My Possessive Husband

My Possessive Husband
Tragedy


__ADS_3

‘Braaakk..’ Nara membanting pintu ruangan direktur itu dengan kasar. Ia masih menghentak-hentakkan kakinya kesal, kemudian menghempaskan tubuhnya untuk duduk diatas sofa cream di ruangan Taehyun sambil menyilangkan kedua kakinya. Punggungnya bersandar pada sandaran sofa, sedang tangannya terlipat di depan dada. Ia menatap tajam ke arah suaminya yang sedang berjalan menuju ke arahnya.


“Ada apa?” tanya Taehyun yang duduk dihadapan istrinya


“Bukan aku bermaksud untuk mencampuri urusanmu Han Taehyun-ssi! Hanya saja, tak bisakah kau menghargaiku sebagai istrimu!” ucap Nara yang masih tergantung.


“Aku tau pernikahan ini hanyalah kepalsuan. Dan aku cukup mengerti tentang perjanjian dimana kita tak boleh menggunakan perasaan kita. Tapi tak bisakah kau memandang statusku saat ini? Aku masih istrimu yang sah dihadapan hukum dan orang-orang. Jadi tolong, setidaknya kau ingat itu baik-baik!” Taehyun hanya diam seolah menunggu. Membuat Nara menjadi semakin dan semakin terbakar oleh rasa kesal yang bersarang di dadanya.


“Semalam kau tak pulang dan tidur di tempatnya? Apa kau sebegitu menjijikkan, Han Taehyun? Semudah itukah kau berpaling? Sesaat setelah aku menolak untuk kau tiduri, kau mencari pelampiasan dengan pergi ke tempat gadis itu? Kau tidur dengannya?” Nara terlihat amat marah. Sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan reaksi yang Taehyun berikan. Taehyun hanya tersenyum tanpa tersulut emosi sedikitpun.


“Kau Cemburu..” tuduhnya tenang.


“Apa?”


“Kau cemburu, Kim Nara. Akui saja hal itu!”


Beberapa saat Nara terdiam, mencerna kembali kata-kata yang baru saja ia ucapkan. “Dasar bodoh!” bentak Nara. Gadis itu berdiri dari tempatnya duduk. Ia jelas terlihat gugup saat ini. Dan lagi-lagi, Taehyun hanya tersenyum penuh arti. Ia ikut berdiri sambil menghampiri istrinya.


“Kenapa kau sebegitu marah? Kau menungguku semalaman setelah menolakku kemarin? Kau menyesal?”


“Apa? Menyesal? Yang benar saja!” tolak Nara tak terima.


“Jelas-jelas tertangkap basah sedang cemburu. Masih tak mau mengaku, humm?” Taehyun menarik lengan Nara, memeluk tubuh gadis itu di dadanya.


“Siapa yang cemburu? Aku hanya tak suka dengan caranya menatapku! Aku benci tatapannya!” elak Nara.


“Itu berarti kau cemburu, istriku. Aku suka kau cemburu, dan tetaplah seperti ini.” Bisik Taehyun di telinga istrinya. Tangannya masih berada di pinggang Nara dan memeluk gadis itu dengan lembut. Bukannya menolak, Nara justru melingkarkan lengannya di pinggang Taehyun untuk membalas pelukan pria itu. Ia terlihat menggerakkan posisi kepalanya untuk berada di posisi yang paling nyaman pada dada bidang suaminya. Ia menghirup aroma mask bercampur dengan segar harum mint yang merupakan aroma khas tubuh suaminya yang kini secara otomatis telah menjadi wangi favoritnya. Mendapati reaksi yang begitu baik dari istrinya, Taehyun hanya tersenyum sembari mengeratkan pelukannya.


“Semalam tak bertemu, apa kau begitu merindukanku? Bagaimana jika kita lanjutkan di tempat tidur, humm?” Nara tau suaminya tak sedang bercanda ketika ia mengatakan hal itu. Tapi sepertinya ia masih belum peduli. Ia masih ingin memeluk tubuh itu jauh lebih lama. Terlampau nyaman baginya untuk melepaskan pelukan itu.


