My Possessive Husband

My Possessive Husband
Bad Intentions


__ADS_3

it’s time to take over all the revenge..


When disappear truth is coming up,


Someone in the past come to your life..


And love become the endless..


My Possessive Husband


©Byunra93_


“Lee Baekki-ssi, kau akan berkerja padaku bukan?”


“Maaf nyonya, sampai kapanpun saya tidak akan pernah melakukannya. Menghianati perusahaan tempat dimana mendiang ayah saya berkerja dan mengabdikan hidupnya selama puluhan tahun. Saya tidak akan pernah melakukan hal\-hal seperti itu!”



“Cah! Aku tau kau tak semunafik itu, Baek!”


Baekki tersenyum miring, “Anda sama sekali tak mengenal saya, nyonya. HS memiliki arti yang jauh lebih dalam bagi hidup saya. HS bukan hanya sebuah perusahaan tempat saya bekerja. Tapi HS adalah bagian kenangan saya bersama ayah. Satu-satunya perusahaan yang ayah perjuangkan hingga akhir hidupnya. Dari HS saya hidup, bersekolah, tumbuh dewasa dan berkerja. Dari HS juga saya mendapatkan keluarga baru. Terlepas dari siksaan yang menyakitkan akibat hidup sendiri setelah kepergian ayah. Jadi mustakhil saya menghancurkan HS dan menghianati kepercayaan yang telah Tuan Han berikan..”


“Apa itu berarti kau akan membiarkan nasib kekasihmu berakhir di tanganku? Kau membiarkanku untuk menyentuhnya..??”


Napas Baekki sedikit tercekat. Tenggorokannya terasa benar-benar kering hingga ia merasakan sulit untuk berucap. Jantungnya berdegup dengan sedikit lebih kencang, sementara hatinya terus berusaha meyakini bahwa Jihyun akan baik-baik saja. Sunguh Baekki tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu. Ia tak ingin kembali merasakan kesendirian yang begitu menakutkan baginya. Baekki tak ingin, dia tak mau kehilangan gadisnya. Akan lebih baik jika ia yang terluka daripada melihat Jihyun terluka.


Segala bentuk keraguan itu semakin membuatnya bimbang. Tapi apakah mungkin ia menghianati Tuan Han yang telah mempercainya, merawatnya seperti seorang ayahnya sendiri. Tidak, Baekki rasa ia tak akan pernah bisa melakukan hal itu. Ia akan terlihat begitu tidak tahu terimakasih jika melakukannya.


“Silahkan anda lakukan segalanya yang anda inginkan, dan saya juga akan melakukan apapun yang saya inginkan. Seberapapun anda mencoba untuk menghancurkan segalanya, tapi selama saya masih menghirup nafas di dunia ini maka saya akan tetap berusaha melindungi semuanya. Sampai saat dimana saya tak memiliki kekuatan lagi untuk melindunginya, sampai saat terakhir dimana saya harus menyerah akan keadaan. Shin Jihyun dan HS, keduanya adalah hal yang paling berharga bagi saya dan saya tetap akan mempertahankan keduanya nyonya..”


“Kau akan menyesal, Baek..”



“Lebih baik menyesal daripada menghianati kepercayaan yang telah mereka berikan untukku!!”



Potongan pembicaraan itu kembali berputar di benak Baekki tatkala dirinya menatap foto\-foto diatas meja kerja Tuan Han. Hari itu, hari dimana nyonya Yoon datang menemuinya dan memintanya untuk berkerja padanya. Bagaimana bisa? Darimana Tuan Han mendapatkan foto\-foto ini? Mata Baekki bergerak liar menatap ke arah gambar dirinya yang berserakan di atas sana.


“Kenapa kau diam, Baek? Tak bisa menjelaskan maksud dari foto-foto itu? Kau menghianatiku dan berkerja untuknya?” tuduh Tuan Han keras. Ia menatap tajam raut wajah Baekki yang tampak gusar.


“Presdir, ini tak seperti yang anda pikirkan..”


“Benarkah? Lalu apa yang kau lakukan sepanjang hari ini? Kemana saja kau saat perusahaan sedang dalam masalah? Kau bahkan mematikan ponselmu, Baekki!!” Tuan Han sedikit membentak hingga detak jantungnya kembali membuatnya merasakan sakit. Refleks ia mencengkeram kerah tuxedonya. Tapi ia tetap mencoba menetralkan raut wajahnya agar tak nampak kesakitan.


