
“Kau sembunyikan dimana Baekki?” tanpa perlu menunggu ataupun berbasa-basi pertanyaan itulah yang Tuan Han lontarkan saat istrinya masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia tak terlalu banyak bicara, juga terlihat malas saat harus menatap sosok dihadapannya.
“Apa maksudmu?” Nyonya Yoon berjalan mendekat, meletakkan nampan yang tengah ia bawa di meja kerja suaminya. Ia mengambil gelas kosong dari atas nampan dan menuangkan air kedalamnya dengan raut wajah datar yang sama sekali tak menunjukkan ekspresi disana.
“Jangan lagi berpura-pura dihadapanku Eun Hee-ya. Aku sudah tau semuanya, jadi tak usah berpura-pura. Kau telah mengatur semua ini. Kau menjebak Jira dan membuatku mempercayai mu hingga aku dengan begitu kejam mengusir Jira dari rumah ini. Kaulah yang melakukannya.” Wanita itu menyeringai, wajahnya masih begitu tenang. Ia menghentikan gerakan tangannya saat gelas di depannya mulai penuh. Samar-samar Nyonya Yoon terlihat menggertakkan giginya pelan, tapi dengan segera ia tersenyum saat menyadari suaminya tengah menatapnya.
“Itukah yang Baekki katakan tentangku? Informasi apa lagi yang telah ia berikan padamu sampai kau harus menghubungi pengacara Anh dan merubah isi surat wasiatmu?”
Tuan Han memutar kepalnya cepat. Ia terkejut, bahkan sangat terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan istrinya. Dan ekspresi yang laki\-laki itu tunjukkan berhasil membuat Nyonya Yoon tersenyum sinis.
“Sekarang waktunya kau minum obat suamiku..” tangan-tangan halus Nyonya Yoon mengeluarkan butiran-butiran kecil obat berwarna putih dari dalam botolnya. Ia meletakkannya dalam sebuah piring kecil dan memberikannya dihadapan suaminya. Tuan Han hanya menatap butiran kecil obatnya sekilas dan membuang wajahnya marah.
“Jangan bertingkah kekanakan. Minum obat itu sebelum kita lanjutkan pembicaraan ini. Aku hanya tak mau kau tiba-tiba pingsan sebelum kita menyelesaikannya.”
“Wanita macam apa dirimu Yoon Eunhee! Kenapa? Apa alasanmu melakukan semua ini padaku?! Kau membuatku menjadi sosok suami yang begitu jahat dengan mengusir istrinya dari rumah. Kau membuatku menjadi sosok ayah yang buruk dengan mengabaikan putraku dan membiarkannya hidup tanpa kasih sayang dari ibu kandungnya. Dan kau melakukan penggelapan dana perusahaanku! Sebenarnya apa yang menjadi alasanmu bertindak sejauh ini!” ujar Tuan Han geram. Sedari tadi rahang laki-laki tua itu tampak mengeras, sedang tangannya bergetar menahan amarahnya.
“Sebaiknya kau minum dulu obatmu Taekyung-ah!”
“CUKUP! Berhentilah berpura-pura memperdulikanku!” bentak Tuan Han. Lagi dan lagi seringaian tampak menghiasi wajah jahat Nyonya Yoon.
“Jadi Baekki sudah memberitahu semuanya padamu?” Nyonya Yoon berdecah sejenak dan kembali melanjutkan ucapannya.
“Harusnya ku bereskan bocah itu sejak awal. Ya, kau benar. Semua yang kau katakan benar. Akulah yang berada di balik semua itu. Kau ingin tahu apa alasanku?” ujarnya santai.
Tuan Han tak bergeming, tapi ia berusaha mengintimidasi melalui sorot matanya yang tajam.
“Aku hanya ingin sebuah keadilan”
“Keadilan?” tandas Tuan Han.
“ Apa yang kau maksud dengan keadilan?”
“Tak sadarkah dirimu atas semua tindakanmu selama ini? Kau pikir dirimu memperlakukanku dengan adil? Kau, jauh sebelum kau bertemu Kim Jira, kau adalah kekasihku. Kau milikku! Bahkan sekalipun orang tuamu menentang hubungan kita, aku tetap berada disampingmu. Aku tetap mencintaimu karena kau Han Taekyung, malaikatku. Tapi setelah orang tuamu menjodohkanmu dengan Jira, apa yang kau lakukan?” Nyonya Yoon semakin geram.