“Aku harus memimpin rapat, Nara. Mereka sudah menunggu terlalu lama. Kita lanjutkan nanti humm..?” Taehyun dengan sangat terpaksa melepaskan lengan Nara di pinggangnya. Ia kembali tersenyum ketika menatap wajah istrinya yang bersemu merah. Sekilas dan dengan begitu cepat, Taehyun mengecup daun bibir merah milik Nara. Hanya sekilas, ia tak ingin kehilangan kendali dan justru melakukan hal yang lebih pada gadis itu. Setidaknya tidak disini, dan tidak sekarang karena Lee Baekki sedari tadi terus menghubungi ponselnya. Menandakan bahwa para karyawannya tengah menunggu.


“Kau, ikutlah rapat hari ini..” Taehyun menggenggam jemari Nara dan menariknya pelan agar gadis itu berjalan disampingnya.


.


.


.


***


.


.


.


Ruang rapat pagi itu penuh dengan bisik-bisik semua designer dan petinggi di devisi Design HS Coorporation. Beberapa karyawan wanita tengah melihat ke arah Hyeri yang sedang berjalan dibalik punggung Jaehyun. Berbagai spekulasi tentang apa hubungan gadis cantik itu dengan kedua pewaris Han’s Group pun menjadi topik utama yang tak bisa dielakkan. Terlebih ketika kini Hyeri terduduk disamping Jaehyun sambil berbincang akrab. Mereka seolah memiliki dunianya sendiri.


Cukup lama ruangan itu sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, sampai sang direktur utama terlihat berjalan perlahan memasuki ruang rapat dengan sang istri yang berjalan disampingnya. Taehyun terlihat begitu berwibawa ketika pria itu duduk di bangku kekuasaannya dengan Nara yang menempati posisi disampingnya. Sedang Hyeri, ia terlihat tersenyum penuh arti menatapi pasangan itu.


Rapat dibuka dengan prestasi dari Shin Jihyun sang manager pemasaran HS Coorporation. Gadis cantik bermata bulat itu begitu sungguh\-sungguh menjelaskan grafik penjualan HS butik bulan ini yang meningkat dengan begitu pesat. Semua bertepuk tangan setelah Jihyun menyelesaikan presentasinya. Tak terkecuali Taehyun. Tampaknya pria tampan itu cukup puas akan kinerja sang manager dan staf\-staf dibawahnya.


Sampai akhirnya, tiba pada acara paling inti dimana Taehyun akhirnya berdiri di modium sambil memperkenalkan Hyeri sebagai partener kerja Han’s Group kedepannya. Semua yang menghadiri rapat terlihat mengangguk-angguk sambil tersenyum ketika rasa penasaran mereka seakan terjawabkan. Semua lantas merunduk memberikan sapaan hangat pada nona Lee Hyeri sang designer yang begitu mendunia. Acara rapat hari itu ditutup, sesaat setelah Hyeri resmi memperkenalkan dirinya.


“Direktur Han, bukankah seharusnya kita melakukan pesta penyambutan untuk nona Lee?” celetuk salah seorang designer Han’s Group, Cho So Yeon. Taehyun masih menatap sang designer dengan tatapan dinginnya. Memberikan kesempatan bagi gadis itu untuk mengutarakan pendapatnya.


“Ah benar. Sekalian kita rayakan peningkatan penjualan perusahaan yang begitu pesat bulan ini.” Tambah ketua tim design Choi Haneul.


“Juga untuk menyambut kehadiran Nyonya muda diantara kita..” So Yeon tersenyum sambil memandangi Nara yang sedari tadi hanya diam disamping suaminya.


“Sudah lama kita tak mendaki. Bukankah musim semi seperti ini sangat cocok untuk mendaki gunung?”


