My Possessive Husband

My Possessive Husband
I Want a Baby


__ADS_3

Akan ada satu titik balik dimana tiap manusia,


akan menuai hasil dari apa yang mereka tanam...


Akan ada satu masa dimana apa yang selama ini kita pertahankan,


Satu persatu menghilang bagai bui...


.


.


.


My Possessive Husband


©ByunRa93_


.


.


.


Ahjumma Hyo membuka tirai pada jendela ruang makan kediaman Tuan Han. Membiarkan sang surya membiaskan cahayanya yang hangat melalui kaca besar disana. Beberapa maid tampak sibuk membenahi meja makan dan menyiapkan berbagai hidangan untuk sarapan. Bukan hal yang spesial memang. Ini selalu mereka lakukan di tiap pagi. Keseharian yang akan terus sama selama roda kehidupan keluarga ini terus berjalan.


Wanita tua itu sejenak menghentikan segala aktifitasnya. Pandangannya masih terpaku pada hamparan taman belakang yang tergambar jelas diluar jendela itu. Helaan nafas yang ia hembuskan terasa begitu berat, sebuah reaksi natural yang cukup menggambarkan betapa beban di pundaknya membuatnya lelah. Ia masih tampak risau. Tak bisa ia pungkiri, menghilangnya sosok Lee Baekki secara tiba-tiba agaknya begitu mempengaruhi keyakinan dalam dirinya. Ia takut. Ia takut wanita itu tahu bahwa dirinya telah menceritakan segalanya. Ia sangat takut jika Nyonya Yoon akan benar-benar membunuhnya.


“Ahjumma..” teguran Taehyun yang pelan membuat wanita tua itu terlonjak. Cepat-cepat ia menyembunyikan raut wajah risaunya. Ia berpura-pura tersenyum walaupun semua itu terasa percuma. Taehyun yang sedari tadi memperhatikannya cukup mencium gelagat aneh yang jelas terlihat dari sikapnya yang tak biasa.


“Ahjumma, kau baik-baik saja?” Taehyun berjalan mendekatinya, tapi sang ahjumma justru beringsut mundur untuk menghindar.


“S-Saya baik-baik saja tuan muda” Pandangan ahjumma Hyo tampak tenang, datar dan terkesan dingin. Ya, dia memang tipe seorang wanita seperti itu. Seorang wanita yang amat sangat pandai menyembunyikan apa yang sedang ia rasakan.


“Istirahatlah jika kau merasa sakit. Aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu..”


“I-iya..” jawabnya singkat. Ia masih merunduk tanpa berani menatap majikannya.


“Tuan muda, apa anda ingin sarapan terlebih dahulu? Kami sudah menyiapkan---“


“Tidak. Kau siapkan saja makanan untuk Nara. Aku akan membawanya ke kamar”


“Ada apa dengan nyonya muda? Apa terjadi sesuatu padanya?”


Taehyun hanya tersenyum simpul sambil menatap wajah bibi Hyo. “Tadi pagi ia terbangun dan tiba-tiba memuntahkan semua isi perutnya. Nara terihat pucat”


“Mungkinkah nyonya muda sedang----“ Ahjumma Hyo menghentikan ucapannya, merasa canggung secara tiba-tiba. Ia kemudian berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mengambil sebuah piring dari atas meja makan dan menuangkan nasi berserta lauk di atasnya. Ia berusaha terlihat sibuk untuk menghindari tatapan Taehyun yang terus melihatnya curiga. Tapi Taehyun justru berjalan mendekatinya dan semakin memperhatikannya. Sebelah tangan Taehyun ia gunakan untuk memegang punggung kursi meja makan, sedang tubuhnya kini tengah mengamati ahjumma Hyo yang berada di depannya.


“Bibi, kenapa tak kau lanjutkan ucapanmu? Apa yang kau pikirkan tentang Nara?”


“Maafkan aku tuan---“


“Katakan saja. Aku ingin mendengar bagaimana pendapatmu..”


