
Kau tau, apa yang menjadi sifat dasar manusia?
Keegoisan, dan gengsi..
Sebagian orang di dunia ini berpikir bahwa gengsi adalah harga mati dalam hidupnya.
Hingga dia enggan untuk mengakui apa yang sedang dia rasakan..
Padahal rasa itu, ada! Padalah, rasa itu nyata..
.
.
Seoul Hospital – South Korea
Sunday, October 27th 2019
01.00 PM
.
.
.
Sudah hari ketiga sejak gadis itu dirawat. Kini perban yang beberapa hari yang lalu melilit kepalanya telah dibuka. Hanya menyisahkan gulungan kasa yang memang masih digunakan untuk menutupi bekas jahitan di kepalanya yang terlihat mulai mengering. Sebenarnya hari ini ia telah diperbolehkan untuk beristirahat dirumah. Dokter sudah mengijinkannya untuk pulang. Namun mengingat kesibukan Taehyun sebagai direktur Han’s Group yang memang memiliki jadwal yang amat sangat padat, Nara baru akan kembali nanti sore. Setelah Taehyun pulang dari kantornya.
Masih di atas tempat tidur rumah sakit, kini Nara sedang mengunyah makan siangnya dengan lahap. Hal yang tak akan pernah berubah walaupun kini tubuhnya masih terasa sakit. Yumi menggeleng, ketika nasi yang ia suapkan pada putrinya terasa banyak berkurang.
“Apa kau sangat lapar, humm?” tanya Yumi saat melihat anaknya yang membuka mulutnya lagi dan lagi.
“Eomma, bukankah aku ini masih pasien? Tentu aku harus makan banyak untuk memulihkan kesehatanku”
“Tapi kau sudah boleh pulang nanti, Nara..” tukas Yumi.
Nara seketika menghentikan kunyahannya. Ia menatap selimutnya sambil mendesah penuh beban pikiran. Pulang? Apa itu berarti dia harus kembali ke rumah itu? Rumah Taehyun, suaminya?
“Haaaah...” hembusan napas Nara terdengar berat.
Sungguh Nara tak ingin kembali lagi kesana. Mungkin kalau ia boleh memilih, dirinya akan jauh lebih nyaman tinggal dirumah sakit daripada harus kembali tinggal di istana megah keluarga Han bersama pria itu. Tidak, Nara masih tidak ingin melihat wajah suaminya. Hatinya masih belum bisa menerima keadaan, dimana Taehyun dengan begitu tega membiarkannya berjalan sendiri di pegunungan. Sedang dirinya justru sibuk mengagumi kecantikan wanita lain. Kalau Taehyun melakukan hal itu di belakangnya, mungkin Nara masih bisa memahami dan menerimanya. Tapi tidak, ketika ia secara terang-terangan melakukannya dihadapan Nara. Bahkan ia tega meninggalkannya sendiri demi wanita itu. Hal yang paling buruk dari semua itu adalah, ketika Taehyun melanggar janjinya sendiri yang telah ia buat untuk melindungi Nara selama pendakian.
“Eomma, bisakah aku pulang bersamamu? Bawa aku bersamamu, eomma. Aku ingin kembali ke Daegu. Aku tak ingin tinggal di rumah itu lagi, eomma. Ku mohon..” rengek Nara dengan tatapannya yang memohon.
“Kau masih marah pada Taehyun? Nara, eomma memang tidak tau apa yang Taehyun lakukan sampai membuatmu semarah ini. Tapi satu yang harus kau tau, Taehyun benar-benar sangat khawatir saat kau terbaring tak sadarkan diri. Ia bahkan terus menjagamu dan tak ingin meninggalkanmu walaupun hanya sedetik. Yang eomma tau, Taehyun peduli padamu. Tatapan matanya ketika menatapmu, terlihat jelas ia mencintaimu Nara.”
“Tidak, eomma. Dia sama sekali tak mencintaiku. Bahkan ketika aku terjatuh waktu itu, Jaehyun oppa lah yang menolongku. Dialah yang membawaku kemari dan menghubungi eomma. Dia bahkan mengirim supir untuk menjemputmu, eomma.”
