
“Taehyun-ah, ayolah. Aku harus pergi ke rumah sakit sekarang. Kau tau bukan, hari ini ibuku keluar dari rumah sakit..”
Taehyun tersenyum simpul. Ia melingkarkan lengannya pada pinggang Nara, menarik tubuh gadis itu mendekat dan menatap manik matanya intens.
“Sekalipun kau tak menggodaku, aku akan tetap mengijinkanmu pergi, Nara.”
“Tsk! Kalau kau memang berniat mengijinkan ku pergi, kenapa kau harus bersikap semenyebalkan ini!!” dengus Nara dengan penuh penekanan di tiap katanya.
“Karena aku suka melihatmu seperti itu. Pagi ini, kau sangat manis istriku.” Taehyun menyentuh pipi tirus Nara, memiringkan kepalanya dan melumat bibir ranum gadis itu intens.
“Ayo kita pergi.” ajak Taehyun sesaat setelah melepaskan tautan bibirnya dari bibir ranum Nara. Ia berbalik, mendekati nakas sebelah tempat tidurnya untuk mengambil sebuah jam tangan berwarna hitam untuk ia kenakan di tengan kirinya.
Sejenak Taehyun mempertahankan posisinya, memunggungi Nara dan masih mencoba mengatur nafasnya yang sebenarnya tengah memburu. Ia menghindari kontak dengan Nara, karena ia tahu kalau kini gadis itu sedang berdiri gugup sambil menyembunyikan rona merah di pipinya akibat ciuman panas yang baru saja terjadi.
Nara menghembuskan nafasnya berat. Ia mencari alasan untuk menjauh dari Taehyun dengan berjalan menuju sofa dan mengambil tas jinjing yang tadi sempat ia siapkan.
“Sebelum ke rumah sakit, ikutlah denganku ke kantor. Ada beberapa berkas penting yang harus ku tanda tangani lebih dulu.” ujar Taehyun yang mulai dapat menetralkan detak jantungnya yang tadi sempat berdegup kencang. Nara hanya mengangguk ringan dan kemudian keduanya menghilang di balik pintu kamar yang tertutup.
.
.
.
***
.
.
.
“My Possessive Husband”
©ByunRa93_
.
.
.
When I meet you in different situation..
When I try to hold you..
It feels bad, I miss you..
.
.
.
@Han’s Group – Seoul, South Korea
.
.
Mobil mewah keluaran Eropa itu tengah berhenti di pelataran luas Han’s Group yang terlihat lenggang. Seorang supir tampan berperawakan tinggi berlari turun, membuka sebelah pintu mobil bercat hitam milik Taehyun dan menunduk mempersilahkan Tuan dan Nyonya nya untuk turun. Nara terlihat berdiri canggung disamping Taehyun. Matanya menatap lekat gedung tinggi di hadapannya dengan perasaan gugup yang sulit diungkapkan. Ia tau, dan amat sangat tau bahwa sorot mata sebagian orang di dalam sana tengah menatapnya sambil menggumamkan berbagai cacian atau upatan kasar, saat menatapnya.
Bagaimana tidak. Dulu dirinya hanyalah pegawai part time. Kaum rendahan yang sama sekali tak berkelas. Namun kini, Ia justru berdiri disana. Di hadapan semua pegawai perusahaan itu sambil memeluk lengan suaminya. Sang Putra Mahkota kerajaan bisnis Han’s Group yang sejatinya adalah bintang yang selalu di eluhkan atau bahkan di perebutkan oleh seluruh bawahannya.
“Kau bisa gugup juga Ny. Han?” ledek Taehyun yang sadar akan ketidak nyaman Nara untuk berdiri disampingnya. Nara mengendus sekilas dan kemudian kembali menatapi gedung itu canggung.
“Kalau kau merasa tak nyaman, pergilah ke butik. Kau bisa melihat-lihat design disana sebagai inspirasi tugas kuliahmu. Dan lagi, ada Shin Jihyun disana. Akan ku jemput ketika urusanku selesai.” tawar Taehyun yang segera mendapat anggukan penuh dari Nara.
.
.
Dan sekarang, disanalah Nara berdiri. Di dalam butik khusus milik Han’s group yang terletak tak jauh dari gedung perusahaan adidaya yang maha megah itu. Nara membuka pintu di hadapannya dengan langkahnya yang terasa berat. Ada desiran hebat yang ia rasakan ketika kini ia dapat menginjakkan kakinya pada tempat yang dulu seolah begitu sulit untuk ia jangkau. Butik Han’s adalah sebuah butik yang termegah. Butik khusus untuk memperkenalkan produk\-produk terbaru keluaran Han’s Group. Tak sembarang orang dapat menjejakkan kakinya di tempat ini. Dan sudah jadi rahasia umum, kalau Han’s group merupakan label ternama di pasar Asia maupun Eropa.
