
Di Dunia ini tak ada yang abadi..
Saat kita bahagia di pertemukan dengannya,
Maka saat itu juga, kita harus siap
untuk di pisahkan dan merelakannya pergi dengan tenang..
.
.
.
This Story Begins..
“Our Baby”
©ByunRa93_
.
.
.
Hampir dua jam berlalu tapi masih belum ada tanda-tanda ruangan putih itu akan terbuka. Lampu di atas pintu ruangan masih menyala merah, menandakan operasi yang tengah di lakukan belum selesai. Tubuh Taehyun sepertinya mulai melemah. Ia terlalu lelah untuk terus berdiri dan berjalan mondar-mandir di depan pintu, hingga ia berhenti dan membiarkan tubuhnya mengalah. Ia duduk di kursi tunggu disamping Baekki dan Jihyun. Matanya terpejam dengan punggung bersandar dan kedua jari-jari tangannya yang bertaut resah. Ia berdoa, memohon keselamatan bagi Nara dan putrinya Airin yang tengah berjuang mempertahankan hidupnya di dalam sana.
"Tenanglah. Nara akan baik-baik saja." Ujar Nyonya Kim sambil menggenggam tangan Taehyun yang terus bergerak resah.
"Eommanim.."
"Ya, eomma tau bagaimana perasaanmu nak. Tapi tak ada yang bisa kita lakukan. Kita hanya bisa berdoa untuk keselamatan keduanya."
Ibu Nara memang mencoba untuk terlihat tegar. Tapi tetap saja ia tak bisa membohongi perasaannya. Matanya tak bisa berbohong karena buliran bening itu sudah meluncur indah di pipinya. Nyonya Kim mengingat hari itu. Hari dimana putrinya yang dulu masih begitu kecil tengah tumbuh dewasa dan menjadi ibu. Hari itu, hari dimana dokter Shin mengatakan pada Nara jika dirinya tengah mengandung, saat itu juga Nara menelponnya. Ia bahkan terdengar begitu bahagia saat mengatakan 'Eomma, aku hamil..'
Nara nyaris menangis dalam bahagianya saat mengatakan hal itu. Mungkin tak hanya Taehyun, ayah dan ibu Nara sebenarnya terlalu berharap banyak pada Airin. Mereka begitu mencintai sosok bayi di dalam rahim Nara itu walaupun nyatanya bayi itu belum pernah terlahir dan mereka lihat dengan manik matanya. Cucu pertama keluarga Han dan keluarga Kim itu nyaris tak bernyawa, tersiksa dalam perut ibunya dan tak tau bagaimana garis takdir akan menentukan hidupnya.
"Maafkan aku, bu. Maafkan aku.." rintih Taehyun yang juga tak bisa menahan kepedihan di hatinya.
Nyonya Kim menggeleng, berusaha menghentikan penyesalan laki-laki itu dengan memeluk tubuhnya erat. Membelai punggungnya dan berharap Taehyun akan lebih tegar.
.
.
.
Hampir tiga jam berlalu dalam tangis. Tak seorang pun disana tampak bahagia. Semua menunggu dengan perasaan cemas dan takut. Tapi saat pintu itu di buka, dan dokter Shin keluar, semua serentak menyambut.
Taehyun berdiri cepat dan menghampiri dokter Shin. Baekki juga tak tinggal diam. Ia segera mengikuti Taehyun dan mengawalnya dari belakang mengingat presdirnya itu memiliki masalah besar dalam pengendalian emosi diri. Baekki tak ingin Taehyun kembali membentak dokter Shin. Jadi ia terus mengawal pergerakan Taehyun.
"Bagaimana?" tanya Taehyun.
Sang dokter hanya terdiam sejenak, menimbang harus mengatakan yang sebenarnya pada pria tempramen ini, atau kah menutupi semuanya. Dokter Shin melirik Baekki. Menatapnya dalam-dalam seperti tengah meminta perlindungan dan pertimbangan darinya. Baekki mengerti arti tatapan itu. Ia mengangguk samar namun masih sangat waspada di belakang Taehyun.
