
If you still haven’t known how I felt
I will love you more than anyone in this world
I will love you until always, I will love you
Like this moment right now, more than anyone in this world
[Hyorin – I Choose to Love You]
.
.
.
-My Possessive Husband-
©ByunRa93_
.
.
.
Han’s Group – Gangnam District [South Korea]
05.00 PM
.
.
Baekki menguap lebar saat tangannya menutup berkas-berkas dihadapannya. Lehernya terasa kaku hingga ia menggerakkannya memutar untuk mengurangi rasa lelahnya yang bertumpuk. Kemudian ia memejamkan mata sejenak. Punggungnya bersandar pada punggung kursi kerjanya yang cukup nyaman.
Hari-harinya sebagai sekretaris akhir-akhir ini memang terasa begitu berat. Tugasnya tak hanya mengurus keperluan sang Direktur. Tapi ia juga punya andil yang cukup besar dalam perusahaan ini. Terlebih dirinya adalah satu-satunya orang kepercayaan Presdir Han. Lee Baekki, laki-laki yang baru berusia 22 tahun itu menanggung beban yang cukup berat untuk memegang kepercayaan kedua atasannya. Presdir Han, dan putra bungsunya Han Taehyun yang terkadang selalu bersikap semena-mena.
Lagi, Baekki memandangi selembar foto wanita paruh baya dalam genggamannya. Seorang wanita yang selama beberapa hari ini terus ia selidiki. Ia memijit pelipisnya yang terasa berat. Kepalanya mulai kembali terasa pusing ketika memikirkan tentang teka-teki yang terus menerus menghampirinya seperti teror. Ini berawal dari beberapa waktu lalu, dimana Tuan Han tiba-tiba memanggilnya ke ruang kerjanya. Beliau kemudian memberikan sebuah amplop coklat untuknya. Awalnya Baekki tak terlalu menganggapnya serius, sampai akhirnya ia mulai membuka benda itu.
Memang tak ada yang janggal tentang isi di dalamnya. Hanya beberapa lembar foto-foto Nyonya Yoon dan Jaehyun. Namun yang membuat suatu pertanyaan adalah tentang keberadaan seorang pria paruh baya yang sedang berdiri di samping mereka. Masih Baekki ingat dengan sangat jelas bagaimana waktu itu Tuan Han menjelaskan tentang asal mula foto ditangannya. Jika kalian berfikir foto itu adalah hasil dari penyelidikan orang-orang suruhan Tuan Han, maka kalian salah. Bahkan Tuan Han sendiri tak tau tentang itu.
Foto-foto itu dengan sendirinya datang padanya. Seseorang telah menaruh benda itu di meja kerja rumah kediamannya. Sejak saat itu, hidup Baekki menjadi semakin rumit. Disatu sisi ia harus menyelidiki tentang hubungan Nyonya Yoon dan Tuan Jung. Namun disisi lain, tuan Kim justru memintanya mencari tau siapa yang telah mengirimkan foto-foto itu padanya. Baekki selalu disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang menuntutnya untuk terus bekerja tanpa kenal waktu. Bahkan ia sampai harus menunda rencana pernikahannya dengan kekasih yang sangat ia cintai karena kedua atasannya itu tak pernah memberinya ijin untuk cuti dari pekerjaannya.
“Sayang...” pantau seseorang di kejahuan.
Tanpa perlu menoleh pun, Baekki akan dengan sendirinya tau akan suara yang kini memanggilnya. Gadis itu tengah tersenyum dengan sangat cantik. Matanya yang bulat sedikit tertarik untuk menyipit, ketika daun bibirnya yang kecil dan merah itu justru membentuk sebuah lengkungan indah yang terlihat menggoda.

Mungkin hanya inilah yang menjadi semangat bagi laki-laki itu ketika dirinya sedang merasa jenuh dengan segala aktivitasnya yang akan selalu sama. Ketika ia sedang lelah, melihat senyum gadis itu saja mampu membuat segala lelah dibahunya hilang.