Taehyun masih menunggu. Ia menatap bibi Hyo seolah memintanya untuk mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Sebenarnya disini Taehyun hanya ingin meyakinkan dirinya, mencari tahu bahwa apa yang sedang ia pikirkan mungkin saja benar.


“Mungkinkah jika nyonya muda sedang hamil?”


Gotcha. Itulah sebuah jawaban yang Taehyun inginkan. Merasa memiliki sebuah harapan ketika bukan hanya dirinya yang berpikiran seperti itu.


“Beberapa hari ini ku lihat nyonya sedikit aneh. Dia sering kehilangan napsu makannya dan kadang ia terlihat sedikit pucat.”


“Sebenarnya aku juga sedang memikirkan hal yang sama, tapi dia selalu menolaknya. Nara sangat aneh. Aku penasaran, Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Apa dia tak ingin hamil?” gumaman Taehyun terdengar kecewa. Ia menggeret sedikit letak kursi dihadapannya, duduk disana dan memperhatikan tiap gerakan ahjumma Hyo yang sedang menuangkan segelas Orange juice.


“Nyonya masih begitu muda. Dia memerlukan sedikit waktu untuk itu. Bagi seorang wanita, hamil bisa jadi sebuah masa yang sangat sulit dan menakutkan”

__ADS_1


“Tapi aku benar-benar menginginkan dia hamil bibi..”


Ahjumma Hyo tersenyum. Ia meletakkan piring dan gelas itu pada nampan besar dan berbalik menatap Taehyun hangat.


“Bersabarlah. Jika saatnya nanti dia pasti memberitahumu kalau dia hamil..” sang bibi menyerahkan nampan pada Taehyun setelahnya.


“Terkadang aku tak mengerti dengan jalan pikirannya. Sulit untuk mengetahui apa yang ia pikirkan bibi..”


“Taehyun-ah, jangan seperti itu..” tegur bibi Hyo yang berhasil membuat tuannya mengangguk pasrah. Biar bagaimanapun wanita tua itu sudah Taehyun anggap seperti ibunya. Ia tak mungkin melawan segala ucapan bibi Hyo. Karena kenyataannya wanita itulah yang merawatnya sejak kecil. Wanita itulah yang memberinya sebuah kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan dari ibunya. Taehyun mengangkat nampak dimeja dan berniat segera kembali ke kamarnya.


“Han Taehyun..” tegur bibi Hyo lagi. Taehyun berbalik dan memandang bibi Hyo.


“Apa kau sudah menemukan dimana keberadaan Baekki?” tanya bibi Hyo. Wajahnya masih terlihat begitu datar, tapi dari gerakan tangannya yang saling *** cemas Taehyun amat sangat yakin ada gelagat aneh yang ia sembunyikan.


Setelah cukup memperhatikan raut wajah bibi Hyo, pada akhirnya Taehyun menggelengkan kepalanya pelan.


“Aku sudah menyuruh beberapa orang untuk mencarinya, tapi hingga sekarang aku belum juga mendapatkan setitik informasi tentang Baekki. Kenapa?”


“T-Tidak, setiap hari dia selalu datang kemari. Beberapa hari tak melihatnya terasa begitu aneh. Aku mengkhawatirkan kondisinya..”


“Dia orang yang bisa diandalkan, bibi..”


Senyum yang terlontar dari bibir Taehyun mengakhiri segala perbincangan pagi itu. Laki-laki itu berjalan menaiki anak tangga dan kembali pada kamarnya yang terletak di lantai dua.


Wanita itu masih terbaring ketika Taehyun masuk ke dalam kamarnya. Matanya masih terpejam, sedang tubuhnya meringkuk sambil memeluk guling disampingnya erat seperti tengah menahan sesuatu yang terlihat mengusiknya. Dahi Nara perlahan mulai bergerak mengernyit dan setelahnya matanya pelan\-pelan terbuka. Desahan lirih terlontar dari bibirnya ketika merasa pening yang menyerang kepalanya.