“Tidak Nara, tidak. Jaehyun memang menghubungi eomma dan mengirim supir untuk menjemput eomma. Tapi Taehyun lah yang membawamu kemari. Ia yang menggendong tubuhmu turun dari gunung dan membawamu kerumah sakit. Ia bahkan menjagamu dan begitu khawatir akan keadaanmu. Tapi kau justru melarangnya untuk menjengukmu. Kau bahkan selalu berpura-pura tidur ketika ia datang. Jangan seperti itu terhadap suamimu, sayang. Apapun kesalahan Taehyun, tapi ia sudah menyesalinya. Bahkan ia telah berulang kali meminta maaf padamu bukan..?” ucapan Yumi terhenti ketika pintu ruangan inap Nara diketuk pelan.
Taehyun berdiri diambang pintu. Ia masih ragu untuk masuk. Perlahan ia menatap wajah Nara yang kini menatapnya dingin. Taehyun tersenyum kecil. Setidaknya Nara nya tak lagi memalingkan muka atau berpura\-pura tertidur lagi ketika ia menjenguknya. Jujur saja, itu sedikit melegakan bagi Taehyun.
“Oh, Taehyun-ah. Masuklah..” ujar Yumi. Sekilas ia membisikkan pada putrinya untuk berlaku baik pada pria itu.
“Bukannya kau sangat sibuk hari ini? Kenapa kemari?” Yumi kembali bertanya sekedar untuk mencairkan suasana.
“Ini saat istirahat makan siang eomma. Aku hanya ingin melihat keadaan Nara..”
“Ah baiklah, kalau begitu eomma pergi keluar dulu. Eomma harus membeli Tissue. Persediaan tissue disini kebetulan sedang habis. Jaga Nara baik-baik ya..” gumam Yumi sebelum keluar dan meninggalkan keduanya. Seolah sengaja memberikan ruang bagi kedua sejoli itu untuk bicara, atau bahkan bertengkar. Agar setelahnya, mereka bisa berdamai dengan segala keadaannya.
__ADS_1
Taehyun berjalan mendekat saat ia mendengar suara pintu dibelakangnya yang sudah di tutup oleh ibu mertuanya. Ia menatap Nara lekat-lekat dengan masih mengunci daun bibirnya. Menyadari dirinya sedang di tatap, Nara justru memalingkan wajahnya malas.
“Sampai kapan kau akan seperti ini? Mendiamkanku. Tak ingin menatapku. Dan berpura-pura tidur saat aku ingin bicara denganmu. Kau masih marah?” tanya Taehyun langsung pada pokok permasalahannya. Ia tak ingin berbelit-belit. Itu jelas bukan gaya seorang Han Taehyun.
Gadis itu masih diam. Ia tak berniat menjawab ataupun menatap suaminya. Hingga Taehyun merasa ia tak bisa lagi menahan urat sabarnya.
“KIM NARA..!!” bentak Taehyun. Ia menarik pergelangan tangan Nara paksa. Mau tak mau, kini Nara menatap pria itu dengan enggan.
“Tatap mataku ketika aku sedang bicara padamu! Kenapa kau terus seperti ini, Nara! Sebenarnya apa yang kau inginkan, huh!”
“Kau ingin tau apa yang ku inginkan? Apa kau bisa berjanji akan mengabulkan apapun yang ku inginkan Han Taehyun?”
Bagus! Inilah yang Taehyun harapkan. Akhirnya istrinya mau membuka mulut dan menjawab ucapannya. Tak lagi diam seperti patung.
“Kenapa kau hanya diam? Kau akan mengabulkan apa yang ku inginkan?” tandas Nara
“Apapun yang akan membuatmu Bahagia Kim Nara”
“Baiklah. Kalau begitu CERAIKAN aku!!”
“Apa? Kau bilang apa?” sedikit demi sedikit, nada bicara Taehyun mulai meninggi.
“Ceraikan aku Taehyun-ah! Hanya itu hal yang akan membuatku bahagia. Lebih baik aku hidup sendiri, terbebas dari sangkar emasmu dan menjalani hidupku dengan baik daripada aku harus tinggal bersama pria yang sama sekali tak pernah menganggap kehadiranku ada!” Nara menyentakkan lengannya kasar. Berusaha membebaskan diri dari cengkraman Taehyun yang sepertinya mulai mengendur.
