
Merelakan itu memang sulit,
Tapi Tuhan selalu tau mana yang terbaik..
Dan Ia tak akan pernah salah melukiskan takdir setiap manusianya..
.
.
.
This Story Begins..
“Rainbow After The Rain”
©ByunRa93_
.
.
.
Lima hari setelah kepergian Airin, Nara kembali ke rumah megah kediaman keluarga Han dengan berjuta trauma yang masih tertanam dalam drinya. Ketakutan dan seribu rasa penyesalan masih belum bisa ia hapus, bahkan menatap suaminya pun ia tak mampu. Bukan berarti Nara marah pada Taehyun. Bukan juga ia membenci suaminya. Tidak. Ini adalah masalah dirinya. Ini tentang bagaimana hatinya merasa terbebani atas kecelakaan hari itu. Kalau saja ia tak jatuh. Kalau saja ia bisa menahan sakit kepalanya satu jam saja, sampai dokter shin datang. Mungkin semuanya akan berbeda. Mungkin saat ini ia sedang bahagia bersama putri kecilnya.
Masih jelas di ingatan Nara akan bayangan sosok putrinya yang sangat cantik. Ya, dia sempat melihat bayi perempuan nya itu sekali, sebelum pemakaman. Dia masih bisa merasakan kulit pucatnya yang sudah dingin. Bahkan dia masih sempat mencium pipi mulus milik Airin sekali. Dan bayangan akan diri Airin yang tersenyum saat itu selalu mengingatkannya pada wajah tak berdosa Taehyun. Ia selalu merasa bersalah pada suaminya, terlebih setelah ia melihat video yang Baekki berikan padanya. Video yang laki-laki itu rekam saat pertama kali ia bertemu dengan Airin. Saat dimana Taehyun untuk pertama kalinya terlihat seperti seorang ayah yang hangat dan penuh kasih sayang.
Dalam video berdurasi 8 menit itu Taehyun terlihat memegang botol susu. Ia memasukkan tangannya ke dalam lubang tabung inkubator dan membelai tulus dan penuh kasih sayang kepala putrinya. Airin tersenyum, menyambut uluran tangan ayahnya dan tampak nyaman ketika Taehyun menyentuh tangannya. Nara selalu menitihkan air mata tiap kali mengingat hal itu. Bodohnya dia tak berada disana kala itu. Ia tak mampu menggenggam tangan putrinya ketika bayi kecil itu sedang berjuang mempertahankan hidupnya. Dan saat yang paling membuat Nara terenyuh adalah kala Taehyun memberikan sebotol susu di bibir mungil Airin. Terlihat jelas ekspresi wajah Taehyun yang sangat mendamba putri kecilnya. Mata Taehyun memancarkan harap, jelas terlihat kehangatan yang terus terpancar bagi Airin.
Jujur saja saat ini Nara sedang takut. Semenjak Airin meninggal Taehyun lebih sering berdiam diri. Menatapi gambar putrinya yang sengaja ia bingkai dalam sebuah pigura emas yang terletak diatas nakas tempat tidurnya. Nara tau laki-laki itu kehilangan. Dan itu semua karena dirinya. Nara takut suaminya akan kembali seperti dulu, menjadi pria dingin, kasar dan tak berperasaan. Sungguh dia tak ingin itu terjadi.
Saat itu pintu kamar Nara di ketuk beberapa kali. Wanita itu terlihat terlonjak dan kembali dalam sadarnya. Pelan, ia berjalan ke arah pintu. Membukanya dan masih tertunduk dalam duka.
"Akhmm..." dehaman ringan dari bibir pria itu berhasil membuat Nara menatapnya.
"O-Oppa.." Nara langsung berhambur memeluk pria di hadapannya sambil terisak. Seperti tengah mengadu akan kesakitan yang kini di deritanya. Jaehyun menghela dalam di bibirnya. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Nara dan membelai punggung adik iparnya pelan.
"Oppa, bagaimana ini?" tangisan Nara terdengar semakin pilu.
"Hey, tenanglah. Kenapa kau seperti ini. Aku disini, aku bersamamu.."
"Oppa, aku membunuhnya. Aku membunuh putriku.." pelukan Nara di pinggang Jaehyun mengerat, seiring dengan tangisannya yang makin menyayat.
"Oh ayolah, jangan bodoh. Kau tak membunuhnya, Nara. Mana ada seorang ibu yang akan membunuh putrinya.." Jaehyun melepaskan pelukan Nara. Ia menatap wanita itu teduh dan menyeka air mata yang terus jatuh dari pelupuk matanya.
"Kau tak pernah membunuhnya. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri!" tukas Jaehyun tegas.
"Tapi Opp-"
"Haah, jadi inilah yang Taehyun maksud." Jaehyun berjalan masuk kedalam kamar Nara dan duduk di atas sofa cream yang memang sedari dulu terletak disana.
"Ya?"