"Aku berhasil mengangkat putrimu dari rahim ibunya--"
"Benarkah? Bagaimana keadaannya?" potong Taehyun tak sabaran. Dokter Shin kembali menghela berat.
"Dia selamat. Tapi sesuai dugaanku, pendarahan yang begitu hebat dan pecahnya air ketuban dalam rahim Nara membuatnya mengalami distress pernafasan. Detak jantungnya masih sangat lemah. Sayang sekali aku harus mengatakan ini. Tapi anakmu sedang dalam kondisi kritis.."
"A-Apa?"
"Kami harus meletakkannya dalam inkubator dengan memasang slang oksigen padanya. Kita tunggu sampai besok pagi. Jika detak jantungnya membaik dan stabil maka dia bisa melewati masa kritisnya."
Taehyun melemah. Tubuhnya semakin sulit untuk berdiri. Apa ini? Jadi anaknya belum tentu bisa selamat? Lalu bagaimana dengan Nara? Ya, Nara. Taehyun langsung teringat wanita itu.
"Nara?" ujar Taehyun sulit. Ada rasa takut yang terus menghantuinya.
"Kami sudah melakukan yang terbaik. Dia kehilangan banyak sekali darah. Walaupun kami yakin semuanya sudah membaik, tapi Nara masih belum melewati masa kritisnya. Kami juga berharap dia akan segera sadar."
Blammm..
Hilang sudah semua harapan Taehyun. Tak satupun dari kedua orang yang sangat ia cintai dipastikan akan selamat. Baik Nara dan Airin putrinya sedang dalam kondisi kritis dan tak sadarkan diri. Kepala Taehyun berdenyut pusing. Baiklah, dia harus mulai memikirkan untuk menyusun rencana kematiannya setelah ini. Kalau sampai kedua orang itu tak selamat, demi Tuhan Taehyun akan pergi menyusul keduanya. Ia tak peduli. Hidupnya diambang kehancuran sekarang.
"Jangan berfikir bodoh! Mereka akan selamat!" seolah bisa membaca keputusasaan dimata Taehyun, Baekki berujar menenangkan. Tapi Taehyun sama sekali tak mengindahkan. Ia lelah.
.
.
.
Beberapa saat menunggu akhirnya Nara dan Airin di pindahkan ke ruangan masing-masing. Nara di kamar inap VVIP rumah sakit itu, sedang Airin berada di dalam inkubator di ruang bayi dengan kondisi yang mengenaskan. Sedari tadi Taehyun, Baekki dan Jihyun menunggu Nara yang masih tertidur pulas belum sadarkan diri. Sedang Nyonya Kim dan suaminya, serta Jira lebih memilih untuk menunggu Airin di depan ruang bayi yang terisolasi.
__ADS_1
Sebenarnya mereka tak harus berjaga disana, karena semuanya percuma. Mereka tetap tak bisa masuk dan melihat Airin dari dekat. Ruang bayi tak mengijinkan keluarga pasien untuk masuk. Tapi kedua nenek itu tak bisa meninggalkan Airin di masa-masa pentingnya seorang diri. Membiarkan bayi yang baru berusia beberapa jam itu melewati masa kritisnya dan berjuang hidup sendiri.
Ketiganya saling menatap resah, memperhatikan Airin melalui kaca ruang bayi dan melihat anak itu belum juga bergerak ataupun menangis. Saat itu Baekki dan Jihyun datang. Sekretaris kepercayaan Taehyun itu terlihat begitu hormat ketika meminta Jira, Nyonya Kim juga suaminya untuk pulang dan beristirahat. Ya, Taehyun memang meminta Baekki melakukan itu. Menggantikan tugas ibunya untuk menjaga Airin malam ini. Ia tak ingin ibunya juga merasakan kelelahan yang kini ia rasakan.
