My Possessive Husband

My Possessive Husband
Punishment


__ADS_3

Han’s House – 01.00 AM


.


.


Gadis itu kembali terbangun ditengah malamnya. Ia merasakan tenggorokannya yang kering dan sedikit menyiksa. Di tatapnya wajah suaminya yang masih terlelap disampingnya, kemudian ia melepaskan pelukan Taehyun di pinggangnya dan turun dari tempat tidurnya. Perlahan Nara menuruni satu persatu anak tangga lantai atas dan berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air minum. Suasana rumah tampak benar-benar sepi. Bahkan rumah ini di malam hari sedikit terkesan menakutkan, karena cahaya lampunya yang gelap.


Nara buru-buru meneguk air minum dan berniat segera kembali ke kamarnya. Tapi bunyi bel rumah itu yang terdengar memekik nyaring membuatnya terlonjak kaget. Rasa takut kembali menggelayuti tubuhnya, tapi perlahan ia berjalan dengan memberanikan diri untuk menjangkau pintu rumah. Ia melihat siapa yang datang melalui layar kecil yang berada di dinding dekat pintu masuk dan sungguh, ia terhenyak ketika menatap Jaehyun yang tengah tak sadarkan diri dengan seorang laki-laki yang tengah memapahnya. Cepat-cepat Nara membuka pintu dan segera berlari menghampiri kedua laki-laki yang berdiri disana.


“Apa yang terjadi?” tanya Nara


“Dia tengah dalam kondisi mabuk berat nyonya, jadi kami mengantarnya kemari”


“Terimakasih..” ucap Nara sambil mengambil alih tubuh sang kakak ipar untuk ia papah. Jaehyun mulai terdengar merancau.


Nara segara menutup pintu dan masih berusaha memapah tubuh Jaehyun untuk menaiki tangga. Rancauan Jaehyun semakin menjadi. Terkadang ia terdengar tertawa terbahak, tapi sesaat kemudian ia menangis seperti tengah terluka. Yang paling membuat Nara sakit adalah ketika sedari tadi Jaehyun terus menyebut namanya. Bahkan disaat kesadarannya mulai perlahan hilang pria itu masih mengingatnya.


Susah payah Nara membawa tubuh itu untuk naik dan masuk kedalam kamarnya. Nara membaringkan tubuh Jaehyun diatas tempat tidurnya. Ia menghela nafasnya lega saat mendapati tubuh Jaehyun terbaring sempurna disana. Perlahan Nara mulai membuka sepatu Jaehyun dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Nara berdiri sambil menatap wajah Jaehyun yang penuh dengan memar.


Pandangan gadis itu terlihat sendu. Ada rasa iba dan perasaan bersalah ketika ia menatapnya. Hingga ada sebuah dorongan tersendiri dalam diri Nara untuk mendekat ke arah Jaehyun. Nara menatap botol obat di atas nakas tempat tidur Jaehyun. Ia meraihnya dan mulai mengobati satu persatu luka di wajah tampan Jaehyun.


“Oppa, maaf..” gumam Nara sambil terus menggerakkan tangannya untuk menempelkan plaster di wajah Jaehyun yang terluka. Masih diambang sadarnya, Jaehyun tengah menggenggam tangan Nara dan menatapnya samar.


.


.


.


***


.


.


.


Breakfast


At Han’s House, 07.00 AM


.


.


Seluruh keluarga tengah berkumpul diruang makan. Tuan Han sudah duduk di tempatnya, sedanng Nyonya Yoon terlihat sibuk menuangkan nasi di piring suami dan anak-anaknya. Berakting seolah ia adalah ibu dan istri yang baik dalam keluarganya. Taehyun hanya terdiam sambil menikmati sarapannya tanpa perlu banyak bicara.


Semuanya berjalan seperti biasanya, begitu tenang dan dingin. Tapi kali ini sedikit ada yang berbeda karena tuan Han terlihat sedang mengkhawatirkan kondisi putra pertamanya. Sedari tadi ia terus mengamati wajah Jaehyun yang masih terlihat sedikit lebam walaupun tak separah sebelumnya.


“Jaehyun-ya, sebenarnya ada apa dengan wajahmu? Kau berkelahi?” tanya Tuan Han.