__ADS_1
“Selamat siang, Nyonya..” sapa salah seorang pegawai butik saat menyadari kehadiran Nara di balik pintu kaca itu. Nara tersenyum simpul, mencoba bersikap seanggun mungkin di hadapan banyak orang yang kini berlomba-lomba untuk mempersilahkannya duduk.
“Nyonya Han, anda sedang mencari sesuatu? Apa anda ingin melihat koleksi terbaru kami?” tanya seorang yang Nara tau, ia memang salah satu pekerja di devisi ini.
“Apa manager Shin disini?”
“Kau mencariku Nyonya Han?” sebuah sahutan dari arah berlawanan itu terdengar melengking dengan nada merdu yang selalu ia gunakan. Shin Jihyun, gadis itu melambaikan tangannya di udara. Tersenyum hangat sambil berjalan mendekati sahabatnya yang justru menatapnya kesal.
Keduanya duduk di sofa yang ada di ujung butik itu sambil berbincang ringan. Jihyun meletakkan cangkir putih di tangannya pada ujung meja yang berada di hadapannya. Ia kembali menyandarkan punggungnya pada sofa sambil terkekeh geli. Sementara Nara masih tetap dengan raut wajah kesal yang sudah sejak beberapa menit lalu ia tunjukkan.
“BERHENTILAH TERTAWA BODOH!!” pekik Nara menatap wanita bersurai coklat itu geram.
“Jadi dia berhasil mempermalukanmu lagi, Nara. Hahaha..”
“YAK!! Shin Jihyun! aku benar-benar tak akan mengikuti ide bodohmu itu lagi! Kau membuatku terlihat seperti wanita penggoda tadi pagi! Kau tak tau, aku rasa urat maluku sudah benar-benar putus di hadapan pria itu!”
“Jangan berlebihan Nyonya Han. Pria itu adalah suami mu, sekarang.” ledek Jihyun.
“Tapi sungguh, aku benar-benar tak menyangka dia akan menngabaikan ciumanmu. Itu benar-benar bukan gayanya. Dan aku tau pasti, seberapa malunya dirimu. hahaha..” Jihyun kembali tertawa lepas.
“Aku bahkan ingin melihat seperti apa tampangmu saat itu.”
“Kalau saja kita tak sedang berada di tempat umum, dan aku tak harus menjaga tabiat dan nama baikku. Ku pastikan kau mati di tanganku Manager Shin!” ancam Nara bengis. Lagi, wanita bermarga Shin itu hanya bisa tersenyum simpul, seolah sudah hafal betul tentang tabiat sahabatnya.
Nara menghentikan pembicaraannya ketika ponsel miliknya bordering, menandakan sebuah pesan masuk. Han Taehyun, nama itulah yang tertera di layar ponsel Nara saat ini.
Segera gadis itu merapikan seluruh barang-barangnya, kemudian berniat untuk pergi, sebelum Taehyun benar-benar tiba. Setidaknya Nara cukup tau akan sifat buruk suaminya yang tak suka menunggu. Ia hanya tak ingin membuat keberlangsungan hidupnya terancam ketika kepribadian buruk Taehyun datang lagi.
“Jihyun-ah, maafkan aku. Sepertinya aku harus pergi sekarang. Ku hubungi lagi nanti..” pamit Nara yang buru-buru keluar dari butik.
Nara berjalan tergesa ke pelataran butik. Matanya terus memperhatikan jalanan, menunggu mobil mewah suaminya yang memang masih belum tiba. Ia mengetukkan ujung kakinya, menganggukkan kepalanya singkat saat potongan musik itu terdengar merdu melalui earphone yang terpasang di kedua daun telinganya. Lagi, ia mengamati sekelilingnya hingga bayangan sosok itu dapat ia lihat di sana. Nara terdiam, ia berniat menghindar. Bukan karena benci, hanya saja ia benar-benar merasa canggung ketika berhadapan dengan seorang Jaehyun, kakak ipar yang dulu sempat mengisi hatinya. Nara berbalik, berniat lari dari keadaan itu tapi tidak. Jaehyun tak pernah berniat melepaskannya kali ini.
“Nara..” pantau Jaehyun yang berhasil membuat langkah Nara mau tak mau berhenti di titik itu. Ia membalikkan sedikit tubuhnya, tersenyum klise pada Jaehyun walaupun dalam hatinya tengah mengumpat kesal.