Begitu banyak usulan dari para staff. Taehyun hanya menanggapinya dengan tenang. Pria itu memanggutkan kepalanya singkat, kemudian mulai bersuara.


“Baiklah, besok kita pergi mendaki. Lee Baekki-ssi dan kau manager Shin, tolong persiapkan semuanya dengan baik..” ucap Taehyun menyetujui dengan singkat. Sontak sorak sorai langsung terdengar di ruang rapat, sementara Taehyun terlihat bengakit dan menggandeng tangan istrinya untuk pergi.


.


.


.


***


.


.


.


Bukhasan, Utara Seoul – South Korea


Saturday, 26 October 2019


@06.00 AM


.


.


Beberapa designer, staff dan manager HS Coorporation, dibawah naungan Taehyun terlihat tengah bersiap\-siap di halaman villa milik keluarga Han yang terletak di bawah lereng gunung Bukhasan, sebelah utara Seoul. Mereka terlihat memakai pakaian tebal mengingat udara pagi di pegunungan ini memang sangat dingin. Bahkan mereka juga tak lupa mengenakan sepatu khusus untuk mendaki. Memang sejak tadi malam mereka menginap di villa megah keluarga Han yang memiliki puluhan kamar di dalamnya.

__ADS_1


Langit tampak masih diselimuti awan mendung. Beberapa orang diluar sana terlihat menggosok-gosokkan telapak tangannya yang terasa dingin. Namun hal itu tak menyurutkan semangat mereka untuk tetap mendaki. Lain hal nya dengan apa yang saat ini sedang Nara rasakan. Di salah satu kamar utama, sepasang suami istri itu masih terus bertengkar seperti biasanya.


“Aku tak akan ikut..!” ucap Nara yang masih berdiri di depan cendela kamarnya sambil menatap pemandangan diluar sana yang terlihat begitu indah.


“Kau harus ikut..” paksa Taehyun yang sedang mengambil sebuah jaket tebal di tempat tidurnya dan kemudian mengenakan benda itu di tubuhnya.


“Aku tak suka mendaki. Dan kalaupun aku ikut, juga akan percuma. Aku tak akan bisa sampai di puncak. Aku tak mau ikut. Itu terlalu berbahaya” elak Nara terus menerus.


“Apa aku memberimu pilihan?” ucap Taehyun dengan nada arogan dan angkuh khasnya.


“Yak! Kalau sampai aku terjatuh seperti dulu ketika aku kecil, apa kau akan bertanggung jawab? Tidak, aku tak akan ikut!” Nara semakin bersikeras mengingat trauma itu masih ia rasakan. Dulu semasa kecilnya Nara pernah terjatuh ketika mendaki. Ia tersandung akar pohon hingga tubuhnya jatuh terguling dilereng gunung hingga kepalanya terbentur sebuah batu besar. Bahkan kakinya harus mendapatkan perawatan insentif karena tulang kakinya mengalami keretakan.


“Yak! Kau akan pergi denganku bodoh! Kau pikir aku akan membiarkanmu berjalan sendiri? Aku akan menjagamu..” Taehyun terus berusaha meyakinkan istrinya yang masih tampak bingung.


“Aku akan memegangi tanganmu, jadi ikutlah..” bujuk Taehyun lagi. Istrinya masih terdiam tanpa memberi jawaban.


“Baiklah kalau kau memang tak mau ikut. Aku akan mengajak Hyeri pergi bersamaku..”


“YAK!” pekik Nara dengan refleks.


“Apa?” tantang Taehyun.


“Jangan mulai lagi, Han Taehyun!”


“Kau yang memulainya, Nara!”


“Jangan pergi dengannya!” tukas Nara tak suka.


“Makanya, kau ikut tidak?” tanya Taehyun sekali lagi. Sejenak, Nara terdiam seolah tengah menimbang apa yang akan ia putuskan.


“Kim Nara, cepatlah..” pinta Taehyun yang semakin kehilangan batas kesabarannya.