“Kau baik-baik saja?” tegur Taehyun saat melihat istrinya yang berusaha bangun dari tempat tidurnya. Taehyun bergerak meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas samping Nara kemudian duduk di tepian ranjangnya. Taehyun baru saja berniat berbalik, dan menatap Nara. Tapi yang terjadi, kini ia terlihat cukup kaget ketika Nara justru memeluknya. Ia melingkarkan kedua lengannya erat pada leher Taehyun, sedang kepalanya ia sandarkan pada bahu suaminya yang nyaman.


“Ada apa..?” seru Taehyun lirih seiring dengan gerakan telapak tangannya yang mengelus lembut punggung istrinya.


“Kau sakit? Apa perutmu sakit? Kau ingin muntah?” tanya Taehyun yang jelas terlihat begitu khawatir. Nara masih enggan untuk menjawab. Ia hanya semakin mengeratkan pelukannya di tubuh suaminya. Menghirup aroma pinus yang menguar dari tubuh itu dan menikmati tiap hirupan nafasnya ketika aroma favoritnya itu masuk ke dalam paru-parunya.


“Nara, jangan membuatku khawatir..”


“Aku hanya ingin memelukmu..” lirih Nara. Ia masih bertahan memeluk suaminya sampai Taehyun mulai sedikit mendorong tubuh Nara untuk melepaskan pelukannya.


“Aku hanya merindukanmu..” sahutnya. Sebuah senyum miring terukir pada sudut bibir Taehyun. Ia menaikkan sebelah alisnya, tak percaya atas apa yang baru saja ia dengar.


“Bukankah kau bilang hari ini kita akan ke taman hiburan? Kenapa kau berpakaian serapi itu? Kau akan ke kantor?”


Taehyun mengangguk. Jelas, ada setitik kekecewaan yang nampak di raut wajah Nara. Reaksinya terlihat berlebihan. Sesungguhnya Nara sendiri cukup terkejut dengan perasaannya yang akhir-akhir ini terasa sedikit sensitif. Nara tak tau ada apa dengan dirinya. Mungkin dia hanya sangat berharap jika hari ini mereka bisa pergi bersama. Bagaimanapun juga ini adalah kali pertama bagi mereka untuk pergi berdua, berkencan dan menikmati suasana taman hiburan sebagai pasangan suami-istri.


“Maaf, Nara. Hari ini aku dan Jaehyun akan menemui beberapa investor asing. Aku harus mendapatkan investasi untuk proyek HS.”


“Jadi kita tak akan pergi?”


Taehyun menghela nafasnya berat. Nyatanya, Ia tak bisa melihat raut wajah sedih wanita itu jauh lebih lama. Baginya Nara adalah sebuah titik lemah. Ia sama sekali tak bisa menolak apapun keinginan wanitanya.


“Kita akan pergi. Setelah ku selesaikan urusanku, akan ku suruh Jindo menjemputmu..”


“Sudahlah, tak perlu memaksakan dirimu.” Ujar Nara acuh. Ini yang lebih sering terjadi akhir-akhir ini. Nara begitu mudah marah ataupun merajuk kecil ketika keinginannya tak dipenuhi.


“Sudah ku katakan kita akan pergi, Kim Nara!” nada suara Taehyun terdengar sedikit lebih tinggi. Membuat suasana menjadi jauh lebih tenang dan hening.


“Ku dengar beberapa hari ini kau kehilangan napsu makanmu? Kali ini pastikan kau habiskan makananmu. Aku tak ingin melihatmu muntah lagi.” seru Taehyun


“Apa kau bisa berjanji akan menuruti semua keinginanku jika ku habiskan makananku?” Nara sedikit memiringkan kepalanya, memasang aegyo sekedar untuk menggoda suaminya yang masih duduk di hadapannya.


“Cah, kau pikir dirimu terlihat lucu Kim Nara? Berhentilah melakukannya. Kau membuatku takut!” Taehyun beranjak bangkit dari duduknya. Ia memutar tubuhnya dan berjalan masuk pada almari dinding disudut kamarnya dan kemudian keluar dengan jas hitam yang sudah ia kenakan. Taehyun berdiri di depan cermin meja rias sambil membenarkan letak tuxedonya.