Shin Jihyun, dia adalah seorang gadis yang memiliki sesuatu yang bisa membuat Baekki selalu merasa nyaman. Jihyun berlari kecil menghampiri sang kekasih dan menarik-narik lengan Baekki manja.
“Baek-kiee..” panggilnya.
Baekki justru mengernyitkan dahinya, merasa janggal dengan sikap Jihyun hari ini yang terkesan aneh. “Yak, bukankah sudah ku katakan, jangan memanggilku dengan nada seperti itu!” bentak Baekki mengintrupsi.
“Hehe. Maaf..” Jihyun memajukan letak bibirnya sambil memasang raut wajah manja yang selalu jadi andalannya.
“Jangan menggodaku, Jihyun...” Baekki memasukkan foto ditangannya dalam saku jas hitam yang ia gunakan. Sejenak saja ia ingin menikmati masa-masa manis bersama kekasihnya. Sesaat melupakan berbagai pekerjaan yang selalu menjerat hidupnya. Ia segera menyembunyikan foto wanita itu dalam jas yang ia gunakan, karena tak ingin membuat kekasihnya curiga tentang sosok wanita yang tengah ia cari.
“Kenapa kemari?” lanjut Baekki yang terdengar dingin. Lagi-lagi tanpa ia sadari, Baekki berhasil membuat Jihyun merengut kesal.
“Kau tak ingin bertemu denganku? Baiklah, aku pergi” ucapnya dengan nada datar yang syarat akan kekesalan, sambil membalikkan tubuhnya.
Belum sampai selangkah gadis itu beranjak, Baekki sudah berdiri dari tempat duduknya. Ia meraih pinggang Jihyun untuk ia peluk dari belakang. Baekki menyandarkan kepalanya di kepala Jihyun dan meletakkan dagunya pada bahu gadis itu. Ia menghirup harum aroma tubuh dipelukannya yang begitu menenangkan.
“Bukankah kau tak ingin bertemu denganku, huh!” sindir Jihyun.
“Hey, kenapa kau begitu sensitif hari ini.. Bukan begitu maksudku..” Jihyun membalikkan tubuhnya, ia menatap kekasihnya sejenak sambil tersenyum samar.
“Baekkie, temani aku membeli kue ya..” pintanya.
“Kue..?”
“Hmm. Hari ini ulang tahun Nara. Aku ingin buat pesta kejutan untuknya.”
“Tunggu, benarkah sekarang ulang tahun Nara? Kau yakin?” Baekki menatap kekasihnya dengan tatapan yang serius, sedang Jihyun menganggukkan kepalanya perlahan.
__ADS_1
Pria itu selanjutnya terlihat tergopoh mencari dimana letak ponselnya. Ia merogoh kedalam saku celananya. Dan saat menemukan benda hitam itu, Baekki tersenyum sekilas. Ia kemudian segera menghubungi seseorang yang sebenarnya hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri sekarang.
“Kau tau hari ini ulang tahun Nara?” tanya Baekki ketika mendengar suara sapaan dari ujung telponnya.
“Ini waktu yang tepat untuk mengakhiri semua ini Taehyun-ah. Berikan kalung itu, dan nyatakan perasaanmu pada Nara. Akhiri pernikahan konyol ini!” tegur Baekki dengan nada suaranya yang terdengar tegas.
“Kau persiapkan saja dirimu! Aku dan Jihyun akan membeli kue dan menyiapkan pesta kejutan untuknya. Jangan membuang kesempatan yang baik ini! Aku sudah sangat lelah harus mendengar rintihan perasaanmu tiap hari. Kalau kau benar-benar seorang laki-laki akhiri semua ini sekarang!”
‘PHIP..’ sambungan telpon itu terputus. Baekki menghembuskan nafas kasar dari bibirnya kemudian berjalan mendekati kekasihnya. Sedetik kemudian ia mengecup bibir Jihyun sekilas. Ciuman singkat dan lembut yang syarat akan rasa cinta dan keinginan untuk memiliki yang begitu besar.
“Ku harap, ini semua akan segera berakhir sayang. Aku sudah sangat lelah. Aku ingin segera bisa hidup tenang bersamamu.”