“Kau meninggalkanku, tak lagi peduli padaku. Bahkan saat dimana aku datang menemuimu di tengah hujan lebat hanya demi mengatakan jika aku tengah mengandung putramu, kau juga tak sedikitpun peduli. Kau hanya diam dan membiarkan orang tuamu menghinaku! Wanita murahan, tak punya harga diri, gadis miskin, kau tau semua yang di katakan orang tuamu masih terus terngiang dalam benakku? Bahkan itu selalu menjadi sebuah mimpi buruk ditiap malamku!” mata Nyonya Yoon berkaca-kaca saat kenangan pahit di masalalunya membuat hatinya tertikam sebuah sembilau yang amat sangat tajam.
“Orang tuamu justru memintaku menggugurkan kandunganku! Kala itu aku masih bersikeras mempertahankannya. Semua itu karena bayi di rahimku adalah anakmu. Aku bahkan diusir dari rumahku, orang tuaku tak lagi mengakuiku sebagai putri mereka. Mati-matian ku pertahankan hidupku dan bayiku Taekyung-ah. Dimana kau saat itu! Disaat aku dan Jaehyun harus kelaparan, disaat aku berkerja keras hanya demi sepiring nasi untuk putraku, kau justru hidup berkecukupan dengan istrimu—“
“Eunhee-ya, kau juga tau aku tak berdaya. Aku tak—“
“Aku tau. Aku menerima semua itu. Kau boleh memperlakukanku sesuka hatimu, tapi tidak dengan putraku! Dia sudah cukup menderita Taekyung-ah! Aku hanya menuntut keadilan bagi putraku!”
Hening. Tak ada yang memulai pembicaraan. Han Taekyung, laki\-laki tua itu mulai merasa nyeri di dada kirinya, tapi ia masih terus berusaha untuk bertahan. Melawan rasa sakit yang perlahan mengoyak jantungnya kala dirinya semakin tertekan dalan segala luapan kepedihan yang istrinya lontarkan.
“Eunhee-ya, kau tau aku selalu mencoba bersikap adil pada Jaehyun. Aku telah meminta maaf ribuan kali atas kesalahanku dimasalalu. Aku tau aku salah, tapi aku selalu mencoba menebusnya. Aku bahkan mencintai Jaehyun jauh lebih banyak daripada putraku Taehyun. Perhatian dan kasih sayangku pada Jaehyun juga begitu besar..” nada bicara Tuan Han terdengar melemah seiring dengan rasa sakit di dadanya yang semakin membuatnya tak berdaya.
“Bukan itu yang Jaehyun inginkan!” potong Nyonya Yoon singkat.
“Kalau kau memang mencintai Jaehyun, jadikan dia presidr Han’s Group!”
Kali ini justru Tuan Han yang dengan jelas terlihat menyeringai sinis. “Aku tak yakin itu keinginan Jaehyun. Aku tau kau jauh lebih menginginkan posisi itu lebih dari siapapun!” tuduh Tuan Han yakin.
“Kalau begitu berikan posisi itu padaku!”
Desahan yang terlontar dari bibir tua Tuan Han jauh lebih terdengar seperti sebuah rintihan kesakitan yang miris. Ia menahan nafasnya tanpa sedikitpun menunjukkan kesakitan yang ia rasakan diwajahnya. Walaupun dari dahinya yang perlahan terlihat mengerut itu, bisa disimpulkan bahwa ia benar-benar tersiksa.
“Daripada menyerahkan perusahaanku padamu, aku jauh lebih tertarik untuk menyerahkan ini. Tanda tanganilah!” tukas Tuan Han sambil melemparkan sebuah map merah ke atas meja di depannya. Matanya tak sedikitpun melepaskan pandangannya dari wajah istri mudanya.
Eunhee sempat ragu tatkala ia harus mengambil selembar map di depannya. Ia tau laki\-laki itu tak dapat diprediksi. Taekyung jauh lebih berbahaya dari apa yang dibayangkan. Ia bisa menjadi sosok yang sangat menakutkan ketika ia marah. Pelan\-pelan Nyonya Yoon membaca selembar kertas putih yang tersemat dalam map itu. Sedetik kemudian ia tampak menggertakkan giginya sambil ******* map ditangannya dengan pandangan marah.
“Cerai..?” gumam Nyonya Yoon geram. Otot-otot lehernya tampak membiru marah.
“Kau ingin bercerai dariku? Kau ingin menyingkirkan ku seperti kau menyingkirkan Jira?” dengusnya.