“Baiklah. Berjanjilah kau akan menjagaku dan tak akan melepaskan tanganku..” ucap Nara sambil tertunduk malu. Taehyun tertawa menatap tingkah istrinya yang menggemaskan. Pria itu mengambil sebuah jaket milik Nara dari dalam almari dan berjalan mendekati istrinya. Ia memakaikan jaket putih itu di tubuh Nara. Membuat semu merah itu muncul secara perlahan di bawah garis mata istrinya.


“Nara, Nara..” gumam Taehyun sambil tesenyum simpul.


“Apa!” gertak Nara.


“Gadis aneh..” Taehyun mengacak rambut istrinya gemas.


.


.


.


***


.


.


.


Nara sempat terlihat ragu saat akan mulai menjejakkan kakinya pada jalan pendakian di depannya. Ia berhenti sejenak. Matanya menatap ke arah Jihyun yang sudah memulai pendakiannya dengan Baekki yang sedari tadi terus berdiri disampingnya sambil memegangi bahu gadis itu untuk menjaganya. Semuanya sudah mulai menjauh, tapi Nara tak kunjung mulai menginjakkan kakinya disana.


“Apa yang kau lakukan? Ayo..” ajak Taehyun yang tengah mengulurkan tangannya kearah Nara. Dengan tangan yang masih bergetar, Nara meraih tangan Taehyun dan menggenggamnya erat ketika kakinya mulai menapak pada tanah pendakian gunung Bukhasan yang indah.


“Jangan takut! Aku bersamamu. Aku memegang tanganmu. Jadi, percayalah padaku..” ucap Taehyun yang terus berusaha meyakinkan istrinya. Ia ingin membuat gadis itu terbebas dari trauma masa kecilnya. Ia tak ingin melihat Nara terus dihantui rasa takutnya.


Taehyun terus memeluk bahu istrinya sambil perlahan mulai menapaki tanah yang semakin lama terasa semakin miring. Baekki dan Jihyun yang memang berada di depan pasangan itu sengaja menghentikan langkah mereka untuk mengamati Nara dan Taehyun yang terlihat begitu akur. Keduanya tampak tersenyum bahagia ketika menatapi sahabat-sahabatnya itu sama-sama mulai membuka diri dan hati mereka.


“Menurutmu mereka akan bertahan berapa lama dalam kondisi seperti itu?” tanya Jihyun pada kekasihnya. Keduanya masih berdiri sambil menatapi Taehyun dan Nara yang terlihat berjalan perlahan sambil saling memeluk.


“Entahlah. Setidaknya terasa melegakan ketika mereka tak saling beradu mulut dan bertengkar. Taehyun terlihat mulai menyukai istrinya..”


“Nara juga terlihat bahagia..” tambah Jihyun.


“Biarkan saja mereka mengurus diri mereka. Ayo kita lanjutkan..” Baekki menarik bahu Jihyun untuk kembali ia peluk dan keduanya melanjutkan perjalanan mereka yang sempat terhenti. Dibalik itu, mereka masih tak menyadari bahwa dua pasang mata yang lain juga tengah memperhatikan pasangan itu dengan tatapan yang menggebu. Lee Hyeri dan Han Jaehyun. Entah tatapan macam apa yang mereka berikan pada Taehyun dan Nara, namun pandangan keduanya tak sedikitpun berpaling dari mereka.


Sudah hampir 20 menit mereka berjalan. Nafas Nara mulai terasa putus\-putus. Gadis itu kini merasa lelah yang teramat sangat. Tubuhnya semakin lemas. Sedari tadi memang Taehyun terus memenuhi janjinya. Tak sekalipun Taehyun melepaskan tangan Nara. Ia dengan begitu perhatian dan protektif terus menjaga langkah Nara agar tetap seimbang. Sampai di tengah jalan, Taehyun melihat Hyeri yang sedang menengadahkan kepalanya keatas sambil meletakkan botol minum di bibirnya. Gadis cantik bersurai coklat itu terlihat sedikit mengumpat, ketika menyadari air minumnya tak lagi tersisa. Ia terlihat benar\-benar kesal. Hal itu membuat Taehyun menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap ke arah Hyeri ketika gadis itu memanggilnya.