“Pergilah! Aku masih seorang pasien yang membutuhkan istirahat!” Nara membaringkan tubuhnya membelakangi Taehyun sambil menggigit bibir bawahnya. Mencoba menahan rintihan rasa sakit yang ia rasakan ketika harus kembali mengucapkan kata itu pada suaminya. Suami yang ia cintai.
Untuk sesaat, Taehyun masih berdiri di posisinya. Menatap nanar pada punggung Nara yang membelakanginya. Ia mengepalkan tangannya keras, sambil menahan buncahan emosi yang siap keluar kapanpun ia melepaskan kendalinya. Tapi tidak, sejauh ini Taehyun masih bisa bersabar.
“Kenapa kau selalu mengucapkan kata cerai seolah kata itu adalah sebuah lelucon Kim Nara? Kau tak bahagia hidup bersamaku?”
“Apa kau benar-benar tak bisa lagi menjadi istriku? Apa terlalu sulit untuk berada disampingku? Apa aku begitu membuatmu terluka? Baiklah, jika memang kita harus berakhir seperti ini..” Taehyun menggantungkan ucapannya. Ia menghembuskan nafasnya berat. Lagi-lagi perasaannya seperti tak rela melepaskan gadis dihadapannya ini.
Sungguh ia ingin memeluk istrinya. Tapi sepertinya itu hanya sebuah harapan karena nyatanya Nara masih kukuh pada pendiriannya.
“Baiklah aku kembali ke kantor. Jaga dirimu baik-baik..” ucap Taehyun sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya dengan berat keluar dari ruangan bercat putih itu.
.
.
.
***
.
.
.
Sore itu Nara duduk sambil melamun, saat ibunya tengah sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan ia bawa pulang. Sedari tadi siang Nara memang tengah memikirkan sesuatu dengan begitu sungguh-sungguh. Ia mulai memikirkan satu persatu ucapan suaminya. Perlahan lahan dia menyadari bahwa selama ini sikapnya sebagai seorang istri juga memang tak cukup baik. Ia selalu dengan begitu mudah mengucapkan kata cerai dari bibirnya. Namun itu juga bukan murni kesalahannya. Gadis itu memijit kepalanya yang kembali terasa berdenyut nyeri.
“Kau baik-baik saja?” tanya Yumi pada putrinya. Sedang Nara hanya mengangguk pelan. Saat itulah pintu ruang rawat Nara terbuka. Baekki tersenyum dari balik pintu sambil perlahan berjalan masuk.
“Nara, ayo..” ajaknya.
“Taehyun sudah menyelesaikan semua administrasi dan sekarang dia sedang menunggu di mobil” ujar sang sekretaris tampan itu dengan begitu sopan. Untuk sesaat, Nara hanya terdiam. Dalam batinnya ia sedang bertanya, apa Taehyun tak ingin menemuinya setelah kejadian tadi? Apa Taehyun marah padanya? Kenapa ia tak datang menemuinya di kamar dan justru menyuruh Baekki?
Tapi perlahan Nara mulai menampik pemikiran itu, ketika ibunya dengan begitu hati-hati membantunya untuk turun dari tempat tidur. Yumi membimbing langkah putrinya untuk keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
Di pelataran rumah sakit itu, di depan mobil sport putih keluaran terbaru perusahaan Eropa, Taehyun berdiri melipat kedua tangannya di depan dada. Ia ingin membantu Yumi untuk memegangi lengan Nara, saat turun pada tangga depan gedung rumah sakit. Tapi segera ia urungkan niatnya, ketika ia kembali mengingat ucapan Nara padanya tadi. Gadis itu sudah muak berada disampingnya.
Setidaknya Taehyun cukup tau diri untuk tak membuat wanitanya jauh merasa lebih tidak nyaman. Pada akhirnya dia hanya menunggu dan membukakan pintu saat Nara sampai. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya pun sepasang suami istri itu masih saja terus berdiam diri tanpa berniat untuk saling menyapa.