"Suamimu menelponku, memintaku datang jauh-jauh dari Jepang. Dia bilang kau mengurung dirimu, menolak untuk bertemu dengannya dan kau bahkan tak pernah menatapnya lagi.”
“Kau ini kenapa? Kau bosan padanya?" Jaehyun melirik Nara yang masih berdiri kaku di ujung pintu.
"Ah, atau kau ingin kembali saja ke dalam pelukanku?" goda pria itu yang terlihat mengerlingkan matanya jahil.
"Apa yang kau bicarakan.." ujar Nara yang merunduk tak membalas lagi tatapan Jaehyun.
"Kim Nara, ada apa denganmu, eoh?"
Nara masih terdiam.
"Oh ayolah, kau tak ingin berbagi kepedihan dengan kakakmu yang tampan ini?" goda Jaehyun yang berusaha menghibur wanita itu. Sayangnya, hal itu tak berhasil. Nara masih saja bungkam dalam diamnya.
__ADS_1
"Hey, Yak! Kau tau, aku sudah memarahi Taehyun habis-habisan saat dia menjemputku tadi. Dan kau tak sedang menyuruhku untuk memarahimu bukan? Katakan apa yang terjadi! Tidak mungkin rasanya kalau kau sudah bosan pada suami yang sangat sangat sangat kau cintai itu. Jadi, katakan! Ada apa? Apa yang membuatmu bersikap seperti ini?"
"S-Sebenarnya aku hanya.." Nara terlihat ragu.
"Aku hanya takut padanya.." lanjut Nara pada akhirnya.
"Takut? Apa yang kau takutkan?"
"Aku menyesal. Aku adalah penyebab Airin meninggal. Dan aku tau Taehyun sangat mencintai Airin."
Jaehyun mulai mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Dia menarik Nara untuk duduk disampingnya.
"Dasar bodoh! Kau pikir suamimu itu akan marah karena hal seperti itu? Aku rasa sampai matipun Taehyun tak akan bisa benar-benar marah padamu."
"Kau tak mengerti oppa..!"
"Kau tau, apa yang ku katakan saat pertama kali bertemu dengannya?" Nara terdiam, namun Jaehyun menangkap setitik antusiasme dalam sorot mata Nara.
"Bukankah kau berjanji akan menjaga Nara? Kau berjanji untuk membuatnya bahagia, jadi ku lepaskan dia dan membiarkan kau memilikinya. Tapi kau lihat, kau sama sekali tak bertanggung jawab atas ucapanmu!" Ujar Jaehyun lantang, dengan ekspresi serius yang terlihat jelas di wajahnya.
"Ya?"
"Itu yang ku katakan pada Taehyun. Sudah ku bilang bukan, aku memarahinya. Tapi dia menjelaskan tentang apa yang telah ia lewati. Kau tau, tidak mudah berada di posisi Taehyun saat itu. Ia berada dalam pilihan sulit antara kau dan putrinya. Dan demi Tuhan ia sampai menangis ketika mengatakan padaku jika saat itu dia memilih keduanya. Ya, dia memang meminta dokter menyelamatkanmu terlebih dulu, tapi dia tak pernah berhenti mengancam dokter Shin agar wanita itu menyelamatkan Airin. Dia bahagia bisa melihat Airin walau hanya beberapa jam. Tapi baginya itu sudah sangat cukup. Dia bersyukur bisa memberikan makanan pertama bagi Airin. Dia bisa membelai dan mencium putrinya. Itu saja sudah cukup baginya. Jadi tolong berhentilah menyalahkan dirimu." Jaehyun mengelus pelan rambut panjang Nara.
"Saat ini suamimu sedang dalam tekanan besar. Ia butuh kau. Kalian berdua sama-sama terluka, sama-sama kehilangan dan sama-sama membutuhkan sandaran untuk berbagi beban di pundak kalian. Jadi kenapa kau justru menjauh dan menghindarinya?"
"Taehyun tak marah padaku?"
"Tentu saja tidak! Dia justru terlihat sangat khawatir padamu. Dia bilang hampir dua hari kau tak makan dan hanya meminum air putih. Kalau saja kau tau betapa frustasinya suamimu. Dia menelponku ratusan kali, memintaku pulang ke Korea bahkan sampai mengancamku."
Perdebatan keduanya harus terhenti saat bibi Hyo masuk dengan nampan berisikan pring\-piring makanan dan susu. Jaehyun tersenyum pada bibi itu dan segera mengambil alih nampan yang ia bawa, kemudian mengerling kecil.
"Makan!" ujar Jaehyun
"Oppa, aku tak lapar.."
"Makan, Kim Nara!"
Jaehyun mengambil sendok di atas nampan dan menyuapkan sesendok bubur di mulut Nara. Memaksanya untuk menelan bubur itu. Berhasil. Nara terlihat sangat patuh dan mulai menelan sesendok demi sesendok bubur yang Jaehyun suapkan.