“Maafkan saya, Presdir. Bukan maksud saya untuk lari dari tanggung jawab seperti ini. Tapi ada sesuatu yang jauh lebih penting untuk saya selesaikan.” Baekki menghentikan sejenak ucapannya.


“Sebenarnya saya pergi untuk ini..” Baekki merogoh saku tuxedo hitam yang ia kenakan. Ia mengambil sebuah alat perekam dari dalam sana dan meletakkannya diatas meja kerja Tuan Han.


“Ini apa? Kau ingin mempermainkanmu lagi, Baek?!”


“Tidak, Presdir..”


“Aku benar-benar tak menyangka kau melakukan hal seperti ini pada perusahaan, Baek! Kau bahkan menerima seratus juta won dari wanita itu. Kenapa? Katakan padaku kenapa kau seperti ini Lee Baekki-ssi!” bentak Tuan Han marah.


“Presdir, ini benar-benar tak seperti yang anda bayangkan. Aku--”


“Keluar kau! Aku tak ingin lagi melihat wajahmu, Baek!”


“Tapi Presdir...”


“Pergi!” Tuan Han benar-benar berteriak marah. Tangannya semakin kuat mencengkeram dadanya yang terasa begitu sakit. Jantungnya, Tuan Han tau keadaan jantungnya kembali memburuk. Ia mungkin harus kembali dirawat setelah ini.


Baekki terkejut. Ia terdiam di tempatnya tanpa mengatakan sepatah kata dari bibirnya. “Pergilah Hyun!” nada suara Tuan Han terdengar mulai melemah.


Baekki tak kuasa menolak. Tuan Han adalah sosok yang begitu ia hormati. Bahkan ucapan Tuan Han adalah sebuah perintah yang harus selalu ia laksanakan, hingga Baekki pada akhirnya hanya bisa merunduk memberikan penghormatan terakhirnya dan berniat untuk segera pergi.


“Baiklah presdir. Tapi saya harap anda bersedia mendengarkan rekaman itu.” Baekki memberikan jeda disela ucapannya.


“Tak bisakah anda mempercayaiku sekali ini saja?” lanjutnya.


Tuan Han hanya terdiam, jadi Baekki memutuskan untuk pergi setelah kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Di lain sisi, Taehyun sedang merundukkan wajahnya. Ia masih duduk pada kursi kerjanya yang nyaman, dengan sebelah tangannya masih memegangi pipinya miris. Sudah beberapa menit semenjak kepergian Tuan Han, tapi Taehyun tetap masih merasakan sakit di ulu hatinya. Perasaan kecewa, marah dan benci satu persatu mulai mencuat di dalam sana. Ayah nya masih tetap sama. Masih tetap membencinya dan selalu menyayangi Jaehyun jauh lebih banyak daripada dirinya. Itulah yang Taehyun tau tentang ayah nya. Menurut Taehyun, bagi Tuan Han dirinya hanyalah sosok anak tak berguna yang tak bisa melakukan apapun dengan benar. Sosok yang jauh berbanding terbalik dengan kakak laki\-lakinya, Han Jaehyun.

__ADS_1


“Eomma..” gumam Taehyun nyaris tak bersuara ketika ia menatap foto keluarga yang sengaja ia letakkan pada meja kerjanya. Foto seorang wanita cantik yang sedang duduk sambil memeluk seorang anak laki-laki yang baru berusia lima tahun, dengan suaminya yang berdiri disamping ibunya. Pemandangan yang benar-benar Taehyun rindukan. Keluarga kecilnya yang terlihat bahagia.


“Taehyun-ah..” panggil Nara dari arah pintu masuk. Cepat-cepat Taehyun membersihkan sudut matanya yang tampak berair. Sorot mata Taehyun menatap istrinya yang masih berdiri di ambang pintu.


Di belakang Nara, Hyeri, Jihyun dan Hyunjin tampak mengekor dengan enggan. Hyeri menatap mimik wajah Taehyun yang tampak sendu. Tanpa banyak bicara Hyeri tau pria itu tengah terluka. Kepedihan tergambar jelas dari balik tatapan Taehyun yang tampak gelap. Hyeri menepuk pelan bahu Nara sembari membisikkan sesuatu ditelinganya.