“Kenapa kau selalu seserius itu..” lirih Nara sembari meraih segelas air putih dari atas nampan yang terletak di atas nakasnya. Ia masih berada dalam gulungan selimut putih itu, tapi kini ia juga terlihat memasukkan sesuap nasi kedalam mulutnya.


“Nara, bisakah kau membantuku?” sela Taehyun sambil mengangkat sebuah dasi dengan motif garis-garis berwarna biru itu ke udara. Ia berjalan pelan menghampiri istrinya dan duduk disamping ranjangnya. Nara meraih dasi ditangan Taehyun dan mulai mengikatnya longgar pada leher kemeja suaminya.


“Sampai kapan kau akan bergantung pada orang lain hanya untuk memasang sebuah dasi? Kau tak ingin belajar melakukannya sendiri?”

__ADS_1


“Kenapa aku harus belajar memakainya? Kau keberatan membantu memakaikan dasi suamimu?”


“Bukan begitu. Hanya akan lebih baiik jika kau juga belajar melakukannya..” Nara sekeltika menghentikan gerakan tangannya untuk mengikatkan dasi dileher Taehyun, ketika tangan panjang suaminya menggenggam erat sebelah tangannya. Sorot mata Nara menatap tepat pada mata elang Taehyun yang kini tengah mengikatnya erat.


“Bukan aku tak bisa melakukannya sendiri. Aku hanya tak ingin melakukannya”


“Tapi kenapa?”


“Dulu ketika aku masih kecil hal yang paling kusukai di pagi hari adalah ketika melihat ibuku memakaikan dasi dileher Ayah. Kehangatan, cinta dan kasih sayang semua terlihat begitu nyata saat itu. Karena itu, aku ingin kau lah yang memakaikan dasi dileherku. Setiap hari, setiap pagi, aku ingin kau yang akan selalu melakukannya untukku. Karena setiap kau melakukannya aku bisa melihat wajah ini dari dekat. Karena saat kau melakukannya aku bisa merasakannya, merasakan kehangatan, cinta dan kasih sayangmu. Hanya ketika kau memakaikan dasi ini dileherku aku bisa meyakinkan diriku bahwa kau memang nyata, dan kau memang milikku seutuhnya.” Taehyun berdeham, mencoba menetralkan nada suaranya yang beberapa saat lalu terdengar tak berwibawa. Ia melepaskan genggaman tangannya di punggung tangan Nara hingga gadis itu bisa melanjutkan kembali aktifitasnya.


“Kau merindukan Ibu mu?” tanya Nara ragu. Ia melepaskan tangannya dari tubuh Taehyun. Dasi itu sudah terpasang rapi pada kerah kemeja putih suaminya.


Tak menjawab, Taehyun justru berdiri dan mengambil tas kerjanya di atas meja sofa, kemudian ia kembali menghampiri istrinya.


“Sekitar pukul sepuluh nanti, ku suruh Jindo menjemputmu. Bersiaplah..” ingat Taehyun.


Nara hanya mengangguk sambil tersenyum menatap wajah tampan suaminya.


*Cup..


Ciuman lembut itulah yang kali ini menjadi pengujung pagi keduanya. “Aku pergi dulu. Jaga dirimu..”


“Hmm. Semoga semuanya berjalan dengan baik. Percayalah kau pasti akan bisa menyelesaikan semua ini, suamiku..”


Taehyun kembali tersenyum samar, tangannya mengacak pelan helaian rambut Nara. “Aku tau..” ujarnya yang kemudian berbalik untuk keluar dari kamar mereka.


.


.


.


-To Be Continue-


.


.


.


Author’s Note:


.


.


Menurut kalian, apa Nara memang sedang sakit?


Atau justru dugaan Taehyun benar? Istrinya sedang hamil?


Lalu, apa yang akan Taehyun lakukan jika itu benar terjadi?


Simak kelanjutannya di bab selanjutnya..


Terimakasih sudah membaca..


Semoga kalian suka..


Tolong jangan di bash ya, karena aku bener-bener sempetin waktu aku buat typing cerita ini. tolong hargai dengan satu komentar baik, aja..


.


.


With Love,

__ADS_1


ByunRa93_


__ADS_2