Jaehyun menghentikan sarapannya dan menatap sang ayah. Laki-laki itu tersenyum saat mengatakan ia baik-baik saja. Mendapati reaksi Jaehyun yang demikian, Tuan Han tak lagi bertanya. Suasana kembali hening setelahnya. Sampai di pertengahan acara makan mereka, Jaehyun kembali meletakkan sendoknya dan menatap ke arah Nara.


“Nara..” pantau Jaehyun. Seluruh pasang mata diruangan itu tampak menatap Jaehyun setelahnya.


“Terimakasih. Kalau semalam kau tak membawaku ke kamar, mungkin aku akan tergeletak tak berdaya di ruang tamu. Dan terimakasih juga untuk ini.” Jaehyun menunjuk bagian wajahnya yang tengah berbalut plaster.


Semuanya tak terkecuali Taehyun tengah menatap ke arah Nara. Sedang yang di tatap hanya bisa meruntuk dalam hati atas tindakan Jaehyun yang begitu menyudutkannya. Bodoh, Nara tau mungkin Taehyun akan benar-benar marah padanya setelah ini.


“Apa yang kalian lakukan semalam?” Taehyun menatap sengit ke arah Jaehyun


“Jangan salah paham. Aku hanya mabuk semalam dan Nara membantuku untuk ke kamar. Ia juga mengobati lukaku” ada sebuah senyum mencibir di bibir Jaehyun yang membuat Taehyun menatap istrinya dengan tatapan membunuh yang mengundus tajam.


‘Kim Nara, mati kau!’ bain Taehyun di tengah tatapannya.


.


.


***


.


.


.


Kepercayaan, satu kata kecil yang memiliki makna luas di dalamnya..


Kepercayaan adalah hal kecil yang sulit untuk di dapatkan,


Oleh karena itu kepercayaan harus dijaga, dipertahankan dan diperjuangkan..


.


.

__ADS_1


.


-My Possessive Husband-


©ByunRa93_


.


.


.


Nara terlihat menggigit bibir bawahnya, tampak tersudut tanpa memiliki seitik celah untuk melakukan pembelaan atas dirinya. Sorot mata Taehyun yang tajam menghujaminya, seolah tengah mengadili dan siap menerkamnya kalau-kalau ia memang terbukti melakukan kesalahan atas sikapnya. Nara tertunduk. Tangannya meletakkan sendok dan garpu yang sedang ia pegang, sementara perutnya terasa cukup kenyang walaupun nyatanya nasi dipiringnya masih tersisa. Mendadak ia kehilangan napsu makannya dan secara tiba-tiba ia merasakan pembuluh nadinya menciut. Ia tau ia diambang nasib buruk ketika lagi-lagi sorot matanya dan Taehyun tak sengaja bertemu pandang.


“Kalau kau sudah selesai kembalilah ke kamar!” ucap Taehyun datar, namun jelas terlihat bahwa laki-laki itu tengah meredam amarahnya.


Tanpa berani melawan, Nara berdiri dari kursinya. Ia menatap Jaehyun sejenak dan kemudian membungkukkan badannya sopan untuk memberi hormat ke arah Tuan Han dan Nyonya Yoon sebelum mulai melangkahkan kakinya menuju anak tangga ke kamarnya di lantai atas. Bodoh! Sedari tadi gadis itu terus mengumpat tak jelas. Meruntuki kebetulan yang akhir-akhir ini selalu menempatkan dirinya pada titik sulit, hingga dirinya terkesan begitu lemah dan penurut seperti saat ini.


Ini jelas bukan gayanya, tapi Nara sadar ia tak akan pernah bisa menentang sikap semena-mena suaminya, yang kadang terlampau berlebihan dan kelewat batas. Nara hanya menghentak-hentakkan kakinya kasar pada anak tangga yang sejujurnya tak memiliki andil apapun dalam kekesalan hatinya. Menyesal? Tentu. Kalau ia tau dampaknya akan seperti ini, ia berani bersumpah bahwa ia tak akan pernah menolong Jaehyun malam itu.


Sementara dibawah sana Taehyun sedang menghela nafas panjang ketika keinginannya untuk segera menyusul istrinya harus terhalangi ketika Ayahnya justru menanyakan hal\-hal penting mengenai perusahaan. Lagi, pria itu menghembuskan nafas panjang. Ia benar\-benar kehilangan mood pagi ini. Bahkan mati\-matian ia harus meredam segala bentuk emosi dalam dirinya. Terlebih ketika beberapa menit yang lalu ia mendapati kakak tirinya yang segera menyusul kepergian Nara sesaat setelah gadis itu pergi dari sana. Taehyun tak pernah melepaskan sedetikpun pandangannya dari anak tangga dan lantai atas rumah itu. Seolah ia tengah mengawasi setiap gerakan istri dan kakak tirinya yang terlihat tengah saling berdiri berhadapan di tepian pembatas lantai dua.