“Dia sedang tidak baik. Datanglah padanya, dia membutuhkanmu Nara. Kami akan menunggu di ruangan Jihyun” bisik Hyeri pelan dan kemudian memberikan isyrat pada Jihyun dan Hyunjin untuk meninggalkan ruangan Taehyun.


Nara berjalan pelan menghampiri suaminya yang terlihat murung. Perlahan\-lahan jari\-jari Nara tersemat pada bahu Taehyun dan membelainya pelan. Ia tak tau apa yang terjadi antara Tuan Han dan suaminya, tapi melihat kondisi Taehyun saat ini, Nara tau perasaan suaminya sedang buruk. Beberapa kali Taehyun menghembuskan nafas berat dari bibirnya.


“Taehyun-ah, kau baik-baik saja?” tanya Nara pelan. Ia menatap lekat-lekat wajah sendu milik suaminya. Taehyun tak tergerak untuk menjawab, tapi ia justru berbalik dan menatap Nara datar.


Ia masih duduk pada kursi kerjanya. Sebelah tangan Taehyun menarik pinggang Nara mendekat dan perlahan Taehyun melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Nara. Kepalanya ia sandarkan di perut Nara dan ia terus bertahan pada posisi itu. Seolah dengan begitu ia bisa bernafas dengan baik. Seolah hanya dengan memeluk Nara luka dihatinya perlahan mulai tertutup dan rasa perihnya tak lagi menyayat. Nara sendiri tau suaminya tengah berada dalam kondisi yang lemah. Nara membelai lembut punggung Taehyun, mencoba menenangkan dengan caranya.


“Ada apa denganmu, Tae? Kenapa seperti ini?” tanya Nara dengan hati-hati.


“Tetap seperti ini. Aku mohon. Tetaplah memelukku seperti ini..”


Nara menghela nafasnya panjang. Manik matanya menatap Taehyun nanar.


“Taehyun-ah, aku tau ini sulit bagimu. Aku tau Ayahmu mungkin marah padamu. Tapi percayalah ia tak berniat menyakitimu. Ia mencintaimu, Tae. Ayah melakukan semua ini demi kebaikanmu..”


“Kau tak tau apa-apa Kim Nara. Diamlah..”


“Kau benar. Aku memang tak tahu apa-apa. Tapi yang aku tau, suamiku adalah seorang yang kuat. Kau direktur HS, Han Taehyun. Kau adalah pilar bagi perusahaan ini. Disaat perusahaan dalam keadaan sulit, kau adalah satu-satunya tumpuan bagi seluruh nasib karyawan dibawahmu. Kau harus kuat, Tae. Kau harus bangkit. Ini tak akan mudah, tapi kalau kita sama-sama berusaha melakukan yang terbaik semuanya akan baik-baik saja.”


“Nara..” panggil Taehyun. Ia menengadahkan wajahnya, menatap istrinya sejenak dan tersenyum di sudut bibirnya.


“Kenapa menatapku seperti itu?”


“Darimana kau belajar kata-kata itu?”


“A-Apa?” Nara tertunduk malu. Kedua pipi Nara bahkan bersemu merah karenanya.


Hal itu membuat Taehyun kembali tersenyum ringan. Ia kemudian menarik sebelah lengan Nara, memposisikan tubuh Nara untuk duduk di atas pangkuannya.


“Yak! Apa yang kau lakukan?” tegur Nara keras. Ia mencoba bangkit tapi Taehyun memeluk tubuhnya erat hingga ia tak memiliki kesempatan untuk itu.


“Terimakasih..” bisik Taehyun pelan


“Apa? Kau bilang apa?”


“Terimakasih untuk tetap berada disisiku. Walaupun semua ini terasa begitu berat. Walaupun semua orang satu persatu mulai menghianatiku dan pergi dari sisiku. Meninggalkanku sendiri dalam sebuah kegelapan tak berujung. Tapi paling tidak aku masih memiliki secercah cahaya untuk menyinari hidupku. Kau tau betapa aku bersyukur memiliki seorang istri sepertimu, Kim Nara? Terimakasih. Dan aku mencintaimu..” Taehyun mengecup daun bibir Nara sekilas dan kemudian membiarkan Nara beranjak dari pangkuannya.