“Oppaaaa..” panggilnya yang terdengar seperti rengekan manja.


“Kau baik-baik saja?” tanya Taehyun saat menatap wajah Hyeri yang terlihat pucat.


“Oppa, aku haus..” Hyeri melingkarkan lengannya, memeluk sebelah lengan Taehyun yang bebas. Nara menatap tangan Hyeri di lengan Taehyun dengan risih. Ia menggerakkan tubuhnya sedikit menjauh, hingga dirinya terlepas dari pelukan Taehyun. Nara masih menatap Hyeri yang sedang bergelayut manja di lengan Taehyun dalam diam.


“Hyeri-ah..” tegur Taehyun pelan. Namun itu seakan tak berpengaruh besar pada diri Hyeri. Ia tetap memeluk sebelah lengan Taehyun tanpa berniat untuk melepaskannya.


Nara yang menatap hal itu, merasa sangat marah sampai ia memutuskan untuk berjalan meninggalkan keduanya tanpa mengatakan apapun pada Taehyun.


“Ini, minumlah..” Taehyun memberikan botol minumannya yang masih berisi air pada Hyeri. Gadis itu segera meneguk air dari botol Taehyun tanpa sungkan. Ia terlalu haus untuk memikirkan tentang etika.


Sedang Taehyun masih memandangi wajah cantik dihadapannya lamat-lamat. Mengamati tiap ekspresi Hyeri yang terlihat menggemaskan. Taehyun masih tak menyadari bahwa istrinya telah bersusah payah untuk melangkah di depannya. Kaki Nara kembali bergetar. Ia meraih batang-batang pohon yang berdiri berjajar disampingnya sebagai tumpuan kakinya untuk melangkah. Gadis itu terus berusaha untuk mengatur langkahnya untuk sampai dipuncak.


Namun sayang, Nara tak memperhatikan tali sepatunya yang terlepas. Sehingga tanpa sadar kakinya menginjak tali sepatu bagian kanannya yang terlepas. Hal itu membuat langkah Nara tak seimbang dan pada akhirnya gadis itu jatuh terjelembab. Tubuh Nara berguling-guling di tanah bukit bebatuan yang cukup terjal.


Semua yang melihat kejadian itu berteriak histeris sambil berusaha menyelamatkan istri sang direktur. Tubuh Nara masih terus berputar-putar saat jatuh dari lereng bukit. Sampai akhirnya, kepala Nara membentur sebuah batu besar dan tubuhnya tiba-tiba terhenti. Melihat hal itu Jaehyun menjerit histeris sambil berlari menghampiri Nara.


“Nara.. Kim Nara kau mendengarku? Nara!” jerit Jaehyun sambil memangku kepala Nara di atas pangkuannya. Sebelah tangan Jaehyun menahan kepala Nara sedang tangannya yang lain seperti tengah mengguncang tubuh gadis itu untuk tersadar. Namun hasilnya nihil. Nara menutup kedua matanya dan tak sadarkan diri.


Jaehyun kembali menjeritkan nama gadis itu, saat ia menarik tangannya yang menahan kepala Nara. Cairan kental berwarna merah terlihat memenuhi tangan Jaehyun.

__ADS_1


“Tidak..!! Nara! Ku mohon bangunlah..” rancau Jaehyun yang terlihat panik. Pria itu menangis dengan sendirinya. Ia berniat bangkit dan menggendong tubuh Nara untuk membawanya kerumah sakit, saat teriakan keras terdengar dari balik kerumunan para karyawan yang memang sedang berdiri mengelilingi tubuh Nara.