“Aku juga..” jawab Jihyun lesu.
“Sabarlah, kita akan menikah..” gumam Baekki yang kemudian memeluk bahu kekasihnya. Ia lantas mulai bergegas menjalankan tugasnya, ‘Menyiapkan pesta kejutan untuk Nara’.
Dilain sisi, kini Taehyun tengah duduk di sofa cream ruang kerjanya. Tepat disamping Hyeri yang ada disana menyilangkan kedua kakinya yang jenjang. Tangannya masih begitu serius menggambar sebuah design diatas lembaran kertas putih dipangkuannya. Ia melirik sekilas raut wajah Taehyun yang terlihat berubah. Sepertinya pria itu sedang resah.
“Apa Baekki mengatakan sesuatu?” tanyanya pada Taehyun.
Taehyun hanya mengangguk kecil. Tangannya terlihat menyentuh pelipisnya, sedang nafasnya terdengar berat. “Baekki bilang hari ini ulang tahun Nara. Dia memintaku mengakhiri semua ini”.
Hyeri mengangguk-anggukkan kepalanya namun pandangan dan konsentrasinya tetap pada design yang sedang ia kerjakan.
“Bagaimana menurutmu Hyeri-ah?”
Hyeri kembali melirik wajah Taehyun sambil menghentikan sejenak goresan lukisan di kertas putihnya.
“Kau benar-benar ingin mendengar pendapatku?” gadis bermarga Lee itu memberikan jedah di ucapannya. Ia kemudian meletakkan lembaran kertas yang sedang ia bawa di meja depannya. Kini ia menatap sahabatnya dengan sungguh-sungguh.
“Sejujurnya apa yang Baekki katakan semuanya benar. Apa lagi yang kau ragukan, Tae?”
“Bukankah aku sudah mengatakan padamu kalau dari awal aku sudah mencintai Nara. Bahkan itu terjadi jauh sebelum dia mengenalku. Aku sudah mencintainya sejak pertama aku melihatnya di pesta ulang tahun perusahaan, tahun lalu. Sejak saat itu yang ada dipikiranku hanya tentang dia. Aku mulai memikirkan apa dia mengenalku? Apa dia menyukaiku? Apa yang sedang ia lakukan? Apakah dia menjalani hidupnya dengan baik? Semua tentangnya satu persatu mulai merusak kerja otakku. Sampai aku mulai menyelidikinya, mengumpulkan berbagai informasi tentangnya dan mulai mencari-cari alasan untuk bisa mendekatinya. Semua telah ku lakukan. Tapi seperti yang kau lihat, dia masih selalu bersikap dingin padaku. Tak pernah benar-benar peduli pada diriku bakhan setelah aku menjadi suaminya. Yang dia inginkan hanyalah berpisah denganku. Bercerai dan mengakhiri semua pernikahan ini. Bahkan ia selalu mengatakan satu-satunya hal yang membuatnya bahagia adalah ketika aku menceraikannya.” Taehyun kembali terdengar mendesah ditengah ucapannya. Gurat wajahnya nampak lelah.
“Terkadang aku merasa diriku begitu picik. Dengan berkedok balas dendam aku menahan gadis itu untuk tetap berada disisiku. Mengurungnya dengan perjanjian konyol yang sebenarnya jauh lebih menyiksaku. Dia istriku, dia didekatku tapi aku tak boleh menyentuhnya. Terkadang aku juga hampir hilang kendali atas dirinya.” Taehyun menundukkan kepalanya. Menopangnya dengan kedua telapak tangannya.
“Percaya lah, ini sulit Hyeri-ah. Ini sangat sulit. Kau tau Nara adalah ancaman yang jauh lebih berbahaya dari apa yang kau lihat. Hanya dengan melihatnya kerja otakku akan selalu memikirkan hal yang tidak-tidak. Selalu ada dorongan yang begitu kuat untuk menyentuhnya. Dan sekali saja aku mencoba menyentuhnya, maka semuanya akan menjadi jauh lebih sulit. Karena aku selalu menginginkan sesuatu yang lebih. Aku seolah tak pernah merasa puas akan dirinya. Untuk pertama kalinya aku merasakan hatiku kembali bergetar setelah kau tinggalkan..”