Diruangan lain tempat Nara dirawat, wanita itu terbaring lemah. Masih tak sadarkan diri dan lelap dalam mimpinya. Tampak kesakitan, Nara berulang kali mengernyitkan dahinya. Tapi agaknya terlalu sulit bagi Nara untuk membuka kedua matanya. Sudah sedari tadi Taehyun duduk disamping istrinya seorang diri, menggenggam erat jari\-jari tangan Nara dan berdoa untuk kesadarannya. Jauh dalam diri Taehyun sebenarnya ia tengah terombang ambing. Satu sisi dalam dirinya memintanya untuk tetap disana. Namun ada sisi lain, yang sedari tadi terus memberontak untuk menengok dan melihat bagaimana kondisi putrinya Airin yang juga dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Jam di pergelangan tangan Taehyun terus bergerak lambat, memasuki waktu tengah malam dan terus bergerak melewatinya. Taehyun yakin Nara adalah wanita yang tangguh. Ya, dia kuat.
"Kau akan baik-baik saja bukan jika ku tinggalkan? Hanya sebentar. Ku mohon tetaplah bernafas. Bertahanlah! Aku hanya akan pergi sebentar melihat kondisi putri kita.." ujar Taehyun bermonolog.
Ia mengecup kening Nara sekilas yang berbalut perban, kemudian berdiri dan sedikit demi sedikit melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Nara sambil terus mengulang-ulang kalimat 'dia akan baik-baik saja, dia akan baik-baik saja' dalam hatinya.
Taehyun berjalan ke ruang bayi dengan langkah kakinya yang gontai. Ia melihat Baekki dan Jihyun yang berdiri di luar ruangan itu, melaksanakan perintahnya untuk menunggu Airin\-nya. Taehyun menghampiri keduanya dengan wajah yang amat serius. Di tatapnya Baekki dengan mata elahngnya yang terlihat marah.
"Kau hanya berdiri diluar?" tanya Taehyun sedikit agak keras.
"Dokter tak mengijinkan siapapun selain perawat untuk masuk ke ruang bayi!" balas Baekki juga dengan nada yang sama-sama tersulut emosi. Keduanya sudah dalam kondisi yang sangat lelah. Terlebih Baekki yang memang harus berlarian kesana kemari untuk mengatasi semuanya.
"Kalau begitu pindahkan Airin ke ruang lain dimana hanya ada dia, dan kau bisa mengawasinya dengan leluasa!"
"HEY YAK!!" laki-laki bermata sipit itu mulai membentak dengan emosi yang masih berusaha ia kendalikan.
"Kau pikir rumah sakit ini milikmu, yang bisa kau atur sesuka hatimu?!"
"Aku bisa menggunakan uangku untuk menjadikan rumah sakit ini milikku, asalkan Airin dan Nara mendapatkan perawatan terbaik. Lakukan segala cara untuk menanganinya!"
Baekki menghendus, memalingkan wajahnya sambil berdecah lelah. "Selalu seperti ini!" gerutunya dengan kekesalan yang bisa dengan mudah di diteksi dari raut wajahnya. Jihyun menggenggam tangan Baekki, mengelusnya pelan dan berusaha meredam amarah kekasih kesayangannya itu.
"Apa yang kau tunggu? Cepat temui pihak rumah sakit dan lakukan negosiasi. AKU-HARUS-MASUK!" bentak Taehyun lagi dengan penuh penekanan yang tak terbantahkan. Ia menatap Baekki dengan amat tajam hingga sang sekretaris merajuk. Namun ia tak punya pilihan lain selain tetap pergi dan menjalankan perintah atasannya.