Saat itu Taehyun menatap dari luar pintu kamar. Ia tersenyum kecil saat melihat Nara sudah kembali makan. Ada sedikit cemburu yang mencuat. Tapi bukankah ia harus menahannya jika ingin Nara makan. Baiklah, ia mulai mencoba bersabar.
"Hey, apa yang kau lakuikan disana. Masuklah!" seru Jaehyun yang melihat Taehyun berdiri disana. Laki-laki itu melangkah masuk dengan ragu. Ia menatap Nara yang juga menatapnya, lalu bergerak resah.
"Sebaiknya kalian berdua bicara." Jaehyun meletakkan sendok di tangannya diatas nampan dan ia bergegas pergi dari kamar itu.
Taehyun berjalan mendekati Nara dan duduk disampingnya. Masih diam, tak mampu berbicara. Lain halnya dengan Nara yang kini terlihat menatap Taehyun dalam\-dalam. Ya, Jaehyun benar, Taehyun terlihat sangat tertekan. Ia jelas terlihat sangat tidak nyaman.
"Maaf.." itu kata pertama yang terlontar dari bibir Nara setelah sekian lama.
"Tolong maafkan aku, Tae.." Nara terlihat sendu. Air mata bergumul di pelupuk matanya.
Tepat saat itu Taehyun berbalik dan langsung memeluk tubuh istrinya.
"Maaf, aku membunuh putri kita. Maaf aku tak menjaganya dengan baik. Dan maaf karena aku menghancurkan impian dan harapanmu.." Wanita itu kembali menangis.
"Aku wanita bodoh! Aku bukan istri yang baik untukmu. Dan aku memang tak layak menjadi seorang ibu.." Sesalnya dalam.
"Tidak!" bantah Taehyun keras.
"Kau tidak melakukan apapun. Semua ini salahku. Maafkan aku tak menjadi suami yang baik bagimu.."
__ADS_1
“Tae..”
“Nara, sudahlah. Ku mohon berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Kita sama-sama tau, ini semua bukan mau kita. Tuhan sudah mengatur semuanya, lalu kita bisa apa? Apa gunanya saling menyalahkan seperti ini? Itu hanya akan membuat hubungan kita saling menjauh..” Taehyun menggenggam tangan istrinya erat.
“Nara, aku membutuhkanmu..” gumam Taehyun pedih.
“Semua ini terlalu berat untukku. Aku tak bisa melewwatinya sendiri. Aku membutuhkanmu. Aku membutuhkan pelukanmu untuk menguatkan ku dari semua masalah ini..”
“Jadi ku mohon, Nara. Jangan menghindariku seperti ini..” Wajah Taehyun benar-benar terlihat sangat tersiksa sekarang. Ada luka di matanya.
“Taehyun-ah..” Nara berhambur kembali ke pelukan suaminya sembari menangis.
“Biarkan Airin tenang disana. Jangan lagi menangisinya. Itu hanya akan membuatnya merasa sedih..”
“Tapi kau sangat menginginkannya. Aku tau kau sangat menginginkan Airin..”
“Bohong jika aku bilang tidak. Tapi, Nara bagiku kau adalah prioritasku. Percayalah, Tuhan itu adil. Dia tak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan kita. Tuhan memanggil Airin disisinya, karena Tuhan menyayanginya..”
“Relakan Airin. Putri kita adalah anak yang cantik dan baik. Dan aku yakin, dia tak ingin kedua orang tuanya bersedih seperti ini. Kita harus bangkit, kita harus menghadapi hidup kita..” Taehyun mengelus punggung Nara yang masih berada dalam dekapannya.
“Tae..” Nara menahan air matanya agar tak terus menetes.
“Aku mencintaimu, Nara. Dan melihatmu seperti ini semakin menyiksaku..”
“Maafkan aku..” hanya itu yang mampu Nara lontarkan saat ini.
“Berhenti minta maaf..” Taehyun menatap wajah istrinya, menghapus jejak air mata di pipi wanita itu dengan jari-jari tangannya.
“Lihatlah, betapa kurusnya dirimu. Ku mohon, makanlah Nara. Humm?”
Nara mengangguk singkat. Taehyun mencium kening istrinya lama.
“Satu yang harus kau tau. Tak peduli seperti apapun keadaannya, aku akan tetap mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu melebihi cintaku pada diriku sendiri. Sampai akhir nanti, kau tetap segalanya untukku..” ujarnya tulus.
.
.
.
-The End-
Author Note:
Hai...
Terimakasih udah ikutin cerita ini dari awal sampai ending..
Semoga nggak nyesel udah bacanya..
Terimakasih juga buat semua like, komen juga review nya..
Btw, aku punya cerita baru loh yang juga publish di Mangatoon..
Yuk mampir, siapa tau kalian cocok sama ceritanya..
Link Story:
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, My Dangerous Fiance, di sini dapat lihat: http://h5.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=47225&\_language\=id&\_app\_id\=2
.
.
with love,
byunra93_
__ADS_1