“Yak! Kenapa kau membahas sesuatu yang sudah berlalu, Tae!” ucap Hyeri mengintrupsi ketika Taehyun mulai membahas masalalu mereka.
“Lalu kenapa kau seperti ini? Kau seperti tak berniat mempertahankan Nara disisimu. Dulu ketika aku memutuskan pergi ke paris, kau mengejarku ke bandara. Kau menahanku. Lalu apa yang kau lakukan ketika Nara meminta bercerai darimu? Kau hanya terkesan diam. Kau jauh lebih mencintaiku, huh?” gertak Hyeri yang sesungguhnya hanya ingin pria itu merenungi akan tindakannya yang begitu lambat.
“Lalu, apa kau akan menyerah begitu saja dan merelakan istrimu pergi bersama kakak tirimu? Kau akan membiarkan Han Jaehyun kembali merebut sesuatu yang berharga dari dirimu? Dan kemudian, kau akan kembali lagi hidup seperti mayat tanpa memiliki perasaan? Kau jauh lebih memilih hidup seperti itu Han Taehyun! Kenapa kau begitu bodoh!” bentak Hyeri. Titik sabarnya sudah habis. Ia tak lagi bisa hanya berdiam diri melihat pria itu terluka.
“Lalu kau pikir apa yang bisa ku lakukan? Tak ada yang bisa ku lakukan! Aku tak bisa lagi memaksa Nara untuk tetap berada disisiku!” nada Bicara Taehyun ikut meninggi. Bahkan sorot matanya benar-benar memperlihatkan keputusasaannya.
“BODOH! Tentu saja Nara akan pergi darimu kalau sikapmu terus seperti ini! Kau bisa menahannya! Aku yakin dia juga mencintaimu, Tae! Yang harus kau lakukan hanyalah mengatakan perasaanmu padanya. Katakan kau mencintainya!” Hyeri menjerit kemudian ia terdiam saat melihat wajah Taehyun yang nampak sedih. Gadis itu memeluk tubuh Taehyun dalam dekapannya.
Disaat yang sama, seorang gadis cantik dengan rambut coklatnya yang terurai panjang tengah berjalan dengan perlahan memasuki lobi gedung perusahaan Han yang terlihat ramai, mengingat ini sudah memasuki jam pulang kerja. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menundukkan kepalanya memberikan penghormatan bagi istri sang direktur tersebut. Wajah Nara tampak berseri. Sedari tadi mulutnya tak henti\-hentinya menggumamkan nyanyian merdu yang seolah mempertegas perasaannya yang tengah bahagia.
Tangan kanannya memegang sebuah tas jinjing yang didalamnya berisi sekotak sup rumput laut, nasi dan cupcake bertuliskan “Happy Birthday”. Lagi, ia tersenyum ketika mengingat betapa ia merendahkan harga dirinya sendiri dengan datang ke kantor suaminya dan berniat menghabiskan waktu ulang tahunnya bersama pria dingin bermarga Han itu. Menurut Nara ini memalukan, tapi hatinya mengatakan inilah yang memang harus ia lakukan. Biar bagaimanapun laki-laki itu tetaplah suaminya. Dan bukankah suatu hal yang wajar ketika seorang istri ingin menghabiskan saat pertambahan usianya bersama suaminya?
Nara menekan tombol pada dinding lift, sejenak menunggu benda itu terbuka dan segera naik ke lantai sepuluh gedung itu. Tempat dimana suaminya bekerja.
Beberapa saat berlalu kini Nara tengah sampai pada sebuah ruangan yang cukup luas di sisi kanan dari ruang rapat di lantai 10 gedung perusahaan Han. Ia berdiri di depan sebuah meja yang terletak di sebelah pintu besar ruang direktur yang tengah tertutup. Meja sekretaris Lee yang terlihat kosong.