“Taehyun-ah..” tukas Tuan Han yang tampak sedikit kesal karena sedari tadi putranya itu tak benar-benar memperhatikannya.


“Ya, aboji?” Taehyun menjawab panggilan Tuan Han kikuk dan sejenak melepaskan pandangannya dari Jaehyun dan Nara.


“Aku sedag bertanya, apakah perusahaan dalam keadaan baik-baik saja?” ulang Tuan Han dengan penekanan pada setiap katanya. Taehyun mengangguk singkat. Ia mengambil segelas air putih di meja kemudian meneguknya pelan.


“Bagaimana dengan design baju musim dingin Lee Hyeri? Kalian sudah memulai proses produksi?”


“Ya, aboji. Kemarin kami sudah mengimport kain wolf langsung dari Australia dan kami sudah memulai proses produksi secara besar-besaran hari ini. Kalau tidak ada masalah dua minggu lagi kita sudah bisa mengeksport produk ini ke luar negeri” terang Taehyun penuh keyakinan.


“Baguslah. Terus awasi proses pengerjaannya. Aku tak ingin ada kesalahan sekecil apapun dalam proyek ini. Kau tau bukan proyek ini sangat penting bagi lebel HS? Kita bukan hanya memasarkan produk kita di Korea seperti biasanya, tapi kita akan mulai menjelajah pasar Eropa. Tentu bukan hal yang mudah ketika harus bersaing dengan label-label ternama di luar sana. Tapi karena kita bekerjasama dengan butik J, aku yakin kita punya kesempatan untuk itu. Dan aku rasa design Lee Hyeri benar-benar bagus. Dia sangat berbakat. Aku tak ingin kita menyia-nyiakan design sebagus itu. Jadi usahakan semuanya berjalan sesuai rencana.”


“Ne aboji, aku menngerti. Aku sendiri yang akan turun tangan dalam pengawasan proyek ini.” Tuan Han hanya mengangguk-anggukkan kepalanya penuh harap.


“Maaf Aboji, kalau tak ada lagi yang ingin kau tanyakan aku akan kembali ke kamarku untuk bersiap-siap ke kantor.”


Tuan Han mengangguk sekali. “Pergilah..”


Di saat itu, Taehyun segera bangkit dari kursinya dan berlari kecil menaiki anak tangga untuk segera sampai di lantai dua rumahnya, setelah beberapa saat yang lalu ia melihat kakak laki-lakinya tampak tengah menyentuh lengan Nara.


“Nara..” pantau Jaehyun lirih, namun masih bisa di dengar dengan begitu jelas di telinga Nara. Gadis itu menghentikan langkahnya. Sedikit bimbang antara berbalik dan menatap pria itu ataukah terus melangkahkan kakinya menuju pintu kamar yang hanya beberapa langkah di depannya. Sempat terlintas di benak Nara untuk terus berjalan masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan kakak iparnya, namun mengingat perkataan Jaehyun tadi yang begitu menyudutkannya, perasaan Nara kembali geram. Bahkan tanpa ia sadari, Nara justru berbalik dan menatap Jaehyun dengan tajam. Raut wajah Jaehyun tampak datar dan tenang seolah ia tak pernah melakukan kesalahan atas sikapnya.


Jaehyun cukup risih akan cara pandang Nara, hingga laki-laki itu mulai tergerak untuk bertanya. “Kau kenapa Kim Nara? Jangan menatapku seperti itu”


“Kenapa?” gumam Nara lirih. Pandangannya menatap kosong ke arah Jaehyun.


“Aku hanya ingin membuat suamimu menyadari bahwa kau masih begitu peduli padaku. Kau masih mencintaiku Kim Nara! Akui saja hal itu!”


“Oppa..!!” pekik Nara. Ia benar-benar tak ingin kembali tersudutkan atas apa yang tengah Jaehyun ucapkan. Ia tak ingin kembali terjebak dalam pemikiran rumit akan hubungan masalalunya dengan pria itu. Baginya hidupnya sekarang sudah cukup baik. Ia tak ingin siapapun merusak kehidupannya.