“Tanda tangani itu dan pergilah dari rumah ini. Aku tak akan menelantarkanmu. Aku sudah menyiapkan tempat tinggal untukmu di Jepang. Kau tak perlu khawatir akan keadaan Jaehyun karena aku akan menjamin semua masa depannya. Dia anak kesayanganku, tak mungkin aku menelantarkannya..”
“TAEKYUNG-ah..!!” teriak Nyonya Yoon
“Bukankah kau bilang kau ingin menuntut keadilan bagi Jaehyun? Kau tak perlu khawatir karena aku akan memberikan semua haknya!”
“Kau pikir kau siapa, Han Taekyung? Kau pikir kau bisa memperlakukanku seperti ini?”
“Itu telah menjadi keputusanku Eunhee-ya” ujar Taekyung lirih. Ia mencoba meraih obatnya ketika sakitnya semakin terasa. Dadanya terasa semakin berat, bahkan nafas Tuan Han tampak putus-putus.
‘Prangggg...’ botol obat itu jatuh dilantai. Nyonya Yoon sengaja mengambil benda itu lebih dulu dan membuangnya sembarang saat ia melihat laki-laki tua itu hendak mengambilnya.
“APA YANG KAU LAKUKAN YOON EUNHEE..!!” pekik Tuan Han.
“Kau! Kau pikir kau bisa mencampakkanku lagi, Taekyung-ah! Tidak! Tak akan ku biarkan semua ini terjadi!” Nyonya Yoon merobek surat cerai di tangannya menjadi lembaran-lembaran kecil dan melemparkannya tepat diwajah Tuan Han.
__ADS_1
“Sampai kapanpun, aku tak akan menandatangai surat cerai itu! Kau pikir apa tujuanku menikah denganmu? Kau pikir aku mencintaimu? Kau salah! Sejak kau meninggalkanku hari itu, semua rasa cinta dalam diriku telah mati! Aku mempertahankan Jaehyun dalam rahimku semata – mata bukan karena dia putraku, tapi ku lakukan itu untuk merebut semua yang kau miliki. Aku hanya ingin kau dan orang tuamu menyesal karena telah menghinaku! Dengan melahirkan Jaehyun, aku mempertaruhkan semua masa depanku dipundaknya. Dia putramu, dia berhak atas posisi tertinggi di Han’s Group! Dan Jaehyun akan lebih mudah mendapatkan posisi itu jika kau pergi!”
Tuan Han tak lagi bisa bicara. Sejak beberapa menit yang lalu ia hanya memegangi dadanya sambil berusaha turun dari kursi rodanya untuk meraih obat-obatnya yang berserakan dilantai. Wajah Tuan Han tampak sangat pucat. Sulit baginya menggerakkan tubuhnya yang lemah. Sekalipun otaknya terus memerintahkan kaki itu untuk turun dan berpijak pada lantai, sekalipun otaknya memerintahkan tangan-tangan panjang itu untuk menjangkau butiran obat disana, tapi tak satupun anggota tubuhnya dapat merespon dengan baik.
Nyonya Yoon tersenyum. Ia berjalan menghampiri Taekyung dan berjongkok di depan kursi roda suaminya. Tangannya dengan begitu pelan membelai pipi Taekyung yang pucat, sedang matanya terihat begitu menikmati kesakitan yang jelas tergambar di wajah tua itu.
“Lihatlah Han Taekyung, kau tak lebih kuat dariku. Jangan pernah berfikir kau bisa menyingkirkanku, karena hidup dan matimu saat ini berada di tanganku..”
Nyonya Yoon mengambil sebutir obat dari atas lantai dengan tangannya, kemudian ia kembali menatap mata tua Taekyung yang tampak sayu tak bertenaga.
“Kau menginginkan ini suamiku? Buka mulutmu..” ujar Nyonya Yoon seraya mendekatkan sebutir obat pada bibir Tuan Han. Laki-laki tua yang tak lagi berdaya itu hanya bisa membuka mulutnya sambil berharap wanita picik yang saat ini tengah berdiri dihadapannya akan memberikan obat untuknya. Namun yang terjadi justru sebaliknya, Nyonya Yoon menjatuhkan sebutir obat itu kembali kelantai.
“Kau menginginkannya? Maka ambillah dengan tanganmu sendiri..!”
Setelah mengatakah hal kejih itu Nyonya Yoon justru pergi dari ruang kerja Tuan Han dan membiarkan laki-laki itu meronta dalam rasa sakitnya.
.
.
.
My Possessive Husband
©ByunRa93_
.