Kini Yumi tengah membantu putrinya untuk terbaring di ranjang besar di kamarnya bersama Taehyun. Bukan Taehyun tak ingin membantu dan memperhatikan istrinya. Hanya saja, Nara terus bersikap dingin padanya. Beruntunglah Yumi bersedia menginap di rumah itu setidaknya sampai besok pagi.
Jam di dinding kamar itu tengah mnunjuk pada angka delapan. Nara masih berbaring di tempat tidurnya, berusaha memejamkan matanya untuk beristirahat. Tapi nyatanya ia masih belum bisa. Pikirannya jauh melayang pada banyak hal. Sedang keberadaan Taehyun di ruangan itu, juga membuatnya tak nyaman. Taehyun sendiri sedang duduk pada sofa cream yang berada di kamar mereka. Ia menyilangkan kedua kakinya sambil dengan begitu serius membaca dokumen\-dokumen di tangannya.
Sebenarnya ia tak benar-benar membacanya. Itu hanya sebuah kegiatan yang sengaja ia buat agar tak harus merasa canggung dengan istrinya. Sesekali Taehyun melirik ke arah Nara yang terlihat resah. Ia tau gadis itu tak nyaman dengan kehadiranya, hingga akhirnya ia berdiri dari sofa dan menuju lemari dinding di sudut kanan kamar. Taehyun masuk kedalam tempat itu sejenak, mengganti pakaiannya dengan sebuah kaos berwarna putih yang dipadukan dengan celana jeans abu-abu yang terlihat casual.
Ia juga mengambil sebuah jaket berwarna senada kemudian berjalan keluar dari dalam sana. Taehyun berdiri pada meja rias di sebelah kanan tempat tidur, dimana Nara sedang terbaring. Ia membenarkan letak rambutnya yang sedikit berantakan dan menyemprotkan sedikit parfum pada tubuhnya. Dari kaca rias itu, Taehyun bisa melihat kini Nara tengah memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan pandangan yang penuh dengan rasa penasaran. Ia tersenyum simpul, kemudian berbalik menatap istrinya.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Taehyun. Yang ditanya hanya mengalihkan pandangannya gugup. Nara mengedipkan kedua matanya sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak sedikitpun merasa gatal.
“Istirahatlah. Bukankah dokter menyuruhmu beristirahat?” seru Taehyun. Ia kembali berbalik menatap kaca rias itu sambil membenarkan jam di pergelangan tangan kirinya.
“Kau mau kemana?” tanya Nara ragu.
“Pergi..” gumam Taehyun. Ia tau kini Nara menatapnya curiga. Setidaknya, Taehyun bukan orang yang sama sekali tak mengerti jalan pikiran istrinya. Semua orang yang melihat ekspresi wajah Nara saat ini juga pasti akan tau jika gadis itu sedang khawatir. Pada kehadiran Lee Hyeri mungkin?
Jauh dalam hati Nara, memang gadis itu tengah curiga jika suaminya akan menemui wanita itu. Taehyun tersenyum. Ia mendekati tubuh istrinya yang kini tengah duduk di atas ranjang.
“Bodoh! Aku hanya tak ingin kau merasa tak nyaman dengan keberadaanku disini. Aku hanya tak ingin mengganggu istirahatmu. Jadi mungkin akan lebih baik jika aku pergi. Aku akan ke apartemen Baekki. Ada beberapa hal memang yang harus ku urus dengannya jadi jangan lagi berfikir yang tidak-tidak tentangku. Telpon aku jika kau membutuhkan sesuatu..” Taehyun mengecup kening istrinya sekilas dengan begitu lembut sambil membelai rambut panjang Nara.
“Istirahatlah..” gumamnya sebelum namja itu meraih kunci mobilnya di atas nakas dan berlalu pergi melewati pintu itu.
.
.
.
-To Be Continue-
.
.
.
Author’s Note:
.
.
Bagaimana kelanjutan kisah ini?
Semoga kalian masih berkenan buat baca..
Terimakasih sudah singgah di cerita ini..
Kritik, saran, komentar, like dan ulasannya aku tunggu ya..
.
.
With Love,
__ADS_1
ByunRa93_