“Kita lanjutkan lagi nanti..” ucap Jaehyun pada sekretaris yang memang tengah mengekor di belakangnya. Laki-laki paruh baya itu mengangguk patuh dan beringsut mundur dari hadapan tuannya. Kini hanya tinggal mereka berdua yang tengah berdiri berhadapan.
“O-Op-Oppa..” sapa Nara gugup.
Nara mengangguk. Berharap dengan itu Jaehyun akan membiarkannya pergi begitu saja.
“Biar ku antar. Mobilku disana.” Jaehyun menunjuk ke arah sebuah mobil sedan putih keluaran perusahaan Hyundai yang terlihat begitu mewah.
“A-anio oppa. Taehyun akan menjemputku. Aku permisi..” Nara menggeser tubuhnya, berniat melewati Jaehyun dan berjalan pergi. Tapi lagi-lagi pria itu seolah tak memberinya kesempatan untuk pergi. Jaehyun menghalangi jalan Nara, membuat gadis itu menatap kedua matanya.
“Kau sengaja menghindar dariku, Nara?” tuduhnya. Raut wajahnya terlihat begitu serius. Bahkan senyum itu tak lagi tampak disana.
“Oppa, menyingkirlah. Taehyun sedang menungguku..”
“Kau sedang mencoba membohongiku? Aku tak melihat suamimu disini” tuduh Jaehyun.
“Apa sesuatu terjadi diantara kalian? Kenapa Beberapa hari ini kau terus menghindar dariku. Bahkan ketika berpapasan dirumah pun kau mengacuhkanku. Ada apa denganmu, huh?”
Nara merunduk, mencoba memikirkan apa yang bisa ia ucapkan sebagai alibi. Sebenarnya sudah jelas mengapa ia seolah menghindari segala kontak dengan Jaehyun. Ia hanya sedang dalam hukuman Taehyun. Ia hanya sedang berusaha menyelamatkan hidupnya dari kemungkinan buruk jika Taehyun akan menyiksanya ketika tau ia mendekati pria itu.
“Suamimu melarangmu? Ia tau hubungan kita di masa lalu?” tebak Jaehyun yang sontak membuat Nara mengangkat wajahnya.
Bodoh, akan sangat berbahaya ketika Taehyun tau tentang masalalunya. Dan Nara akan melakukan apapun agar pria itu tak pernah tau tentang hubungannya dengan Jaehyun.
“Ah, ternyata benar karena Taehyun. Kim Nara, jika kau takut pada suamimu, maka tenang lah. Aku akan segera membereskannya.”
“Omong kosong apa yang sedang kau katakan Oppa!” ucap Nara yang setengah membentak.
“Sadarlah, Kim Nara! Taehyun hanya memanfaatkanmu. Ia tau kau adalah kekasihku di masa lalu. Ia tau aku menyukaimu, karena itulah ia menikahimu. Dia tak pernah mencintaimu, Nara!” bantah Jaehyun yang tak kalah tegas.
“Oppa, bicaramu benar-benar tak masuk akal!”
“Baiklah, akan ku buktikan padamu! Tapi kalau aku berhasil membuktikannya, kau harus berjanji satu hal padaku.”
“Apa?”
“Kalau aku berhasil membuktikannya, apapun yang terjadi kau harus kembali padaku! Kau milikku, jauh sebelum Taehyun merebutmu dariku! Dan aku akan mengambil kembali semua yang seharusnya jadi milikku!”
Nara hanya diam kali ini. Ia sungguh tak ingin berdebat dengan Jaehyun. Dirinya bahkan terlalu malas untuk beradu mulut.
__ADS_1
“Dan, sebelum semua itu terwujd, tak bisakah kita menjadi seorang teman?” air wajah Jaehyun berubah. Bukan lagi raut wajah berapi-api penuh kebencian dan ambisi, namun wajah pria itu terlihat sayu. Ia menatap Nara dengan sorot matanya yang hangat. Sesuatu yang dulu pernah membuat Nara jatuh akan perasaannya.
“Oppa, aku tak mengerti dengan semua yang kau katakan! Aku mohon menyingkirlah oppa!” Nara berusaha mencari celah untuk dapat melewati tubuh Jaehyun yang sedari tadi menghalangi jalannya. Tapi sepertinya itu telalu sulit, melihat Jaehyun sepertinya bisa membaca dengan jelas arah gerakan Nara.
“Kalau menjadi teman pun tak bisa, maka jadilah teman rahasiaku. Kita bisa berteman di belakang suamimu.”
Nara mematung pada tempatnya, ketika kini Jaehyun menahan kedua bahunya. Pria itu menatapnya, seolah tengah mengunci arah pandangan Nara di titik matanya. Kemudian ia menunggu reaksi yang Nara tunjukkan.