Setelah perdebatan yang cukup sengit, akhirnya dokter Shin selaku penanggung jawab pasien membiarkan ketiga orang itu masuk. Taehyun tak lagi bisa menahan tangis di matanya saat kini ia berdiri di depan inkubator kecil dimana bayi cantik nya terlihat tersiksa oleh slang oksigen yang terpasang di hidungnya, dan peralatan medis lain yang terpasang pada tangan juga kakinya. Sungguh bayi kecil yang malang.

Taehyun memperhatikan lekat-lekat raut wajah Airin. Mata Airin adalah perpaduan matanya dan Nara. Mata tajam yang terlihat sangat cantik. Hidungnya, bibirnya sungguh gambaran sosok Nara melekat kuat disana. Inilah anaknya, buah hati yang selama sembilan bulan ini ia damba dan ia nantikan. Taehyun benar-benar mengagumi perpaduan indah dalam tubuh Airin. Perpaduan pas antara dirinya dan Nara. Sungguh laki-laki itu ingin sekali memeluk putrinya. Ia bahkan sudah membaca buku petunjuk untuk merawat seorang bayi, dan dia sangat ingin mempraktekkan apa yang selama sembilan bulan ini ia pelajari.
Namun sayang, kaca sialan itu terus menghalanginya. Ia bahkan tak bisa menyentuh bayi kecilnya yang manis. Jihyun, gadis cantik bermata bulat itu hampir saja menangis saat melihat betapa Taehyun terlihat sangat terluka. Ia juga merasakan sakit dalam hatinya. Ada perasaan tak tega yang terlalu dalam saat melihat Airin dalam keadaan yang sebegitu tersiksa. Bukankah seorang bayi yang baru saja terlahir harusnya tengah menangis bahagia dalam dekapan ibunya? Tapi Airin justru tengah berjuang untuk hidupnya. Oh, Tuhan tidakkah kau sedikit terlalu kejam pada keluarga ini? Tak adakah kebahagiaan bagi Taehyun? Tidak, takdir tak akan pernah salah dan tak bisa dipersalahkan. Karena takdir bukanlah sesuatu di bawah kuasa kita.
Saat itu suster datang membawa botol susu dan hendak memberikannya pada Airin. Taehyun yang awalnya hanya memperhatikan, akhirnya mulai bergerak protektif untuk mencegahnya. Ia mengambil alih botol susu yang suster itu bawa dan memasukkan tangannya pada lubang\-lubang di tabung inkubator. Taehyun menyentuhkan tangannya dengan sedikit takut ke kulit tangan Airin yang lembut, membelainya dan mentapnya takjub.
Astaga, ini nyata. Laki-laki itu benar-benar bisa merasakan bahwa Airin nya adalah nyata. Ia bisa menyentuhnya. Taehyun beralih pada kepala sang bayi dan membelainya sayang. Airin merespon dengan membuat pergerakan kecil. Ia menggeliat akibat sentuhan lembut jari-jari tangan ayahnya. Bayi mungil itu juga tersenyum ke arah Taehyun.

Benar, anak mana di dunia ini yang tak akan mengenal ayahnya? Walaupun ini adalah kali pertama keduanya benar-benar bersentuhan di dunia ini, tapi Airin sudah hafal betul akan rasa hangat tangan Taehyun yang setiap pagi membelainya melalui perut Nara. Ada kedekatan tak kasat mata diantara keduanya. Taehyun ingin menggendongnya, menciumnya dan menyentuhkan hidung dan mulutnya pada pipi Airin yang terlihat pucat. Sungguh ia ingin melakukan itu.
Baekki terus mengabadikan moment itu lewat kamera ponselnya sambil tersenyum senang. Berharap Airin akan hidup, agar Taehyun tetap seperti ini kelak.
.
.
.
***
.
.
.