Nara mengernyit. Dalam hatinya, kini ia sedikit mempertanyakan dimana keberadaan Lee Baekki. Karena setidaknya ia cukup tau tentang tabiat sekretaris suaminya itu. Baekki bukanlah seorang pekerja yang akan begitu saja meninggalkan mejanya kecuali ada sesuatu yang benar-benar mendesak. Atau ketika Taehyun memang menintanya pergi. Tapi itu hanya akan terjadi ketika suaminya sedang menerima seorang tamu penting, dan ia tak ingin diganggu. Refleks Nara menolehkan wajahnya ke arah pintu ruang direktur yang masih tertutup.
“Apa dia sedang menerima tamu penting? Apa aku kembali saja?” gumamnya. Sedetik kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya keras. Ia melawan kata hatinya yang terus memintanya untuk kembali. Perlahan ia menggerakkan kakinya mendekat pada pintu. Tangannya meraih ganggang pintu dan membukanya pelan.
“Eoh..” gumam Nara kaget saat menyadari pintu itu tak dikunci. Ia berniat masuk, sebelum telinganya mendengar suara seorang wanita dari dalam sana. Nara menghentikan langkahnya. Ia berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka sambil mengintip kedalam ruang kerja Taehyun.
“Lee Hyeri..” ucap Nara saat matanya menatap sosok gadis cantik itu tengah memeluk tubuh Taehyun. Keduanya terlihat dekat. Hyeri melepaskan pelukannya. Dan Nara bisa melihat wajah sedih Taehyun disana.
Gadis itu masih berdiri disana dengan menajamkan pendengarannya untuk tau apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Hyeri pada Taehyun. Laki-laki itu menghembuskan nafasnya parau. Ia menautkan kedua tangannya, kemudian merunduk seperti tengah menahan beban yang begitu berat.
“Entahlah..”
“Kau tak mungkin menjalani pernikahan ini jauh lebih lama lagi. Akhiri saja disini Han Taehyun. Kemudian pergilah ke Paris. Aku akan menunggumu disana. Akan ku siapkan semuanya..”
“Tapi apakah mengakhirinya adalah jalan yang terbaik..?”
Hyeri menghela napas panjang dari bibirnya. “Aku rasa itu yang terbaik. Aku sudah cukup bersabar untuk membantumu. Aku tak akan bertahan seperti ini jauh lebih lama. Aku akan kembali ke paris lusa! Dan kalau kau masih menganggapku penting dihidupmu maka dengarkan nasehatku. Akhiri Pernikahanmu ini, Taehyun-ah!”
Hyeri kembali mendorong Taehyun untuk segera mengambil keputusan. Bukan untuk bercerai dari Nara, melainkan mengakhiri segala pernikahan mereka yang berlandaskan kepalsuan. Sejujurnya Hyeri kini tengah memaksa Taehyun untuk membatalkan semua perjanjiannya dengan Nara. Mengakhiri pernikahan palsu ini dan menjalani kehidupan pernikahan sesungguhnya yang bahagia.
Taehyun masih terdiam sesaat. Menimbang keputusan yang akan ia ambil dan kemudian, “Baiklah, aku akan segera mengakhirinya!”
__ADS_1
“Deggh..” hati Nara seperti terhantam. Sakit, itulah yang ia rasakan. Mendengar dengan telinganya sendiri bahwa suaminya akan mengakhiri pernikahan ini. Ia tak henti\-hentinya memikirkan tentang satu kata PERCERAIAN.
“Tidak, tidak..” gumam Nara tanpa suara, sambil terus menggelengkan kepalanya menepis pikiran itu. Kakinya terus berjalan mundur sampai tubuhnya membentur sudut meja kerja Baekki. Tas plastik ditangannya terjatuh di atas karpet ruangan itu. Sup rumput laut yang tadi ia kemas begitu rapi, cup cake, semuanya berjatuhan dilantai.
Nara tak lagi peduli dengan semua itu. Kini ia membalikkan tubuhnya dan kemudian berlari kencang sambil menghapus air mata yang turun dari pelupuk matanya. Ia terus berlari keluar dari gedung dengan pandangan menggelap. Bahkan ia tak menyadari bahwa ia berpapasan dengan Jaehyun saat akan turun dari lift. Ia juga tak menghiraukan ketika Jihyun dan Baekki memanggilnya saat gadis itu sampai di pelataran gedung. Dengan begitu terburu-buru, Nara menghentikan taksi dan kemudian menghilang dari sana.