.
.
“Taehyun\-ah, aku mohon berhentilah berlari..” seru wanita itu saat ia tak lagi bisa mengimbangi langkah kaki suaminya yang jelas jauh lebih panjang dari langkahnya. Nara melepaskan genggaman tangannya di jari Taehyun. Ia tampak kehabisan nafas dan pucat. Nara membungkuk. Kedua tangannya berpangutan erat dengan lututnya dan ia mengatur nafasnya yang tersengal.
“Nara, kau baik-baik saja?” tanya Taehyun yang mulai menyadari raut wajah istrinya yang terlihat pucat. Nara menggeleng. Secepat yang ia bisa, ia ingin menampik ke khawatiran yang tergurat jelas di wajah suaminya. Ia kembali menegakkan tubuhnya dan menatap Taehyun.
“Pergilah lebih dulu. Cepat temui aboji. Aku akan menyusulmu nanti. Aku ingin muntah. Aku tak bisa lagi berlari..” rengek Nara. Taehyun menatap istrinya ragu.
“Kau tak papa? Nara—“
“Aku baik-baik saja. Pergilah, temui aboji..” potongnya
Taehyun masih menatap mata istrinya, tapi kemudian ia mengangguk pelan dan berjalan mendekat untuk memeluk tubuh Nara yang masih bergerak naik turun kehabisan pasokan oksigen di paru-parunya.
*Cup
Ciuman hangat di kening Nara menjadi akhir pembicaraan diantara keduanya. Taehyun berlari menuju lift untuk pergi ke lantai 3 dimana ayahnya sedang dirawat, sedang Nara terlihat berbalik menuju ruangan lain di lantai satu sambil masih menutupi bibirnya yang terus merasa mual.
.
.
.
***
.
.
.
ICU Room – Seoul Hospital
18.00 P.M
.
.
Mentari mulai menghilang di peraduannya, sedang senja tampak menghiasi hamparan langit luas diluar sana, menyemburkan warna biru sang langit dengan bias cahaya yang semakin lama mulai berubah menjadi warna gelap malam yang mencekam. Angin berdesir, menyebarkan hawa dingin malam yang perlahan mulai terasa menusuk tulang persendian yang mulai rapuh. Lorong putih itu tampak menakutkan. Bayangan buruk seolah tergambar jelas pada pemukaan dinding-dindingnya yang tak bertekstur.
Taehyun masih berlari kecil mencari ruang ICU, tempat dimana sang ayah dirawat. Raut wajahnya tampak resah tatkala kekhawatiran dalam dirinya benar-benar berkuasa. Sedari tadi bahkan jari-jari tangannya tak berhenti mengepal cemas. Ia bisa melihat sosok kakak tirinya disana. Jaehyun yang berdiri diambang pintu ICU yang tertutup juga tampak sama cemasnya dengan dirinya. Dihampirinya sosok itu dan Taehyun tak lagi bisa menahan hasratnya untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi yang bisa Jaehyun berikan hanyalah sebuah gelengan tak berdaya. Ya, karena sejatinya laki-laki itu sama sepertinya yang juga tak tau akan apa yang terjadi.
“Aku langsung datang ketika bibi Hyo menghubungiku, tapi aboji sudah tak sadarkan diri. Aboji mengalami serangan jantung yang berpengaruh pada kondisi jantungnya yang baru saja di operasi. Sepertinya operasi pemasngan ring yang sudah dilakukan kemarin mengalami sedikit masalah, karena itu dokter harus melakukan operasi tahap kedua di jantung aboji.” Jelas Jaehyun.
“Lalu bagaimana kondisinya?”
Lagi dan lagi Jaehyun hanya bisa menggelangkan kepalanya lemah. “Seperti yang kau lihat, aboji belum sadarkan diri. Dokter bilang kita hanya bisa menunggu..”
__ADS_1
Taehyun mengusap wajahnya yang tampak lelah. Ia sempat mendesis frustasi. Pikirannya menjadi sedikit lebih rumit. Masalah yang terus datang tanpa henti membuatnya terus merasa tertekan dan tak berdaya.
Disaat itu tepukan ringan tangan Jaehyun di bahu Taehyun membuatnya merasa sedikit lebih tegar. “Tenanglah.. Aboji akan baik\-baik saja..” ujar Jaehyun. Keduanya kembali diam setelahnya. Benar\-benar hening sampai hembusan nafas mereka terdengar senada dan saling beriringan.