Jaehyun menyentuh kedua bahu Nara, menariknya sedikit mendekat hingga ia bisa dengan leluasa menatap wajah Nara lekat-lekat. Lain halnya dengan Taehyun. Melihat pemandangan menggelikan yang tersaji di hadapannya membuat Taehyun sedikit muak. Sedari tadi ia memang tengah menunggu pada anak tangga teratas lantai itu. Ia tadi hanya ingin tau tindakan macam apa yang akan kakak tirinya lakukan. Sejauh mana laki-laki itu masih bersikeras untuk mempertahankan perasaannya pada istrinya.


Mendapati istrinya disentuh, sontak Taehyun mengerang. Buku-buku jarinya mengepal kuat dan ia mulai berjalan mendekati mereka. Taehyun menarik lengan Nara dan menyembunyikan gadis itu di balik punggungnya. Lagi, tatapan penuh amarah dan kebencian kembali ia tujukan pada Jaehyun.


“Bukankah sudah berulang kali ku ingatkan, jangan dekati istriku Hyung! Kau tuli? Kau ingin memaksaku untuk kembali memukulmu agar kau jengah dan berhenti melakukan hal semacam ini?” Taehyun sedikit mendorong tubuh Jaehyun menjauh kemudian menarik lengan istrinya untuk berbalik dan pergi. Tapi baru beberapa langkah mereka meninggalkan pria itu, Jaehyun kembali memanggil nama Nara.


“Nara, kalau kau sudah terlalu muak dengan tingkah suamimu yang selalu seenaknya, datanglah padaku. Kapanpun kau ingin kembali, aku akan menerimamu dengan tangan terbuka..” ucap Jaehyun yang terdengar seperti tengah meyakinkan sambil menatap nanar ke arah punggung Nara yang hanya berdiri beberapa langkah di depannya. Mendengar perkataan Jaehyun, jari-jari tangan Taehyun semakin mengepal kuat. Ia melepaskan genggamannya pada lengan Nara dan berbalik menatap Jaehyun marah.


Taehyun dengan begitu bringas menarik kerah kemeja Jaehyun dan mencengkeramnya kuat-kuat sambil menghimpit tubuh kakak tirinya pada dinding pembatas lantai dua. Melihat hal itu, Nara segera berlari dan berusaha melepaskan cengkraman Taehyun di kerah kemeja Jaehyun.


“Taehyun-ah, apa yang kau lakukan? Jangan! Kau tak boleh seperti ini, Tae..” Rengek Nara dengan nada memohon saat menggenggam tangan Taehyun yang masih menarik kerah kemeja Jaehyun dengan keras. Bahkan kini Taehyun tengah mengangkat sebelah tangannya yang bebas, berniat memukul wajah Jaehyun kalau saja teriakan itu tak datang mengusiknya.


“HAN TAEHYUN!!” bentak Tuan Han dari sudut tangga. Laki-laki tua bermarga Han itu tampak kaget akan apa yang tengah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Berulang kali ia mengerjapkan matanya, mencoba menampik kemungkinan mata tuanya salah melihat atau merefleksikan kejadian yang saat ini berada di hadapannya. Tapi pada kenyataannya semua yang ia lihat benar adanya.


“Apa yang kalian lakukan?” tanya Tuan Han dengan keras. Taehyun mulai perlahan melepaskan cengkramannya di kerah kemeja Jaehyun dan mengalihkan pandangannya yang terlihat marah.


“Nara, apa yang terjadi disini?” bukannya menurunkan nada bicaranya Tuan Han sepertinya tampak semakin meradang. Bahkan suaranya terdengar puluhan kali lebih tegas ketika bertanya pada Nara. Nara terkejut. Sungguh baru kali ini ayah mertuanya meneriakinya. Bahkan bibirnya seolah begitu sulit untuk menjawab. Tuan Han marah, itu terlihat jelas dari air wajahnya yang tampak memerah padam.


“Kim Nara!” gertak Tuan Han lagi dengan nada yang jauh lebih keras.


“Y-Ya..?” hanya itu yang mampu Nara ucapkan. Jari-jari tangan Nara bergetar hebat.


“Jelaskan apa yang terjadi!”


“Aboji, kumohon jangan berteriak padanya!” ujar Taehyun membela istrinya.