Sayangnya, tak ada yang Nara ucapkan. Sehingga Jaehyun salah mengartikan dan berfikir kalau kini Nara tengah setuju dan ikut bermain dalam permainan yang sengaja ia ciptakan. Dengan tanpa permisi Jaehyun menarik tubuh gadis itu dalam dekapannya. Kemudian tangan-tangan kekarnya melingkar pada punggung Nara protektif, seolah ia tengah menahan gejolak rindu itu cukup lama.
Jaehyun tersenyum ketika harum mawar tubuh Nara menguar di indra penciumannya. Harum shampoo yang selalu ia rindukan. Nara yang semula meronta juga sepertinya tengah tampak, lelah hingga ia membiarkan tubuhnya jatuh dalam pelukan Jaehyun.
Di sisi lain, kini Taehyun terlihat mengerang geram. Ia memukul stir mobilnya dengan keras. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal hebat hingga urat\-urat nadi di tangannya tampak begitu jelas. Ia masih disana, melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa Jaehyun benar\-benar menginginkan istrinya dari balik kaca mobil mewah miliknya.
Taehyun meraih ponselnya dari dalam saku tuxedo biru yang ia gunakan. Tangannya dengan cepat menekan tombol hijau pada layarnya ketika ia berhasil menemukan nomor istrinya disana. Bisa ia lihat kini Nara mendorong tubuh Jaehyun untuk menjauh. Ia terlihat gopoh saat membuka tas jinjing miliknya dan mengambil ponselnya.
“Kau menikmatinya, Kim Nara?!” hardik Taehyun dari balik ponselnya.
“A-Apa?” sahut gadis itu bingung.
“Jangan berlagak bodoh! Aku melihatnya! SIALAN KAU! Baru beberapa menit ku tinggalkan sudah berani berselingkuh di belakangku! Haruskah aku kembali menghukummu agar kau tau siapa dirimu! Kau istriku bodoh..”
Taehyun tak lagi bisa menahan gejolak amarah yang kini menguasai hatinya. Tidak, ia tak pernah bisa melihat wanita itu disentuh oleh laki-laki lain. Taehyun sendiri tak tau apa yang tengah ia rasakan. Ia hanya seolah memiliki gadis itu. Seolah punya hak atas apapun yang gadis itu miliki, termasuk tubuhnya.
“Diam disana!” ucap Taehyun dengan nada memerintah yang lagi-lagi selalu ia gunakan. Ia menginjak gas mobilnya dan mulai menghampiri kedua orang itu dengan mimik wajah datar sekalipun emosi itu masih menguasainya.
Taehyun membuka pintu mobilnya dan berjalan keluar saat mendapati tangan Jaehyun kembali menyentuh lengan Nara.
“Ah, Hyung apa yang sedang kau lakukan disini eoh? Kau ingin mengajak istriku berkencan?” ujar Taehyun santai dengan sebuah senyum yang terpatri di bibir tipisnya. Senyum yang menurut Nara adalah sebuah ancaman besar bagi hidupnya.
“Aku hanya tak sengaja bertemu istrimu disini. Dan aku bermaksud mengantarnya karena ku pikir kau terlampau sibuk dengan urusanmu. Jangan salah faham..”
“Cah, salah faham? Tentu tidak. Aku tau kau mencintainya sebagai ADIK IPAR mu bukan? aku sangat paham akan hal itu. Dan terimakasih atas kepedulianmu. Tapi, aku bisa mengurus sendiri istriku!” ujar Taehyun tajam. Sedang pandangannya seadari tadi tak lepas dari wajah Nara yang saat ini terlihat tegang.
Takut, Nara benar-benar takut akan apa yang mungkin ia terima setelah ini. “Kau Kim Nara, masuklah!” titah Taehyun yang berhasil membuat gadis itu berjalan sambil tertunduk untuk masuk dalam mobil mewah bercat hitam milik suaminya.
‘Brakk..’
Taehyun membanting pintu mobilnya keras. Ia kemudian menginjak gas mobil itu cukup dalam tanpa memperdulikan tubuh Nara yang sempat terpental kebelakang akibat ulahnya.
Sepanjang jalan, Taehyun hanya diam. Sesuatu yang amat berbeda dari apa yang Nara perkirakan. Ada yang salah dengan pria itu, setidaknya hal itulah yang sedang terbersit dalam pikiran Nara. Namun ia masih tak punya titik keberanian untuk memulai pembicaran. Sampai mobil itu berhenti pada pelataran rumah sakit Seoul yang cukup ramai.
.
.
.
_To Be Continue_
.
.
.
Author’s Note:
.
.
Thankyou for reading..
Don’t forget to give a comment, like and review ya..
.
.
With Love,
ByunRa93_
__ADS_1