekat.
Jaehyun memeluk kedua lengannya, terlihat semakin menggigil dingin. Saat itulah Soyeon memutuskan bahwa ia tak bisa lagi hanya terdiam dan menatapnya dari jauh. Ia tak peduli Jaehyun menyukainya atau tidak. Ia juga tak peduli namja itu akan mengusirnya atau mencacainya. Ia berjalan mendekati Jaehyun, mengarahkan payung yang ia pegang di atas Jaehyun dan menghalau derasnya air hujan yang mengguyur tubuh laki-laki itu lagi. Sedang ia sendiri membiarkan tubuhnya basah karena hujan. Jaehyun perlahan-lahan mulai mendongak menatap manik mata Soyeon lemah.
“Oppa..” pantau Soyeon panik. Ia melihat darah di sudut bibir Jaehyun dan juga lebam di pipi kanannya. Soyeon sontak berjongkok, ia mencoba memegang luka di wajah Jaehyun dengan sebelah tangannya yang bergetar takut.
“Soyeon-ah..” desah Jaehyun yang nyaris tak bisa mengeluarkan suaranya. Tubuh pria itu terjatuh di pelukan Soyeon yang tengah berjongkok di depannya.
“Oppa.. Jaehyun Oppa..” rancau Soyeon. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Jaehyun, berharap pria itu sadar. Namun tampaknya Jaehyun terlalu lemah untuk itu. Ia bisa mendengar suara Soyeon yang terus memanggilnya. Ia juga bisa merasakan sentuhan gadis itu yang tengah bersusah payah menahan berat tubuhnya. Tapi seluruh organ tubuh Jaehyun seperti tengah melemah. Ia bahkan tak sanggup membuka kedua matanya dan menatap wanita itu, untuk sekedar mengatakan jangan khawatir dan jangan menangis.
Soyeon mencoba berdiri, menopang berat tubuh Jaehyun di bahunya. Laki-laki itu tak sadaran diri. Kepalanya terjatuh di bahu Soyeon dan gerak kakinya tak lagi bisa melangkah dengan tegas. Susah payah soyeon terus memaksa tubuhnya untuk bergerak maju, menembus hujan, sembari sedikit menyeret tubuh Jaehyun untuk ikut bergerak bersamanya. Ia menangis dalam langkahnya. Tangannya melingkar kuat di pinggang Jaehyun, mencengkeram kuat tuxedo hitam di bagian itu dan terus memaksanya untuk berjalan. Khawatir, bahkan menjadi sebuah perasaan yang berhasil menguasai dirinya.
Soyeon mendudukkan tubuh Jaehyun di sofa flatnya. Nafas gadis itu tersengal. Ia masih begitu sulit untuk menteraturkan laju nafasnya. Sesak itu masih jelas terasa, seolah udara di tempat itu tengah kehilangan kadar oksigen di dalamnya. Tapi sekali lagi ia berlari keluar dari flatnya dan tergopoh saat mengetuk pintu di sebelahnya dan terus mengetuknya resah.
“O-Oppa...” panggilnya sambil masih merintih dalam tangis. Tangannya terus mengetuk pintu itu tanpa henti.
“Oppa...” Panggilnya sekali lagi.
“Soyeon-ah, ada apa?” suara laki-laki di depannya membuat Soyeon dapat tersenyum lega.
“Namjoon, oppa..” Soyeon masih menangis. Suaranya bahkan terdengar bergetar dan begitu takut. Sementara jari telunjuk tangannya tengah menunjuk ke arah pintu flatnya. Namjoon bergegas masuk ke dalam flat Soyeon, sedang gadis itu berlari pergi ke apotek untuk membeli obat-obatan yang ia perlukan.
__ADS_1
-To Be Continue-