Hari sudah semakin malam. Dua jam lagi matahari akan mulai bersinar, dan Taehyun masih berharap jika bayi kecilnya bisa bertahan sampai dua jam lagi. Dokter Shin memang mengatakan jika Airin bisa bertahan hingga pagi ini, itu berarti paru-paru dan detak jantungnya sudah berjalan dengan normal. Dan besar kemungkinan bagi bayi itu untuk hidup dengan sehat. Tak henti-hentinya Taehyun berdoa, berharap Nara dan bayinya bertahan. Ia bahkan terus berjaga semalaman tanpa tidur disamping Airin.
Tapi sepertinya Tuhan punya rencana lain. Pukul tiga pagi, Airin mengalami batuk-batuk kecil. Nafasnya secara tiba-tiba melambat dan wajahnya semakin pucat. Jantung Airin sempat berhenti sejenak, hal itu terpantau pada alat medis yang ada disampingnya yang terus berbunyi.
"Tidak! Tidak, Airin..” gumam Taehyun panik. Ia menyentuh kaca inkubator bingung, semenatra kepalanya terus menoleh pada Baekki.
"Akan ku panggilkan dokter" seru Baekki.
Ia berlari keluar mencari dimana keberadaan dokter Shin. Jihyun yang bersama Taehyun hanya berdiri diam, terlalu takut untuk mendekati atasannya yang benar-benar terlihat kalut dan ketakutan.
"Jihyun-ah, apa yang harus ku lakukan? Airin terlihat kesakitan.." rancau Taehyun cemas.
Jihyun juga terlihat bingung untuk mnjawab. Disentuhnya bahu Taehyun sambil berusaha menenangkan.
"Tenanglah presdir. Dokter akan segera datang.." ujar gadis itu lirih.
Tak beberapa lama, dokter Shin berlarian masuk ke dalam ruang bayi. Taehyun diminta keluar agar tak menghalangi jalannya untuk menyelamatkan hidup Airin. Awalnya laki\-laki itu menolak, tetap kukuh pada pendiriannya untuk berada disamping putrinya. Tapi saat melihat wajah Airin yang terus bertambah pucat, Taehyun menyerah. Ia segera keluar, tak ingin membuang\-buang waktu yang sangat berharga untuk mengganggu kerja para dokter disana.
Taehyun berdiri di luar kamar bayi dengan resah. Sekali lagi, ia terlihat menitihkan air mata kepedihan. Dia hanya berdiri sendiri di samping pintu ruang bayi. Baekki memang sengaja menjauh, berdiri diseberangnya bersama Jihyun, karena masih merasa kesal akan tingkah Taehyun padanya hari ini. Tapi lain hal nya dengan Baekki, Jihyun justru merasa iba. Ia berjalan pelan menghampiri Taehyun dan membelai lengannya pelan.
"Airin akan baik-baik saja presdir. Percayalah.." mata bulat Jihyun menatap teduh wajah Taehyun yang kalut. Membawa perasaan tenang yang secara alamiah laki-laki itu rasakan. Taehyun menarik tubuh Jihyun, memeluknya. Menyandarkan kepalanya yang berputar berat di bahu Jihyun. Tak ada maksud lain sebenarnya, hanya saja laki-laki itu merasa beban di pundaknya terlalu berat dan ia hanya ingin bersandar untuk sejenak. Jihyun hanya membelalakkan matanya kaget.
"Aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana?" Taehyun seperti kehilangan fikirannya yang logis. Ia merancau tak jelas sampai tiba-tiba sebuah sentakan keras keduanya rasakan saat Baekki menarik paksa lengan Jihyun. Memisahkannya dengan tubuh sang presdir. Baekki memberi tatapan peringatan yang cukup keras pada Taehyun. Sedikit merasa terusik ketika miliknya disentuh. Laki-laki itu marah, dan Taehyun sadar ia sedikit keterlaluan.
"Maaf.." gumam Taehyun pelan. Ia duduk di bangku tunggu dan mengusap wajahnya frustasi. Melihat ekspresi seperti itu Jihyun kembali merasa iba. Ia berniat mendekati Taehyun, tapi segera ia urungkan karena Baekki yang langsung menghalanginya.