“Ayo kita selesaikan semua ini dengan cepat dan kemudian pergi berlibur bersama..” ajak Taehyun. Ia mengulurkan sebelah tangannya pada Nara. Bibirnya **** sebuah senyum ringan yang terlihat tampan, sedang sorot matanya memancarkan sebuah keyakinan yang amat dalam. Nara tersenyum manis. Sebelah tangannya ia ulurkan untuk menggenggam tangan Taehyun sedang bibirnya menggumamkan sebuah kata,


“Hmm.. Ayo..” dengan gurat senyum tulus yang masih tak lepas di sudut bibirnya.


***


Sinar mentari yang mulai menyengat kulit bercampur dengan deraian-deraian angin musim gugur yang kering, mengoyak dahan-dahan pepohonan di luar gedung Han’s group. Dari balik kaca besar ruangannya, Baekki memperhatikan suasana jalanan kota Seoul yang tampak lenggang. Tangannya masih bersedekap di depan dada, sedang pikirannya jauh tenggelam dalam angannya. Begitu banyak yang ia pikirkan hingga kepalanya terus berdenyut nyeri.


Bagimana ini? Apa yang harus ia lakukan? Apa yang bisa ia lakukan untuk menyelesaikan semua masalah ini. Ia tau ini bagian dari rencana Nyonya Yoon. Bahkan sejak saat pembicaraannya dengan Nyonya Yoon kala itu, Baekki sudah cukup tau bahwa hidupnya sedang dalam masalah. Ia harusnya tau, bukan hal yang baik menentang keinginan wanita itu. Tapi ia tak mungkin menyerah dengan begitu mudah. Ia jelas bukan orang seperti itu. Sekalipun jalan yang harus ia lewati begitu sulit, sekalipun tak satu orang pun mempercayainya tapi Baekki akan tetap berdiri disana. Ia bisa menjamin kesetiaan itu tetap melekat kuat pada dirinya. Demi Tuhan ia tak pernah berhianat disini. Ia tak akan pernah melakukan hal itu.


Baekki berbalik, ia menatap jam dinding di ruangannya yang menunjuk pada angka satu. Perutnya kembali terasa perih. Tak seharusnya ia melupakan jadwal makannya lagi. Tapi ia bisa apa? Keadaan terus membuatnya seperti ini. Sejak bangun tidur tadi, Ia bahkan belum sempat memasukkan sesuap nasi ke perutnya. Pagi tadi, begitu menerima telpon dari ahjuma Hyo ia segera pergi. Bahkan hal yang sempat ia lakukan hanyalah mandi dan mengganti bajunya sebelum pergi. Semua ini ia lakukan untuk membuktikan bahwa Kim Jira, ibu Taehyun tak bersalah.


Beberapa hari ini Baekki terus membujuk bibi Hyo untuk menceritakan kejadian itu secara detail. Tentang bagaimana nyonya Yoo menjebak Jira. Tentang bagaimana Tuan Han bisa memergoki Jira sedang berselingkuh. Hingga kejadian dimana Tuan Han mengusir istrinya dengan begitu kejam. Baekki hanya ingin mengembalikan kepercayaan Tuan Han. Baekki ingin Tuan Han tau sifat nyonya Yoo yang sesungguhnya. Tapi sepertinya wanita itu sudah menyikapi terlebih dahulu rencana Baekki. Ia sengaja menghentikan langkah Baekki, membuatnya tampak seperti penghianat hingga tak satu orangpun mempercayainya.


“Dia benar-benar jauh lebih berbahaya dari yang ku kira..” gumam Baekki. Ia menghela nafasnya panjang. Jari-jari tangannya memijit pelipisnya yang terasa berat. Kepalanya seperti berputar karena pusing. Ia berjalan mendekati kursi kerjanya dan mengambil jas miliknya untuk ia kenakan. Paling tidak Baekki harus terlebih dulu mengisi perutnya sebelum kembali memaksa pikirannya untuk berkerja.


Baekki berjalan keluar dari ruangannya. Tangannya merogoh kedalam saku jas hitam yang ia kenakan dan mengambil ponselnya dari dalam sana. Baekki sempat menghentikan gerakan tangannya pada layar ponsel miliknya saat matanya menatap nanar pada beberapa huruf yang tertera disana. ‘Shin Jihyun’, Baekki terdiam.