Baekki dan Jihyun saling menatap bingung. Seolah keduanya tengah sama\-sama melemparkan pertanyaan “Apa yang terjadi?” melalui pandangan mata mereka yang saling bertemu.
Sedetik kemudian mereka sama-sama menggelengkan kepalanya. Baekki menggenggam tangan kekasihnya dan membimbing langkah gadis itu untuk masuk ke dalam gedung perusahaan. Mereka segera menuju ruangan Taehyun untuk menanyakan apa yang terjadi. Tapi pintu ruangan itu masih tertutup. Hanya saja, kali ini sedikit ada celah yang terbuka disana. Seperti biasa, dengan tanpa permisi Baekki masuk dalam ruangan atasannya.
“Hey Han Taehyun apa yang terjadi?” tanyanya bingung
“Apa? Memangnya apa yang terjadi?”
“Kenapa Nara keluar dari gedung ini dengan keadaan menangis? Kau bertengkar dengannya?”
“Apa? Nara? Kapan dia kemari?” Taehyun dan Hyeri tampak saling menatap bingung. Mereka masih tak menyadari dengan keadaan yang terjadi. Sampai akhirnya, suara Jihyun terdengar disela-sela kebingungan itu.
“Baek..” pantaunya. Baekki mengalihkan tubuhnya. Ia menatap ke luar ruangan Taehyun dan mendapati kekasihnya tengah berjongkok di pinggiran meja kerjanya. Tangan Jihyun mengambil kotak-kotak bekal yang berserakan dan menunjukkannya pada Baekki.
“Sepertinya Nara menjatuhkannya..” ucap Jihyun. Taehyun, Hyeri dan Baekki saling melempar pandang.
“Cah, sepertinya istrimu kembali salah paham padaku Tae..” Hyeri hanya menggelengkan kepalanya pasrah.
“Aish, kenapa dia selalu datang disaat yang tidak tepat..” gumam Taehyun yang dengan gusar menekan beberapa tombol pada layar ponselnya dan mencoba menghubungi istrinya. Sedari tadi nada sambung itu terdengar ditelinga Taehyun, namun tak sedikitpun Nara berniat untuk menganggkat. Hingga akhirnya Taehyun memutuskan sambungannya dan memandang Baekki dan Jihyun bergantian.
“Sepertinya dia benar-benar marah. Kita harus mencarinya. Shin Jihyun-ssi kau tau tempat yang sering ia kunjungi?” tanya Taehyun yang terdengar mendesak. Jihyun terlihat menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“Antarkan aku kesana..” pinta Taehyun.
Mereka berniat untuk segera berangkat,tapi tiba-tiba Hyeri menghalangi lengan Taehyun yang berniat pergi.
“Maaf, sepertinya aku tak bisa membantu..” ucapnya lirih sambil menunjukkan layar ponselnya yang menyala, memperlihatkan nama Hyunjin yang tengah menghubunginya. Gadis itu tersenyum masam dan kemudian menjauh untuk mengangkat panggilan diponselnya.
“Dasar dia itu..” Taehyun menatap Hyeri sebal.
“Sudahlah, ayo kita pergi! Kita harus segera mencari Nara, Tae..” ujar Baekki mengingatkan.
“Kau benar! Ayo..” Taehyun pergi bersama kedua orang itu.
.
.
.
-To Be Continue-
.
.
.
Author’s Note:
.
.
Jadi gimana menurut pendapat kalian, readers?
Ada yang punya teebakan tentang kelanjutan kisahnya?
Kira-kira Nara kemana ya?
Apa Taehyun akan berhasil menemukannya?
Bagaimana cara Taehyun menyelesaikan kesalahpahaman itu?
Simak di bab selanjutnya..
Terimakasih sudah singgah dan membaca. Jangan lupa komennya ya..
.
.
With Love,
__ADS_1
ByunRa93_