__ADS_1
"Jaga sikapmu Shin Jihyun!" ancam Baekki keras.
.
.
.
Dua puluh menit berlalu, akhirnya dokter Shin keluar dari ruang itu. Raut mukanya tampak sangat lelah dengan peluh yang membasahi dahinya. Dia berjalan menghampiri Taehyun yang tengah terduduk dan menyentuh bahunya pelan namun tersirat berbagai arti disana.
"Bagaimana? Airin baik-baik saja?" tanya Taehyun khawatir.
Sang dokter terdiam sejenak. Dia menghela nafas panjang dari bibirnya dan kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
"Maafkan aku, tapi putrimu tak lagi bernyawa.."
"Apa?" Taehyun menggeleng tak percaya. Ia segera menatap ke arah Baekki,
"Baek, apa yang baru saja dia katakan? Cepat cari tau keadaan Airin. Pindahkan dia ke rumah sakit lain!"
Baekki dan dokter Shin saling bertatapan. Sang dokter kembali menggeleng, seperti tengah memberikan isyarat atas kematian Airin melalui tatapannya. Dan Baekki mengangguk mengerti.
"Taehyun-ah, dia sudah meninggal." Ujar Baekki memperjelas.
“Airin sudah meninggal..” Baekki kesulitan menyebut nama itu. hatinya juga ikut terpukul. Semua ini terlalu menyedihkan untuknya.
Seketika Taehyun berteriak histeris, menjerit dalam tangisnya yang terdengar pilu.
"TIDAK!! TIDAK!! Airin..." rancaunya dalam tangis.
Ia berjalan masuk ke ruang bayi dan melihat tubuh Airin yang sudah tak bergerak. Bayi itu tak lagi bernafas. Taehyun luruh. Ia membiarkan dirinya duduk tak berdaya di lantai ruang bayi rumah sakit itu. Di bawah tubuh Airin yang sudah mulai terasa dingin. Baekki berusaha menenangkan, tapi semua itu percuma. Airin-nya telah meninggal, malaikat kecil yang selama ini ia tunggu, Han Airin yang sangat ia cintai.
"Tidak Airin, kau harus hidup. Ibumu bahkan belum melihatmu sayang.."
“Kau tak boleh pergi seperti ini..”
“Apa yang harus ku katakan pada ibumu nanti? Ku mohon sayang, bertahanlah..” ujar Taehyun sambil menangis pilu. Ia bahkan tak lagi merasa malu untuk itu. Yang Taehyun lakukan saat ini hanyalah memeluk erat tubuh bayi kecilnya yang sudah tak bernyawa dalam isakan tangis.
“Tuhan, kenapa kau lakukan ini padaku? Apa salahku hingga kau hukum aku seperti ini?” Dada Taehyun terasa begitu sesak. Ia merunduk mencium pipi anaknya dan semakin mendekapnya erat. Seolah tak ingin melepas kepergiannya. Siapapun yang melihat pemandangan itu tak akan kuasa membendung kesedihannya. Seperti yang saat ini Baekki dan Jihyun lakukan. Keduanya ikut menitihkan air mata kesedihan atas kepergian Airin.
.
.
.
-To Be Continue-
.
.
.
Author’s Note:
.
.
Maafkan aku, tapi Airin sudah pergi sekarang dan menyisahkan tangis pilu seorang Han Taehyun yang harus kehilangan putri semata wayangnya. Lalu, bagaimana dengan nasib Kim Nara? Apakah dia akan selamat dan kembali bersama taehyun? Ataukah dia justru ikut bersama putri tercintanya?
Simak kelanjutan kisah ini ya..
Don’t forget to give your like, comment and review..
Aku mau lap ingus dulu. Ikutan nangis asli. Nggak tega aku tuh..
Hiks...
Terimakasih sudah membaca..
.
.
.
With Love,
ByunRa93_
__ADS_1