Apa yang harus ia lakukan pada gadis itu? Apakah Jihyun akan mempercayainya? Atau gadis itu juga tengah berfikir buruk tentang dirinya? Harus bagaimana ia bersikap? Baekki bimbang, tapi kembali ia memaksa batinnya untuk tetap mempercayai satu orang. Hanya satu orang. Shin Jihyun, Baekki mempercayainya.


Secepat yang ia bisa ia menekan tombol hijau pada layar ponselnya dan meletakkan benda itu di telinganya. Jantungnya berdebar seiring dengan nada sambung yang terdengar melalui speaker ponselnya. Tentu, ini adalah kali pertama baginya menghubungi gadis itu setelah kasus ini mencuat.


“Hallo..” saat suara itu tertangkap di telinganya, Baekki terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya ragu sebelum mulai menjawab.


“Jihyun-ah..” panggilnya.


“Baek, kau dimana? Baekki, apa yang sebenarnya terjadi? Kau baik-baik saja? Katakan padaku ini tidak benar! Kau tak mungkin melakukannya bukan?” cecar gadis itu. Nada suaranya tampak resah. Baekki tau itu. Tapi ia masih terdiam.


“Baekki, jawab aku!!”


Masih tak ada jawaban dari laki-laki itu.

__ADS_1


“Lee Baekki!!” tegur Jihyun kembali melalui ponselnya.


“Kenapa kau hanya diam?! Katakan padaku ini semuanya salah! kau tak seperti itu Baek! aku tau kau tak akan pernah melakukan hal itu! Kekasihku bukan seorang penghianat!”


Baekki tersenyum ketika ia mendengar sebuah keyakinan dibalik nada bicara Jihyun. Sungguh ia bahagia. Paling tidak masih ada satu orang yang akan selalu mempercayainya.


“Jihyun-ah..”


“Apa?”


“Percayalah padaku.. Tetaplah percaya padaku. Aku, Lee Baekki bukanlah seorang penghianat..”


“Aku tau.. Aku tau itu..”


“Terimakasih..” Baekki tersenyum simpul. Tanpa Baekki sadari seseorang dengan pakaian serba hitam dan sebuah masker, juga sarung tangan yang menutupi tubuhnya sedang mengikutinya dari belakang. Langkahnya kian mendekat kearah Baekki.


“Jihyun-ah, dengarkan aku. Apapun yang terjadi tetaplah berhati-hati. Jangan pulang terlalu malam dan jangan berjalan sendiri. Telpon aku kapanpun kau merasakan sesuatu yang janggal. Kita tak akan pernah tau apa yang terjadi, tapi tetaplah berhati-hati. Aku mohon tetaplah baik-baik saja demi aku. Jangan terluka. Aku mohon jangan terluka dan--- aaaaaarrrgh~” yang terdengar setelahnya hanyalah suara teriakan Baekki yang terdengar memekik hebat.


Seseorang memukul keras-keras kepala bagian belakang Baekki. Ponsel Baekki terlempar dan setelahnya tubuhnya tampak kehilangan kesadaran. Laki-laki berpakaian hitam itu segera menyeret tubuh Baekki pergi dan menghilang di balik tangga darurat disamping kanannya.


“Baekki! Lee Baekki! Kau kenapa? Baek!” pekik Jihyun. Tak ada sahutan dari Baekki hingga sekali lagi ia meneriakkan nama itu.


“Baek, berhenti bercanda! Ini sama sekali tak lucu!! Baekki!!” tetap tak ada jawaban yang ia dengar. Ponsel Baekki jatuh tergeletak pada lantai dalam kondisi yang masih menyala.


Jihyun tampak panik. Sedari tadi ia terus meraung meneriakkan nama Baekki pada ponselnya. Bahkan teriakan Jihyun cukup menyita perhatian Hyeri dan Hyunjin yang memang tengah berada diruangan yang sama dengannya. Hyeri menghentikan gerakan tangannya untuk menggambar design. Sejenak ia dan Hyunjin saling bertatapan bingung sampai mereka melihat Jihyun bangkit dari kursi kerjanya dengan raut wajah panik.


“Shin Jihyun, ada apa?” tanya Hyeri saat gadis itu berjalan melewatinya.