“SINGKIRKAN TANGANMU DARINYA!!” hardik Taehyun keras. Kerumunan para karyawan HS Coorporation yang sedang menatap Jaehyun seketika terbelah, memberikan jalan bagi Direktur mereka untuk menatap keadaan istrinya.


Rahang Taehyun mengeras, menandakan sebuah amarah yang begitu membara. Taehyun mengepalkan tangannya sambil masih mengatur nafasnya yang beberapa saat lalu sempat terhenti karena kaget.


“Baek, cepat turun kebawah. Siapkan mobil! Kita harus segera membawa Nara kerumah sakit..” titah Taehyun pada Baekki yang berdiri disampingnya. Lee Baekki, pria itu segera berlari menuruni pegunungan untuk menunggu Taehyun disana. Taehyun berniat mendekati tubuh istrinya saat Hyeri tiba-tiba menahan lengannya.


“Taehyun-ah, kau akan pergi. Apa yang--”


“Manager Shin, bawa Hyeri bersamamu..” ucap Taehyun pada Jihyun. Ia melepaskan tangan Hyeri di lengannya dan berlari ke arah Nara. Masih dengan sikap dinginnya Taehyun meraih tubuh istrinya dari pangkuan Jaehyun. Ia mengangkat tubuh itu kemudian berjalan turun tanpa mengatakah sepatah katapun. Pandangan Taehyun menggelap, ia benar-benar takut terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.


Mendapati tubuh Nara tak lagi berada di pangkuannya, Jaehyun berdiri. Ia menatap punggung Taehyun yang menjauh dalam tatapan yang sungguh menyakitkan. Ia masih menangis, masih merasakan sakit di ulu hatinya ketika menatap kondisi Nara tadi. Tapi sekali lagi, ia tak mampu berbuat apapun untuk gadis yang sangat ia cintai itu.


.


.


.


***


.


.


.


Baekki menurunkan topi yang ia kenakan, ia juga membenarkan letak kacamata hitam yang bertengger di wajahnya. Masih dari balik dinding sempit itu, ia terus memperhatikan seorang wanita paruh baya yang sedang berjalan di tengah kegelapan malam hari itu. Perlahan dan dengan mengendap-endap, langkah Baekki terlihat begitu teratur. Ia masih mengikuti sang wanita sambil sesekali mengambil gambar untuk ia jadikan sebagai bukti dari penyelidikannya. Langkah wanita itu terhenti. Sepertinya ia mulai menyadari bahwa dirinya diikuti. Baekki terlihat gelagapan. Dengan cepat ia bersembunyi di balik rumput jalan raya, sambil terus berdoa agar ia tak ketahuan. Setelah dirasa cukup aman Baekki mulai keluar dari persembunyiannya. Ia mengamati sekitar, mencari sosok yang sedari tadi ia ikuti.


“Sial! Lagi-lagi aku kehilangan jejaknya..!!” umpat Baekki ketika tak lagi mendapati bayangan sosok wanita yang ia selidiki.


.


.


.


_To Be Continue_


.


.


.


-Spoiler Next Chapter-


.


.


“Apa yang kau lakukan disini! KELUAR! Aku membencimu Han Taehyun! Keluarlah!!”


“Eomma, bawa aku pulang bersamamu.. Aku ingin tinggal bersama eomma. Ku mohon, aku tak ingin lagi berada dirumah ini..”


“Maafkan aku, Nara. Maaf..”


***


.


.


Author’s Note:


.


.


Fiuuuhh~


Makin gaje yah ini story.. hehe..


Byunra mau ucapin terimakasih buat kamu yang masih setia ikutin cerita ini sampai sekarang.


Kira-kira apa yang akan terjadi pada Nara?


Dan siapakan wanita yang sedang Baekki ikuti?


Apakah ada hubungannya denga Nara?


Simak kisahnya di bab selanjutnya..


Semoga kamu suka..


Kritik, saran, like dan ulasannya aku tunggu ya..


.


.


With love,

__ADS_1


ByunRa93_


__ADS_2