
Selamat membaca,,, 😘😘😘
...****************...
Brukk!
Sean melempar Rere ke atas tempat tidur, ia sengaja memesan kamar saat sebelum sekertaris Roy datang, sedangkan Rere yang merasa keadaan ini seperti dejavu sedikit merasa takut.
“Sayang, kau mau apa?’ tanya Rere gugup bercampur rasa takut.
“Sayang, sekarang kau jangan takut, aku tidak akan bermain dengan kasar seperti waktu itu lagi,” jawab Sean yang duduk di hadapan Rere sambil membelai wajah cantik istrinya itu.
“Tapi, apakah harus sekarang?” tanya Rere polos membuat Sean yang tidak sabar untuk segera memakan istrinya bagai kelinci itu.
“Apa kau keberatan, apa benar aku belum bisa memaafkan diriku, apa kau belum bisa mencintai dan menerimaku?” cecar Sean, sebenarnya ia sudah tidak sabar ingin segera melancarkan aksinya. Mungkin karena obat yang yang di berikan Liora sudah berfungsi dengan baik.
Melihat sang istri hanya diam dan tak menjawab, Sean langsung mengangkat dagu Rere dan segera menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya yang begitu menggoda, tak lupa juga ia melu**matnya habis tanpa celah sedikitpun, Rere yang merasakan suaminya yang berani menciuminya hanya membulatkan matanya tak lama kemudian ia mencoba menerima serangan Sean yang semakin kasar dalam berci**uman, Rere hanya bisa menerima dan memejamkan matanya untuk merasakan sensasi yang begitu terasa nikmat.
Sean menggigit bibir bawah sang istri agar terbuka, ia segera memasukkan lidahnya untuk mengeksplor rongga mulut sang istri, mengabsen rongga mulut tersebut tanpa ada satupun yang terlewatkan, semakin lama ia berci**uman, semakin Sean menuntut dan meminta lebih, bahkan Rere saat ini sudah terbakar api gair**ahnya.
Tak lupa juga ia terus mer**emas dengan kuat dua gunug kembar milik istrinya dengan sangat gemas.
Emuachh, emmuach, emmuachh
Sean mulai menuruni ciu**man ganasnya ke leher jenjang sang istri, memberikan jejak kepemilikan di sana dengan sangat banyak, merobek baju sang istri di bagian dadanya hingga isinya menyembul keluar, dengan cepat ia meny**usu bagai bayi besar yang sangat rakus dan kasar, tak lupa juga tangannya yang mer**emas gunung satunya, karena sangat di sayangkan jika di biarkan.
Kecapan demi kecapan mulai memenuhi kamar tersebut. Sean membaringkan istrinya tanpa melepaskan ciu**man mereka.
__ADS_1
“Apa kau bersedia?” tanya Sean saat melepaskan ciuman tersebut dengan tatapan yang sudah di penuhi api gai**rah, dengan cepat Rere menganggukkan kepalanya dengan wajah yang sudah memerah bagai udang rebus karena malu.
Tanpa menunggu lama, Sean langsung menyerang sang istri dengan ciuman yang sedikit kasar sambil melepaskan pakaian yang yang melekat pada tubuh istrinya, kini tubuh istrinya sudah polos tanpa sehelai benangpun, Sean menatap keindahan tubuh istrinya dengan tatapan takjub sekaligus lapar.
“Sayang, kau sungguh sangat seksi,” ucap Sean dengan tatapan mesumnya, sambil melepaskan semua pakaian yang melekat pada tubuhnya, kini Sean pun sudah polos tanpa sehelai benang sama seperti istrinya, Rere yang melihat tubuh polos sang suami sudah tidak biasa menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah karena malu.
“Kau sangat menggemaskan jika saat sedang malu sayang, lihat lah aku,” ucap Sean sambil tersenyum mesum. Saat Rere melihat ke arah sang suami, ia begitu terkejut saat melihat tongkat pusaka sang suami yang begitu besar dan sudah berdiri tegak, bahkan melebihi tegaknya keadilan, ini memang bukan yang pertama buat Rere melihatnya, namun tetap saja ia merasa sangat malu, kemudian Sean kembali menyatukan bibir mereka, kini ciuman mereka dengan penuh nap*su, bahkan Rere pun ikut terbakar api gai**rah yang Sean berikan.
“Aku akan melakukannya, kau boleh menggigit bahuku jika masih terasa sakit, maafkan aku,” ucap Sean saat melepaskan ciumannya untuk meminta izin sang istri yang langsung di jawab dengan sebuah anggukan oleh Rere.
Jlebb!
“Akhhh,” ringis Rere merasakan sakit di bawah sana saat benda tumpul dan keras itu menerobos masuk ke kandangnya. Bahkan Rere mencakar punggung suaminya, ia masih merasakan sakit karena pintu kandang ular kobra itu masih sangat sempit dan begitu nikmat.
Cupp cupp cupp
Dengan perlahan ia menggerakkan pinggulnya dengan maju mundur, tak lama kemudian ia menggerakkannya dengan cepat.
“Ahhss, sayang, kau sangat sempit, ini, ahhss, sangat nikmat,” racau Sean sambil terus menggerakkan pinggulnya dengan cepat dan sedikit kasar, membuat Rere merasakan sakit sekaligus nikmat yang membuat dirinya melambung di udara.
“Ahhsss, ahss,” desah Rere yang begitu merasakan kenikmatan yang Sean berikan.
“Ahhss, Panggil namaku sayang, ahsss, kau sangat nikmat,” ucap Sean di sela desa**hannya.
“Ahhss, Sean, faster please, ahhss,” racau Rere tanpa sadar meminta lebih.
“Ahsss Sean, aku mau pi**pis,” ucap Rere yang akan mengeluarkan pelepasannya.
__ADS_1
“Ahss, sayang, sebentar lagi, tunggu aku ahss,” ucap Sean yang terus memacu pinggulnya dengan lebih cepat.
“Ahss, sayang sekarang,” ucap Sean yang akan mengeluarkan benihnya.
“Aaahhssss,” de**sah Sean dan Rere saat melakukan pelepasan pertama mereka.
Sean ambruk di gunung kembar sang istri, merasakan rasa hangat yang masih berkedut di bawah sana yang belum di keluarkan dari kandang.
Tak lama kemudian Sean mencabut ulah kobra miliknya dan berbaring disebelah istrinya yang masih terengah mengatur napasnya karena kelelahan akibat permainan Sean yang sangat luar biasa.
*To be continue*
Terima kasih,,,
......................
Beri dukungan untuk Mimin ya, biar Mimin gak males buat up di lapak ini.
Ikutin terus kelanjutannya yaa gengs,,,
Tekan favorite agar dapat notifikasi jika sudah up,,,
Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya,,
Follow IG Author @aran_diah
Hatur nuhun sadayana.
__ADS_1