“Semua ini salahku aboji. Ini tak ada hubungannya dengan Nara jadi jangan berteriak padanya.” Taehyun kembali menggenggam tangan Nara. Matanya menatap Jaehyun enggan, sedang bibirnya terpaksa harus mennggumamkan satu kata menjijikkan


“Maaf, Hyung..”. Kemudian Taehyun menarik paksa lengan istrinya untuk pergi dari sana.


“HAN TAEHYUN! Aku belum selesai bicara denganmu!” teriak Tuan Han yang tak sedikitpun dihiraukan oleh keduanya. Taehyun justru membanting pintu kamarnya keras-keras dan menguncinya rapat-rapat.


Taehyun langsung menghempaskan tubuhnya untuk duduk di atas sofa kamarnya begitu ia masuk tadi. Matanya masih terus menatap Nara tajam, sementara jari-jari tangannya saling terpaut satu sama lain di atas lututnya yang sedikit terbuka. Pria itu menghembuskan nafasnya berat, sebelum mulai menghakimi istrinya yang masih saja berdiri seperti orang bodoh di balik pintu.


“Mau menjelaskan sesuatu lebih dulu atau langsung menerima hukumanmu dengan suka rela, Kim Nara?” ucap Taehyun mengintimidasi. Lagi, Nara hanya mampu menggigit daun bibirnya saat merasa dirinya sedang dalam kondisi yang amat sangat tidak baik.

__ADS_1


“Apa yang terjadi semalam?”


“A-Ak-aku hanya membantu Jaehyun yang sedang tak sadarkan diri untuk berjalan ke kamarnya. Hanya itu..” gumam Nara ragu. Ia masih tak berani menatap langsung mata suaminya yang begitu tajam.


“Hanya itu? Cah, lelucon macam apa ini Kim Nara? Kau lupa kau juga mengobati lukanya? Apa masih ada lagi yang kau sembunyikan dariku? Kau bersamanya semalaman, apa saja yang kalian lakukan hah? Kalian berciuman? Atau bahkan kalian telah tidur bersama? APA YANG KAU LAKUKAN, KIM NARA!!” Taehyun tak lagi bisa menahan luapan emosinya. Jelas saja, suami mana yang akan bisa tenang jika istri yang begitu ia cintai justru tinggal semalaman bersama namja lain yang jelas-jelas masih mencintainya. Ia merasa terhianati. Merasa dibohongi dan dipermainkan.


“Kau pikir aku ini wanita macam apa, Han Taehyun!”


“Lalu apa penjelasanmu tentang semua ini?”


“Aku hanya merasa harus bertanggung jawab atas apa yang telah di lakukan suamiku. Jaehyun oppa terluka karenamu, jadi sebagai seorang istri aku harus bertanggung jawab. Paling tidak aku bisa menggantikanmu untuk meminta maaf padanya. Karena itu ku obati lukanya.”


Taehyun tersenyum sinis. Ia berdiri dari tempatnya dan berjalan ringan mendekati istrinya. Langkah kaki Taehyun bergerak perlahan, namun kini pria itu tengah menyudutkan tubuh istrinya, hingga Nara tak lagi dapat berkutik. Tubuhnya terhimpit antara dinding yang keras dan dada Taehyun yang berangsur mendesaknya. Taehyun kembali menarik sudut bibirnya untuk tersenyum simpul. Tangannya menyentuh sebelah tangan Nara dan menatapnya miris.


“Jadi kau menggunakan tangan ini untuk menyentuhnya?” Taehyun melepaskan tangan Nara dan matanya menghundus menatap manik mata Nara tajam.


“Kau gunakan mata itu untuk menatapnya?” senyum yang terlihat miris kembali tersirat di sudut bibirnya. Jari-jari tangan Taehyun bergerak menyusuri bagian-bagian tubuh Nara dengan sangat pelan, hingga gadis itu hanya mampu berdiri kaku tanpa berani berkata.


“Dan kau gunakan tubuh ini untuk memeluk dan memapah pria lain? Kau sadar dimana letak kesalahanmu, Kim Nara?!”


Taehyun semakin menghimpit tubuh Nara. “Kau jelas melanggar perintah suamimu untuk tidak mendekati pria lain, Kim Nara”.