“Hyung, sebenarnya apa yang membuat aboji sampai seperti ini? Apa ada yang dia pikirkan sampai berdampak buruk bagi kesehatannya? Apa ada masalah dengan perusahaan?” selagi bertanya, Taehyun menatap lekat wajah Jaehyun yang mendadak linglung. Ia tampak memutar bola matanya resah.
“Hyung, kenapa?”
“Taehyun-ah, sebenarnya..” Jaehyun menggantungkan ucapannya. Ia benar-benar tampak ragu.
“Hyung, apa terjadi sesuatu yang tak ku ketahui?”
“Sebenarnya, sebelum aboji pingsan bibi Hyo mendengar eomma dan aboji bertengkar”
“Apa?!” kejut Taehyun.
“Jadi itu semua ada hubungannya dengannya?” kebencian yang tengah mendarah daging pada diri Taehyun membuatnya tersulut api emosi yang sulit untuk ia kendalikan.
“Taehyun-ah, tenanglah..”
“Kau ingin membelanya? Kau ingin melindungi ibumu? Cah, harusnya aku tau, kau jelas berada dipihaknya. Kau sudah merencanakan semua ini! Kau dan ibumu sengaja membuat aboji seperti ini bukan? Kau, yang kau inginkan hanyalah posisi presdir Hyung!” teriak Taehyun.
‘Buggh..’ Jaehyun mendorong keras tubuh Taehyun kebelakang. Ia mengacungkan telunjuknya tepat di depan wajah Taehyun dan sama sekali tak terlihat bercanda ketika mengatakan, “Jaga ucapanmu!”.
Disaat yang bersamaan Nara tengah terkejut melihat keduanya bersitegang. Wanita yang baru saja tiba itu segera berlari dan berusaha melerai. Nara mengapit sebelah lengan Taehyun erat, menggeretnya untuk sedikit menjauh dan berusaha menenangkan suasana hati suaminya yang tampak buruk.
“Apa yang terjadi? Kalian berdua masih bisa bertengkar disaat seperti ini? Abonim sedang sakit, tapi kalian masih saja bertindak kekanakan!” tegur Nara. Sejenak ketiganya hanya saling pandang sambil masih saling terdiam. Tak ada yang bersuara sampai Jaehyun mulai menjelaskan.
“Aku tak serendah yang kau pikirkan. Posisi presdir Han’s group? Ya, aku memang menginginkannya. Tapi aku akan mendapatkannya dengan caraku, dengan kemampuanku! Bukan dengan cara-cara kotor seperti yang kau tuduhkan!” Setelahnya Jaehyun membuang mukanya malas, sementara Taehyun yang sedang duduk di bangku tunggu tampak memperhatikan wajahnya dalam diam.
“Maaf, aku hanya—“
“Sudahlah. Sebaiknya kalian berdua pulang saja”
“Aku akan disini sampai aboji sadar” sahut Taehyun
“Kau tak lihat wajah istrimu tampak begitu lelah? Sebaiknya kalian pulang” ujar Jaehyun. Refleks mata Taehyun menatap Nara yang kini tengah berdiri sambil memegangi perutnya dengan wajah lusuh yang jelas terlihat lelah.
“Bawa Nara pulang, aku yakin dia butuh istrirahat. Aku akan disini dan menunggu aboji siuman”
Taehyun mendesah. Lagi-lagi ia berada dalam posisi yang sulit. Sebagai seorang anak, ia ingin berada di sisi ayahnya sampai laki-laki itu sadar. Tapi ia juga tak bisa melihat wajah lelah istrinya jauh lebih lama. Tidak, ia tak setega itu pada Nara. Ia sadar kali ini Jaehyun memang benar. Nara butuh istirahat.
“Hubungi aku ketika aboji siuman..”
“Tentu. Kau orang pertama yang akan ku hubungi..”
Taehyun mengangguk, senyum terbersit walau sekilas di bibir tipisnya dan ia segera menggenggam lengan istrinya erat dan menarik bahu ringkih itu dalam dekapannya.
“Oppa, kau juga beristirahatlah. Kau juga terlihat lelah..” gumam Nara sebelum ia melambaikan sebelah tangannya dan pergi bersama suaminya.
.
.
.
-To Be Continue-
.
.
.
Author’s Note:
.
.
Terimakasih sudah singgah dan membaca..
Semoga kalian masih berkenan dan suka dengan cerita ini..
Kritik, saran, like, komen dan ulasan, aku tunggu ya..
.
.
__ADS_1
With Love,
Byunra93_