“Lee Baekki, aku harus mencarinya.”


“Ada apa? Apa yang terjadi padanya?”


Jihyun menggelengkan kepalanya dan mulai terlihat histeris. “Aku tak tau. Tapi ku dengar ia berteriak dan setelahnya ia sama sekali tak menjawab panggilanku. Aku rasa sesuatu yang buruk terjadi padanya. Aku harus mencarinya..” tubuh Jihyun tampak bergetar hebat. Ia terlihat bingung, tapi sesaat setelahnya ia berlari keluar untuk mencari kekasihnya. Hyeri dan Hyunjin tak bisa tinggal diam disana. Keduanya mengikuti langkah Jihyun dan terus mencoba menenangkan gadis itu walaupun rasanya itu tampak sia-sia. Kepanikan begitu menguasai diri Jihyun.


Ketiganya berjalan pada lorong lantai 10 gedung Kim’s group. Tempat dimana ruangan Baekki berada. Mata Jihyun terus menyapu tiap detail ruangan untuk menemukan jejak Baekki. Tapi nihil. Ia tak mendapati keberadaan pria itu disana. Yang berhasil Jihyun temukan hanyalah ponsel Baekki yang tergeletak pada lantai koridor lantai 10.


“Sekarang kau percaya padaku Lee Hyeri? Lihatlah! Ini adalah ponsel Baekki! Aku yakin sesuatu yang buruk sedang terjadi padanya..” Jihyun tampak membentak hebat. Air matanya begitu saja turun tanpa bisa ia cegah. Ia takut.


“Tenanglah..”


“Kau pikir aku bisa tenang? Kita tak tau apa yang terjadi pada Baekki dan kau memintaku tenang?!”


“Apa yang terjadi disini?” tanya Taehyun yang berjalan keluar dari ruangannya bersama Nara yang terlihat berjalan disampingnya. Ia menatap Jihyun dan Hyeri secara bergantian.


“Baekki hilang. Beberapa saat yang lalu ia menghubungi Jihyun dan kemudian ia menghilang. Kami hanya menemukan ponselnya tergeletak disini” terang Hyunjin yang berdiri disana.


“Bukankah memang dari tadi Baekki menghilang? Lalu apa masalahnya?” dengus Taehyun


“Taehyun-ah..” tegur Nara. Ia menatap Jihyun iba.


“Sebenci itukah kalian pada Baekki? Kenapa? Apa karena tuduhan yang mengarah padanya? Belum ada bukti kuat yang menunjukkan Baekki berhianat, tapi kenapa kalian seperti ini padaya? Apa kalian tak pernah memikirkan bagaimana perasaan Baekki? Dialah yang paling terluka disini. Kalian tak pernah tau bagaimana dia berkerja dengan begitu keras. Dia sudah banyak berkorban demi perusahaan” Jihyun memberikan jeda pada ucapannya, memberikan waktu bagi mereka untuk sejenak merenungkan tentang sikap mereka. Tapi sepertinya itu terlihat percuma. Taehyun masih tak juga bergeming ataupun mengambil sebuah tindakan yang positif hingga Jihyun kembali tersenyum miris.


“Baiklah, kalau memang kalian tak lagi peduli padanya, aku sendiri yang akan mencarinya!” gadis itu memutar tubuhnya, berjalan melewati Hyeri dan Hyunjin yang berdiri di belakangnya dengan langkah yang masih terlihat panik dan terburu-buru.


Nara menatap punggung Jihyun sendu. Ada perasaan sedih melihat raut wajah sahabatnya yang tampak menderita. Nara kemudian kembali memandang suaminya tajam.


“Kau keterlaluan, Tae. Kau tak seharusnya melakukan hal seperti itu” Nara melepaskan genggaman tangan Taehyun di jari-jarinya dan berlari mengejar kepergian Jihyun.


-To Be Continue-


Author’s Note:


Menurut kalian kemana kah Baekki? Siapa yang menculiknya? Dan apa alasan di balik semua itu?


Yuk, tuliskan prediksi kalian di kolom komentar..


Dan kita buktikan sama-sama kebenarannya di bab selanjutnya..


Terimakasih sudah membaca..


Semoga kalian suka..


With Love,


ByunRa93_

__ADS_1


__ADS_2