Tangan Taehyun berhenti pada permukaan pipi tirus Nara dan membelainya dengan punggung tangannya, sebelum akhirnya dengan begitu kasar ia menarik kedua bahu Nara mendekat dan mencium daun bibirnya dalam-dalam. Taehyun mencium Nara tanpa ampun. Ia bahkan tak sepenuhnya menyadari bahwa dirinya sama sekali tak memberikan setitik celah bagi Nara untuk bernafas.


“Sial!” batin Nara kesal.


Ciuman itu benar-benar membuat Nara kehilangan seluruh akal pikirannya. Ia tak punya daya untuk menolak atau sekedar menghentikan gerakan bibir Taehyun yang begitu tak terduga. Nara terus mengumpat, ketika ia merasa dirinya selalu saja dipermainkan. Itu benar-benar membuat Nara geram.


Nara berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaga dan kesadarannya, kemudian mendorong tubuh Taehyun pelan. Tapi tidak, Taehyun seperti tak membiarkan gadis itu menghentikan semua ini. Bukannya menjauhkan tubuhnya, kini Taehyun justru menarik kedua bahu Nara untuk semakin mendekat. Jari-jari tangan Nara yang bebas mencengkeram kerah jas hitam Taehyun. Kemudian ia menarik tubuhnya untuk menjauh.


Nara terengah, seolah seluruh oksigen di paru\-parunya tengah benar\-benar habis tak bersisa. Lain halnya dengan Taehyun yang justru membuat segurat senyum miring disudut bibirnya. Ia terlihat membersihkan sudut bibirnya yang basah menggunakan punggung tangannya dan kembali menatap raut wajah Nara tajam.


“Ini belum selesai, Kim Nara!” gertak Taehyun. Nara sontak menenngadahkan wajahnya menatap Taehyun tak percaya. Oh Tuhan bagaimana mungkin kau memberiku suami seperti ini? Mungkin kalimat itu yang tengah Nara ungkapkan melalui sorot mata sendunya.


“Aku benar-benar akan menghukummu nanti”


“Kau gila, Han Taehyun!”


“Dan kaulah yang memulai semua ini Kim Nara!” pada akhirnya Nara hanya bisa pasrah sambil mempersiapkan dirinya untuk menerima kemungkinan paling buruk yang akan menimpanya.


“Aku melarangmu untuk keluar dari kamar ini tanpa seijinku. Jangan berani mencoba melangkahkan kakimu keluar dari pintu itu sebelum kau meminta ijin padaku!” tambah Taehyun.


“Dan, sebaiknya jangan lagi melanggar perintahku atau kau akan benar-benar menyesal karena aku berani bersumpah aku tak akan melepaskanmu!”


“Apa?!! Yak, Han Taehyun!” pekik Nara susah payah karena nafasnya masih begitu berat.


“Kau tau bukan, aku bukan tipe orang yang akan menarik kembali kata-kataku? Nikmatilah harimu di dalam sini. Kalau kau butuh sesuatu hubungi bibi Hyo!”


Nara berdecah kesal. Dalam hati ia tengah mengumpat, mengutuk sikap semena-mena suaminya yang berlebihan. Demi Tuhan kalau ia memiliki kekuasaan, ia ingin melempar keluar pria itu dari Korea.


“Jaga dirimu baik-baik istriku. Aku pergi ke kantor dulu..” goda Taehyun. Sedetik kemudian ia mendaratkan sebuah ciuman singkat di kening Nara dan tersenyum sangat manis.


“Dasar menyebalkan! Han Taehyun! Kapan kau akan berhenti bersikap seenaknya bodoh! Kau pikir aku ini seorang tawananmu? Aku ini istrimu, bukan seorang nara pidana yang bisa kau penjarakan seperti ini!” well, inilah seorang Park Nara. Ia seperti tengah kembali pada jiwanya. Ia membentak hebat sambil menatap sengit wajah Taehyun yang justru tersenyum dengan begitu puas.


“Jaga sikapmu, Kim Nara! Aku ini suamimu!” Taehyun mengambil tas kerjanya dari atas sofa dan berjalan keluar dari kamarnya dengan santai. Bertolak belakang dengan Nara yang terus mengumpat tanpa henti.


.


.


.


-To Be Continue-


.


.


.


Author’s Note:


.


.


Terimakasih buat segala bentuk dukungannya untuk aku..


Terimakasih juga udah ngikutin cerita ini..


Semoga kalian suka..


Kritik dan saran selalu aku tunggu ya..


.


.

__ADS_1


With Love,


ByunRa93_


__ADS_2